Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Apel dan Perempuan Bisu Tuli Buta dan Lumpuh

Seorang lelaki yang soleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel itu, akan tetapi baru setengahnya dimakan dia teringat bahawa buah itu bukan miliknya.
Ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya untuk meminta dihalalkan akan apa yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya orang yang dipekerjakan untuk menjaga dan mengurus kebunnya”.
Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar apel yang telah kumakan ini dihalalkannya.”
Pengurus kebun itu memberitahukan, “apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”.
Tsabit bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah s.a.w. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya, siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”
Tsabit pun melakukan perjalanan menuju rumah pemilik kebun itu dan setiba di sana dan menemui orang tersebut, dia langsung mengutarakan maksudnya, “wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel Anda yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah Anda menghalalkan apa yang sudah kumakan itu?”
Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu tiba-tiba dia berkata, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak dapat memenuhinya.
Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?”
Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku!”
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?”
            Tetapi pemilik kebun itu tidak mempedulikan pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!” Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana bisa ia menikahi perempuan tersebut dan itu hanya karena ia memakan buah apel saja. Pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak boleh menghalalkan apa yang telah kau makan !”
Namun teringat akan maksudnya dengan menemui pemilik kebun itu, Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “aku akan menerima perkawinan ini. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala.”
Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkahwinan selesai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui isterinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun isterinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum...”
Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya.
Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berfikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya?
Setelah Tsabit duduk di samping isterinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahawa engkau buta. Mengapa?”
_

Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”.
Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahawa engkau tuli, mengapa?”
Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mahu mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahawa aku bisu dan lumpuh, bukan?” Tanya wanita itu kepada Tsabit. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan isterinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala”.



Print Friendly and PDF

Kisah Thalut, Daud VS Jalut


Sepeninggal Nabi Musa a.s., hanya beberapa masa saja Bani Israil dapat berpegang teguh pada ajaran yang dibawanya. Setelah itu mereka kembali mempersekutukan Allah, menyembah berhala, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal padahal di antara mereka masih terdapat nabi-nabi yang senantiasa ber-amar ma’ruf nahi munkar. Disebutkan sekitar seribu tahun kemudian, Bani Israil mengalami keterpurukan. Mereka diusir dari wilayah dan negerina, keturunan dan bangsanya banyak dibunuh secara besar-besaran bahkan Taurat dan Tabut diambil dari mereka oleh seorang raja bernama Jalut. Para pemuka mereka tidak tahu bagaimana cara untuk membebaskan diri dari keadaan tersebut sementara mereka sendiri sudah tidak memiliki seorang raja yang akan memimpin perlawanan tersebut. Kemudian mereka mendatangi seorang nabi, dikatakan ia bernama Yusya’ bin Nun dan menurut sumber lain bernama Samuel bin Baliy.
Mereka berkata, “utuslah kepada kami seorang raja yang akan memimpin kami untuk berperang di jalan Allah.”
Samuel menjawab, “benarkah kalian menginginkan itu? Apakah nanti setelah peperangan itu diperintahkan kalian tidak akan berpaling?”
Mereka menjawab, “bagaimana kami hendak berpaling dari berperang sementara kami telah diusir dari tanah kelahiran dan anak-keturunan kami banyak yang dibunuh?”
Mereka meminta agar raja tersebut dipilih dari kalangan mereka sendiri (para pembesar Bani Israil). Akan tetapi Samuel menjawab permintaan dengan mengikuti petunjuk Allah dan mengatakan, “sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut agar menjadi raja kalian.”
Mereka menjawab, “bagaimana mungkin ia menjadi raja kami? Bukankah kami (para pembesar Bani Israil) yang lebih berhak untuk menjadi raja? Apalagi Thalut itu tidak memiliki kekayaan sama sekali?”
Samuel menjawab, “sesungguhnya Allahlah yang telah memilihnya di antara kalian semua dan Allah memberinya kelebihan dalam keilmuan dan kekuatan. Dan Allah Maha Mengetahui akan siapa yang diberi kekuasaan.”
Samuel juga menyampaikan, “sebagai tanda kebenaran bahwa Thalutlah raja kalian akan didatangkan kepada kalian Tabut yang pada Tabut tersebut ada ketenangan kalian, dan apa-apa yang menjadi peninggalan keluarga Musa a.s. dan Harun a.s. yang akan dibawakan oleh para malaikat.” Dalam satu riwayat disebutkan, termasuk Taurat di dalamnya.
Maka Thalut pun menjadi raja mereka. Setelah segala persiapan perang, berangkatlah Bani Israil di bawah pimpinan Thalut untuk berperang. Semua kalangan dari Bani Israil turut serta tanpa ada yang tertinggal kecuali orang tua yang telah uzur dan kelangan orang-orang yang sangat lemah dan sama sekali tidak berdaya.
Pada perjalanan menuju medan pertempuran Thalut menyampaikan, “susungguhnya Allah akan menguji kalian dengan satu sungai. Maka barang siapa yang minum dari sungai tersebut, maka ia tidak akan keluar dari pasukanku. Akan orang yang tidak menyentuhnya kecuali dengan satu cidukan tangan saja, maka ialah yang akan tetap menjadi pasukanku.” Sungai tersebut terletak di antara Jordan dan Palestina. Ada yang menyebutkan bahwa itu adalah sungai Palestina dan ada juga yang mengatakan sungai Syiria.
Sesampainya mereka di sungai tersebut, dan mereka dalam keadaan lelah karena perjalanan tersebut, kebanyakan dari pasukan tersebut melanggar perintah Thalut. Mereka minum air dengan sepuas-puasnya kecuali sebagian kecil saja yang melakukan sesuai perintah Thalut, yakni hanya meminum dengan cidukan tangan. Maka yang terjadi kemudian ternyata yang mendapatkan kesegaran adalah mereka yang hanya mengambil air dengan cidukan tangan saja. Adapun sebagian besar orang yang minum sepuasnya tersebut justru dihinggapi rasa haus dan kelelahan yang menjadi-jadi, sehingga mereka berkata, “sungguh hari ini kami tidak memiliki sisa tenaga sama sekali untuk menghadapi perang dengan Jalut dan tentaranya.
Semula pasukan Thalut terdiri dari delapan puluh ribu orang. Akan tetapi setelah sampai di sungai tersebut, hanya tinggal empat ribu orang saja. Riwayat lain yang menyebutkan bahwa jumlah mereka tidak berbeda dengan jumlah pasukan kaum Muslimin ketika perang Badar, yakni 350 orang saja.
Akan tetapi jumlah tersebut tidak menyurutkan Thalut dan pasukannya (yang beriman) untuk tetap berperang. Mereka berangkat dengan membawa keyakinan, bahwa tidak sedikit pasukan yang sedikit jumlahnya justru yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Merekalah orang-orang yang bersabar yang selalu disertai Allah SWT.
Di saat mereka berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah/2: 250)
Jalut, selain sebagai raja dengan jumlah pasukan yang besar, ia dikenal sebagai sosok tinggi besar dan berperangai keras. Ketika kedua pasukan sudah saling berhadapan, Jalut merasa berbesar hati dan menantang duel. Katanya, “hadapkan kemari orang yang bisa membunuhku. Jika ia mampu, ia mengambil kedudukanku sebagai raja dan kerajaanku. Tetapi jika dia yang terbunuh, maka negeri kalian adalah milikku!”
Maka datanglah Daud a.s., sedangkan ia masih muda dan berperawakan kecil. Setelah berhasil meyakinkan Thalut, Daud diizinkan untuk berduel bahkan Thalut menjanjikan kepadanya untuk menikahkan putrinya denganna jika ia berhasil mengalahkan Jalut. Thalut memberikan pedang agar digunakan Daud untuk berduel. Daud menjawab, “seandainya Allah tidak menghendaki aku untuk dapat mengalahkan Jalut maka pedang ini tidak akan dapat membantuku sedikitpun.”
Manakala ia maju untuk berduel dengan membawa ketapel dan kantung berisi batu yang biasa dipakai untuk menggembala. Jalut bertanya, “kamu yang akan membunuhku?”
_

Daud menjawab, “Ya.”
Jalut bertanya lagi, “Celaka kamu! Apakah kamu memang berniat menghadapiku seperti hendak mengusir seokor anjing saja dengan ketapel dan batu itu? Sungguh akan kucincang dagingmu lalu akan kuberi makan burung-burung dan binatang buas dengan dagingmu itu hari ini juga.”
Daud menjawab, “Tapi justru kamu musuh Allah! Kamu justru lebih buruk bagiku dari seekor anjing!”
Maka Daud pun mengambil batu dan melemparnya dengan ketapelnya. Batu itu kemudian tepat mengenai kepala Jalut di antara kedua matanya dengan keras dan menembus sampai ke otaknya. Dan Jalutpun jatuh terlempar ke tanah, terbunuh.



Print Friendly and PDF

Kisah Musa dan Khidir

Ilmu pengetahuan akan menempatkan orang pada kedudukan yang tinggi. Pandangan orang selalu mengacu pada kedudukan tersebut, bertanya dan menunggu apa yang seharusnya dilakukan kepadanya. Kedudukan tersebut, boleh jadi menjadi semu dan membuat lupa apabila ia hanya justru berpangku pada cara orang melihatnya. Berbangga diri dengan pengukuhan dan kenyataan bahwa semua orang ternyata tidak seperti dirinya, adalah hal yang membutakan dan membuatnya memandang dengan cara yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Allah mengingatkan Musa bahwa seseorang memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang tidak diketahuinya. Allah memberitahukan bahwa orang itu dapat ia jumpai di tempat bertemunya dua lautan.


Dengan disertai seorang muridnya, Musa mempersiapkan perjalanan yang tidak pernah dilakukannya. Kepada muridnya dia berkata, “sungguh aku tidak akan berhenti sampai tiba ditempat yang ditunjukkan Allah atau sampai aku benar-benar menghabiskan seluruh sisa waktu yang kumiliki.”
Demikianlah tekad Musa, ia memulai perjalanan bersama muridnya dengan berbekal tekad besar. Bahwa ia tidak mengetahui dimana tepatnya tempat itu dan seberapa lama perjalanannya akan ditempuh, sama sekali tidak menyurutkan niatnya. Manakala ia dan muridnya, dan tanpa disadarinya, sebenarnya telah sampai di tempat tersebut bekal ikan yang dibawa oleh muridnya melompat keluar dan merayap menuju air. Menyaksikan terkesima melihat kejadian itu dan tidak mampu mengatakan apa-apa atau sekedar menghalau Musa. Perjalananpun terus dilanjutkan sampai beberapa lama kemudian Musa menghentikan perjalanan. Ia berkata,” kita berhenti dulu di sini, kemarikan bekal yang kita bawa. Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan.”
Muridnya berkata, “ingatkah ketika kita tadi sampai di tempat bebatuan tadi? Sesungguhnya aku hendak memberitahukannya kepadamu, dan aku menyadari betul bahwa setan benar-benar membuatku lalai untuk memberitahukannya. Di samping itu, ikan yang kita bawa melompat keluar dengan cara yang sangat aneh.”
Musa sontak berkata, “Itulah tempat yang kita tuju!”
Maka mereka kembali menyusuri jalan yang dilalui menuju tempat tersebut. Di sanalah ia bertemu dengan seorang hamba Allah yang diberitahukan kepadanya. Ialah orang yang nyata-nyata tampak padanya bagaimana rahmat Allah telah dicurahkan atasnya dan dianugerahi pengetahuan dan kebijaksanaan. Musa berkata kepada orang tersebut, “bolehkan kiranya aku ikut serta denganmu sehingga engkau bisa mengajarkan pengetahuanmu kepadaku?”
“Kau tidak akan dapat bersabar jika ikut serta denganku,” jawab hamba Allah tersebut. Ia kemudian berkata lagi, “bagaimana bisa kau akan bersabar atas hal-hal yang berada di luar pengetahuan dan kebijaksanaan yang kau miliki?”
Musa berkata, “insyaallah, kau akan mendapatiku memiliki kesabaran tersebut. Dan aku berjanji tidak akan menentangmu sama sekali atas apapun yang akan kau katakan kepadaku.”
Hamba Allah tersebut kemudian berkata, “baiklah kalau demikian. Akan tetapi selama engkau mengikutiku jangan pernah bertanya tentang apapun sampai aku memberitahukan itu kepadamu.”
Maka mereka berdua berjalan. Kemudian sampailah mereka menaiki sebuah perahu dan tiba-tiba hamba Allah tersebut melubangi perahu tersebut. Musa terperangah dan memprotes, “kenapa kau melubangi perahu ini? Sungguh engkau telah melakukan satu kesalahan besar!”
“Bukankah telah kukatakan kalau kau tidak akan cukup bersabar dalam mengikutiku?” kata hamba Allah.
Musa berkata, “maafkan aku. Janganlah kau menghukumku karena aku terlupa akan hal itu. Dan aku mohon, jangan bebankan hal yang menyulitkan dalam urusanku.”
Mereka berdua kembali melakukan perjalanan. Maka sampailah mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki dan hamba Allah tersebut kemudian membunuhnya.
“Kenapa engkau begitu berani membunuh jiwa yang bersih dan ia tidak pula membunuh orang? Sungguh engkau benar-benar telah melakukan satu kemungkaran!”
Hamba Allah berkata, “bukanlah telah aku katakan kepadamu bahwa kau tidak akan bisa bersabar untuk ikut menyertaiku?”
Musa berkata, “maafkan aku. Setelah ini, jika ternyata aku masih bertanya tentang sesuatu hal kepadamu jangan lagi mengikutsertakan aku bersamamu.”
Mereka pun kembali melakukan perjalanan dan sampailah di sebuah desa. Di desa tersebut, mereka menemui penduduknya dan meminta untuk sekedar mendapatkan makanan di sana. Penduduk desa itu menolak untuk menjamu mereka. Setelah itu, mereka berdua menemukan sebuah dinding yang hampir roboh. Hamba Allah itu memperbaikinya sampai kembali tegak. Musa berkata kepadanya, “kau kau mau, atas apa yang kaulakukan itu kita bisa meminta upah darinya.”
Hamba Allah itu berkata, “inilah akhir kebersamaan kita. Akan aku beritahukan kepadamu tentang hal-hal yang telah membuatmu tidak bisa bersabar menghadapinya.”
“Tentang perahu yang aku lubangi, itu karena perahu tersebut merupakan milik sekelompok orang miskin dan merupakan mata pencaharian mereka. Maka aku membuat perahu itu cacat karena di luar sana ada seorang penguasa yang suka merampas perahu apa saja yang ditemukannya.”
“Adapun anak lelaki yang aku bunuh, karena kelak ia akan durhaka kepada orang tuanya yang kedua-keduanya beriman dengan kedurhakaan yang melampaui batas dan kufur, maka Allah hendak memberikan pengganti untuk mereka dengan yang lebih baik dalam kesuciannya dan lebih dalam kasih sayangnya.”
“Adapun dinding yang aku perbaiki, itu adalah milik dua orang anak yatim dibawahnya terpendam harta mereka. Ayah kedua anak itu adalah seorang yang sholeh. Allah menghendaki agar mereka mencapai usia dewasa untuk mengambil harta tersebut sebagai limpahan rahmat dari Allah.”
“Semua itu aku lakukan bukanlah atas keputusanku, melainkan kehendak Allah. Itulah hal-hal yang aku katakan bahwa engkau tidak akan pernah bisa bersabar atasnya.”




Print Friendly and PDF

Kisah Sapi Betina

Seorang lelaki tua Bani Israil memiliki kekayaannya yang melimpah. Ia tidak memiliki keturunan sehingga disebutkan bahwa ia akan mewariskan kekayaan tersebut kepada anak saudara kandungnya. Ia tinggal di salah satu kota dari dua kota yang berdampingan.
Keponakan yang akan mewarisi kekayaan tersebut memiliki hasrat yang besar untuk segera memiliki kekayaannya. Maka ia merencanakan pembunuhan yang dengannya ia akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus, mendapatkan warisan dan pembayaran diyat.
Maka pada suatu malam, ia membunuh pamannya dan meletakkan mayat di dekat pintu gerbang kota lainnya. Pagi harinya ia berpura-pura mencari-cari keberadaan pamannya kesana-kemari. Dan bersama beberapa warga kotanya sendiri mereka sampai di dekat pintu gerbang kota tetangganya. Sang keponakan berkata, “sudah jelas ini perbuatan mereka. Aku akan menuntut pemabayaran diyat dari mereka atas pembunuhan pamanku.”
Manakala gerbang kota itu dibuka, sang keponakan berteriak melontarkan tuduhan pembunuhan atas pamannya. Maka terjadilah pertentangan antara penduduk dua kota tersebut, masing-masing saling melontarkan tuduhan atas yang lainnya. Pertentangan tersebut menjadi bertambah sengit dan masing-masing warga kota tampak sudah siap untuk saling menyerang dengan menghunus pedang.


Sementara mereka saling menahan diri untuk saling menyerang, terjadilah kesepakatan untuk sama-sama mendatangi Musa a.s. agar memutuskan perkara yang terjadi di antara mereka sebagai kaumnya.  
Setelah Allah mewahyukan kepada Musa a.s., berkatalah ia, “Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi betina.” Maka kaumnya keheranan dan mempertanyakan perintah tersebut.
“Yang benar saja, apakah kau ingin memperolok kami?” tanya kaumnya.
“Sama sekali tidak, demikianlah perintah Allah dan aku berlindung pada-Nya agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh, yang tidak mau mengikuti perintah-Nya.” Jawab Musa.
“Baiklah kami akan mengikuti, tanyakanlah kepada Tuhanmu sapi yang bagaimanakah yang harus disembelih itu?”
Musa menjawab, “Dia mengatakan bahwa sapi itu tidak muda dan tidak pula tua usianya. Lakukanlah perintah itu.”
Kaumnya berkata, “kami masih cukup bingung, karena sapi itu banyak sekali dan mereka mirip-mirip semuanya. Coba tanyakan lagi kepada Tuhanmu, bagaimana warna kulitnya?”
Musa berkata, “Allah mengatakan bahwa sapi tersebut berwarna kuning menyala dan menakjubkan.”
Kaumnya menjawab, “Itu masih membingungkan kami, bukankah sapi-sapi itu kebanyakan berwarna demikian? Coba kau tanyakan lagi sapi seperti apakah sebenarnya itu, mungkin kali ini kami dapat memahami permintahan Tuhanmu.”
Nabi Musa mengikutinya dan Allah mewahyukan bahwa sapi tersebut tidak pernah dipekerjakan untuk membajak, tidak pernah digunakan untuk menyiram tanaman, keadaannya mulus tanpa ada cacat sama sekali di tubuhnya. Untuk menemukan sapi dengan ciri-ciri demikian tidaklah mudah sampai akhirnya kaum Nabi Musa menemuinya dimiliki oleh seorang anak muda.


Anak muda tersebut dikenal sebagai anak yang sangat hormat kepada orang tuanya. Disebutkan, pada suatu ketika, ia sedang bersama ayahnya yang tertidur. Ketika itu ia didatangi seseorang yang hendak menjual mutiara kepadanya dan ia mendapati kunci tempat penyimpanan uangnya berada di bawah kepala ayahnya.
Orang itu berkata, “ambillah permata ini dengan harga tujuh puluh ribu.”
Lelaki muda itu berkata, “tunggulah sampai ayahku terbangun dan aku akan membelinya dengan harga delapan puluh ribu.”
Orang itu berkata lagi, “bangunkan saja ayahmu dan aku akan memberikannya seharga enam puluh ribu.” Dan orang itu terus membujuknya sampai ia menawarkannya dengan harga tiga puluh ribu dan anak muda itu tetap bersikukuh untuk menunggu ayahnya terbangun sampai ia memberikan harga seratus ribu.
Ketika orang itu terus mendesaknya dengan memberikan harga yang lebih murah dan ia juga menaikkan harganya, ia kemudian berkata kepada orang itu, “demi Allah, aku tidak akan pernah membelinya darimu dengan sepeserpun karena aku tidak akan membangunkan ayahku!”
Atas keteguhan hatinya, Allah menggantikan untuknya dengan seekor sapi yang kemudian dicari-cari oleh orang-orang terkait dengan terjadinya pembunuhan di antara mereka. Penduduk kota yang sedang berseteru semula datang padanya untuk menukar sapi tersebut dengan sapi yang seukuran dengannya dan ia menolaknya. Mereka melipatgandakan harga pembelian dan pemuda itu tetap menolaknya sampai kemudian mereka mengeluh kepada Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s. berkata padanya, “berikanlah sapimu pada mereka.”
Lelaki muda itu menjawab, “ya Rasulullah, aku lebih berhak atas harta bendaku.”
Musa a.s. berkata kepadanya, “engkau benar,” dan kemudian berkata kepada kaumnya, “buatlah saudaramu ini merelakan sapinya, berilah ia emas seberat timbangan sapinya untuk membelinya.”
Mereka pun menyetujuinya akan tetapi pemuda itu tetap tidak mau menyerahkannya sampai kemudian dilipatgandakan sampai sepuluh kali lipatnya, yakni dengan emas seberat sepuluh kali timbangan sapi tersebut.
Kemudian disembelihlah sapi tersebut dan Musa a.s. diperintahkan untuk mengambil bagian dari tubuh sapi dan memukulkannya pada mayat orang yang dibunuh. Mayat itu kembali hidup dan Musa a.s. menanyainya, “siapakah orang yang membunuhmu?” Orang itu langsung menunjuk pada keponakannya dan setelah itu ia kembali mati.

(Disarikan dari riwayat dalam Tafsir Ibnu Katsir)
Print Friendly and PDF