Tampilkan postingan dengan label Hamalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hamalah. Tampilkan semua postingan

Skema Daurah Tahfizh Manhaj Ta’ahudi


Sesi

Target Progresif Harian (Baris)

Jumlah

(per-Juz)

Jumlah Total

Bersama

Mandiri

Akselaratif

1

5

-

-

5

150

2

5

5

-

10

300

3

5

7,5

10

22,5

675

4

7,5

7,5

10

25

750

5

7,5

7,5

15

30

900

6

7,5

7,5

15

30

900

7

7,5

10

20

37,5

1125

8

10

10

20

40

1200

9

10

10

30

50

1500

10

10

10

30

50

1500

 

75

75

150

300

 


Keterangan Tabel:

1.    Skema Daurah merupakan simulasi proses hafalan setiap juz dalam satu tahun.

2.    Sesi adalah tahapan proses menghafal dari setiap juz Al-Quran yang dipenuhi dalam 30 kali pertemuan kelas dalam 1 tahun

3.    Target Progresif Harian merupakan pelaksanaan kelas/halaqah harian yang berjalan secara progresif, dengan rincian:

a)      Target Bersama; Kelas tatap muka/halaqah hafalan inti di waktu potensial (Ba’da Shubuh dan atau sebelum shubuh) dengan target sesi 5 – 10 baris ayat per-hari.

b)      Target Mandiri; Penugasan target hafalan secara mandiri tanpa tatap muka yang harus ditunaikan setiap hari dengan target sesi 5 – 10 baris per-hari.

c)      Target Akselaratif; Merupakan target khusus bagi peserta yang dianugerahi kelebihan potensi menghafal (memorizing) sebagai tambahan hafalan mandiri dengan target sesi 10 – 30 baris per-hari.

4.    Estimasi waktu untuk menghafal 30 Juz:

a)      Cukup dengan memenuhi Target Bersama peserta dapat menyelesaikan proses menghafal 30 Juz dalam 4 tahun

b)      Apabila Target Bersama dan Target Mandiri dipenuhi maka peserta dapat menyelesaikan hafalan 30 Juz dalam 2 Tahun

c)      Apabila peserta dapat memenuhi keseluruhan target maka dapat menyelesaikan hafalan 30 Juz dalam 1 tahun.

5.    Skema ini dibuat dengan asumsi 300 baris untuk setiap juz (sesuai Mushaf Rasmi Madinah) dan pada pelaksanaanya disesuaikan dengan pembagian Hizb yang tertera pada mushaf.

6.    Skema muraja’ah, pemantik memorizing dan pemantapan (stimulasi)

a)      Muroja’ah bersama;

(1)    mengulang tiga bagian hafalan terakhir sebelum memulai hafalan baru

(2)    mengulang bagian 1 juz dari setiap per-sepuluh juz secara berurutan ditambah 3 rangkaian hafalan juz terbaru

b)      Kelas penguatan kebahasaan dan tadabbur afirmatif (ba’da maghrib)

c)      Implementasi bacaan ayat yang dihafal di dalam shalat dan implementasi lain (motivasi harian, khitobah dan afirmasi isu-isu utama kandungan ayat).

d)      Kelas kalibrasi dan akselarasi untuk menjaga konsistensi dan optimalisasi target.

7. Skema ini tidak bersifat mutlak dan dapat disesuaikan dengan kapasitas/kebutuhan halaqah.
Print Friendly and PDF

Manhaj Ta’āhudī

Pendekatan Komitmen Berkelanjutan dalam Tahfizh Al-Qur’an

Manhaj Ta’āhudī adalah suatu pendekatan metodologis dalam tahfizh Al-Qur’an yang dicetuskan oleh Ibnu Rudani Marfu, sebagai manifestasi perintah Rasulullah SAW dalam berkomitmen dengan Al-Quran, untuk membebaskan dari berbagai situasi yang menjadikan Al-Quran mudah terlepas sejak dari sifat bacaan sampai aktualisasi.

Dalam kerangka Manhaj Ta’āhudī, hafalan Al-Qur’an bukan semata sebagai aktivitas teknis kognitif, melainkan sebagai relasi komitmen berkelanjutan (ta’āhud) dengan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan utuh yang harus dihadirkan, dijaga, dan diperbarui keterikatannya secara terus-menerus melalui interaksi yang konsisten dan sadar. Hafalan diposisikan sebagai praktik mulāzamah Al-Qur’an, dengan struktur yang disusun secara menyeluruh, progresif, dan adaptif terhadap daya hafal individu.

Sebagai metode tahfizh, Manhaj Ta’āhudī meniscayakan variabel pokok berikut:

1.    Ta’āhud (komitmen berkelanjutan), yaitu kesediaan memperbarui ikatan dengan Al-Qur’an secara terus-menerus dan keikhlasan niat yang solid, bukan komitmen sesaat.

2.    Mulāzamah Al-Qur’an, berupa keterikatan rutin dan konsisten dalam interaksi harian dengan Al-Qur’an, dalam bentuk disiplin positif dan adab tahfizh – hamalatul quran) dengan indikator pada sikap, ucapan dan tindakan yang mencerminkan nilai-nilai Qurani.

3.    Target dan Muraja’ah terstruktur dan berlapis yang diberlakukan secara progresif yang sepenuhnya berientasi pada penjagaan Al-Quran secara utuh dan berkelanjutan.

4.    Pembiasaan bertahap dan komitmen waktu; membangun keteraturan berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui langkah kecil yang konsisten dan realistis, sehingga disiplin tumbuh dari kesadaran diri.

5.    Validasi pelafalan dengan pendekatan talaqqi dan tahsin terintegrasi sebagai penjagaan ketepatan pelafalan huruf dan kualitas bacaan yang terjaga dari kekeliruan fatal (lahn jaliy).

6.    Penguatan Kebahasaan dan Impelementasi; menghidupkan proses menghafal melalui pengenalan fungsional kebahasaan dan menghadirkan ayat-ayat yang dihafal dalam praktik ibadah, sikap hidup dan dakwah.

7.    Komunitas; sebagai ekosistem pendukung yang menjaga keberlanjutan komitmen, kontrol mutu, dan stabilitas psikologis penghafal. 

            Orientasi manhaj ini tidak bertumpu pada capaian parsial atau kecepatan hafal, melainkan pada ketahanan hafalan, kesinambungan relasi, dan keberlangsungan penjagaan Al-Qur’an sepanjang hayat.

Print Friendly and PDF

Ayat-ayat untuk Membantu Anda Berprasangka Baik kepada Allah SWT

 

Berikut adalah beberapa ayat Al-Quran yang dapat membantu Anda meningkatkan prasangka baik terhadap Allah:

1. Surah Al-Baqarah, ayat 216:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [٢: ٢١٦]

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

 

2. Surah At-Talaq, ayat 3:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا [٦٥: ٢]

"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya."

 

3. Surah Ar-Rum, ayat 21:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ۰: ٢١]

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir."

 

4. Surah Az-Zumar, ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ [٣٩: ٥٣]

"Sampaikanlah (olehmu): “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 

5. Surah Ash-Shura, ayat 30:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ[٤٢: ٣۰]

"Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa)mu."

 

6. Surah Al-Isra, ayat 82:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا [١٧: ٨٢]

"Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."

         Ayat-ayat ini mengingatkan kita untuk berprasangka baik kepada Allah, yakin bahwa Dia Maha Bijaksana, Maha Pengampun, dan Maha Penyayang. Semoga ayat-ayat ini memberi Anda ketenangan, keyakinan, dan peningkatan prasangka baik terhadap Allah.


powered by: chatGPT

Print Friendly and PDF

Belajar dari Anak-Anak Palestina yang Hafal Quran dengan Mudah

Seseorang boleh jadi jarang melihat atau mungkin tidak pernah sama sekali melihat situasi Palestina sehingga masih nyaman berkeluh kesah atau mempersoalkan hal remeh temeh atau memiliki kesibukan yang selalu membuat nyaman untuk mengatakan tak ada waktu untuk melakukan satu kebaikan yang sangat mudah dan memudahkan urusannya, yakni menghafal Quran. Walhasil, dari sekian alasan yang dapat dibuat tersebut, jangankan untuk menghafal membacanya saja entah menjadi prioritas nomor berapa dari sekian banyak hal yang dianggap penting setiap harinya. (Baca juga; kenapa harus menghafal Quran). Sementara di belahan lain kehidupan kita, di Palestina, terdapat orang yang senantiasa membaca dan menjadi penghafal Quran dari berbagai kalangan usia, dari yang usia enam tahun dan enam puluh tahun.

Dari keadaan genting yang menjadi menu keseharian mereka, di Gaza, lahir daurah hafalan Quran seperti Darul Quran was Sunnah dari berbagai kalangan usia terutama anak-anak. Mereka belajar tidak seperti di sekolah atau pesantren yang terdapat di Indonesia dengan segala fasilitas dan kenyamanannya atau majlis-majlis ilmu dan kegiatan keagamaan yang banyak diikuti masyarkat kita. Setiap harinya mereka harus selalu berhadapan dengan ledakan bom, ancaman dan penyiksaan yang seringkali menyerang secara tiba-tiba.

Salah seorang instruktur daurah hafalan Quran di Gaza, Syekh Abdurrahman Jaber, memperkenalkan metode yang diterapkan yang sejauh pengetahuan penulis lebih dikenal dengan metode pengulangan yang secara umum dalam prakteknya membutuhkan banyak waktu. Dalam memperkenalkan metode Gaza Syekh Abdurrahman Jaber memaparkan empat pilar utama dalam menghafal yang meliputi tahap persiapan (isti’dadat), pilihan media pendukung (wasail), hafalan (tahfizh) dan pengulangan (muraja’ah). Teknik pelaksanaannya membutuhkan banyak variabel, banyak waktu dan keseksamaan yang luar biasa. Kesemua itu dapat diaktualisasikan dengan kesan begitu mudah sehingga daurah seperti Darul Quran was Sunnah telah meluluskan ribuan alumni penghafal Quran dalam situasi tersebut.

Gbr. www.fadhilza.com

Sekedar untuk mengambil ibrah dari gambaran tersebut, kiranya cukup bagi kita untuk bertanya sesulit apa keadaan hari ini bagi kita sehingga membuat kita melewatkan Al-Quran untuk menghafalnya. Kenapa menghafal? Karena menghafal itu bukan membaca sepintas lalu yang seringkali menimbulkan gagal paham. Karena menghafal lebih memberikan kita keleluasaan untuk dapat memahami kandungannya sebab ia telah tersimpan dalam ingatan untuk dapat direnungkan setiap saat. Karena dengan menghafalnya kita akan lebih dekat dengan bimbingan Al-Quran yang menyertai setiap gerak langkah bahkan di ranah alam bawah sadar.

 

  

Print Friendly and PDF