Hal-hal Penting Agar Doa Dikabulkan


Setiap doa yang dipanjatkan akan dikabulkan Allah. Akan tetapi ada banyak kecenderungan dan sikap orang dalam hubungan dengan berdo’a kepada Allah SWT, yang salah satunya justru menjadi sebab tidak dikabulkannya do’a yang ia panjatkan. Rasulullah s.a.w. bersabda:
" لَا يَزَالُ الْعَبْدُ بِخَيْرٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ". قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ، كَيْفَ يَسْتَعْجِلُ؟ قَالَ: " يَقُولُ دَعَوْتُ رَبِّي فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي " (رواه أحمد)
“Seorang hamba senantiasa ada dalam kebaikan, selama ia tidak memburu-buru.” Para shahabat bertanya, “bagaimana memburu-buru itu ya Nabi Allah?” Rasulullah s.a.w. berkata, “ia berkata, aku telah berdo’a dan (Allah) belum dikabulkan untukku.” (Riwayat Ahmad)
_
Berikut ini hal-hal penting dalam berkaitan dengan dikabulkannya do’a:
a)      Yakin sepenuhnya dan bertawakal (lih. QS. 11: 56, 65: 2-3)
b)      Banyak berdzikir (mengingat) Allah dan bertafakur atas ciptaan-Nya (lih. QS. 3: 190-191)
c)      Istighatsah dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah (lih. QS. 8: 9, 37: 143-147)
d)     Bertawasul dengan menyebut Nama-Nama Allah dan menunjukkan sikap merendahkan diri di hadapan-Nya (lih. QS. 25: 83-84)
e)      Memperbanyak istighfar dan bertaubat (lih. QS. 71: 10-12, 11: 52)
f)       Mengakui kesalahan dan kelalaian (liha. QS. 25: 87-88, 28: 16)
g)      Berbuat baik kepada sesama dan makhluk (lih. QS. 25: 90, 28: 23-25)*

Berdoa kepada Allah sudah tentu maksudnya agar apa yang dimintakan kepada-Nya dapat dikabulkan. Dan Allah sungguh telah menjamin bahwa untuk setiap hamba yang meminta kepada-Nya akan dipenuhi apa yang dimintanya. Akan tetapi hal-hal prinsip benar-benar harus kita perhatikan dalam berdo’a, yang tanpa hal prinsip tersebut satu do’a yang dipenuhi sekalipun ternyata tidak ada kebaikan di dalamnya.
_


Allah SWT berfirman:
وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٠: ١٢]
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus/10: 12)

*Mausu’ah al Fiqh al Islam, At-Tuwaijiri



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!