Tampilkan postingan dengan label Dzikir dan Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzikir dan Doa. Tampilkan semua postingan

Hadits-Hadits untuk Membantu Anda Berprasangka Baik kepada Allah SWT

Berikut adalah beberapa hadits dari Nabi Muhammad SAW yang relevan dengan peningkatan prasangka baik terhadap Allah. Dalam beberapa kasus, saya akan memberikan kutipan hadits yang relevan tanpa menyertakan periwayat dan nomor urut hadits. Jika Anda memerlukan informasi lebih lanjut tentang periwayat dan nomor urut hadits, silakan mencari hadits tersebut secara spesifik:

 ١-   قال الله تعالى: "أنا عند ظن عبدي بي" (حديث قدسي)

 

٢-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه، ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملإ، ذكرته في ملإ خير منه'" (رواه البخاري ومسلم)

 

٣-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه، ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملإ، ذكرته في ملإ خير منه، وإن تقرب إلي شبرًا، تقربت إليه ذراعًا، وإن تقرب إلي ذراعًا، تقربت إليه باعًا، وإن أتاني يمشي، أتيته هرولة'" (رواه مسلم)

 

٤-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'من تقرب إلي بشبرٍ، تقربت إليه ذراعًا، ومن تقرب إلي ذراعٍ، تقربت إليه باعًا، ومن أتاني يمشي، أتيته هرولة'" (رواه البخاري ومسلم)

 

1. "Allah berfirman, 'Aku menggantikan apa yang ada di hati hamba-Ku terhadap-Ku.'"

(Hadits Qudsi)

 

2. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Aku adalah seperti angan-angan hamba-Ku tentang-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku juga akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam suatu majelis, Aku juga akan mengingatnya di dalam suatu majelis yang lebih baik darinya.'"

(Hadits Riwayat Bukhari)

 

3. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Aku adalah seperti yang difikirkan oleh hamba-Ku tentang-Ku. Aku bersama dengan dia ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya sendiri, Aku juga akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam majelis, Aku juga akan mengingatnya di dalam majelis yang lebih baik darinya. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan sejengkal, Aku akan mendekatinya dengan seutas tali. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan seutas tali, Aku akan mendekatinya dengan jarak satu hasta. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari.'"

(Hadits Riwayat Muslim)

 

4. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Barangsiapa yang mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa yang mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya dengan berjalan. Dan barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.'"

(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Berbaik sangka kepada Allah berarti memiliki prasangka baik, keyakinan, dan harapan yang positif terhadap Allah SWT. Ini mencerminkan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Adil. Berbaik sangka kepada Allah juga berarti percaya bahwa segala keputusan, ujian, dan kejadian yang terjadi dalam hidup kita memiliki hikmah dan tujuan yang baik dari-Nya.


powered by: chatGPT

Print Friendly and PDF

Ayat-ayat untuk Membantu Anda Berprasangka Baik kepada Allah SWT

 

Berikut adalah beberapa ayat Al-Quran yang dapat membantu Anda meningkatkan prasangka baik terhadap Allah:

1. Surah Al-Baqarah, ayat 216:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [٢: ٢١٦]

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

 

2. Surah At-Talaq, ayat 3:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا [٦٥: ٢]

"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya."

 

3. Surah Ar-Rum, ayat 21:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ۰: ٢١]

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir."

 

4. Surah Az-Zumar, ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ [٣٩: ٥٣]

"Sampaikanlah (olehmu): “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 

5. Surah Ash-Shura, ayat 30:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ[٤٢: ٣۰]

"Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa)mu."

 

6. Surah Al-Isra, ayat 82:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا [١٧: ٨٢]

"Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."

         Ayat-ayat ini mengingatkan kita untuk berprasangka baik kepada Allah, yakin bahwa Dia Maha Bijaksana, Maha Pengampun, dan Maha Penyayang. Semoga ayat-ayat ini memberi Anda ketenangan, keyakinan, dan peningkatan prasangka baik terhadap Allah.


powered by: chatGPT

Print Friendly and PDF

Tawassul yang Disyari’atkan

 

Tawassul yang dibenarkan secara Syar’i terdiri dari lima bentuk, yaitu:

a.       Bertawassul dengan Keimanan

Sebagaimana ungkapan doa yang terdapat pada Firman Allah SWT:

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ [٣: ١٩٣]

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” (Ali ‘Imran/3: 193)

_

b.       Bertawassul dengan Asmaul Husna

Sebagaimana terdapat dalam do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w.,:

اللَّهمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا (أخرجه الترمذي وابن ماجه)

“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Mulia dan Engkau suka mengampuni, ampunilah kami.” (At-Tirmidzi dan Ibn Majah)

 

c.       Bertawassul dengan Menyebutkan Kondisi yang dialami dengan segala kesusahannya

Sebagaimana terdapat dalam doa yang diungkapkan oleh Ayyub a.s.:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ – فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ [٢١: ٨٣-٨٤]

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya/21: 83-84)

_

d.       Bertawassul dengan minta dido’akan kepada orang dapat diharapkan terkabul doanya dari orang shalih yang masih hidup

Sebagaimana pernah dikatakan orang-orang Arab (Badui) kepada Rasulullah s.a.w.,

يَا رَسُولَ اللهِ، هَلَكَتِ المَوَاشِي وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِيثُنَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهمَّ اسْقِنَا، اللَّهمَّ اسْقِنَا، اللَّهمَّ اسْقِنَا».

(متفق عليه)

“Wahai Rasulullah! Ternak-ternak telah binasa dan tangkai-tangkai tanaman berguguran, berdoalah agar Allah menurunkan hujan!” Rasulullah s.a.w. pun mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.” (Muttafaq ‘alaih)

 

e.       Bertawassul dengan amal shalih; sebagai terdapat dalam riwayat yang menyebutkan tiga orang lelaki yang terjebak di dalam gua yangn diriwayatkan secara muttafa ‘alaih.

 

Sumber:

Muhammad At-Tuwaijiri, Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islamiy.

 

 

 

 

 

Print Friendly and PDF

Kekebalan Tubuh dan Kunci Kesembuhan di Dalam Al-Quran

Ibnu Qayyim, dalam Tibb An-Nabawi menukil perkataan Rasulullah s.a.w.:

إِذَا دَخَلْتُمْ عَلَى الْمَرِيضِ، فَنَفِّسُوا لَهُ فِي الْأَجَلِ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يَرُدُّ شَيْئًا، وَهُوَ يُطَيِّبُ نَفْسَ الْمَرِيضِ (رواه ابن ماجه عن أبي سعيد الخدري)

“Jika kalian mengunjungi orang sakit, sampaikanlah kelapangan dalam menghadapi (rasa takut akan) kematian. Karena meskipun hal tersebut tidak dapat menangkal sesuatu, itu akan menenangkan jiwa orang yang sakit.” (Riwayat Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudriyi)

_

Virus, bakteri, dan segala zat asing yang menginfeksi tubuh manusia adalah salah satu bentuk gangguan kesehatan (penyakit). Di dalam dunia medis dikenal berbagai istilah imunisasi, vaksinasi dan lain-lain sebagai upaya penyembuhannya. Dari sekian banyak virus yang dapat bersarang pada tubuh manusia, banyak yang sampai saat ini belum ditemukan penawarnya secara medis. Akan tetapi patut kita ingat bahwasannya Allah SWT telah menciptakan manusia dalam wujud yang paling sempurna (lih. QS. 95: 4), yang tentunya termasuk sistem kekebalan tubuh.

Allah SWT berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [٢٥: ٢]

“...dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Al-Furqan/25: 2)

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ [٥١: ٢١]

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat/51: 21)

Keseimbangan alam, dan tentunya pada diri manusia, telah diciptakan sedemikian rupa dengan pola dan keteraturan yang luar biasa. Terkhusus dengan kekebalan tubuh pada manusia, salah satu potensi terbesarnya terdapat pada anugerah yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yakni budi pekerti. Dengannya manusia dapat mengembangkan segala potensi diri yang secara keseluruhan bermuara pada kesehatan jiwa.

Sebaliknya, kegelisahan dan kecemasan seseorang dapat menimbulkan berbagai perubahan fisik dan psikologis yang merugikan, salah satunya melemahnya kekebalan tubuh, yang disebabkan oleh meningkatkan frekuensi nafas, tekanan darah dan aktivitas saraf otonom yang meningkatkan detak jantung.

_

Kunci kesehatan jiwa adalah keimanan. Ketenangan adalah indikator penting kapasitas keimanan seseorang, sebagaimana dapat dilihati dari Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ [٤٨: ٤]

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al-Fath/48: 4)

Di samping itu, perkenan Allah untuk merubah hal-hal buruk menjadi kebaikan bagi seseorang dapat diraih pada manifestasi keimanan lainnya, yaitu taubat. Allah SWT berfirman:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا [٢٥: ٧٠]

“... kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan/25: 70)

Yang paling fundamental adalah totalitas kepasrahan pada kehendak Allah SWT melalui sikap tawakkal. Allah SWT berfirman:

قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ [٣٩: ٣٨]

“... Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (Az-Zumar/39: 38)

Wujud kepasrahan itu dapat dipenuhi dengan salah satu do’a yang telah diajarkan Rasulullah s.a.w. untuk terhindar dari segala hal-hal buruk:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillaahi laa yadlurru ma’asmihii syaiun fil-ardhi walaa fis-samaai wahuwas samii’ul aliim

Artinya: “Dengan menyebut Nama Allah, tidak akan merusakkan sesuatu apapun di langit dan di bumi di hadapan Nama-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

 

 


Print Friendly and PDF

Shalat Istisqa


Air merupakan limpahan nikmat yang sangat besar dari Allag SWT yang semestinya dapat memjadikan hamba-Nya selalu bersyukur kepada-Nya. Tertundanya turun hujan merupakan ujian agar hamba-Nya dapat kembali dari dosa-dosa dan maksiat kepada ketaatan, taubat dan banyak beristighfar. Keadaan kekurangan air merupakan pengingat kepada makhluk-Nya akan kebutuhan yang sangat mendesak dan bersifat terus menerus di dalam kehidupan, yang seyogyanya dapat mengingatkan seseorang tentang penciptaan, kelangsungan hidup, penjagaan dan kelapangan yang dianugerahkan Allah SWT.
_
Seyogyanya kekurangan air juga dapat mengingatkan kita akan rahmat – kasih sayang – Allah yang dengannya pula disyari’atkan satu ibadah shalat dan doa untuk mendatangkan hujan kepada Allah Yang Maha Memiliki, yang menguasai ihwalnya secara mutlak dengan mengikrarkan sempurnanya sifat kekayaan Allah dan keadaan kita sebagai makhluk yang sangat membutuhkan (faqir).
Shalat Istisqa hukumnya sunnah muakkadah untuk ditunaikan di saat/musim kekurangan air, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Disunnahkan secara berjama’ah, akan tetapi sah pula ditunaikan secara munfarid. Doa istisqa (memohon turun hujan) dapat dilakukan dengan atau tanpa shalat. Disunnahkan di lapangan yang jauh dari keramaian pemukiman, akan tetapi sah pula di masjid dan doa tersebut juga sunnah dipanjatkan pada waktu shalat Jumat. Shalat istisqa dapat dilaksanakan kapan saja selain pada waktu-waktu terlarang untuk shalat.
عَنْ عَبْداللهِ بن زَيْدٍ المَازِنِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - إِلَى المُصَلَّى يَسْتَسْقِي، وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ. (متفق عليه)
Dari Abdullah bin Zaid Al-Mazini r.a., ia berkata: Rasulullah s.a.w. berangkat ke mushalla untuk memohon turun hujan, kemudian menghadap kiblat, shalat dua rakaat dan membalik serempangnya. (Muttafaq ‘Alaih)
Disunnahkan bagi kaum muslimin ketika berangkat untuk shalat istisqa untuk berangkat dengan merendahkan diri, penuh rasa tawadhu’, tunduk dan khusyu’ dan dapat menunjukkan sifat membutuhkan (faqir) secara total kepada Allah SWT baik dalam berkata-kata maupun tingkah laku. Oleh karenanya tidak dianjurkan untuk berhias diri dan bermewah-mewahan.
إن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - خرج متبذلا متواضعا متضرعا حتى أتى المصلى فلم يخطب خطبتكم هذه ولكن لم يزل في الدعاء والتضرع والتكبير وصلى ركعتين كما كان يصلي في العيد. (أخرجه أبو داود والترمذي عن ابن عباس رضي الله عنه)
Bahwasannya Rasulullah s.a.w. berangkat dengan tunduk merendahkan diri sehingga sampai di tempat shalat. Beliau s.a.w. tidak pernah berkhutbah seperti khutbah yang satu ini, melainkan ia senantiasa berdoa, merendahkan diri dan bertakbir (mengagungkan Allah). kemudian shalat dua raka’at seperti shalat ‘ied. (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dari Ibn Abbas r.a.)
_

Di dalam doa istisqa, disunnahkan mengangkat tangan tinggi-tinggi sebagaimana Rasulullah s.a.w. melakukannya sampai terlihat putih ketiaknya. Setelah berdoa kemudian membalikkan serempang dari kanan ke kiri dan atau sebaliknya. Berikut ini adalah doa-doa istisqa yang terdapat dalam sunnah Rasulullah s.a.w. antara lain:
الحَمْدُ للهِ رَب العَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللهمَّ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الغَنِيُّ وَنَحْنُ الفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الغَيْث وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلاَغاً إِلَى حِينٍ. (أخرجه أبو داود)
اللهمَّ أَغِثْنَا، اللهمَّ أَغِثْنَا، اللهمَّ أَغِثْنَا. (متفق عليه)
اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا. (أخرجه البخاري)
اللهمَّ اسْقِنَا غَيْثاً مُغِيثاً مَرِيئاً مَرِيعاً نَافِعاً غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ. (أخرجه أبو داود)
اللهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ المَيِّتَ. (أخرجه مالك وأبو داود)
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang Menguasai hari pembalasan. Tidak ada tuhan selain Allah, Dzat yang (selalu) melakukan apapun yang dikehendaki-Nya. Ya Allah, Engkaulah Allah (yang) tiada tuhan selain Engkau yang Maha Kaya, (sedangkan) kami sangat faqir; Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan  kesampaian pada waktu tertentu. (Abu Dawud)
Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada kami. (Muttafaq ‘alaih)
Ya Allah, berilah kami hujan, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah berilah kami hujan. (Bukhari)
Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan yang mengalir serta menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, dengan segera dan tidak ditangguhkan. (Abu Dawud)
Ya Allah, berilah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan binatang-binatang, tebarkanlah rahmat-Mu dan hidupkanlah bumi-Mu yang mati. (Malik dan Abu Dawud)

Sumber: At-Tuwaijiri, Mausu’ah al-fiqh al-islamiy





Print Friendly and PDF

Kekeliruan dalam Berdo’a yang Tidak Mendatangkan Kebaikan


Fitrah berketuhanan yang tidak tergantikan (QS. 30: 30) pada setiap jiwa akan senantiasa menariknya untuk selalu kembali kepada Allah dan salah satunya dengan berdoa. Keimanan seseorang seharusnya dapat membuat dia selalu berdoa kepada Allah, akan tetapi tak jarang orang yang berhenti berdoa pada keadaan tertentu atau bahkan setelah Allah mengabulkan doa-doa yang dia pintakan. Atau bentuk kekeliruan lain dalam berdoa yang disebabkan oleh ketidaktahuan seseorang bagaimana harus meminta kepada Allah
_

Doa merupakan pengukuhan bahwa setiap jiwa (makhluk) itu senantiasa membutuhkan (faqir) akan karunia Allah. Apapun yang dikaruniakan Allah kepada makhluk-Nya adalah tidak terhitung (QS. 16: 18), akan tetapi karena lupa bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah, manusia kemudian hanya menisbatkan kepada Allah untuk sebagian kecil saja atau justru untuk hal-hal yang tidak diberikan Allah kepadanya, yakni apa yang diangan-angankannya saja. Angan-angan yang tidak seberapa inilah yang menghalanginya dari bersyukur.
Dari keadaan tersebut seseorang boleh jadi memanjatkan doa kepada Allah dengan sungguh-sungguh, akan tetapi apa yang dia lakukan (doanya sendiri) justru menjadi hal buruk bagi dirinya, yakni seperti gambaran berikut ini:
a)        Berdoa secara sempit tanpa nilai kebaikan sama sekali, sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut:

فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ [٢: ٢٠٠]
“Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (Al-Baqarah/2: 200)
Kecenderungan ini salah satunya dengan memandang rejeki yang diberikan Allah dalam bentuk materil saja seperti jumlah uang yang banyak, kekayaan yang melimpah, atau hal-hal lain yang selalu diidamkan manusia tanpa memperdulikan kebaikan apa yang bisa diraihnya dalam hal tersebut terutama untuk kebaikan akhiratnya. Doa yang seperti ini, bahkan jika Allah berkenan mengabulkannya, tidak ada kebaikan pada apa yang dipintanya tersebut.

b)        Berdoa hanya di waktu susah saja, seperti yang digambarkan ayat berikut:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٠: ١٢]
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus/10: 12)
Seseorang hanya datang kepada Allah di saat melihat sesuatu itu buruk menurutnya sementara di balik itu sedemikian banyak nikmat Allah yang diterimanya tidak pernah disyukurinya. Apa yang dihadapinya dari hal buruk tersebut sejatinya datang untuk mengingatkan dia agar mengingat Allah. Akan tetapi karena tiada rasa syukur dalam dirinya, di saat bahaya itu berlalu ia malah lupa bahkan dengan apa yang baru saja dimintanya. 

c)        Tergesa-gesa dan putus asa, yaitu seperti digambarkan dalam hadits Rasulullah s.a.w.:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي (رواه البخاري ومسلم)
“Akan dikabulkan untuk (doa) setiap orang dari kalian selagi ia tidak tergesa-gesa. (Tergesa-gesa yaitu ketika) ia mengatakan, "aku telah berdoa, tapi tidak juga dikabulkan".” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Sikap ini merupakan prasangka buruk yang ditujukan kepada Allah sekaligus keputusasaan akan rahmat-Nya yang merupakan sifat kekufuran. Alangkah tidak terbayangkan akibat yang akan ditanggungnya ketika Allah mengikuti prasangka buruknya baik dalam hal ia berdoa maupun seluruh hidupnya.
_
Seseorang yang berdoa dengan segenap kesungguhannya bahkan berurai air mata, serta demikian terus ia melakukannya, akan tetapi dengan ketiga hal di atas bukannya kebaikan yang didapatnya meskipun Allah mengabulkan permintaannya.




Print Friendly and PDF

Berdoa dan Substansi Kehambaan


Sudahkah Anda berdoa? Tentu kita sepakat untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban, “ya, pernah.”
_
Berdoa adalah menyampaikan permohonan kepada Allah SWT. Barangkali seseorang menganggap hal itu dilakukan dalam keadaan tertentu saja sehingga tidak jarang orang yang sama sekali atau dalam waktu yang lama tidak menyampaikan permintaan (berdoa) kepada Allah. Banyak hal yang dapat membuat seseorang berhenti berdoa atau enggan berdoa, namun patut menjadi perhatian kita adalah bagaimana kedudukan orang yang enggan berdoa di dalam firman Allah SWT:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [٤٠: ٦٠]
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".” (Ghafir/40: 60)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwasannya ungkapan ‘menyombongkan diri dari menyembah-Ku’ adalah sikap yang membuat seseorang enggan untuk meminta dan mentauhidkan Allah. Tidak ada alasan yang benar bagi seorang makhluk untuk tidak meminta kepada Allah Dzat yang menguasai seluruh alam, yang segala kebaikan setiap makhluk tidak terlepas dari kehendak-Nya karena setiap makhluk adalah faqir di hadapan Allah ( lih. QS. 35: 15 dan 47: 38). Oleh karena itu kita mendapat satu penegasan dari Rasulullah s.a.w.:
إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ (رواه الترمذي، عن أبي هريرة)
“Sesungguhnya barangsiapa yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, maka ia akan dimurkai Allah.” (Riwayat Tirmidzi, dari Abu Hurairah r.a.)
_
Maka sangatlah keliru apabila seseorang berpikir bahwa dirinya hebat ketika ia tidak pernah meminta kepada Allah SWT semisal ia tanpa kekurangan materi, diberi kemampuan luar biasa dan nyaris tidak pernah mengalami hal-hal buruk. 



Print Friendly and PDF

Hal-hal Penting Agar Doa Dikabulkan


Setiap doa yang dipanjatkan akan dikabulkan Allah. Akan tetapi ada banyak kecenderungan dan sikap orang dalam hubungan dengan berdo’a kepada Allah SWT, yang salah satunya justru menjadi sebab tidak dikabulkannya do’a yang ia panjatkan. Rasulullah s.a.w. bersabda:
" لَا يَزَالُ الْعَبْدُ بِخَيْرٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ". قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ، كَيْفَ يَسْتَعْجِلُ؟ قَالَ: " يَقُولُ دَعَوْتُ رَبِّي فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي " (رواه أحمد)
“Seorang hamba senantiasa ada dalam kebaikan, selama ia tidak memburu-buru.” Para shahabat bertanya, “bagaimana memburu-buru itu ya Nabi Allah?” Rasulullah s.a.w. berkata, “ia berkata, aku telah berdo’a dan (Allah) belum dikabulkan untukku.” (Riwayat Ahmad)
_
Berikut ini hal-hal penting dalam berkaitan dengan dikabulkannya do’a:
a)      Yakin sepenuhnya dan bertawakal (lih. QS. 11: 56, 65: 2-3)
b)      Banyak berdzikir (mengingat) Allah dan bertafakur atas ciptaan-Nya (lih. QS. 3: 190-191)
c)      Istighatsah dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah (lih. QS. 8: 9, 37: 143-147)
d)     Bertawasul dengan menyebut Nama-Nama Allah dan menunjukkan sikap merendahkan diri di hadapan-Nya (lih. QS. 25: 83-84)
e)      Memperbanyak istighfar dan bertaubat (lih. QS. 71: 10-12, 11: 52)
f)       Mengakui kesalahan dan kelalaian (liha. QS. 25: 87-88, 28: 16)
g)      Berbuat baik kepada sesama dan makhluk (lih. QS. 25: 90, 28: 23-25)*

Berdoa kepada Allah sudah tentu maksudnya agar apa yang dimintakan kepada-Nya dapat dikabulkan. Dan Allah sungguh telah menjamin bahwa untuk setiap hamba yang meminta kepada-Nya akan dipenuhi apa yang dimintanya. Akan tetapi hal-hal prinsip benar-benar harus kita perhatikan dalam berdo’a, yang tanpa hal prinsip tersebut satu do’a yang dipenuhi sekalipun ternyata tidak ada kebaikan di dalamnya.
_


Allah SWT berfirman:
وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٠: ١٢]
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus/10: 12)

*Mausu’ah al Fiqh al Islam, At-Tuwaijiri



Print Friendly and PDF

Doa Anti Galau, Agar Terbebas dari Kesusahan, Beban Utang dan Gangguan Orang; GUARANTED!


Bahwa segala sesuatu adalah baik bagi orang yang beriman, dan hal inilah yang oleh Rasulullah s.a.w. diungkapkan sebagai hal yang mengagumkan (ajaib) dari orang beriman. Allah SWT mengungkapkan karakter istimewa hamba-hamba-Nya tersebut diungkapkan dalam Firman-Nya:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا [٢٥: ٦٣]
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil mengatai mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan/25: 63)
_
Kata “haun” (rendah hati) di dalam ayat tersebut, oleh Ibnu Katsir diartikan sebagai sikap tenang dan berwibawa dan bukannya sikap kaku (suka memaksa) ataupun angkuh. Di dalam ayat tersebut diungkapkan, bahkan ketika ia dikatai, dibodohi, atau diperolok oleh orang bodoh, ia menghadapinya dengan damai (salam) tanpa membalas perilaku buruk yang didapatinya dari orang tersebut.
Ketenangan di sini tidak berarti lemah, melainkan bahwa seseorang harus selalu bisa menguasai dirinya bahkan di saat datang satu cercaan yang menyinggung dirinya atau memancing untuk bersikap emosional. Dalam pengertian yang lebih luas, sikap emosional adalah sikap lepas kendali karena adanya hal-hal yang cenderung tidak bisa diterima oleh seseorang.
Kunci ketenangan adalah kejernihan hati dan pikiran untuk selalu dapat memilah  sikap yang lebih baik daripada sikap-sikap yang cenderung dilakukan manusia umumnya secara emosional. Kemarahan, putus asa, kegundahan atau sikap-sikap destruktif yang cenderung dilakukan bukannya tidak dipahami ihwal keburukannya. Setelah selesai dengan sikap-sikap selalu diikuti dengan rasa penyesalan atau bahkan dapat berupa penyesalan yang tidak berkesudahan ketika sikap tersebut diungkapkan dengan perilaku yang merugikan, merusak, dan atau menjatuhkan korban.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدِّينِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ (رواه البخاري وغيره)
Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazan, wal ‘ajzi wal kasal, wal bukhli wal jubn, wa dhala’id daeni wa ghalabatir rijaal
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kecemasan, dari lemah dan malas, dari bakhil dan sifat penakut, dari beban hutang dan ditundukkan orang.” (Riwayat Bukhari dan perawi lainnnya)
_

Atau dengan do’a yang dikaitkan dengan Al-Quran (yang merupakan penyembuh segala penyakit hati), Rasulullah s.a.w. mengajarkan do’a berikut dan beliau menekankan agar do’a disebarluaskan:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ بَصَرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي
Allahumma innii abduka, ibnu abdika, ibnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ad-lun fiyya qahaa-uka, as-aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihii nafsaka, au anzaltahu fii kitaabika, au ‘allamtahu ahadan min khalqika, awis-ta’tsarta bihi fii ilmil ghaibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana rabii’a qalbii, wa nuura shadrii, wajalaa-a huznii wa dzahaaba hammii
“Ya Allah..., sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari abdi-abdi-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu,  yang berlaku padaku adalah hukum-Mu, yang adil untukku adalah keputusan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan semua Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamai diri dengannya, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau siratkan pada ilmu-ilmu ghaib di sisi-Mu, agar menjadikan Al-Quran sebagai bunga hatiku, sebagai pelita hatiku, sebagai pelipur lara dan menghilangkan kesedihanku.”

Yang oleh Rasulullah s.a.w. kemudian ditegaskan:

إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا
“tiada lain kecuali Allah akan menghilangkan kegelisahannya, akan menukarkan kesedihannya dengan kesenangan.” (Riwayat Ahmad, Thabrani dan Ibnu Hibban)




Print Friendly and PDF