Ibnu Qayyim,
dalam Tibb An-Nabawi menukil perkataan Rasulullah s.a.w.:
إِذَا دَخَلْتُمْ عَلَى الْمَرِيضِ، فَنَفِّسُوا لَهُ فِي
الْأَجَلِ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يَرُدُّ شَيْئًا، وَهُوَ يُطَيِّبُ نَفْسَ
الْمَرِيضِ (رواه ابن ماجه عن أبي سعيد الخدري)
“Jika kalian mengunjungi orang sakit, sampaikanlah
kelapangan dalam menghadapi (rasa takut akan) kematian. Karena meskipun hal
tersebut tidak dapat menangkal sesuatu, itu akan menenangkan jiwa orang yang
sakit.” (Riwayat Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudriyi)
_
Virus, bakteri,
dan segala zat asing yang menginfeksi tubuh manusia adalah salah satu bentuk
gangguan kesehatan (penyakit). Di dalam dunia medis dikenal berbagai istilah
imunisasi, vaksinasi dan lain-lain sebagai upaya penyembuhannya. Dari sekian
banyak virus yang dapat bersarang pada tubuh manusia, banyak yang sampai saat
ini belum ditemukan penawarnya secara medis. Akan tetapi patut kita ingat
bahwasannya Allah SWT telah menciptakan manusia dalam wujud yang paling
sempurna (lih. QS. 95: 4), yang tentunya termasuk sistem kekebalan tubuh.
Allah SWT
berfirman:
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ
تَقْدِيرًا [٢٥: ٢]
“...dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia
menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Al-Furqan/25: 2)
وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
[٥١: ٢١]
“dan (juga) pada
dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat/51: 21)
Keseimbangan
alam, dan tentunya pada diri manusia, telah diciptakan sedemikian rupa dengan
pola dan keteraturan yang luar biasa. Terkhusus dengan kekebalan tubuh pada
manusia, salah satu potensi terbesarnya terdapat pada anugerah yang tidak
diberikan kepada makhluk lain, yakni budi pekerti. Dengannya manusia dapat
mengembangkan segala potensi diri yang secara keseluruhan bermuara pada
kesehatan jiwa.
Sebaliknya, kegelisahan
dan kecemasan seseorang dapat menimbulkan berbagai perubahan fisik dan
psikologis yang merugikan, salah satunya melemahnya kekebalan tubuh, yang
disebabkan oleh meningkatkan frekuensi nafas, tekanan darah dan aktivitas saraf
otonom yang meningkatkan detak jantung.
_
Kunci kesehatan
jiwa adalah keimanan. Ketenangan adalah indikator penting kapasitas keimanan
seseorang, sebagaimana dapat dilihati dari Firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي
قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ [٤٨: ٤]
“Dialah yang
telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan
mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al-Fath/48: 4)
Di samping itu,
perkenan Allah untuk merubah hal-hal buruk menjadi kebaikan bagi seseorang
dapat diraih pada manifestasi keimanan lainnya, yaitu taubat. Allah SWT
berfirman:
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ
عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا [٢٥: ٧٠]
“... kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan/25: 70)
Yang paling
fundamental adalah totalitas kepasrahan pada kehendak Allah SWT melalui sikap
tawakkal. Allah SWT berfirman:
قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن
دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ
أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ
اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ [٣٩: ٣٨]
“... Katakanlah:
"Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika
Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu
dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat
kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah
Allah bagiku". Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.”
(Az-Zumar/39: 38)
Wujud kepasrahan
itu dapat dipenuhi dengan salah satu do’a yang telah diajarkan Rasulullah
s.a.w. untuk terhindar dari segala hal-hal buruk:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ
اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Bismillaahi laa
yadlurru ma’asmihii syaiun fil-ardhi walaa fis-samaai wahuwas samii’ul aliim
Artinya: “Dengan
menyebut Nama Allah, tidak akan merusakkan sesuatu apapun di langit dan di bumi
di hadapan Nama-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”