Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Hadits-Hadits untuk Membantu Anda Berprasangka Baik kepada Allah SWT

Berikut adalah beberapa hadits dari Nabi Muhammad SAW yang relevan dengan peningkatan prasangka baik terhadap Allah. Dalam beberapa kasus, saya akan memberikan kutipan hadits yang relevan tanpa menyertakan periwayat dan nomor urut hadits. Jika Anda memerlukan informasi lebih lanjut tentang periwayat dan nomor urut hadits, silakan mencari hadits tersebut secara spesifik:

 ١-   قال الله تعالى: "أنا عند ظن عبدي بي" (حديث قدسي)

 

٢-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه، ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملإ، ذكرته في ملإ خير منه'" (رواه البخاري ومسلم)

 

٣-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه، ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملإ، ذكرته في ملإ خير منه، وإن تقرب إلي شبرًا، تقربت إليه ذراعًا، وإن تقرب إلي ذراعًا، تقربت إليه باعًا، وإن أتاني يمشي، أتيته هرولة'" (رواه مسلم)

 

٤-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'من تقرب إلي بشبرٍ، تقربت إليه ذراعًا، ومن تقرب إلي ذراعٍ، تقربت إليه باعًا، ومن أتاني يمشي، أتيته هرولة'" (رواه البخاري ومسلم)

 

1. "Allah berfirman, 'Aku menggantikan apa yang ada di hati hamba-Ku terhadap-Ku.'"

(Hadits Qudsi)

 

2. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Aku adalah seperti angan-angan hamba-Ku tentang-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku juga akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam suatu majelis, Aku juga akan mengingatnya di dalam suatu majelis yang lebih baik darinya.'"

(Hadits Riwayat Bukhari)

 

3. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Aku adalah seperti yang difikirkan oleh hamba-Ku tentang-Ku. Aku bersama dengan dia ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya sendiri, Aku juga akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam majelis, Aku juga akan mengingatnya di dalam majelis yang lebih baik darinya. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan sejengkal, Aku akan mendekatinya dengan seutas tali. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan seutas tali, Aku akan mendekatinya dengan jarak satu hasta. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari.'"

(Hadits Riwayat Muslim)

 

4. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Barangsiapa yang mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa yang mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya dengan berjalan. Dan barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.'"

(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Berbaik sangka kepada Allah berarti memiliki prasangka baik, keyakinan, dan harapan yang positif terhadap Allah SWT. Ini mencerminkan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Adil. Berbaik sangka kepada Allah juga berarti percaya bahwa segala keputusan, ujian, dan kejadian yang terjadi dalam hidup kita memiliki hikmah dan tujuan yang baik dari-Nya.


powered by: chatGPT

Print Friendly and PDF

Istikharah dan Pilihan


Apakah shalat istikharah untuk menentukan pilihan dalam Pemilihan Umum harus dilakukan sebelum memilih atau boleh setelahnya?
_

Ada pandangan yang memaknai shalat istikharah sebagai cara untuk mendapatkan petunjuk dalam menentukan pilihan sulit sehingga seringkali dikaitkan dengan pertanda yang didapatkan yang salah satunya adalah melalui mimpi. Dari pandangan tersebut kemudian banyak dipahami orang bahwa shalat istikharah harus dilakukan sebelum tidur.
Pedoman dalam shalat istikharah dapat kita jumpai dari ungkapan Rasulullah s.a.w.:
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ (رواه البخاري)
“Apabila seorang dari kalian berkehendak akan (melakukan) satu urusan, hendaklah ia shalat dua raka’at di luar shalat fardhu.”
Kata “ همّ ” artinya berniat, menghendaki dan membuat keputusan/ber-‘azam (lih. Ibnu Manzhur, Lisanul Arab). Tidak sedikit orang salah paham dalam kaitan dengan istikharah yang menganggap bahwa istikharah dilakukan untuk urusan yang sulit dan atau membingungkan karena sebenarnya shalat istikharah dilakukan setelah seseorang mantap dengan pilihan, keputusan, rencana yang dibuatnya.
Shalat istikharah merupakan pengukuhan sikap tawakkal kepada Allah SWT. Hal tersebut dapat dipahami dari do’a yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri di dalam shalat istikharah, yakni dengan ungkapan permohonan: “jika hal ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan akhiratku, maka takdirkanlah dan mudahkanlah ia, kemudian berkahilah aku dalam urusan tersebut. Adapun jika hal tersebut tidaklah baik untukku dalam agamaku, duniaku dan akhiratku, maka jauhkanlah hal itu dariku dan jauhkan aku darinya, kemudian takdirkanlah untukku pengganti yang lebih baik kemudian berkahilah aku di dalam urusan tersebut.
Tentu banyak pertimbangan yang melatarbelakangi suatu pilihan yang dibuat, akan tetapi dalam hal terwujudnya hal tersebut, baik dan tidaknya hal tersebut, adalah mutlak ada dalam kuasa dan kehendak Allah SWT. Maka dalam setiap membuat keputusan, pilihan atau suatu maksud, Allah memerintahkan di dalam Firman-Nya:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [٣: ١٥٩]
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran/3: 159)
_

Dalam pengertian ber-‘azam, memilih tidak serta merta menentukan apa yang kita pilih karena masih terdapat proses lain dan hal-hal yang melibatkan orang lain, bahkan setelah seseorang menentukan pilihannya dalam pemilihan umum masih dapat dibenarkan baginya untuk beristikharah. Pilihannya adalah sebuah ‘azam dan setelah itu ia bertawakkal, yang artinya berserah diri, menyerahkan urusan sepenuhnya kepada Allah SWT. Hasbunallaahu wani’mal wakiil



Print Friendly and PDF

Traveling; Pelajaran Apa yang Dapat Diraih

Traveling sudah menjadi tren masa kini yang nyaris menjadi semacam standar, ukuran atau bahkan "tujuan" hidup seseorang. Apakah dalam bentuk hobi otomotif, minat akan benda klasik, atau sekedar melakukan satu permainan. Sehebat apa hidup seseorang, sehebat apa cara dia bepergian/traveling; apa yang dia kendarai, makanan apa yang dia beli atau sesering apa ia melakukan traveling itu sendiri, atau apa saja yang melekat pada suatu perjalanan.
_
di masjid ini orang datang dari berbagai penjuru dunia
Traveling identik dengan pengalaman hidup, karena dari perjalanan seseorang akan bertemu dengan habitat dan keragaman suasana. Selain kesan, traveling dapat menjadi pelajaran berharga bagi seseorang dari banyak hal yang tidak dikiranya akan memberi pelajaran. Traveling identik dengan cerita dan pada cerita tersebut terdapat pelajaran.
Allah SWT berfirman:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ [١٦: ٣٦]
“Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-naml/27: 69)

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ [٢٧: ٦٩]
“Katakanlah: "Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (An-Nahl/16: 69)

Ungkapan perintah untuk melakukan perjalanan di bumi banyak diungkapkan di dalam Al-Quran (setidaknya terdapat pada 14 tempat). Perintah tersebut selalu diikuti dengan ungkapan, “dan perhatikanlah bagaimana akibat (yang ditimpakan) pada orang-orang yang mendustakan/orang-orang durhaka,” mensiratkan bahwasannya di dalam perjalanan tersebut akan banyak dijumpai sifat-sifat yang bertentangan dengan agama.
Suatu perjalanan (tamasya) selalu meninggalkan kesan keistimewaan tempat yang dikunjungi. Kesan-kesan tersebut belum tentu selaras dengan nilai-nilai keislaman atau bahkan bertentangan sama sekali. Secara sederhana, kesan apa yang timbul dari perjalanan pada suatu tempat yang cenderung terbiasa mempertontonkan aurat – sebagai contoh, cukup menentukan nilai perjalanan itu sendiri. Jika ternyata seseorang justru terkesan dengan habitat tersebut, mengagumi atau bahkan meniru dengan bangga, hal ini jelas-jelas menafikan substansi perintah untuk melakukan perjalanan.
Kebaikan apa yang didapat seseorang dalam melakukan perjalanan, adalah sesuatu yang bernilai keagamaan. Kunjungan pada situs purbakala yang notabene adalah tempat-tempat pemujaan (kemusyrikan), seyogyanya lebih dapat menjaga seseorang dari hal-hal yang berbau kemusyrikan dan bukan sebaliknya. Sebagaimana anjuran yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. mengenai sifat perjalanan yang harus lebih diutamakan oleh seseorang, yakni perjalanan menuju tiga mesjid. Rasulullah s.a.w. mengatakan:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِي، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Tidaklah (disarankan) untuk bersungguh-sungguh dalam suatu perjalanan kecuali ke tiga masjid berikut; Masjidil Haram, masjidku ini dan masjid Al-Aqsha.”
_

Ada keistimewaan dari ketiga tempat tersebut, sebagaimana Rasulullah s.a.w. menegaskannya bahwa shalat di Masjidil Haram sebanding dengan 100.000 kali shalat di masjid lainnya, Masjid Nabawi seribu kali lipat dan Masjid Al-Aqsha Seratus kali lipat. Gambaran ini merupakan ukuran kebaikan yang akan diraih seseorang dari perjalanannya, karena  shalat merupakan ukuran segala sesuatu. Dengan nilai shalat sedemikian rupa istimewa, maka demikian pula nilai perjalanan itu sendiri.

Haji dan Umroh merupakan satu bentuk perjalanan yang harus dilakukan, bahkan salah satunya menjadi rukun Islam. Maka perjalanan apa yang menjadi prioritas seseorang, akan sangat menentukan keislamannya.


Print Friendly and PDF

Umroh dan Peningkatan Kualitas Hidup

Secara bahasa umroh berarti berkunjung, ziarah dan dari arti tersebut juga dapat dipahami dengan wisata. Akan tetapi berbeda dengan wisata secara umum, perjalanan umroh tidak hanya sekedar berkunjung dan bukan sesuatu yang dilakukan untuk bersenang-senang. Umroh merupakan perjalanan ibadah, segala sesuatu yang menyangkut aktivitasnya telah diatur oleh syari’at dan tentunya tidak dapat dilkukan denan sesuka hati. Dan kesenangan yang didapat dari umroh tidak lain adalah kesenangan yang didapat dari beribadah.
Nabi s.a.w. mengatakan:

العُمْرَةُ إلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لما بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلا الجَنَّةُ (متفق عليه)
“Dari satu umrah ke umrah lainnya merupakan kifarat (penghapus dosa) di antara keduanya. Dan haji mabrur tiada balasan lain baginya kecuali surga.” (Riwayat Bukhari-Muslim)

Makna yang terkandung di dalam hadits tersebut menunjukkan salah satu substansi ibadah umroh itu sendiri, yakni kafarat (penghapus dosa), bahwasannya ibadah umrah seumpama proses ‘penghapusan dosa’ yang secara prinsip tentunya hal tersebut hanya dapat dilalui orang-orang yang hendak bertaubat.
Bertaubat merupakan salah satu ciri orang-orang yang sangat dekat dengan Allah.

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ ؛ مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ [٥٠: ٣٢-٣٣]
“Inilah (surga) yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya); (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Qaf/50: 32-33)

Dari kata taubat sendiri dapat dipahami bahwa hal tersebut hanya dilakukan orang yang selalu memperbaiki diri, bukannya orang yang terbiasa mengulang perbuatan dosa dan kesalahan.
Kifarat yang disebutkan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai hikmah ibadah umroh merupakan cerminan dari orang-orang yang menunaikan ibadah umroh. Tentu saja kifarat tersebut tidak berlaku bagi orang yang didalam umrohnya jauh dari taubat atau bahkan cenderung berbuat dosa. Bagi seseorang, biaya atau segala hal yang menyangkut kebutuhan dalam perjalanan umroh boleh jadi hal yang sangat sepele atau mudah dipenuhi sehingga dengan mudah pula ia memenuhi ibadah tersebut berulang kali dan tampak bersenang-senang di dalamnya. Akan tetapi berulang-ulangnya umroh yang dilakukannya bukanlah jaminan yang akan membuatnya meraih keutamaan dari ibadah umroh sendiri, yakni terutama meraih kafarat (dihapusnya dosa-dosa).
Maka dari itu, hal-hal berikut ini patut diperhatikan bagi siapa saja dalam melakukan perjalanan tersebut.
Pertama, mengikhlaskan niat.
Kedua,memenuhi segala ketentuan dan ketetapan syari’at dalam menunaikan segala bentuk prosesi ibadah umroh.
Ketiga, menjaga dari dan menghindari perbuatan dosa dan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat (terutama secara syar’i).



Dari tiga hal di atas, sehubungan dengan maraknya travel bimbingan umroh dan haji, hendaklah cukup selektif dalam memilih biro yang akan membimbing perjalanan umrohnya. Niat dan hal-hal di atas memanglah merupakan hal yang sangat individual, akan tetapi apabila biro/jasa bimbingan yang dipilih cenderung mengedepankan hal-hal yang tidak bernilai ibadah atau bahkan cenderung glamour, boleh jadi seseorang akan kesulitan untuk menjaga ketiga hal tersebut sehingga tidak dapat meraih keutamaan yang melekat pada ibadah umroh yang ditunaikannya.


Print Friendly and PDF

Hikmah Shalat Berjama’ah

Bahwasannya hikmah di dalam shalat berjamaah merupakan hikmah dan karunia yang sangat besar dan apabila seseorang dapat memahaminya dengan baik sungguh ia akan mendapatkan kesadaran bahwa dengan berjamaah tersebut Allah memberi nikmat paling besar yaitu nikmat iman. Berbeda dengan shalat munfarid, yang merupakan sifat menyendiri yang bertentangan dengan prinsip sosial dan kesatuan umat.
Oleh karena itulah, sebagaimana telah dipahami secara umum, Allah menetapkan keutamaan shalat berjama’ah  jauh di atas sifat shalat munfarid. Di dalam shalat berjamaah terdapat nilai-nilai yang harus dipahami secara luas dalam kaitannya dengan persaudaraan dan persatuan umat.

Di antara beberapa ungkapan hadits Rasulullah s.a.w. mengenai shalat berjama’ah mensiratkan hikmah-hikmah yang besar bagi orang yang melakukannya. Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ، وَلَا بَدْوٍ، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ، إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ (رواه أحمد وأبو داود)
“Tidaklah tiga orang yang tinggal dalam suatu kampung yang tidak didirikan shalat (berjamaah) oleh mereka, kecuali bahwa disanalah setan telah menguasai mereka. Maka berjamaahlah kalian, sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang terpisah dari kawanannya.” (Riwayat Ahmad dan Abu Daud)

Dari hadits tersebut digambarkan dengan jelas bagaimana shalat berjamaah dapat menjadi diri seseorang dari syetan. Dengan berjamaah seseorang akan mendapat kekuatan besar untuk melawan syetan. Sehingga setan justru menjadi segan untuk menggoda, layaknya hewan buas yang menjadi ciut nyalinya karena melihat kawanan ternak yang bergerombol meskipun ternak tersebut biasanya lebih mudah untuk dimangsa.
Rasulullah s.a.w. juga mengatakan:

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ، وَحَاذُوا بَيْنَ المَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الخَلَلَ، وَلِيْنُوا بِأَيْدِي إخْوَانِكُمْ، وَلا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفّاً وَصَلَهُ الله، وَمَنْ قَطَعَ صَفّاً قَطَعَهُ الله (أخرجه أبو داود والنسائي)
“Luruskanlah shaff-shaff, sejajarkan pundak-pundak, tutuplah celah-celah dan tautkanlah dengan tangan-tangan saudara kalian. Dan jangan biarkan ada celah-celah bagi syetan. Barang siapa yang menyambungkan shaff maka Allah akan menyambungkan (silaturahminya) dan barangsiapa yang memutus shaff maka Allah akan memutusnya. (Riwayat Abu Daud dan Nasai)

Di antara kesempatan yang sering digunakan syetan untuk menggoda seseorang adalah dengan memasuki celah-celah dan sifat lengang dari barisan dan keadaan orang-orang beriman. Celah-celah tersebut dapat berupa hal-hal buruk, perkataan tidak baik yang dilontarkan dalam percakapan, digunakan syetan untuk menimbulkan perselisihan (lih. QS. 17: 53).

عن أبي مسعود رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله - صلى الله عليه وسلم - يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاةِ وَيَقُولُ: «اسْتَوُوا وَلا تَخْتَلِفُوا، فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، لِيَلِنِي مِنْكُمْ أولُو الأحْلامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ» (رواه مسلم)
Dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata, Rasulullah s.a.w. menepuk pundak-pundak kami ketika shalat dan berkata, “luruskanlah dan jangan (sampai tampak) saling menyelisihi, maka (jika tidak lurus) hati kalian akan saling menyelisihi. Hendaklah (berjajar) di belakangku orang-orang yang (lebih) dewasa dan paling memahami, kemudian orang-orang yang di bawahnya, kemudian yang di bawahnya (dalam kedewasaan dan pemahaman). (Riwayat Muslim)
_


Di antaranya kita dapat melihat bagaimana tatanan sosial dan gambaran kaum muslimin di dalam satu kesatuan shaff di belakang satu pimpinan (imam). Kebersamaan tersebut tidak membeda-bedakan latar belakang kekayaan dan urusan duniawi lainnya, semua berdampingan tanpa ada pembeda atau sekat yang memisahkan. Dengan demikian kemudian prinsip kesetaraan, yang merupakan satu kaidah mendasar di dalam Islam, dapat diwujudkan.
Hikmah lain yang terkandung dalam shalat berjamaah adalah bagaimana umat Islam bisa dipersatukan meskipun satu sama lain tidak saling mengenal. Dalam mengambil shaff shalat setiap orang mengambil tempat tanpa mempertimbangkan di samping siapa, bersama siapa atau tempat siapa yang dipijak.
Sebagai catatan penting, untuk dapat memperoleh hikmah-hikmah tersebut, seyogyanya kita benar-benar memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam shalat berjama’ah. Tanpa memperhatikan ketentuan-ketentuan tersebut, ma’adzallah, bisa jadi sifat kebersamaan dan kesatuan yang kita wujudkan hanya menjadi buih lautan yang terombang-ambing. Dan sebaliknya, dengan memenuhi segala ketentuan dalam shalat bejamaah, kesatuan dan solidaritas umat dapat terwujud pula dengan baik karena shalat merupakan tolok ukur segala amal dan perbuatan.


Print Friendly and PDF

Rezeki yang Tidak Disangka-Sangka


Ibadah dan ketakwaan bukanlah cara untuk mendapatkan rezeki. Namun tidak sedikit orang yang sering mempertanyakan segala bentuk ibadah yang telah dilakukannya dalam hal kaitan dengan rezeki yang diterimanya. Seringkali muncul anggapan yang seolah-olah menyangsikan apa yang dijanjikan Allah SWT, dengan mengatakan, “sudah banyak aku beribadah tetapi kenapa rezeki tetap sulit.”
__
Ada persepsi yang keliru dalam menilai rezeki dengan menisbatkannya pada sifat harta benda (uang) saja. Karena di samping bahwa rezeki yang dikaruniakan Allah tidak terbatas pada harta benda, bahkan harta benda tersebut (seperti uang yang telah tersimpan di rekening, misalnya) belum tentu merupakan rezeki bagi dirinya. Karena sebenarnya uang tersebut sebenarnya hanya dapat dikatakan telah menjadi rezeki seseorang di saat ia sudah membelanjakannya.
Rezeki adalah segala sesuatu yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya baik yang bersifat zhahir (materil) maupun bathin. Prinsip dasarnya, yang harus dipahami dengan benar, bahwa itu mutlak bersumber dari Allah. Maka dari pengertian tersebut sangatlah luas cakupannya dan harta benda hanya merupakan sebagian kecilnya saja. Allah menetapkan rezeki untuk makhluknya setidaknya dalam tiga kategori mendasar, yaitu: rezeki yang telah dijamin untuk segenap makhluk-Nya, rezeki yang didapatkan dengan berusaha dan rezeki yang dikaruniakan Allah secara khusus yang orang-orang yang dikasihi-Nya. Di antara ketiga macam rezeki tersebut, jenis ketigalah yang sifatnya istimewa, yang secara umum dikenal dengan sebutan rezeki yang tidak disangka-sangka.
Rezeki yang tidak disangka-sangka ini dijanjikan Allah hanya orang tertentu saja. Di dalam Firman-Nya dikatakan:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ؛ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ  [٦٥: ٢-٣]
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq/65: 2-3)
Keistimewaan tersebut hanya akan diraih oleh orang-orang yang bertakwa. Jadi, jika seseorang mengidam-idamkan datangnya rezeki yang tidak disangka-sangka tersebut pada dasarnya cukuplah sederhana apa yang harus dilakukannya hanya dengan bertakwa kepada Allah SWT.

__
Di dalam Al-Quran kata yang tiada disangka-sangka ( احْتَسَبَ – يَحْتَسِبُ ) dan hanya dalam satu ayat ini disebutkan menyangkut rezeki. Dua ayat lainnya menjelaskan tentang akibat buruk yang akan diterima oleh manusia di dunia dan di akhirat yang diberlakukan bagi orang-orang yang durhakan (lih. 39: 47 dan 59: 2). Dengan demikian dapat diambil satu kesimpulan yang mendasar bahwa rezeki yang tidak disangka-sangka tersebut hanya diraih oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah, yang notabene sudah tentu bukanlah orang-orang yang memuja-muja kekayaan atau jumlah properti yang melimpah, melainkan mereka yang benar-benar menjadikan akhirat sebagai tujuannya. Dan apakah yang didapatkan orang dengan ketakwaannya yang hanya mengidam-idamkan kebahagiaan akhirat, Rasulullah s.a.w. mengatakan:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ (الترمذي)
“Barangsiapa barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan dikumpulkan keseluruhan (urusannya), dan kehidupan dunia akan datang kepadanya dengan segala kelapangannya.  Dan yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Allah akan menceraiberaikan urusannya, dijadikan kefakiran di depan matanya dan dunia tidak datang kepadanya melainkan dengan kadar yang bisa dia upayakan belaka.” (Riwayat Tirmidzi, shahih)



Print Friendly and PDF

Hidup Berkualitas "karena" Orang Lain

Apakah karena kita memiliki kendaraan terbaru, rumah mewah yang sangat besar atau memiliki pulau sendiri, atau bayangkan apa saja yang melekat pada diri kita sendiri saja - sehebat apapun itu - yang akan kita temukan hanyalah kekosongan atau bahkan penderitaan? Itu dapat dipahami dengan mudah terutama jika kita bayangkan tanpa kehadiran orang lain. Akan tetapi bagaimanapun, sekiranya keberadaan orang lain tak lebih dari eksistensi egoisme dan kesombongan, tentu tidak akan lebih baik dari kekosongan dan penderitaan tersebut. Ukuran kebaikan, kualitas hidup dan kebermaknaan itu sejatinya sangat sederhana dan tidak sulit bagi setiap orang untuk dapat mewujudkannya, sebagaimana dapat kita pahami dengan mudah dari kata-kata Rasulullah s.a.w.:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (رواه القضائي)
“Sebaik-baiknya orang yaitu orang yang banyak berguna untuk (sesama) manusia.” (Riwayat Al-Qadhaiy)

Berguna bagi orang lain, suatu ungkapan yang dijadikan ukuran kebaikan seseorang dari Rasulullah, ternyata dilihat pada urusan di luar dirinya (baca: orang lain).
Sementara itu ada banyak ukuran yang dijadikan orang sebagai ukuran kebaikan, seperti berpenghasilan tinggi atau memiliki aset kekayaan yang banyak, memiliki rumah mewah, mobil mewah atau gelar-gelar kebesaran lainnya yang selalu dapat dibangga-banggakan. Mengendarai Lamborghini terbaru, real estate, dikelilingi orang-orang yang menyanjung, yang barangkali kemudian terkesan selalu terpuaskan dengan keinginannya, banyak diidam-idamkan orang sebagai ukuran keberhasilan, kebermaknaan atau bahkan tujuan hidup. Pada hasrat dan ragam cita rasa demikian, secara umum cenderung menempatkan seseorang terputus dari “manusia lain”. Atau, barangkali ada semacam kesadaran yang menempatkan orang untuk mengasingkan diri dari orang lain untuk sesuatu yang dipandangnya sebagai peribadatan.
Allah SWT berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ [٣: ١١٢]
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia...” (Ali Imran/3: 112).

Dua konsep dasar – hablun minallah dan hablun minannas – yang lebih populer disebut vertikal-horizontal, merupakan dua hal yang tidak jarang disikapi secara terpisah. Kecenderungan salah satunya seringkali dilakukan dengan berbagai pembenaran yang cukup menyesatkan. Bahwa substansi hidup adalah menyangkut Sang Khaliq, bukan berarti dapat menafikan hubungan dengan sesama karena itupun merupakan kehendak-Nya. Demikian pula sebaliknya, kesolehan “sosial” tanpa didasari ketaatan kepada-Nya akan menjerumuskan seseorang kekaburan batasan atau membabi buta sehingga cenderung menghalalkan segala cara.
Hubungan dengan sesama, hablun minannas, merupakan satu ukuran untuk menilai kualitas hidup. Adalah tidak terbayangkan apabila seseorang menilai kualitas diri hanya dengan melihat diri sendiri, sehebat apapun itu. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w. ukuran iman seseorang dilihat dari cara dia mencintai orang lain, dengan mengatakan:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (البخاري ومسلم وغيرهما)
“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia dapat mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan perawi lainnya)

Gambar: m.pulsk.com

Berbagi dengan sesama, sebagaimana dituntut dalam bersedekah – lih. QS. 02: 267, adalah cara agar orang lain juga dapat merasakan kenikmatan yang kita rasakan. Membantu kesusahan, menolong orang yang menderita, dan sifat-sifat lain dalam hal kebaikan sesial adalah cara agar orang lain tidak merasakan derita, rasa sakit yang kita sendiri tidak suka dengan keadaan tersebut. Bahkan, dengan menggunjingkan aib orang lain, Allah menyamakannya dengan sifat orang yang suka memakan daging bangkai saudaranya sendiri (49: 12).
Di dalam surat Al-Ma’un, Allah menegaskan bagaimana sebenarnya sifat orang yang tidak mau berbagi, menolong atau memberi manfaat kepada orang lain sebagai orang yang mendustakan agama (atau, dalam penafsiran disebut mendustakan hari akhir). Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ؛ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ؛ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ [١۰٧: ١-٣]
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim; dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.” (Al-Ma’un/107: 1-3)

Dan di akhir surat, setelah sebelumnya dijelaskan bahkan orang-orang yang melakukan shalatpun celaka, jika ia ternyata selalu enggan untuk menjadi bermanfaat untuk orang lain. Firman-Nya:

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ [١٠٧: ٧]
“dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Al-Ma’un/107: 7)




Print Friendly and PDF

Shalat Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar

Shalat itu tiang agama. Maka barangsiapa dapat mengukuhkannya sungguh ia telah mengukuhkan agamanya. Dan sebaliknya, bagi orang yang tidak dapat mengukuhkannya sesungguhnya ia telah merusak bangunan keberagamaannya. Demikian gambaran dari Rasulullah s.a.w. ketika menjelaskan kedudukan shalat di dalam Islam. Banyak riwayat hadits lain yang menjelaskan kedudukan shalat dalam keberagamaan dan shalat sendiri disebutkan sebagai urusan yang dijadikan pembeda antara seorang mukmin dan seorang kafir.
Tegaknya agama pada pribadi seseorang adalah terpenuhinya tugas keberagamaan. Shalat merupakan tolok ukur dan sekaligus jaminan selamatnya keberagamaan seseorang. Dalam satu ayat ditegaskan bagaimana shalat akan membentuk pribadi yang jauh dari maksiat secara total, dalam arti yang terkandung oleh dua pengertian prilaku hina/keji (fahsya’) dan jahat (munkar), dalam firman Allah SWT:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [٢٩: ٤٥]
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (At-Taghabun/29: 45)

Namun seringkali muncul pertanyaan, bahwa seringkali ada orang yang shalat justru perilakunya bertentangan dengan agama. Sebut saja gambaran seseorang yang tidak pernah tertinggal shalatnya bahkan selalu berjama’ah, shalat-shalat sunatnya tidak tertinggal dan bahkan barangkali dikenal umum lebih dari sekedar ahli shalat, ia adalah seorang tokoh agama atau dikenal sebagai alim ulama, tetapi ternyata dari sudut pandang yang berbeda ia justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Bukankah shalatnya akan menghalangi dia dari berbuat hal-hal buruk atau jahat?
Secara lahiriah seseorang dapat memiliki kesan ahli shalat bahkan lebih dari sekedar ahli shalat. permasalahan seperti ini rupanya telah mengemuka pada masa hidup Rasulullah s.a.w., ketika itu seseorang mengadukan tentang perilaku seorang lainnya yang tampak sebagai ahli shalat akan tetapi pagi harinya ia mencuri. Rasulullah s.a.w. mengatakan:

إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ (رواه أحمد)
“Sesuangguhnya apa yang dia katakan (dalam shalatnya) itu akan mencegahnya.” (Riwayat Ahmad; diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dan Al-Bazzar)

Jawaban Rasulullah s.a.w. menegaskan bahwa bukan persoalan shalatnya yang tidak dapat mencegahnya akan tetapi bagaimana seseorang dalam melakukan shalatnya tersebut apakah ia telah memenuhinya dengan segala ketentuan yang melekat pada shalat itu sendiri. Artinya, bahwa apabila seseorang tetap/selalu melakukan kemaksiatan padahal shalatnyapun tidak pernah tertinggal adalah indikasi bahwa ia tidak mendirikan shalatnya dengan sebenar-benarnya.
***
Dalam beberapa riwayat yang dinukil oleh Ibnu Katsir, yang secara umum merupakan riwayat-riwayat mauquf dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan Hasan, bahwa bukanlah itu shalat bagi orang shalatnya tidak dapat mencegahnya dari berbuat keji dan munkar. Ibnu Katsir juga menukil perkataan Abu Al-‘Aliyah, bahwa setidaknya ada tidak hal pokok yang melekat pada shalat, yaitu: ikhlas, takut dan dzikir. Keikhlasan akan mendorong pada kebaikan, takut (kepada Allah) akan mencegah perbuatan yang dilarang dan dzikir (bacaan Al-Quran) mendorong (pada kebaikan) dan sekaligus mencegahnya (dari kemunkaran).
Oleh karena itu, justru di dalam Al-Quran sendiri ada kelompok orang yang dilaknat meskipun mereka melaksanakan shalat. Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ؛ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ؛ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ؛ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ [١٠٧: ٤-٧]
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat; (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya; orang-orang yang berbuat riya; dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (Al-Ma’un/107: 4-7)

Selanjutnya mari kita bermuhasabah, dalam hal segala usaha atau pekerjaan yang kita lakukan, apakah shalat kita merupakan cerminan kekhusyu'an yang tidak lain hanya bertujuan kepada Allah dengan idaman perjumpaan dengan-Nya. Ataukah, sementara di balik kerendahan sujud, kita justru lebih mengidam-idamkan untuk memiliki BMW i8 atau Chevrolet Camaro RS lebih dari keinginan untuk membantu saudara-saudara yang berkesusahan? Maka kepada-Nyalah kita memohon pertolongan.





Print Friendly and PDF