Puasa Sepanjang Masa dengan 6 Hari di Bulan Syawal


Setelah selesai bulan Ramadhan salah satu kesan mendalam dari perpisahan dengannya adalah rasa kerinduan akan kehadirannya untuk tahun yang akan datang. Betapa tidak, keistimewaan bulan Ramadhan dengan berbagai keutamaan dan suasana semarak yang sarat dengan amal perbuatan yang bernilai ibadah.
_
Oleh karena itu alangkah baiknya seorang yang beriman tetap konsisten dengan segala ibadah dan amal shaleh sebagaimana amalan-amalan tersebut ia tunaikan selama di bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ؛ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب [٩٤: ٧-٨]
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain; dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Asy-Syarh/94: 7-8)

Maka sangatlah tidak tepat apabila ternyata sehabis bulan Ramadhan seseorang yang beriman justru berlaku seperti orang yang terbebas dari sesuatu hal yang mengekang sehingga ia bereuforia dengan segala perbuatan yang sebelumnya ‘tidak dapat’ ia lakukan sebelumnya. Atau sebaliknya, dengan berbagai nilai ibadah yang dilipatgandakan dan adanya satu malam – lailatul qadar – yang sangat istimewa kemudian seseorang berbangga diri seolah-olah dengan pahala yang melimpah ia kemudian bersikap leha-leha.
Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ؛ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ [٢٣: ٦٠-٦١]
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al-Mukminun/23: 60-61)

Aisyah r.a. pernah bertanya mengenai ayat tersebut kepada Rasulullah s.a.w., apakah ayat itu menyangkut orang-orang yang biasa minum khamr dan mencuri? Rasulullah s.a.w. menjawab, “tidak, wahai putri Abu Bakr! Akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, bersedekah dan di dalam dirinya ada kekhawatiran atau takut amal kebaikannya tidak diterima oleh Allah SWT.
_

Maka di bulan Syawwal ini sangat dianjurkan untuk berpuasa selama enam hari dan puasa tersebut memiliki keutamaan khusus sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah s.a.w.:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتّاً مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (أخرجه مسلم عن أبي أيوب الأنصاري)
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian ia mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawwal maka ia seperti berpuasa selama setahun.”

Para ulama menetapkan bahwasannaya tidak ada keharusan untuk menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawwal tersebut secara langsung sehabis Idul Fitri dan tidak pula dilakukan secara berturut-turut. Akan tetapi menyegerakan untuk melaksanakannya merupakan memiliki nilai utama sebagai bentuk menyegerakan amal kebaikan demikian pula dengan melakukannya secara berurutan yang juga lebih mudah dalam pelaksanaannya.




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!