Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

Yang Dikatakan Abu Bakar dengan Kemenangan Hudaibiyah Dibenarkan Allah SWT

Allah SWT berfirman:
لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُم بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ [٥٩: ١٤]
“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (Al-Hasyr/59: 14)
Umar bin Khathab sangat geram dengan syarat-syarat yang dikemukakan Quraisy menjelang perjanjian damai Hudaibiyah. Kegelisahannya masih menguasai dirinya meskipun ia sempat menanyakan langsung kepada Rasulullah s.a.w. atas persetujuan beliau akan syarat-syarat tersebut. Maka Umar pun mengeluhkannya kepada Abu Bakar r.a., tetapi ia pun hanya mendapatkan jawaban yang sama dari Abu Bakar, bahwa sikap Rasulullah s.a.w. tiada lain hanyalah bentuk keta’atan kepada Allah SWT. Abu Bakar pun menasihatinya agar tetap setia kepada Rasulullah s.a.w., yakni mengikuti apa saja yang ditetapkan ketika itu. Selain Umar, Ali bin Abu Thalib juga sempat menunjukkan keengganan ketika Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk mengganti tulisan ‘Muhammad Rasul Allah’ dengan ‘Muhammad bin Abdillah’, sampai-sampai Rasulullah s.a.w. sendiri turun tangan dalam menghapus tulisan tersebut.
_
Kegelisahan para shahabat tak lain karena orang-orang kafir Quraisy menyampaikan syarat secara sepihak dan ingin menang sendiri. Belum lagi persoalan mengenai hasrat kaum muslimin yang begitu besar untuk dapat menunaikan ibadah haji dengan kerinduan sebagian dari mereka (kaum muhajirin) pada tanah kelahiran dan sanak famili yang berada di Mekah. Negosiasi damai melalui utusan Rasulullah s.a.w. tidak pernah direspon dengan baik bahkan Quraisy sampai menyandra Utsman bin Affan r.a. sehingga muncul isu pembunuhan Utsman.
Banyak faktor yang menempatkan Quraisy tertahan untuk melakukan serangan agresif dan justru mempertahankan status quo. Keadaan internal mereka benar-benar tidak menguntungkan. Quraisy tidak memiliki potensi besar yang dapat mempersatukan mereka seperti yang dimiliki kaum muslimin. Dukungan dari suku-suku di luar Quraisy pun nyaris pudar karena isu yang membuat tertahannya kaum muslimin untuk memasuki Mekah merupakan salah satu konsensus yang mengokohkan kebersamaan mereka, yaitu hak atas Ka’bah. Menghalangi kaum muslimin dari Ka’bah memperlihatkan sikap buruk Quraisy kepada suku atau bangsa lain ketika tidak sejalan dengan kepentingannya. Adapun sebaliknya, jika Muhammad s.a.w. dan pengikutnya dibiarkan memasuki Mekah, supremasi yang dipegang Quraisy atas Mekah dan Ka’bah termasuk masyarakatnya (bangsa Arab) sendiri akan menempatkan mereka tak lebih dari bagian kecil dari bangsa-bangsa Arab.
Quraisy berupaya memunculkan supremasi atas Mekah, dengan mengatasnamakan bangsa Arab, dengan melibatkan tokoh-tokoh dari suku lain pada perundingan. Supremasi tersebut juga dimunculkan pada syarat-syarat perdamaian yang dikemukakan Suhail bin ‘Amr yang kemudian disetujui sepenuhnya oleh Muhammad s.a.w. sebagai perjanjian Hudaibiyah.

Supremasi tersebut tak lebih dari upaya defensif Quraisy yang sekaligus menunjukkan kelemahan-kelemahannya. Hal itu menjebak Quraisy pada ihwal statistik dan taktis saja, tanpa mempertimbangkan kekuatan besar yang dimiliki oleh Rasulullah s.a.w. yang melampaui hal tersebut, yakni ideologi. Quraisy tidak memperhitungkan bagaimana orang-orang lemah yang masih bertahan dan mereka tawan di Mekah tetap bertahan karena ideologi tersebut. Dan sebaliknya, Quraisy juga tidak memahami benar bagaimana ideologi tersebut mempengaruhi orang-orang mereka yang pernah menyambangi Muhammad s.a.w. dan kaumnya di Madinah. Dan, pada dasarnya, perjanjian Hudaibiyah itu hanyalah sebatas upaya penangguhan sementara mereka berpikir untuk kembali mengukuhkan status perang. Sementara hal lainnya, kekuatan Quraisy semakin melemah baik secara statistik maupun secara strategis.
Perjanjian Hudaibiyah di sisi lain, di samping kesan yang mendiskreditkan kaum muslimin, justru menjadi pintu gerbang bagi kaum muslimin dalam menebar (dakwah) ideologi pada risalah besar mereka, tauhidullah. Perjanjian Hudaibiyah juga, secara tidak langsung, mengukuhkan hak kaum muslimin atas Mekah dan Ka’bah secara eksklusif karena hak tersebut dipadankan dengan supremasi Quraisy yang mengatasnamakan bangsa Arab. Sementara di pihak lain, kaum muslimin telah mendapatkan dukungan dan simpati dari berbagai suku bangsa Arab, bahkan kemudian meluas ke wilayah-wilayah di luar bangsa Arab, yang dapat dilakukan dengan leluasa karena urusan kaum muslimin setelah ini tidak lagi terfokus pada peperangan dengan Quraisy.
Sebagian dari kaum muslimin ketika itu memang tidak dapat memahami inti dari perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian itu sendiri bahkan sempat mengganggu mereka berpadu dengan dorongan dan hasrat kuat untuk memasuki Mekah sambil mencukur rambut dan memotongnya sebagaimana diungkapkan oleh wahyu yang mereka dengar dari Rasulullah s.a.w.. Akan tetapi shahabat seperti Abu Bakar r.a., yang memiliki ketenangan berpikir dan pandangan jauh, ia mengemukakan kesan istimewa untuk perjanjian tersebut dan mengatakan, “tidak ada kemenangan Islam yang lebih besar dari kemenangan di Hudaibiyah ini.” Ia, menyebut perjanjian Hudaibiyah dengan kata kemenangan (lih. Syaikh Al-Hudhary Al-Bajury, Nur Al-Yaqin fi Sirah Sayyid Al-Mursalin).
_
Allah SWT mengukuhkan hal tersebut menjelang perjalanan pulang kaum muslimin ke Madinah, turunlah ayat:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا [٤٨: ١]
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, ...”
Ayat ini turun sampai akhir surat ketika itu. Di Hudaibiyah ada peperangan terjadi dan kaum muslimin dengan kekuatan besar yang dimilikinya tidak meladeni perang tersebut secara penuh. Di Hudaibiyah pula terjadi satu perjanjian yang terkesan memojokkan kaum muslimin. Akan tetapi yang tidak disadari oleh Quraisy, atau bahkan sebagian kaum muslimin sekalipun, peristiwa ini ternyata merupakan satu kemenangan besar, Kemenangan Hudaibiyah.


Print Friendly and PDF

Muhammad s.a.w. Sang Penyempurna

Apa yang diungkapkan oleh Aisyah r.a. mengenai akhlak Rasulullah s.a.w., bahwasannya  akhlak beliau adalah Al-Quran, sungguh ungkapan yang berksesuaian dengan keagungan akhlak Rasulullah s.a.w.. Maka gambaran seperti apa yang dapat diungkapkan mengenai sosok yang dirinya merupakan perwujudan apa-apa yang digariskan Al-Quran bagi seorang manusia.

_

Secara bahasa kata akhlak berarti perangai, karakter dan budi pekerti. Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan watak, kepribadian dan sifat seseorang yang tercermin dari perilakunya. Secara istilah dapat dipahami sebagai kejiwaan, karakter dan sifat yang melekat pada seseorang yang akan terwujud dan tampak pada tindak tanduk dan sikapnya. Perilaku dan sikap yang baik merupakan gambaran akhlak seseorang, apakah ia berakhlak baik atau sebaliknya.
Manusia diciptakan dengan dua potensi yang bertentangan, yakni baik dan buruk. Kebaikan tersebut diungkapkan oleh Al-Quran dengan kata ketakwaan.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ؛ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا [٩١: ٧-٨]
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy-Syams/91: 7-8)

Perangai merupakan perwujudan dari kedua potensi tersebut, ia menjadi dorongan bagi seseorang dalam menentukan tindakan dan sikapnya sesiai dengan potensi manakah yang lebih dipilih seseorang. Perangai (akhlak) yang baik dikuatkan dengan pondasi fitroh yang melekat pada penciptaan seseorang, yang dengannya jiwa akan terbebas (bersih) dari perwujudan potensi tersebut dan mewujudkan ketakwaan.
Naluri akan selalu cenderung untuk berbuat baik dan memilih potensi kebaikan yang ada pada dirinya. Akan tetapi setiap orang juga akan dihadapkan pada faktor-faktor dan pengaruh buruk (baca: syetan) yang membuatnya justru melakukan tindakan sebaliknya. Setiap jiwa akan merasakan sensasi yang berbeda dari masing-masing perwujudan tersebut, di dalam Al-Quran diungkapkan:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ؛ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا [٩١: ٩-١٠]
“Maka sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”

Nalar manusia dapat dengan mudah membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Akan tetapi kemampuan nalar itu sendiri belum tentu dapat mendorongnya atau membuatnya memiliki akhlak yang baik. Oleh karena itu tidak jarang seseorang merasa tidak kuasa dalam memerangi dorongan negatif yang terdapat di dalam dirinya meskipun ia memahami bahwa hal itu buruk atau bahkan tidak benar. Oleh karena itulah kemudian Allah mengutus seorang nabi, menyampaikan risalah untuk menyempurnakan kemampuan manusia dalam membina potensi kebaikan tersebut dengan akhlak yang baik. Hal ini dapat dilihat dari apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. sehubungan dengan hal ihwal pengutusannya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ (أخرجه أحمد والبخاري)
“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan satu kesimpulan mengenai prinsip-prinsip utama yang harus dipegang teguh seseorang dalam rangka membina akhlak, budi pekerti dan perangainya.
Pertama, beragama yang benar; Karena agama adalah fitroh (inti) penciptaan, pelaksanaan dan cara beragama yang benar bisa diibaratkan seperti penggunaan suatu alat sesuai dengan petunjuk pemakaiannya (manual book).  
Kedua, Memerangi syetan; yang merupakan nyata-nyata sebagai musuh manusia yang hanya akan dan selalu berusaha untuk mencelakakan manusia. Syetan akan selalu menghasut manusia untuk selalu menolak dorongan kebaikan, hati nurani dan petunjuk yang datang bahkan di saat seseorang memahami benar apa dan bagaimana konsekuensi yang harus dihadapinya dengan melakukan hal-hal tersebut.


Ketiga, mengikuti dan meneladani Rasulullah s.a.w.; karena beliau sendiri menyampaikan bahwa diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak yang utama. Mengikuti Rasulullah s.a.w. adalah komitmen untuk selalu meniru, mengikuti dan menurut segala yang datang darinya. Menafikan hal-hal yang seringkali dipandang sebagai variabel yang tidak penting yang dinisbatkan kepada Rasulullah s.a.w. harus diwaspadai oleh seseorang apabila itu berubah menjadi bentuk penolakan penolakan untuk mengikutinya.
Dengan mengikuti Rasulullah s.a.w. ditegaskan oleh Allah SWT sebagai cara untuk mendapatkan cinta (mahabbah) Allah (lih. QS. 3: 31), yang dengan hal itu pula Allah akan merahmatinya dengan akhlak mulia yang tertanam kuat di dalam jiwanya.



Print Friendly and PDF

Mushaf, Terjemah dan Tafsir dalam Genggaman dengan Aplikasi Ayat

Banyak hal yang kini lebih mudah untuk dilakukan. Orang dapat memilih kebutuhan apa saja dengan leluasa bahkan untuk pilihan yang benar-benar eksklusif. Untuk mengetahui ragam dan harga mobil mewah, jika sebelum saat ini – berinternet, tidak semua orang dapat melakukannya dan terbatas hanya di tempat-tempat tertentu saja dengan waktu yang terbatas pula. Orang desa tentu akan sangat kesulitan untuk mengetahui hal-hal tersebut dan kita dapat membayangkan seberapa jauh jarak dan waktu yang harus ia tempuh dan habiskan.
tampilan aplikasi Ayat pada dekstop
Kemudahan seperti itu juga ada pada Al-Quran. Jika sebelum teknologi smartphone ini mengemuka, untuk selalu membawa mushaf Al-Quran adalah persoalan sama sekali berbeda dengan sekarang. Membawa mushaf secara keseluruhan, sebagai contoh, itu dapat dipenuhi dengan memiliki mushaf saku. Itu bukan hal yang merepotkan dan sudah cukup memberi kemudahan bagi seseorang yang ingin selalu membawa Al-Quran.

tampilan aplikasi Ayat pada Smartphone
_
Kini, sebagaimana hal-hal lain telah dimudahkan Al-Quran pun lebih mudah untuk dibawa, diperdengarkan, bahkan jika menghendaki, untuk dikaji secara mendalam baik oleh perseorangan maupun oleh orang banyak dalam satu waktu. Kini, bukan hanya sekedar mushaf yang dapat dikantongi, terjemah dalam berbagai bahasa, kitab tafsir yang beribu halaman tebalnya, suara bacaan dari para pelantun Al-Quran bahkan termasuk metode dan instrumen untuk menghapal dapat diatur sedemikian rupa dalam satu genggaman yang bernama smartphone.
Kemudahan tersebut terdapat pada aplikasi Al-Quran. Kita dapat menjumpai beragam aplikasi Al-Quran untuk ponsel atau gawai (gadget) lainnya, bahkan hal itu bisa didapatkan dengan cuma-cuma. Salah satu aplikasi Al-Quran yang saya (pen.) rekomendasikan dalam hal ini adalah aplikasi Ayat. Aplikasi ini sudah tersedia untuk perangkat komputer dan smartphone.

Apa yang saya paparkan di atas mengenai kemudahan yang bisa didapat dengan teknologi saat ini pada Al-Quran, telah ada dalam aplikasi ini. Di antara keunikan yang dapat ditemui dari aplikasi ini antara lain:
a)      Layout halaman mushaf sesuai dengan mushaf rasmi (standar), sehingga bagi Anda yang sudah terbiasa dengan tata letak mushaf rasmi tidak akan kerepotan untuk mencari halaman atau ayat, mendapatkan memori fotografik dan hal-hal lain yang berhubungan dengan tata letak tersebut.
b)      Terjemah dalam berbagai bahasa dengan layout responsif. Lembar terjemah tersebut dapat disembunyikan apabila hendak menggunakan untuk membaca/tadarus saja.
c)      Tersedia fasilitas untuk menguji hapalan  secara visual, menghapal ayat melalui metode pengulangan bacaan murotal yang dapat dilakukan sambil melakukan aktivitas, atau untuk sekedar mengulang-ngulang (muraja’ah) hapalan dengan berbagai metode.
d)     Menu-menu lain seperti tafsir yang menyediakan berbagai sumber kitab tafsir seperti Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi dan yang lainnya, bahkan khusus untuk tafsir Jalalain sudah tersedia dalam bentuk terjemah Bahasa Indonesia, serta pilihan menu yang cukup lengkap tetapi sederhana seperti meng-copy ayat atau terjemah, menu pencarian pencarian yang fleksibel yang memberikan hasil pencarian baik dari nash Al-Quran maupun dari teks terjemahan, tool menu yang telah disediakan dengan berbagai bahasa pengantar dan lain-lainnya.
Subhanallah, selain bahwa kemudahan itu melekat pada Al-Quran sebagaimana difirmankan Allah:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ [٥٤: ١٧، ٢٢، ٣٢، ٤۰]
“Dan sungguh Al-Quran ini kami jadikan mudah untuk dzikir (pelajaran), maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (Al-Qamar/54: 17, 22, 23, 40)
_

Al-Quran juga telah disediakan untuk mengimbangi banyak hal-hal mudah lainnya yang belum tentu berdampak baik bagi diri seseorang atau manusia secara umum. Seperti kemudahan dalam berbelanja, sebagai contoh, memang memberikan kesenangan tersendiri bagi seseorang untuk melakukannya akan tetapi kita tidak dapat membayangkan hal-hal baik yang akan didapatkan seseorang sebelumnya. Atau hal-hal yang lain seperti permainan yang cenderung membuang waktu atau bahkan sesuatu yang tidak bermanfaat atau menimbulkan dosa, di sisi lain Allah telah memberikan kemudahan bagi orang yang beriman untuk dapat menjaga diri dari dampak yang tidak baik dari gawai (gadget) dengan kemudahan-kemudahan untuk berinteraksi dengan Al-Quran melalui gadget itu sendiri.



Print Friendly and PDF

Traveling; Pelajaran Apa yang Dapat Diraih

Traveling sudah menjadi tren masa kini yang nyaris menjadi semacam standar, ukuran atau bahkan "tujuan" hidup seseorang. Apakah dalam bentuk hobi otomotif, minat akan benda klasik, atau sekedar melakukan satu permainan. Sehebat apa hidup seseorang, sehebat apa cara dia bepergian/traveling; apa yang dia kendarai, makanan apa yang dia beli atau sesering apa ia melakukan traveling itu sendiri, atau apa saja yang melekat pada suatu perjalanan.
_
di masjid ini orang datang dari berbagai penjuru dunia
Traveling identik dengan pengalaman hidup, karena dari perjalanan seseorang akan bertemu dengan habitat dan keragaman suasana. Selain kesan, traveling dapat menjadi pelajaran berharga bagi seseorang dari banyak hal yang tidak dikiranya akan memberi pelajaran. Traveling identik dengan cerita dan pada cerita tersebut terdapat pelajaran.
Allah SWT berfirman:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ [١٦: ٣٦]
“Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-naml/27: 69)

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ [٢٧: ٦٩]
“Katakanlah: "Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (An-Nahl/16: 69)

Ungkapan perintah untuk melakukan perjalanan di bumi banyak diungkapkan di dalam Al-Quran (setidaknya terdapat pada 14 tempat). Perintah tersebut selalu diikuti dengan ungkapan, “dan perhatikanlah bagaimana akibat (yang ditimpakan) pada orang-orang yang mendustakan/orang-orang durhaka,” mensiratkan bahwasannya di dalam perjalanan tersebut akan banyak dijumpai sifat-sifat yang bertentangan dengan agama.
Suatu perjalanan (tamasya) selalu meninggalkan kesan keistimewaan tempat yang dikunjungi. Kesan-kesan tersebut belum tentu selaras dengan nilai-nilai keislaman atau bahkan bertentangan sama sekali. Secara sederhana, kesan apa yang timbul dari perjalanan pada suatu tempat yang cenderung terbiasa mempertontonkan aurat – sebagai contoh, cukup menentukan nilai perjalanan itu sendiri. Jika ternyata seseorang justru terkesan dengan habitat tersebut, mengagumi atau bahkan meniru dengan bangga, hal ini jelas-jelas menafikan substansi perintah untuk melakukan perjalanan.
Kebaikan apa yang didapat seseorang dalam melakukan perjalanan, adalah sesuatu yang bernilai keagamaan. Kunjungan pada situs purbakala yang notabene adalah tempat-tempat pemujaan (kemusyrikan), seyogyanya lebih dapat menjaga seseorang dari hal-hal yang berbau kemusyrikan dan bukan sebaliknya. Sebagaimana anjuran yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. mengenai sifat perjalanan yang harus lebih diutamakan oleh seseorang, yakni perjalanan menuju tiga mesjid. Rasulullah s.a.w. mengatakan:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِي، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Tidaklah (disarankan) untuk bersungguh-sungguh dalam suatu perjalanan kecuali ke tiga masjid berikut; Masjidil Haram, masjidku ini dan masjid Al-Aqsha.”
_

Ada keistimewaan dari ketiga tempat tersebut, sebagaimana Rasulullah s.a.w. menegaskannya bahwa shalat di Masjidil Haram sebanding dengan 100.000 kali shalat di masjid lainnya, Masjid Nabawi seribu kali lipat dan Masjid Al-Aqsha Seratus kali lipat. Gambaran ini merupakan ukuran kebaikan yang akan diraih seseorang dari perjalanannya, karena  shalat merupakan ukuran segala sesuatu. Dengan nilai shalat sedemikian rupa istimewa, maka demikian pula nilai perjalanan itu sendiri.

Haji dan Umroh merupakan satu bentuk perjalanan yang harus dilakukan, bahkan salah satunya menjadi rukun Islam. Maka perjalanan apa yang menjadi prioritas seseorang, akan sangat menentukan keislamannya.


Print Friendly and PDF

Keutamaan Hari Jumat

Tidak sedikit yang tidak memahami bahwa hari Jumat merupakan salah satu hari raya umat Islam atau bahkan sama sekali mengabaikannya termasuk mengabaikan shalat jumat. Padahal hari tersebut memiliki keistimewaan dan keutamaan bagi orang yang beriman dan Allah menyediakan pahala dan kebaikan yang tidak terhingga bagi orang yang dapat mengisinya dengan berbagai ibadah dan kebaikan.
_
Tidak sedikit pula orang yang terpengaruh oleh cara pandang yang keliru mengenai hari Jumat (umumnya malam Jumat) sebagai hari yang menyeramkan dan justru lebih mempertimbangkan ketakukan-ketakutan akan hal-hal yang tidak benar sama sekali. Alih-alih dapat meraih keutamaan hari Jumat, kesan seram tersebut justru bisa jadi menjerumuskan seseorang pada tindakan dan itikad yang sangat sesat, yaitu kemusyrikan.
Rasulullah s.a.w. mengatakan:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ (رواه مسلم وأبو داود والنسائي والترمذي)
“Sebaik-baiknya hari yang matahari hari terbit padanya ialah hari Jumat. Di hari tersebut Adam a.s. diciptakan, di hari tersebut ia dimasukkan ke surga, di hari tersebut ia dikeluarkan dari surga dan tidaklah terjadi hari kiamat itu kecuali di hari Jumat.” (Riwayat Muslim, Abu Daud, Nasai dan Tirmidzi)

Rasulullah s.a.w. juga mengatakan:

سيد الايام يوم الجمعة وأعظمها عند الله تعالى، وأعظم عند الله تعالى من يوم الفطر ويوم الاضحى، ... (رواه أحمد)
“Rajanya hari ialah hari Jumat dan merukan hari yang paling agung di sisi Allah. Ia lebih agung di sisi Allah dari hari Idul Fitri maupun hari Adha, ...” (Riwayat Ahmad dan Ibn Majah; Al-Bani mengatakan, sanad hadits ini dha’if. Akan tetapi ungkapan mengenai ungkapan sayyidul ayyam memiliki banyak pendukung/syawahid)

Di samping keutamaannya tersebut, di dalam hari Jumat ada kesempatan yang apabila seseorang meminta maka Allah akan memenuhi segala hajatnya. Dari itu sangat dianjurkan untuk bersungguh-sungguh berdoa pada kesempatan tersebut. Rasulullah s.a.w. mengatakan:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً - وَأَشَارَ بِكَفِّهِ كَأَنَّهُ يُقَلِّلُهَا - لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ (رواه أحمد؛ صحيح)
“Sesungguhnya pada hari Jumat itu ada satu kesempatan – dan beliau s.a.w. mengisyaratkan dengan telapak tangan bahwa itu sangat sempit – yang tidaklah seorang hamba muslim yang siaga dalam memohon kepada Allah kecuali bahwa Allah akan memberikannya kepadanya.” (Riwayat Ahmad)
_

Dalam riwayat-riwayat lain disebutkan bahwa waktu tersebut adalah setelah ashar. Dari itu hendaknya menjadi perhatian seorang muslim dalam meningkatkan aktivitas ibadah khususnya menjelang dan pada hari jum’at. Banyak amalan dan sunnah-sunnah yang dapat dilakukan pada hari Jumat, seperti membaca Al-Quran khususnya surat Al-Kahfi yang dapat dilakukan sejak petang menjelang malam Jumat, berdzikir dan atau sekedar berdiam diri di masjid (beri’tikaf) menunggu kedatangan waktu shalat.
Rasulullah s.a.w. berkata:

مَنْ انْتَظَرَ صَلَاةً فَهُوَ فِي صَلَاةٍ حَتَّى يُصَلِّيَ (صحيح، رواه أحمد)
 “Barang siapa (menyediakan diri untuk) menunggu shalat maka ia (dinilai) berada dalam shalat sampai ia menunaikan shalat itu sendiri.” (Riwayat Ahmad)


Print Friendly and PDF

Mengapa Kita Harus Menggunakan Tanggal Hijriyah

Umar bin Khathab; Tonggak perhitungan tahun Hijriyah
Tahun Hijriyah merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi dengan persfektif refleksi cahaya matahari yang dipantulkan ke bumi. Hitungan awal bulan Hijriyah disebut hilal, satu istilah yang secara jelas disebutkan di dalam Al-Quran (2: 189) yang merupakan satu hitungan yang ‘direkomendasikan’ Allah kepada manusia dalam menghitung waktu dan pelaksanaan haji (ibadah). Kedua hal tersebut mewakili dua sifat keterikatan manusia, yakni hablun minallah dan hablun minannas. Berbagai ketentuan pelaksanaan ibadah syari’at, Allah menetapkan ketentuan yang berkaitan dengan perhitungan waktu dan di dalam interaksi manusia dengan sesamanya, waktu adalah media yang digunakan manusia untuk membangun berbagai ikatan (kesepakatan) yang dibuat untuk berbagai urusannya.
Apabila kita memperhatikan di dalam Al-Quran, dengan istilah hilal (2: 189), bulan haram (9: 36) dan nama bulan seperti Ramadhan (2: 185), adalah petunjuk tegas dari Allah bagaimana semestinya kita memperhatikan perhitungan waktu/sistem penanggalan Hijriyah karena inilah sistem penanggalan Islam.
Lebih jelas lagi tentang penisbatan yang digunakan Al-Quran dalam membandingkan kedua sistem penanggalan tersebut, dapat kita cermati dari apa yang terungkapkan di dalam surat Al-Kahfi:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا ؛ قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا [١٨: ٢٥-٢٦]
“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah; Allah Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); ...” (Al-Kahf/18: 25-26)

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan ada dua hitungan mengenai waktu yang dihabiskan para pemuda yang disebut ashabul kahf, yakni 300 dan 309 tahun. Apabila kita melihat dari sudut pandang nisbat dari masing-masing hitungan tersebut, Allah mengatakan 300 tahun dan mereka (Ahli Kitab) menambahkan sembilan tahun, dengan memperhatikan dhamir jama’ ( هم ) yang terdapat pada kata ازداد (bertambah). Penafsiran seperti ini dapat dilihat seperti diutarakan oleh Syaikh Al-Maraghi di dalam tafsirnya. Al-Maraghi mengatakan bahwa hal ini merupakan satu mukjizat yang ditunjukkan Al-Quran mengenai perbendaharaan sistem penanggalan Hijriyah dan Miladiyah/Masehi.
Dua perhitungan tersebut dapat disimpulkan sebagai indikasi adanya pertentangan mengenai hitungan lama tinggalnya ashabul kahf, selain dapat dilihat dari cara penyebutan yang tidak langsung (seumpama: ثلاث مئاة وتسع سنوات ), juga dengan memperhatikan ayat berikutnya yang mengungkapkan penegasan bahwa Allah-lah yang lebih mengetahui tentang hal tersebut sebagai jawaban atas perhitungan yang keliru dari kalangan ahli kitab.
Perhitungan yang keliru tersebut dapat dipahami dengan meruntut perbandingan atau perbedaan hitungan tahun Hijriyah dan Masehi seperti bahwa dalam setiap 300 tahun Masehi perhitungannya sama dengan 309 tahun Hijriyah. Dengan demikian, jika sebelumnya Allah mengabarkan kepada ahli kitab bahwa ashabul kahf tinggal di gua selama 300 tahun dan mereka menghitungnya dengan hitungan tahun Masehi maka angka tersebut jadi memiliki selisih sembilan tahun.
_
Dari pembahasan di atas, terlebih dengan masifnya penggunaan kalender Masehi oleh sebagai besar umat Islam, hendaknya kita memperhatikan setiap ketentuan yang ditetapkan Allah dengan menyebutkan hitungan bulan, tahun atau apa saja menyangkut penanggalan, maka seyogyanya dapat dipahami bahwa perhitungan tersebut harus didasarkan pada sistem penanggalan Hijriyah. Sebagai contoh, masa ‘iddah empat bulan dan sepuluh hari jika dihitung dengan tanggal Masehi maka sebenarnya terdapat jumlah hari yang lebih sekitar empat hari dari hitungan yang ditentukan. Perhitungan lain seperti hawl atau sanah, syahraini mutatabi’ani, atau istilah yang digunakan dalam nash syariah Islam, sudah tentu akan melenceng dari ketentuan yang seharusnya diaplikasikan apabila ternyata yang kita gunakan bukan sistem penanggalan Islam yakni Hijriyah atau Qamariyah.


Print Friendly and PDF

Isra Mi'raj dan Shalat Lima Waktu

Sebagian umat Islam mengutamakan momentum Isra Mi’raj dan selalu memperingatinya pada setiap tanggal 27 Rajab dan menamakan peringatan tersebut dengan istilah Rajaban. Mengingat keagungan peristiwa tersebut, memang selayaknya menjadi perhatian seorang yang beriman. Pada saat terjadinya peristiwa tersebut salah satu dari shahabat terbaik Rasulullah s.a.w. mendapat predikat Ash-Shiddiq, yakni Abu Bakar r.a. yang gelar kehormatan tersebut diberikan kepadanya karena beliau menunjukkan keteguhannya untuk selalu membenarkan apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w.

Puncak perjalanan Rasulullah pada peristiwa Isra Mi’raj adalah ketika Allah mewahyukan secara langsung kepadanya, yaitu ditetapkan lima puluh waktu shalat fardhu. Di saat Rasulullah s.a.w. hendak kembali turun ke bumi, ia bertemu dengan Musa a.s. dan ia bertanya, “Apa yang diperintahkan Allah kepadamu?”
Rasulullah menjawab, “Lima puluh kali shalat untuk sehari semalam.”
Musa berkata, “umatmu tidak akan mampu memenuhinya. Kembalilah kepada-Nya, mintakanlah keringanan!”
Maka Rasulullah pun kembali menghadap Allah untuk itu dan mendapatkan pengurangan lima waktu shalat. Akan tetapi kemudian Musa a.s. tetap menyuruhnya agar memintakan pengurangan sehingga untuk beberapa kali Rasulullah pulang pergi dari Musa kepada Allah sampai kemudian didapat jumlah shalat lima waktu. Maka ketika itu pun Musa tetap menyuruh beliau untuk kembali kepada Allah dan Dia berfirman:
“Hai Muhammad, sesungguhnya itu lima waktu shalat untuk setiap sehari-semalam dan untuk setiap shalat tersebut aku lipatgandakan sepuluh sehingga (jumlah kebaikannya) itu lima puluh kali. Dan barangsiapa yang berkehendak melakukan kebaikan tetapi tidak sampai dikerjakannya, maka aku tuliskan untuknya sebagai satu kebaikan. Dan barang siapa yang berkehendak atas kebaikan dan ia melakukannya maka aku tuliskan untuknya menjadi sepuluh kebaikan. Dan barangsiapa yang berkehendak atas keburukan dan ia tidak melakukannya maka Aku tidak akan menuliskan apa-apa atasnya, dan apabila ia berkehendak atas keburukan dan sampai melakukannya maka aku hanya akan menuliskannya sebagai satu keburukan saja.” (Riwayat Muslim No. 259/162)
Di dalam berbagai riwayat, disebutkan begitu banyak gambaran yang dilihat Raslullah s.a.w. dalam perjalanan Isra Mi’rajnya dan perjalanan tersebut adalah titik terjauh dari perjalanan yang dapat ditempuh oleh makhluk Allah. Demikian itu dikatakan oleh Ibnu Abbas dan para ulama salaf lainnya, bahwa penamaan Sidratul Muntaha itu juga karena disanalah akhir dari pengetahuan para malaikat dan tak satupun yang dapat melampauinya kecuali Rasulullah s.a.w. seorang saja. Dan, di balik agungnya peristiwa tersebut, bahwasannya ketika itulah Allah secara khusus menyampaikan wahyu tentang shalat fardhu untuk Nabi Muhammad s.a.w. dan umatnya.
Dan apa yang melatarbelakangi Isra Mi’raj Rasulullah s.a.w. juga bukanlah persoalan yang mudah untuk dihadapi, dimana sebelum peristiwa tersebut Rasulullah dihadapkan dengan embargo ekonomi atas kaum muslimin yang berlangsung selama tiga tahun yang mengakibatkan kesengsaraan yang luar biasa serta meninggalkan paman beliau Abu Thalib dan istrinya Khadijah. Sebelum perjalanan itu pula Rasulullah mendapat penolakan keras dari berbagai kabilah, pengusiran nista dari penduduk Tha’if dan gangguan orang-orang Quraisy setelah itu. Dan ketika Rasulullah kembali dari Isra Mi’raj dan menyampaikan berita tersebut beliau diolok-olok dan tidak sedikit dari orang yang telah beriman yang keluar dari keislamannya.
Dari rentetan peristiwa tersebut dapat diambil pelajaran sehubungan dengan perintah shalat fardhu yang lima waktu, diantaranya:
a)        Bahwa pewahyuan yang istimewa mengenai perintah shalat fardhu menunjukkan keagungan dari ibadah shalat itu sendiri.
b)        Bahwa apapun yang terjadi, seberat apapun persoalan yang dihadapi seseorang apalagi dengan keadaan sebaliknya, keteguhan (istiqomah) dalam keimanan akan membuahkan kenikmatan yang tidak terhingga di sisi Allah. Isra Mi’raj, baik sebagai peristiwa atau sehubungan dengan perintah shalat yang ada di dalamnya, memberikan kenikmatan yang tidak terhingga bagi orang yang tetap teguh dalam keimanannya.
c)        Bahwa sikap lalai, menyepelekan, mengabaikan, mencemooh atau tindakan menghalangi orang yang shalat atau dari shalatnya adalah sikap yang sangat bertentangan dengan keagungan shalat.
Maka, dalam hal memperingati keagungan peristiwa Isra Mi’raj dan ketetapan Allah yang ada di dalamnya, yakni shalat, hendaknya kita senantiasa memperhatikan shalat kita mulai dari kehusyuan di dalam shalat karena telah dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. bahwa:

أَوَّلُ مَا يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى لَا يُرَى فِيهِ خَاشِعًا (رواه الطبراني: ١٥٧٩)
“Yang pertama kali diangkat dari umat ini yaitu kekhusyuan, sehingga tidak tampak di dalam shalatnya kekhusyuannya.” (Riwayat Thabrani).

__
Dari ini pula, atas apa yang dijelaskan di dalam Al-Quran tentang munculnya generasi yang menyia-nyiakan shalat, hendaknya kita senantiasa berlindung kepada Allah dari keadaan tersebut. Allah SWT berfirman:

 فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
[١٩: ٥٩]
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam/19: 59)




Print Friendly and PDF

Riwayat Tentang Isra Mi'raj

Banyak riwayat disebutkan mengenai perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w. dan dari riwayat-riwayat tersebut tidak sedikit pula yang lemah dan munkar, yang boleh jadi sebagian besar dari ungkapan-ungkapan hadits tersebut justru banyak beredar di kalang umat Islam. Karena hal-hal yang diungkapkan oleh hadits tersebut berada di ranah keghaiban, dan bisa jadi sangat berkaitan dengan aqidah, seyogyanya kita cukup berhati-hati akan hal-hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Berikut ini adalah hadits yang dinukil oleh Syaikh Al-Khudhari dalam kitabnya Nurul Yaqin fi Sirah Sayyid al-Mursalin; diriwayatkan oleh Muslim, dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah s.a.w. berkata: “Didatangkan kepadaku Buraq, kemudian aku menungganginya yang kemudian ia membawaku sampai di Baitul Maqdis maka kemudian aku mengikatnya dengan ikatan yang semula digunakan para nabi dan aku memasuki masjid kemudian shalat dua raka’at. Setelah itu aku keluar masjid dan Jibril mendatangiku dengan satu gelas arak dan satu gelas air susu. Aku memilih air susu, maka Jibril berkata: ‘(Dengan begitu berarti) engkau telah memilih fitroh.’
__
Kemudian kami naik (dimi’rajkan) ke langit dan (sesampainya di langit pertama) Jibril mengetuk pintu. Ia ditanya, ‘siapakah engkau?’ Ia menjawab, ‘aku Jibril.’ Ia ditanya kembali, ‘dan siapa yang bersamamu?’ Ia menjawab, ‘Muhammad.’ Ia ditanya kembali, ‘apakah memang diutus kepadanya?’ Ia menjawab, ‘ya, telah diutus kepadanya.’ Maka dibukakanlah untuk kami dan di sana kami bertemu dengan Adam a.s., ia menyambutku dengan suka cita dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik ke langit kedua dan Jibril mengetuk pintu langit. Dikatakan kepadanya, ‘siapakah engkau?’ Ia menjawab, ‘aku Jibrill.’ Ia ditanya, ‘dan siapa yang bersamamu?’ Ia menjawab, ‘Muhammad.’ Ia ditanya, ‘apakah memang diutus kepadanya?’ Ia menjawab, ‘ya, telah diutus.’ Maka dibukakanlah pintu langit untuk kami dan di sana bertemu dengan dua kemenakanku yakni Yahya dan Isa putra Maryam. Mereka berdua menyambut dengan gembira dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik ke langit ketiga – dan disebutkan seperti sebelumnya – sehingga dibukakan pintu langit dan kami berjumpa dengan Yusuf a.s. yang sungguh ia telah dikaruniai keelokan paras. Ia menyambutku dengan gembira dan mendokan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit keempat – dan disebutkan seperti semula – dan menjumpai Idris a.s., yang ia menyambut dengan gembira dan mendoakan kebaikan untukku. (Ia sebagaimana) Allah SWT telah berfirman dalam surat Maryam (ayat 57); ‘Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’
Kemudian kami naik ke langit ke lima – dan disebutkan seperti sebelumnya – dan bertemu dengan Harun. Ia menyambut dengan gembira dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit keenam – dan disebutkan seperti sebelumnya – dan berjumpa dengan Musa, ia menyambut menyambutku dengan gembira dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik ke langit ketujuh – dan disebutkan seperti sebelumnya – dan kami menjumpai Ibrahim a.s. yang sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur, yang mana masuk ke sana setiap harinya sebanyak tujuh puluh ribu malaikat dan tidak ada yang kembali setelahnya (selamanya).
Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha, yang (besar) daunnya seperti  telinga gajah dengan buah seperti anggur, keindahannya tidak akan dapat terlukiskan oleh siapapun dari makhluk. Allah kemudian mewahyukan kepadaku, Dia memfardhukan shalat lima puluh kali atasku dan atas umatku setiap sehari-semalam.
Kemudian aku turun (ke langit keenam) bertemu Musa. Ia berkata, ‘apa yang telah difardhukan Allah atas umatmu?’ Aku berkata, ‘lima puluh kali shalat.’ Ia berkata, ‘kembalilah kepada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan karena umatmu tidak akan mampu menunaikannya dan sungguh (kewajiban itu) telah melemahkan kaumku.’ Maka aku kembali kepada Rabb-ku dan aku berkata, ‘ya Tuhanku, ringankanlah atas umatku.’ Maka Dia mengurangi lima waktu.
_
Aku kembali kepada Musa dan mengabarkan, ‘telah dikurangi lima waktu untukku lima waktu.’ Musa berkata, ‘sungguh umatku tidak akan sanggup memenuhinya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah kembali keringanan!’ Maka kemudian aku senantiasa pulang pergi di antara Musa dan Tuhanku (sampai dikurang hingga lima waktu saja), yang kemudian Allah mengatakan, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya itu lima waktu shalat untuk setiap sehari-semalam dan untuk setiap shalat tersebut aku lipatgandakan sepuluh sehingga (jumlah kebaikannya) itu lima puluh kali. Dan barangsiapa yang berkehendak melakukan kebaikan tetapi tidak sampai dikerjakannya, maka aku tuliskan untuknya sebagai satu kebaikan. Dan barang siapa yang berkehendak atas kebaikan dan ia melakukannya maka aku tuliskan untuknya menjadi sepuluh kebaikan. Dan barangsiapa yang berkehendak atas keburukan dan ia tidak melakukannya maka Aku tidak akan menuliskan apa-apa atasnya, dan apabila ia berkehendak atas keburukan dan sampai melakukannya maka aku hanya akan menuliskannya sebagai satu keburukan saja.’
Aku kemudian kembali turun (ke langit keenam) dan mengabarkan kepada Musa. Musa kemudian berkata, ‘kembali lagi kepada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan.’ Maka aku berkata, ‘aku telah (banyak) kembali kepada Tuhanku sampai aku merasa malu karenanya.’” (Riwayat Muslim No. 259/162)



Print Friendly and PDF

Isra Mi'raj

Isra-Mi’raj adalah kejadian yang dialami Rasulullah s.a.w. dari sekian peristiwa kenabian yang menjadi momentum penting dalam risalah yang dibawanya. Kata isra berarti perjalanan malam Rasulullah s.a.w. dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha), dan mi’raj adalah dinaikkannya beliau ke hadapan Allah di Sidratul Muntaha. Peristiwa ini mutlak harus disikapi dengan keimanan, mengingat ada banyak asumsi yang dilatarbelakangi penalaran empiris yang selalu dikonfrontasikan. Sejak Rasulullah s.a.w. menyampaikan peristiwa tersebut kepada orang banyak, terutama muncul dari orang-orang kafir yang memperolok bahkan di antara orang-orang yang telah beriman muncul sikap mempertanyakan sehingga hal itu kemudian membuatnya murtad.
__
Pada masa peristiwa tersebut terjadi, untuk menerima kenyataan bahwa Rasulullah s.a.w. telah menempuh jarak ±1500 km dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha bukanlah hal yang dapat dengan mudah diterima akal. Atau dalam konteks kekinian, dengan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan pencapaian yang diraih manusia, interpretasi maupun konfrontasi akan kejadiannya bisa dengan mudah dikedepankan orang sehingga mengenyampingkan aspek qudrat iradat Allah SWT, sehingga manusia seringkali terjebak pada interpretasi dan perdebatan yang tidak diperlukan dan melupakan pesan inti dari peristiwa tersebut.
Salah satu pembahasan yang selalu menjadi polemik adalah mengenai apakah Isra Mi’rajnya Rasulullah s.a.w. dengan jasad atau ruh saja. Perdebatan semacam itu seringkali menempatkan orang pada pembahasan yang tidak berkesudahan dan, sekali lagi, menjadi lupa akan prinsip dasar katauhidan dan pesan dari peristiwa tersebut. Jumhur ulama berpendapat bahwa Isra Mi’raj Rasulullah s.a.w. terjadi dengan jasadnya dan dalam keadaan terjaga. Sebagian lain mengatakan dengan ruh saja dengan mendalilkan pada pernyataan Aisyah r.a. yang tidak pernah merasakan kehilangan diri Rasulullah s.a.w. dari sisinya di malam tersebut. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa itu adalah melalui mimpi, karena mimpi para nabi adalah kebenaran. Ada pula yang berpendapat bahwa Isra dari Masjidil Haram ke Baitu Maqdis dengan jasad dan mi’rajnya hanya dengan ruh saja. Wallahu a’lam.
Sementara di pihak lain, seringkali orang terlupa akan pesan penting dari peristiwa tersebut, sebagaimana diketahui dari apa yang digambarkan Rasulullah s.a.w. di saat Allah mewahyukan yang tidak lain adalah perintah shalat. Bahkan ketika beliau menerima perintah tersebut sempat terjadi seperti ‘tawar-menawar’ karena ada pertimbangan dari Musa a.s. mengenai jumlah waktu shalat. Dan apa yang diwahyukan Allah ketika itu sebagai ketetapan ‘final’ mengenai shalat fardhu, Allah SWT berfirman:

"... يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ، فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلَاةً " (رواه مسلم)
“Hai, Muhammad! Sesungguhnya itu (ketetapan-Ku) lima kali shalat setiap sehari-semalam. Untuk satu shalat aku gandakan menjadi sepuluh, maka itu menjadi lima puluh shalat.” (Riwayat Muslim 259/162)

Bahwa banyak orang yang kemudian murtad dari keislamannya setelah menerima kabar tentang Isra-Mi’raj ini. Sekelompok orang datang kepada Abu Bakar r.a., mempertanyakan persoalan tersebut dan ia menjawab pertanyaan tersebut dengan tegas, “apabila ia (Muhammad) mengatakan itu maka hal itu benar adanya.” Orang-orang kafir kembali bertanya dengan menyangsikan karena tampak tidak masuk akal, “dia mengatakan malamnya dia pergi dan sebelum pagi-pagi dia sudah kembali di sini?” Abu Bakar kembali menegaskan, “seandainyapun lebih jauh dari itu, aku membenarkannya dengan segala kabar langit yang dibawanya, pagi ataupun petangnya.” Dari peristiwa inilah kemudian Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Shiddiq.

Isra-Mi’raj, sebagaimana disikapi banyak orang ketika itu, tidak dapat memberikann kebaikan apa-apa selama mereka berpikir tentang hal-hal yang tidak mungkin terjadi dengan selalu mengatakan “bagaimana bisa” dan selalu mempertanyakan.

Mensikapinya dengan keimanan adalah menerimanya sebagai kebenaran, apakah itu dengan jasad atau ruh saja atau sebagai pewahyuan melalui mimpi, sebagai kehendak Allah SWT. Dan adanya perintah sholat lima waktu, yang dalam hal ini merupakan puncak dari Isra Mi’raj Rasulullah s.a.w., mengisyaratkan kepada kita bagaimana semestinya kita menempatkan shalat fardhu karena Allah telah menetapkan cara yang sangat agung dalam menyampaikan perintah tersebut.



Print Friendly and PDF