Tawassul yang dibenarkan
secara Syar’i terdiri dari lima bentuk, yaitu:
a. Bertawassul
dengan Keimanan
Sebagaimana
ungkapan doa yang terdapat pada Firman Allah SWT:
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي
لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا
ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ [٣: ١٩٣]
“Ya Tuhan
kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):
"Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan
kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami
kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak
berbakti.” (Ali ‘Imran/3: 193)
_
b. Bertawassul
dengan Asmaul Husna
Sebagaimana
terdapat dalam do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w.,:
اللَّهمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ العَفْوَ
فَاعْفُ عَنَّا (أخرجه الترمذي وابن ماجه)
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Mulia dan
Engkau suka mengampuni, ampunilah kami.” (At-Tirmidzi dan Ibn Majah)
c. Bertawassul
dengan Menyebutkan Kondisi yang dialami dengan segala kesusahannya
Sebagaimana
terdapat dalam doa yang diungkapkan oleh Ayyub a.s.:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ
الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ – فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا
بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ
عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ [٢١: ٨٣-٨٤]
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya:
"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah
Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun
memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan
Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka,
sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua
yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya/21: 83-84)
_
d. Bertawassul
dengan minta dido’akan kepada orang dapat diharapkan terkabul doanya dari orang
shalih yang masih hidup
Sebagaimana
pernah dikatakan orang-orang Arab (Badui) kepada Rasulullah s.a.w.,
يَا رَسُولَ اللهِ، هَلَكَتِ المَوَاشِي
وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِيثُنَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ
- صلى الله عليه وسلم - يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهمَّ اسْقِنَا، اللَّهمَّ
اسْقِنَا، اللَّهمَّ اسْقِنَا».
(متفق عليه)
“Wahai Rasulullah! Ternak-ternak telah binasa dan
tangkai-tangkai tanaman berguguran, berdoalah agar Allah menurunkan hujan!”
Rasulullah s.a.w. pun mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, berilah kami
hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.” (Muttafaq ‘alaih)
e. Bertawassul
dengan amal shalih; sebagai terdapat dalam riwayat yang menyebutkan tiga orang
lelaki yang terjebak di dalam gua yangn diriwayatkan secara muttafa ‘alaih.
Sumber:
Muhammad At-Tuwaijiri, Mausu’ah
Al-Fiqh Al-Islamiy.


