Tampilkan postingan dengan label Fikih Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fikih Ibadah. Tampilkan semua postingan

Tawassul yang Disyari’atkan

 

Tawassul yang dibenarkan secara Syar’i terdiri dari lima bentuk, yaitu:

a.       Bertawassul dengan Keimanan

Sebagaimana ungkapan doa yang terdapat pada Firman Allah SWT:

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ [٣: ١٩٣]

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” (Ali ‘Imran/3: 193)

_

b.       Bertawassul dengan Asmaul Husna

Sebagaimana terdapat dalam do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w.,:

اللَّهمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا (أخرجه الترمذي وابن ماجه)

“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Mulia dan Engkau suka mengampuni, ampunilah kami.” (At-Tirmidzi dan Ibn Majah)

 

c.       Bertawassul dengan Menyebutkan Kondisi yang dialami dengan segala kesusahannya

Sebagaimana terdapat dalam doa yang diungkapkan oleh Ayyub a.s.:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ – فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ [٢١: ٨٣-٨٤]

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya/21: 83-84)

_

d.       Bertawassul dengan minta dido’akan kepada orang dapat diharapkan terkabul doanya dari orang shalih yang masih hidup

Sebagaimana pernah dikatakan orang-orang Arab (Badui) kepada Rasulullah s.a.w.,

يَا رَسُولَ اللهِ، هَلَكَتِ المَوَاشِي وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِيثُنَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهمَّ اسْقِنَا، اللَّهمَّ اسْقِنَا، اللَّهمَّ اسْقِنَا».

(متفق عليه)

“Wahai Rasulullah! Ternak-ternak telah binasa dan tangkai-tangkai tanaman berguguran, berdoalah agar Allah menurunkan hujan!” Rasulullah s.a.w. pun mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.” (Muttafaq ‘alaih)

 

e.       Bertawassul dengan amal shalih; sebagai terdapat dalam riwayat yang menyebutkan tiga orang lelaki yang terjebak di dalam gua yangn diriwayatkan secara muttafa ‘alaih.

 

Sumber:

Muhammad At-Tuwaijiri, Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islamiy.

 

 

 

 

 

Print Friendly and PDF

Shalat Istisqa


Air merupakan limpahan nikmat yang sangat besar dari Allag SWT yang semestinya dapat memjadikan hamba-Nya selalu bersyukur kepada-Nya. Tertundanya turun hujan merupakan ujian agar hamba-Nya dapat kembali dari dosa-dosa dan maksiat kepada ketaatan, taubat dan banyak beristighfar. Keadaan kekurangan air merupakan pengingat kepada makhluk-Nya akan kebutuhan yang sangat mendesak dan bersifat terus menerus di dalam kehidupan, yang seyogyanya dapat mengingatkan seseorang tentang penciptaan, kelangsungan hidup, penjagaan dan kelapangan yang dianugerahkan Allah SWT.
_
Seyogyanya kekurangan air juga dapat mengingatkan kita akan rahmat – kasih sayang – Allah yang dengannya pula disyari’atkan satu ibadah shalat dan doa untuk mendatangkan hujan kepada Allah Yang Maha Memiliki, yang menguasai ihwalnya secara mutlak dengan mengikrarkan sempurnanya sifat kekayaan Allah dan keadaan kita sebagai makhluk yang sangat membutuhkan (faqir).
Shalat Istisqa hukumnya sunnah muakkadah untuk ditunaikan di saat/musim kekurangan air, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Disunnahkan secara berjama’ah, akan tetapi sah pula ditunaikan secara munfarid. Doa istisqa (memohon turun hujan) dapat dilakukan dengan atau tanpa shalat. Disunnahkan di lapangan yang jauh dari keramaian pemukiman, akan tetapi sah pula di masjid dan doa tersebut juga sunnah dipanjatkan pada waktu shalat Jumat. Shalat istisqa dapat dilaksanakan kapan saja selain pada waktu-waktu terlarang untuk shalat.
عَنْ عَبْداللهِ بن زَيْدٍ المَازِنِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - إِلَى المُصَلَّى يَسْتَسْقِي، وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ. (متفق عليه)
Dari Abdullah bin Zaid Al-Mazini r.a., ia berkata: Rasulullah s.a.w. berangkat ke mushalla untuk memohon turun hujan, kemudian menghadap kiblat, shalat dua rakaat dan membalik serempangnya. (Muttafaq ‘Alaih)
Disunnahkan bagi kaum muslimin ketika berangkat untuk shalat istisqa untuk berangkat dengan merendahkan diri, penuh rasa tawadhu’, tunduk dan khusyu’ dan dapat menunjukkan sifat membutuhkan (faqir) secara total kepada Allah SWT baik dalam berkata-kata maupun tingkah laku. Oleh karenanya tidak dianjurkan untuk berhias diri dan bermewah-mewahan.
إن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - خرج متبذلا متواضعا متضرعا حتى أتى المصلى فلم يخطب خطبتكم هذه ولكن لم يزل في الدعاء والتضرع والتكبير وصلى ركعتين كما كان يصلي في العيد. (أخرجه أبو داود والترمذي عن ابن عباس رضي الله عنه)
Bahwasannya Rasulullah s.a.w. berangkat dengan tunduk merendahkan diri sehingga sampai di tempat shalat. Beliau s.a.w. tidak pernah berkhutbah seperti khutbah yang satu ini, melainkan ia senantiasa berdoa, merendahkan diri dan bertakbir (mengagungkan Allah). kemudian shalat dua raka’at seperti shalat ‘ied. (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dari Ibn Abbas r.a.)
_

Di dalam doa istisqa, disunnahkan mengangkat tangan tinggi-tinggi sebagaimana Rasulullah s.a.w. melakukannya sampai terlihat putih ketiaknya. Setelah berdoa kemudian membalikkan serempang dari kanan ke kiri dan atau sebaliknya. Berikut ini adalah doa-doa istisqa yang terdapat dalam sunnah Rasulullah s.a.w. antara lain:
الحَمْدُ للهِ رَب العَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللهمَّ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الغَنِيُّ وَنَحْنُ الفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الغَيْث وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلاَغاً إِلَى حِينٍ. (أخرجه أبو داود)
اللهمَّ أَغِثْنَا، اللهمَّ أَغِثْنَا، اللهمَّ أَغِثْنَا. (متفق عليه)
اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا. (أخرجه البخاري)
اللهمَّ اسْقِنَا غَيْثاً مُغِيثاً مَرِيئاً مَرِيعاً نَافِعاً غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ. (أخرجه أبو داود)
اللهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ المَيِّتَ. (أخرجه مالك وأبو داود)
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang Menguasai hari pembalasan. Tidak ada tuhan selain Allah, Dzat yang (selalu) melakukan apapun yang dikehendaki-Nya. Ya Allah, Engkaulah Allah (yang) tiada tuhan selain Engkau yang Maha Kaya, (sedangkan) kami sangat faqir; Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan  kesampaian pada waktu tertentu. (Abu Dawud)
Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada kami. (Muttafaq ‘alaih)
Ya Allah, berilah kami hujan, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah berilah kami hujan. (Bukhari)
Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan yang mengalir serta menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, dengan segera dan tidak ditangguhkan. (Abu Dawud)
Ya Allah, berilah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan binatang-binatang, tebarkanlah rahmat-Mu dan hidupkanlah bumi-Mu yang mati. (Malik dan Abu Dawud)

Sumber: At-Tuwaijiri, Mausu’ah al-fiqh al-islamiy





Print Friendly and PDF

Berkurban untuk Taqorub


Allah SWT berfirman:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ [٥: ٢٧]
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".” (QS. Al-Maidah/5: 27)
_

Ibnu Katsir menyebutkan dari riwayat Ibnu Jarir bagaimana perbedaan sikap Qabil dan Habil dalam berkurban yang membuat salah satu kurbanya (milik Qabil) tidak diterima. Disebutkan bahwa Qabil tidak mempersembahkan yang baik untuk dikurbankan dan ia bersikap angkuh terhadap saudaranya. Manakala ia mengetahui bahwa kurbannya tidak diterima yang berarti bahwa saudaranyalah yang kemudian berhak untuk menikahi saudara perempuannya yang lebih jelita, ia tidak dapat menerimanya dan mencelakai Habil.
Kata kurban berasal dari kata qa-ru-ba yang berarti mendekati atau menghampiri. Isjfahani kemudian mendefinisikan kata qurban sebagai apa-apa yang dengan dapat menjadi lebih dekat (mendekatkan diri) kepada Allah, yang kemudian istilah ini digunakan untuk ibadah penyembelihan hewan kurban. Dari istilah ini setidaknya kita dapat dengan mudah bahwa tujuan dari ibadah kurban adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan para ulama ahli fiqih mengkategorikan kurban sebagai ibadah mahdhah. Maka di dalam pelaksanaannya kurban tidak dapat dirubah ketentuan, jenis, hitungan dan waktu pelaksanaannya.
Memenuhi segala ketentuan Syari’at di dalam ibadah qurban adalah bentuk pengesaan terhadap Allah SWT karena segala ketetapan tersebut bersumber dari-Nya. Yang lebih fundamental dari berbagai ketentuan tersebut adalah niat seseorang dalam menunaikannya, yakni keikhlasannya (lih. QS. Al-Bayinah/98: 5)
Mengingat bahwa dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari sifat materil hewan ternak yang dapat dengan mudah dinilai dan diukur, seyogyanya seseorang yang berkurban dapat menjaga keikhlasan niatnya dari penilaian manusia yang kadang-kadang cenderung bersifat materil saja (baca: duniawi). Bukan tidak mungkin bagi seseorang yang berkurban dengan ternak besar, sebagai contoh, dihinggapi hasrat untuk mendapat pujian dari manusia dengan apa yang ia kurbankan. Tak jarang pula orang yang kemudian membangga-banggakan kurbannya dan menghinakan yang lain karena jumlah yang tidak banyak atau sifat materil lainnya.
Berkurban adalah bertaqarub kepada Allah dan Allah Yang Maha Luas menyediakan pahala yang tidak terkira untuknya. Sangat disayangkan apabila ternyata seseorang lebih mengharap pujian manusia atau sifat lainnya dari ikhwal dunyawiyah yang tidak seberapa dan atau bahkan bersifat mengelabui saja (ghurur). Terlebih di era milenial kini, ketika perilaku pamer sangat mudah dilakukan salah satunya dengan kebiasaan swafoto (selfi) dan luasnya ruang publik media sosial yang seringkali menghanyutkan kita pada kesenangan untuk mendapat komentar dan tanda suka dan lain sebagainya.
Allah SWT berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ [٥٧: ٢٠]
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid/57: 20)
Dari ayat ini setidaknya kita dapat mengetahui sifat-sifat keduniaan yang bisa melekat pada ibadah kita, antara lain:
a)        Permainan; artinya sesuatu yang tidak dilakukan dengan maksud sungguh-sungguh dan tidak bermakna
b)        Melalaikan; berarti sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah dan bukan sebaliknya.
c)        Perhiasan; memiliki sifat menyenangkan hati (dalam pengertian negatif, yakni hawa nafsu)
d)        Berbangga-bangga; menumbuhkan rasa sombong dan tinggi hati
e)        Bermegah-megah; sikap berlebih-lebihan yang tidak diperlukan.
Jika misalnya hal-hal tersebut melekat dalam pelaksanaan ibadah kurban, itu bisa menempatkan ibadah kurban (agama) sebagai permainan padahal bukan saja hal itu dimurkai Allah bahkan kita diperintah untuk meninggalkan orang yang menjadikan agama sebagai permainan (QS. 6: 70). Allah juga melarang menjadi lalai dari mengingat Allah (QS. 63: 9), tertipu dengan perhiasan duniawi dan mengikuti hawa nafsu (QS. 25: 43), berbangga-bangga (QS. 31: 18) serta bermegah-megahan yang melalaikan (QS. 102: 1-2).
_

Oleh karena itu, dalam pengertian agar kita tidak terkecoh oleh sifat-sifat materil keduniawian, dapat dengan jelas kita pahami penegasan Allah terkait dengan penyembelihan hewan ternak dalam Firman-Nya:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ [٢٢: ٣٧]
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj/22: 37)
Dari kandungan ayat ini setidaknya dapat dibuat satu kesimpulan bahwa ketakwaan adalah satu-satunya ukuran yang harus menjadi perhatian utama baik dalam pelaksanaan dan atsar yang tampak setelahnya. Dari kisah Qabil dan Habil kita dapat melihat bagaimana persembahan kurban dapat mengarahkan seseorang pada kesesatan dan perilaku zhalim, ketika ia tidak ditunaikan dengan sungguh-sungguh dan dipengaruhi oleh sifat memperturutkan hawa nafsu.





Print Friendly and PDF

Bersukacita Menyambut Ramadhan

Ramadhan, satu-satunya nama bulan yang disebutkan langsung di dalam Al-Quran. Di dalam ayat tersebut (2: 185) disebutkan satu peristiwa agung yakni diturunkannya Al-Quran dengan dijelaskan pula kedudukan Al-Quran sendiri bagi manusia. Semarak menyambut Ramadhan sudah menjadi agenda besar yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dengan latar belakang yang beragam pula yang tentunya mewakili tujuan yang beragam pula.
_
Bahwasannya Allah menetapkan kewajiban berpuasa dengan menyeru orang-orang beriman (2: 183), dapat dimaknai bahwa dengan memenuhi ketetapan tersebut merupakan pengukuhan identitas orang yang beriman. Dengan demikian, seyogyanya diperhatikan orang beriman adalah bagaimana bergembira menyambut Ramadhan karena di balik semaraknya orang-orang menyambut Ramadhan terdapat tujuan-tujuan yang sama sekali bertentangan dengan ihwal keimanan dan substansi peribadatan.
Rasulullah s.a.w. mengisyaratkan keistimewaan bulan Ramadhan sebagai berikut:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه أحمد عن أبي هريرة رضي الله عنه)
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, yang Allah mewajibkan puasa di dalamnya atas kalian. Di bulan ini dibukakan pintu-pintu surga dan ditutup-Nya pintu-pintu  neraka jahim, syetan-setan dibelenggu, serta di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; barang siapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikannya.”
An-Nawawi menjelaskan bahwa pengertian yang terkandung di dalam ungkapan hadits tentang pintu-pintu surga yang dibukakan, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu selain dapat dipahami secara zhahir (denotatif), dapat dimaknai secara majazi (konotatif) sebagai melimpahnya pahala kebaikan dan ampunan, dan bahwa ruang gerak syetan dipersempit dalam membujuk dan mengganggu hamba Allah.
Keutamaan yang diutarakan oleh Rasulullah s.a.w. sangatlah luar biasa. Bilakah seseorang tidak dapat bersuka cita dengan hal-hal tersebut? Karena bisa jadi karena terpaku pada satu kepentingan tertentu (duniawi belaka), atau hal-hal lain yang dapat memalingkan dari karunia dan rahmat Allah SWT. Tidak sedikit orang yang melewatkan Ramadhan begitu saja, tidak mendapat kebaikan apa-apa dan atau bahkan justru sebaliknya, bukannya tidak mungkin, bahwa setelah Ramadhan seseorang justru bertambah buruk.
Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ [١٠: ٥٨]
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (Yunus/10: 58)
Berpedoman pada tuntunan Rasulullah s.a.w., bersukacita dengan datangnya Ramadhan bukanlah sembarang sukacita seperti meriahnya pesta, hura-hura atau hal-hal lain yang tidak bernilai ibadah dan ketaatan. Sukacita yang dimaksud adalah bagaimana antusiasme seseorang dalam kaitan dengan kesempatan untuk berbuat baik, menjaga diri dari maksiat dan hal-hal tidak berguna, meraih keutamaan-keutamaan yang hanya terdapat di bulan Ramadhan seperti malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang tentunya tidak dapat diraih tanpa mempersiapkan diri.
_
Di antara yang seyogyanya dipersiapkan dalam menyambut kedatangan Ramadhan;
1)        Ilmu; mengetahui segala hal yang berkaitan dengan bulan Ramadhan yang mecakup ketentuan ibadah, keutamaan dan pahala yang berlimpah, serta hal-hal lain untuk meraih Ramadhan yang bernilai tak terhingga.
2)        Kesiapan lahir dan bathin; memupuk kesungguhan dan kesiapan sehingga baik secara mental-kejiwaan maupun lahiriah-materil.
3)        Program Ramadhan; membuat program adalah berniat/ber’azam yang merupakan satu kebaikan. Setiap amal diawali dan bertumpu pada niat. Niat (baca: Program Ramadhan) akan memudahkan kita untuk dapat beristiqomah, mengevaluasi dan sekaligus meningkatkan kapasitas dan konsistensi peribadatan selama bulan Ramadhan. 
Sebagai contoh, sebagaimana pula dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w., dalam kaitan dengan membaca Al-Quran di bulan Ramadhan, seseorang dapat mempersiapkan diri dengan menggali berbagai pemahaman dan penguasaan ilmu Al-Quran dan memupuk ghirah dengan mengenal berbagai keutamaannya, menentukan target tertentu seperti mengkhatamkan bacaan, menghafal dan lain-lain sebagainya.




Print Friendly and PDF

Kekeliruan dalam Berdo’a yang Tidak Mendatangkan Kebaikan


Fitrah berketuhanan yang tidak tergantikan (QS. 30: 30) pada setiap jiwa akan senantiasa menariknya untuk selalu kembali kepada Allah dan salah satunya dengan berdoa. Keimanan seseorang seharusnya dapat membuat dia selalu berdoa kepada Allah, akan tetapi tak jarang orang yang berhenti berdoa pada keadaan tertentu atau bahkan setelah Allah mengabulkan doa-doa yang dia pintakan. Atau bentuk kekeliruan lain dalam berdoa yang disebabkan oleh ketidaktahuan seseorang bagaimana harus meminta kepada Allah
_

Doa merupakan pengukuhan bahwa setiap jiwa (makhluk) itu senantiasa membutuhkan (faqir) akan karunia Allah. Apapun yang dikaruniakan Allah kepada makhluk-Nya adalah tidak terhitung (QS. 16: 18), akan tetapi karena lupa bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah, manusia kemudian hanya menisbatkan kepada Allah untuk sebagian kecil saja atau justru untuk hal-hal yang tidak diberikan Allah kepadanya, yakni apa yang diangan-angankannya saja. Angan-angan yang tidak seberapa inilah yang menghalanginya dari bersyukur.
Dari keadaan tersebut seseorang boleh jadi memanjatkan doa kepada Allah dengan sungguh-sungguh, akan tetapi apa yang dia lakukan (doanya sendiri) justru menjadi hal buruk bagi dirinya, yakni seperti gambaran berikut ini:
a)        Berdoa secara sempit tanpa nilai kebaikan sama sekali, sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut:

فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ [٢: ٢٠٠]
“Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (Al-Baqarah/2: 200)
Kecenderungan ini salah satunya dengan memandang rejeki yang diberikan Allah dalam bentuk materil saja seperti jumlah uang yang banyak, kekayaan yang melimpah, atau hal-hal lain yang selalu diidamkan manusia tanpa memperdulikan kebaikan apa yang bisa diraihnya dalam hal tersebut terutama untuk kebaikan akhiratnya. Doa yang seperti ini, bahkan jika Allah berkenan mengabulkannya, tidak ada kebaikan pada apa yang dipintanya tersebut.

b)        Berdoa hanya di waktu susah saja, seperti yang digambarkan ayat berikut:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٠: ١٢]
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus/10: 12)
Seseorang hanya datang kepada Allah di saat melihat sesuatu itu buruk menurutnya sementara di balik itu sedemikian banyak nikmat Allah yang diterimanya tidak pernah disyukurinya. Apa yang dihadapinya dari hal buruk tersebut sejatinya datang untuk mengingatkan dia agar mengingat Allah. Akan tetapi karena tiada rasa syukur dalam dirinya, di saat bahaya itu berlalu ia malah lupa bahkan dengan apa yang baru saja dimintanya. 

c)        Tergesa-gesa dan putus asa, yaitu seperti digambarkan dalam hadits Rasulullah s.a.w.:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي (رواه البخاري ومسلم)
“Akan dikabulkan untuk (doa) setiap orang dari kalian selagi ia tidak tergesa-gesa. (Tergesa-gesa yaitu ketika) ia mengatakan, "aku telah berdoa, tapi tidak juga dikabulkan".” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Sikap ini merupakan prasangka buruk yang ditujukan kepada Allah sekaligus keputusasaan akan rahmat-Nya yang merupakan sifat kekufuran. Alangkah tidak terbayangkan akibat yang akan ditanggungnya ketika Allah mengikuti prasangka buruknya baik dalam hal ia berdoa maupun seluruh hidupnya.
_
Seseorang yang berdoa dengan segenap kesungguhannya bahkan berurai air mata, serta demikian terus ia melakukannya, akan tetapi dengan ketiga hal di atas bukannya kebaikan yang didapatnya meskipun Allah mengabulkan permintaannya.




Print Friendly and PDF

Berdoa dan Substansi Kehambaan


Sudahkah Anda berdoa? Tentu kita sepakat untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban, “ya, pernah.”
_
Berdoa adalah menyampaikan permohonan kepada Allah SWT. Barangkali seseorang menganggap hal itu dilakukan dalam keadaan tertentu saja sehingga tidak jarang orang yang sama sekali atau dalam waktu yang lama tidak menyampaikan permintaan (berdoa) kepada Allah. Banyak hal yang dapat membuat seseorang berhenti berdoa atau enggan berdoa, namun patut menjadi perhatian kita adalah bagaimana kedudukan orang yang enggan berdoa di dalam firman Allah SWT:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [٤٠: ٦٠]
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".” (Ghafir/40: 60)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwasannya ungkapan ‘menyombongkan diri dari menyembah-Ku’ adalah sikap yang membuat seseorang enggan untuk meminta dan mentauhidkan Allah. Tidak ada alasan yang benar bagi seorang makhluk untuk tidak meminta kepada Allah Dzat yang menguasai seluruh alam, yang segala kebaikan setiap makhluk tidak terlepas dari kehendak-Nya karena setiap makhluk adalah faqir di hadapan Allah ( lih. QS. 35: 15 dan 47: 38). Oleh karena itu kita mendapat satu penegasan dari Rasulullah s.a.w.:
إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ (رواه الترمذي، عن أبي هريرة)
“Sesungguhnya barangsiapa yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, maka ia akan dimurkai Allah.” (Riwayat Tirmidzi, dari Abu Hurairah r.a.)
_
Maka sangatlah keliru apabila seseorang berpikir bahwa dirinya hebat ketika ia tidak pernah meminta kepada Allah SWT semisal ia tanpa kekurangan materi, diberi kemampuan luar biasa dan nyaris tidak pernah mengalami hal-hal buruk. 



Print Friendly and PDF

Puasa Sepanjang Masa dengan 6 Hari di Bulan Syawal


Setelah selesai bulan Ramadhan salah satu kesan mendalam dari perpisahan dengannya adalah rasa kerinduan akan kehadirannya untuk tahun yang akan datang. Betapa tidak, keistimewaan bulan Ramadhan dengan berbagai keutamaan dan suasana semarak yang sarat dengan amal perbuatan yang bernilai ibadah.
_
Oleh karena itu alangkah baiknya seorang yang beriman tetap konsisten dengan segala ibadah dan amal shaleh sebagaimana amalan-amalan tersebut ia tunaikan selama di bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ؛ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب [٩٤: ٧-٨]
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain; dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Asy-Syarh/94: 7-8)

Maka sangatlah tidak tepat apabila ternyata sehabis bulan Ramadhan seseorang yang beriman justru berlaku seperti orang yang terbebas dari sesuatu hal yang mengekang sehingga ia bereuforia dengan segala perbuatan yang sebelumnya ‘tidak dapat’ ia lakukan sebelumnya. Atau sebaliknya, dengan berbagai nilai ibadah yang dilipatgandakan dan adanya satu malam – lailatul qadar – yang sangat istimewa kemudian seseorang berbangga diri seolah-olah dengan pahala yang melimpah ia kemudian bersikap leha-leha.
Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ؛ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ [٢٣: ٦٠-٦١]
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al-Mukminun/23: 60-61)

Aisyah r.a. pernah bertanya mengenai ayat tersebut kepada Rasulullah s.a.w., apakah ayat itu menyangkut orang-orang yang biasa minum khamr dan mencuri? Rasulullah s.a.w. menjawab, “tidak, wahai putri Abu Bakr! Akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, bersedekah dan di dalam dirinya ada kekhawatiran atau takut amal kebaikannya tidak diterima oleh Allah SWT.
_

Maka di bulan Syawwal ini sangat dianjurkan untuk berpuasa selama enam hari dan puasa tersebut memiliki keutamaan khusus sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah s.a.w.:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتّاً مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (أخرجه مسلم عن أبي أيوب الأنصاري)
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian ia mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawwal maka ia seperti berpuasa selama setahun.”

Para ulama menetapkan bahwasannaya tidak ada keharusan untuk menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawwal tersebut secara langsung sehabis Idul Fitri dan tidak pula dilakukan secara berturut-turut. Akan tetapi menyegerakan untuk melaksanakannya merupakan memiliki nilai utama sebagai bentuk menyegerakan amal kebaikan demikian pula dengan melakukannya secara berurutan yang juga lebih mudah dalam pelaksanaannya.




Print Friendly and PDF

Makna Idul Fitri


Setiap anak manusia dilahirkan dalam dengan fitrah akan tetapi sayangnya kedua orang tuanya justru bisa menjauhkannya dari fitrah tersebut. Demikian dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a yang ketika menyampaikan perkataan hadits tersebut beliau membacakan ayat:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [٣٠: ٣٠]
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS Ar-Rum/30: 30)

_
Yang dimaksud dengan fitrah yaitu agama Allah (Al-Islam). Dua hal mendasar yang setidaknya dapat dipahami dari ayat tersebut yaitu bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan Islam (dalam riwayat lain disebutkan beragama hanif). Dan yang kedua adalah bahwa apa yang menjadi fitrah-nya tidak dapat tergantikan oleh yang lain. Hal ini dapat dipahami secara luas, yakni bahwa dalam arti berketuhanan maka sang anak sejatinya hanya diciptakan untuk mengesakan Allah; dalam peribadatan adalah bahwa apapun ibadah yang dilakukannya itu hanya ibadah yang telah digariskan Allah dalam syari’at Islam; atau dalam pengertian umum ia sejatinya hanya dapat ‘hidup’ dalam keadaan Islam.
Dalam kaitan dengan satu hari besar Islam di setiap habis Ramadhan, Idul Fitri, kata ‘fitri’ banyak yang memaknainya sebagai fitrah sehingga Idul Fitri kemudian dimaknai sebagai kembalinya kepada kesucian atau fitrah. Itu diungkapkan sebagai keadaan suci bersih seperti baru dilahirkan. Adapun jika dikembalikan kepada makna fitrah itu sendiri, pemaknaan tersebut juga pasti akan menempatkan seseorang pada keislaman yang benar-benar Islamnya.
Sedangkan apa yang dituturkan oleh Rasulullah s.a.w. mengenai hari Idul Fitri (Lebaran) salah satunya adalah:

الْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ (رواه ابن ماجه وأبو داود والترمذي)
“(Hari Raya) Fitri itu adalah hari engkau berbuka (makan-makan), dan (Hari Raya) Adha adalah hari kalian menyembelih. (Riwayat Ibnu Majah, Abu Daud dan Tirmidzi)

Penggunaan kata fitr ( الفطر ) oleh Rasulullah s.a.w. selain untuk hari raya juga digunakan untuk berbuka puasa dan salah satu zakat (yakni yang populer disebut zakat fitrah) dan itupun sebagai nisbat kepada Idul Fitri sendiri. Dalam memaknai Idul Fitri, terlebih untuk memaknainya sebagai makna hakiki, sulit untuk dapat dipahami sebagai keadaan kembalinya seseorang kepada keadaan fitrah baik secara kebahasaan maupun nisbat pewahyuan (Al-Quran dan Sunnah). Keadaan fitrah sendiri bukan sesuatu yang bersifat ruhiyah sehingga pemahaman atau pemaknaan mengenai hal itu merupakan ranah i’tiqadiyah yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara naqli.
Adapun pengertian fitrah yang disebutkan dalam ayat di atas atau hadits-hadits yang memiliki makna sebagai agama (Islam dan agama hanif), di dalam Al-Quran digunakan kata fitrat ( فِطْرَت lih. QS 30: 30). Sedangkan di dalam hadits selalu menggunakan kata fitrah ( الفطرة ), sebagaimana Rasulullah s.a.w. mengungkapkannya tentang sunnah dalam memelihara anggota badan seperti memotong kuku, menggosok gigi, khitan, memanjangkan janggut dan mencukur bagian rambut tertentu.

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ - أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ - الْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبِطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ (رواه البخاري ومسلم، عن أبي هريرة)
“Fitrah itu ada lima, (atau dikatakan) lima hal dari  fitrah; khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a.)

Ungkapan fitrah di dalam hadits Rasulullah s.a.w. selain digunakan pada hadits-hadits tentang keadaan bayi yang baru dilahirkan juga digunakan untuk orang yang membaca doa tertentu sebelum tidur yang disebutkan bahwa jika ia mati dalam tidurnya ia mati dalam keadaan fitrah.
_

Dengan demikian, sebagaimana Rasulullah s.a.w. mengungkapkan Idul Fitri tidak dengan ungkapan idul fitrah, Hari Raya (Idul) Fitri cukup dimaknai sebagai hari untuk makan-makan (bersuka cita), hari berbuka – yang karenanya diharamkan berpuasa. Untuk apa suka cita tersebut, maka itu adalah suka cita yang dijanjikan Allah SWT bagi orang yang berpuasa dan suka cita yang harus dirasakan oleh umat secara keseluruhan – yang kaya, miskin, dewasa, anak-anak, laki-laki, perempuan dan bahkan perempuan yang sedang berhalangan (haidh) diperintahkan agar tidak tertinggal dalam berkumpul di hari tersebut dan apa yang dapat dipahami pada syari’at zakat fitri.
Wallaahu a’lam.




Print Friendly and PDF

Menjelang Akhir; Menyempurnakan Puasa Ramadhan


Salah satu karakter syetan yang menulari manusia adalah ketergesa-gesaan. Ketergesaan membuat seseorang untuk sesegera mungkin menyelesaikan satu perbuatan tanpa memperhatikan kualitas yang harus diwujudkan atau bahkan banyak kekuarangannya. Dalam ibadah shalat, sebagai contoh, orang yang tergesa-gesa dalam shalatnya yang diibaratkan seperti ayam mematuk makanannya yakni shalat yang tidak memenuhi rukun tumaninah mengakibatkan shalatnya sendiri tidak sah. Demikian itu cukup jelas dinyatakan Rasulullah s.a.w. ketika melihat seseorang yang shalatnya demikian untuk mengulang kembali shalatnya.
_
I'tikaf di Masjid Nabawi
Dalam hal melakukan sesuatu yang sudah ditetapkan batasan waktunya seperti ibadah puasa, ketergesaan itu mengakibatkan rasa tidak menikmati apa yang sedang dilakukan. Ibadah kemudian hanya dirasai sebagai belenggu atau beban yang menyiksa, berat untuk ditunaikan sehingga tidak sedikit orang yang berani meninggalkan amal ibadah yang harus ditunaikannya. Menjelang akhir Ramadhan, tidak sedikit jama’ah yang enggan untuk melakukan berbagai aktivitas yang sebelumnya begitu semarak di masjid-masjid atau di luar masjid.
Ibadah di bulan Ramadhan memiliki banyak hal substanstif yang dapat meningkatkan kapasitas ketakwaan seseorang. Demikian sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Quran (2: 183) bahwa puasa diperintahkan untuk meningkatkan ketakwaan. Di antara substansi amal ibadah di bulan Ramadhan antara lain;
a)        Rasa takut kepada Allah SWT yang semakin kuat. Puasa menempatkan seseorang untuk senantiasa memiliki kesadaran bahwa ia senantiasa ada dalam pengawasan Allah baik untuk hal-hal yang tampak maupun tersembunyi.
b)        Kesungguhan dan keteraturan dalam beramal, yang merupakan modal besar dalam menyempurnakan satu perbuatan dan apa yang hendak dihasilkan. Dengan kesungguhan yang sang sulit dan berat sekalipun menjadi mudah untuk dilakukan. Demikian juga dengan keteraturan, selain bahwa hal itu lebih mengakrabkan tubuh pada satu pola dan keterikatan yang kuat dalam menunaikan amal ibadah.
c)        Ketahanan dan penawar akan syahwat
d)        Kesetaraan dan kebersamaan, yang meskipun puasa terkesan berat untuk ditunaikan, karena setiap orang secara bersama-sama menanggung hal serupa maka hal itu di antaranya menimbulkan kemudahan dan keringanan.
Maka menjelang sepuluh akhir, sebagaimana pula sangat dianjurkan untuk beri’tikaf dan membayar zakat fitrah. Rasulullah s.a.w. juga mengajarkan satu do’a:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah Yang Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan. Maka maafkanlah aku.”

Dengan memanggil Allah Yang Maha Pemaaf, ialah Allah yang senantiasa memaafkan dosa dan kesalahan hamba-Nya, yang di dalam nama tersebut mengandung pengertian bahwa Allah akan menghapus dosa-dosa tersebut dan membebaskannya dari akibat atau azab atas dosa tersebut. Doa diatas menekankan agar senantiasa bertaubat dan bukan sebaliknya berbangga-bangga dengan amal kebaikan yang telah dilakukan.
_

Dan satu pedoman dari Rasulullah s.a.w. agar kita senantiasa merasakan kenikmatan dalam beribadah kepada-Nya, beliau mengatakan:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ 
(البخاري ومسلم)
“Tiga hal, barang siapa yang hal itu ada pada dirinya maka akan mendapatkan manisnya iman: hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya; dan dalam mencintai seseorang hendaklah ia tidak mencintainya kecuali karena Allah saja; dan hendaklah ia membenci kepada kekufuran sebagaimana kebenciannya akan dilempar ke dalam api/neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)




Print Friendly and PDF