Tampilkan postingan dengan label Muzakarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muzakarah. Tampilkan semua postingan

Hal-hal yang Harus Dilkukan untuk Memupuk Prasangka Baik kepada Allah SWT

 Ibnu Taimiyah, seorang ulama terkemuka dalam sejarah Islam, memberikan penjelasan yang relevan tentang berbaik sangka kepada Allah dalam kitabnya yang terkenal, "Al-Istiqaamah". Kitab ini membahas berbagai aspek keimanan dan praktik Muslim, termasuk pentingnya berbaik sangka kepada Allah.

 Dalam "Al-Istiqaamah", Ibnu Taimiyah menguraikan bahwa berbaik sangka kepada Allah adalah sikap hati yang mendasar bagi seorang Muslim. Ia menyatakan bahwa Allah adalah Maha Bijaksana dan Maha Penyayang, dan bahwa segala sesuatu yang Allah tentukan adalah untuk kebaikan hamba-Nya, meskipun terkadang kita tidak bisa memahami hikmahnya pada saat itu.

 Ibnu Taimiyah menekankan bahwa berbaik sangka kepada Allah melibatkan percaya sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang Allah putuskan dan perintahkan adalah dari-Nya yang Maha Mengetahui, dan bahwa itu akan membawa manfaat bagi hamba-Nya. Ia juga menjelaskan bahwa sikap prasangka buruk kepada Allah adalah kesalahan besar yang dapat merusak iman dan hubungan dengan-Nya.

 Rujukan kitab "Al-Istiqaamah" oleh Ibnu Taimiyah dapat ditemukan dalam berbagai edisi dan terjemahan. Ada beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris yang tersedia, seperti "The Right Way: The Voice of Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah" dan "Public Duties in Islam: The Institution of the Hisba". Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pandangan Ibnu Taimiyah tentang berbaik sangka kepada Allah, disarankan untuk merujuk langsung ke kitab tersebut.

 Tindakan yang bisa Anda lakukan untuk berbaik sangka kepada Allah meliputi:

 1. Tawakal: Tawakal adalah meletakkan kepercayaan penuh kepada Allah dalam segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Bertawakal berarti kita berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya dan mempercayai bahwa apa pun yang Allah tentukan adalah yang terbaik bagi kita.

 2. Berdoa dan memohon kepada Allah: Segera setelah kita menghadapi kesulitan, keraguan, atau ketidakpastian, berdoalah kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Berdoa dengan penuh keyakinan dan harapan, dan percayalah bahwa Allah mendengar doa-doa kita dan akan menjawabnya dengan cara yang terbaik.

 3. Mengingat dan bersyukur kepada Allah: Selalu mengingat dan mengingatkan diri kita tentang kebaikan, rahmat, dan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bersyukur kepada Allah atas segala hal yang Dia berikan, baik itu berupa kebahagiaan, kesuksesan, atau ujian yang Dia berikan sebagai ujian iman.

 4. Membaca, mempelajari, dan merenungkan ayat-ayat Al-Quran dan hadits: Menelaah dan memahami ayat-ayat Al-Quran serta hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang berbicara tentang sifat dan sifat-sifat Allah, serta tentang kebijaksanaan dan rencana-Nya dalam kehidupan manusia. Ini akan memperkuat keyakinan kita dan membantu kita dalam berbaik sangka kepada Allah.

 5. Menjaga pikiran dan ucapan positif: Hindari pikiran negatif atau mencurigai niat Allah dalam setiap situasi. Berusahalah untuk memfokuskan pikiran kita pada prasangka baik dan memahami bahwa Allah tahu apa yang terbaik bagi kita. Jaga ucapan kita agar tidak mengeluh atau meragukan rencana Allah, tetapi berbicara dengan penuh pengharapan dan keimanan.

 Dengan melakukan tindakan-tindakan ini, kita dapat memperkuat prasangka baik kita kepada Allah dan memperdalam hubungan kita dengan-Nya. Semoga Allah memberikan kemudahan dan memberkahi kita dalam upaya ini.


powered by: chatGPT

Print Friendly and PDF

Hadits-Hadits untuk Membantu Anda Berprasangka Baik kepada Allah SWT

Berikut adalah beberapa hadits dari Nabi Muhammad SAW yang relevan dengan peningkatan prasangka baik terhadap Allah. Dalam beberapa kasus, saya akan memberikan kutipan hadits yang relevan tanpa menyertakan periwayat dan nomor urut hadits. Jika Anda memerlukan informasi lebih lanjut tentang periwayat dan nomor urut hadits, silakan mencari hadits tersebut secara spesifik:

 ١-   قال الله تعالى: "أنا عند ظن عبدي بي" (حديث قدسي)

 

٢-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه، ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملإ، ذكرته في ملإ خير منه'" (رواه البخاري ومسلم)

 

٣-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه، ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملإ، ذكرته في ملإ خير منه، وإن تقرب إلي شبرًا، تقربت إليه ذراعًا، وإن تقرب إلي ذراعًا، تقربت إليه باعًا، وإن أتاني يمشي، أتيته هرولة'" (رواه مسلم)

 

٤-   عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: 'من تقرب إلي بشبرٍ، تقربت إليه ذراعًا، ومن تقرب إلي ذراعٍ، تقربت إليه باعًا، ومن أتاني يمشي، أتيته هرولة'" (رواه البخاري ومسلم)

 

1. "Allah berfirman, 'Aku menggantikan apa yang ada di hati hamba-Ku terhadap-Ku.'"

(Hadits Qudsi)

 

2. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Aku adalah seperti angan-angan hamba-Ku tentang-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku juga akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam suatu majelis, Aku juga akan mengingatnya di dalam suatu majelis yang lebih baik darinya.'"

(Hadits Riwayat Bukhari)

 

3. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Aku adalah seperti yang difikirkan oleh hamba-Ku tentang-Ku. Aku bersama dengan dia ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya sendiri, Aku juga akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam majelis, Aku juga akan mengingatnya di dalam majelis yang lebih baik darinya. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan sejengkal, Aku akan mendekatinya dengan seutas tali. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan seutas tali, Aku akan mendekatinya dengan jarak satu hasta. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari.'"

(Hadits Riwayat Muslim)

 

4. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, 'Barangsiapa yang mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa yang mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya dengan berjalan. Dan barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.'"

(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Berbaik sangka kepada Allah berarti memiliki prasangka baik, keyakinan, dan harapan yang positif terhadap Allah SWT. Ini mencerminkan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Adil. Berbaik sangka kepada Allah juga berarti percaya bahwa segala keputusan, ujian, dan kejadian yang terjadi dalam hidup kita memiliki hikmah dan tujuan yang baik dari-Nya.


powered by: chatGPT

Print Friendly and PDF

Ayat-ayat untuk Membantu Anda Berprasangka Baik kepada Allah SWT

 

Berikut adalah beberapa ayat Al-Quran yang dapat membantu Anda meningkatkan prasangka baik terhadap Allah:

1. Surah Al-Baqarah, ayat 216:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [٢: ٢١٦]

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

 

2. Surah At-Talaq, ayat 3:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا [٦٥: ٢]

"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya."

 

3. Surah Ar-Rum, ayat 21:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ۰: ٢١]

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir."

 

4. Surah Az-Zumar, ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ [٣٩: ٥٣]

"Sampaikanlah (olehmu): “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 

5. Surah Ash-Shura, ayat 30:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ[٤٢: ٣۰]

"Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa)mu."

 

6. Surah Al-Isra, ayat 82:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا [١٧: ٨٢]

"Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."

         Ayat-ayat ini mengingatkan kita untuk berprasangka baik kepada Allah, yakin bahwa Dia Maha Bijaksana, Maha Pengampun, dan Maha Penyayang. Semoga ayat-ayat ini memberi Anda ketenangan, keyakinan, dan peningkatan prasangka baik terhadap Allah.


powered by: chatGPT

Print Friendly and PDF

Iri Hati pada Pendosa

   Pernahkah Anda merasa iri terhadap seorang pendosa? Barangkali mengalami hal demikian, tak banyak yang menyadari perasaan iri atau hasud pada hal demikian. Berbeda dengan hasud secara umum, dimana orang juga menginginkan hal yang membuatnya iri hati, hasud pada perbuatan dosa tidaklah disertai motovasi seperti itu.

   Hasud sendiri berarti mengharapkan hilangnya nikmat dari seseorang karena ia sendiri tidak mendapatkannya. Iri hati tidak melulu timbul pada orang yang tidak mampu mendapatkan apa yang ada pada orang lain yang dalam bahasa populer sering diungkapkan bahwa sirik/iri tanda tak mampu. Bentuknya pun tidak melulu dengan hasrat/angan-angan akan hilangnya nikmat dari orang lain tetapi bisa berupa sikap menghakimi atau melontarkan tuduhan yang secara tersirat mengungkapkan bahwa orang tersebut tak layak mendapatkannya. Misalnya tatkala seseorang berhasil dengan usahanya, orang hasud seolah mencari fakta lain di balik hal tersebut, misalnya bahwa hal itu didapat dengan tidak benar, hal itu tidaklah baik atau sekedar memandang bahwa orang tersebut sedang beruntung saja.

   Hasud pada pendosa atau perbuatan dosa sejatinya tak jauh berbeda. Bentuknyapun  beragam, sampai dalam bentuk perasaan tidak senang yang tidak dapat dipahami dengan mudah yang kemudian membuat ia bersikap reaktif dan melakukan kesalahan atau dosa yang tidak disadarinya semisal mengghibah, tajassus bahkan melontarkan tuduhan lain dari selain apa yang dilihatnya. Dalam kasus seperti ini pula terkadang terjadi pada seorang pendakwah, yakni alih-alih mengingatkan atau mengajak pada hal benar ia justru mencaci maki, memvonis secara berlebihan, keras hati atau sikap destruktif lainnya.

Allah SWT berfirman:

قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ ... ]

"Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (5/Al-Maidah: 100)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ [ ٥: ١٠٥]

"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan memberi madarat pada kalian sekira kalian mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya,  maka Dia akan memberitahukan atas segala yang kalian perbuat. (5/Al-Maidah: 105)

    Selain maraknya perbuatan dosa, yang memicu timbulnya iri hati atau hasud pada perbuatan dosa adalah bahwa seorang pendosa tampak begitu nyaman dengan perbuatannya bahkan tampak "bahagia" dengan itu dan segala apa yang melekat pada dirinya dari berbagai kenikmatan. Saat keadaan seseorang sedang merasa tidak baik-baik saja, hasud akan lebih kuat menguasai dirinya bahkan sampai mendorong pada arah untuk mengikuti prilaku dosa serupa.

Ma'aadzallah...

.




Print Friendly and PDF

Belajar dari Anak-Anak Palestina yang Hafal Quran dengan Mudah

Seseorang boleh jadi jarang melihat atau mungkin tidak pernah sama sekali melihat situasi Palestina sehingga masih nyaman berkeluh kesah atau mempersoalkan hal remeh temeh atau memiliki kesibukan yang selalu membuat nyaman untuk mengatakan tak ada waktu untuk melakukan satu kebaikan yang sangat mudah dan memudahkan urusannya, yakni menghafal Quran. Walhasil, dari sekian alasan yang dapat dibuat tersebut, jangankan untuk menghafal membacanya saja entah menjadi prioritas nomor berapa dari sekian banyak hal yang dianggap penting setiap harinya. (Baca juga; kenapa harus menghafal Quran). Sementara di belahan lain kehidupan kita, di Palestina, terdapat orang yang senantiasa membaca dan menjadi penghafal Quran dari berbagai kalangan usia, dari yang usia enam tahun dan enam puluh tahun.

Dari keadaan genting yang menjadi menu keseharian mereka, di Gaza, lahir daurah hafalan Quran seperti Darul Quran was Sunnah dari berbagai kalangan usia terutama anak-anak. Mereka belajar tidak seperti di sekolah atau pesantren yang terdapat di Indonesia dengan segala fasilitas dan kenyamanannya atau majlis-majlis ilmu dan kegiatan keagamaan yang banyak diikuti masyarkat kita. Setiap harinya mereka harus selalu berhadapan dengan ledakan bom, ancaman dan penyiksaan yang seringkali menyerang secara tiba-tiba.

Salah seorang instruktur daurah hafalan Quran di Gaza, Syekh Abdurrahman Jaber, memperkenalkan metode yang diterapkan yang sejauh pengetahuan penulis lebih dikenal dengan metode pengulangan yang secara umum dalam prakteknya membutuhkan banyak waktu. Dalam memperkenalkan metode Gaza Syekh Abdurrahman Jaber memaparkan empat pilar utama dalam menghafal yang meliputi tahap persiapan (isti’dadat), pilihan media pendukung (wasail), hafalan (tahfizh) dan pengulangan (muraja’ah). Teknik pelaksanaannya membutuhkan banyak variabel, banyak waktu dan keseksamaan yang luar biasa. Kesemua itu dapat diaktualisasikan dengan kesan begitu mudah sehingga daurah seperti Darul Quran was Sunnah telah meluluskan ribuan alumni penghafal Quran dalam situasi tersebut.

Gbr. www.fadhilza.com

Sekedar untuk mengambil ibrah dari gambaran tersebut, kiranya cukup bagi kita untuk bertanya sesulit apa keadaan hari ini bagi kita sehingga membuat kita melewatkan Al-Quran untuk menghafalnya. Kenapa menghafal? Karena menghafal itu bukan membaca sepintas lalu yang seringkali menimbulkan gagal paham. Karena menghafal lebih memberikan kita keleluasaan untuk dapat memahami kandungannya sebab ia telah tersimpan dalam ingatan untuk dapat direnungkan setiap saat. Karena dengan menghafalnya kita akan lebih dekat dengan bimbingan Al-Quran yang menyertai setiap gerak langkah bahkan di ranah alam bawah sadar.

 

  

Print Friendly and PDF

QUOTES

 1. Ihwal Bersosial




2. Ihwal Berkata-kata







Print Friendly and PDF

Berkomitmen dengan Al-Quran

 

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ  [٣: ١۰٣]

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ...” (Ali Imran/3: 103

Dalam berpegang teguh (baca: setia) pada Al-Quran, dalam arti takwil ungkapan tali Allah di dalam ayat di atas, di balik sekian aspek yang memudahkan, manusia justru bersikap lalai (20: 26), berpaling dari (43: 36), mengingkari dan bahkan mengolok-olok serta menghalangi orang dari Al-Quran (41: 26). (Sikap tersebut dapat terkait dengan ihwal aktualisasi secara menyeluruh-meliputi dalam segala aspek kehidupan, pengamalan individual, pemahaman atau bahkan sekedar untuk membaca lafazh-lafazh atau mendengarkan bacaannya.

Dalam hal ini membaca Al-Quran dapat diposisikan sebagai klasifikasi paling ringan, tidak dalam arti menafikan keutamaan dalam membacanya, keengganan untuk itu apakah dalam sifat lalai, berpaling dari atau bentuk pengingkaran, bahkan dapat timbul dari pribadi seorang muslim sekalipun. Di antara sikap enggan tersebut bahkan tak jarang berupa sikap yang merendahkan, menolak dan memandang membaca Al-Quran sendiri sebagai hal yang tidak baik. Sementara pada sudut pandang yang berbeda, sangatlah banyak dari kalangan non-muslim yang mendapatkan kebaikan yang luar biasa (yakni mendapatkan hidayah untuk menerima kebenaran Islam) justru diawali dengan membacanya.

Ukuran terbaik dalam membaca Al-Quran adalah menghafalnya. Demikian itu sebab menghafalnya adalah keadaan yang menempatkan seseorang tidak melewatkan bagian tekstual Al-Quran meskipun satu huruf yang sejatinya di dalam satu huruf tersebut menyimpan makna dan keutamaan yang tidak sepatutnya diabaikan. Betapa tidak, di saat seseorang membaca Al-Quran sepintas lalu yang tentu saja dengan interpretasi yang dimilikinya tidak akan dia temui kandungan makna secara utuh apalagi di saat ia melewatkan, misalnya, satu huruf.

Menghafal Al-Quran itu mudah tetapi banyak orang yang enggan melakukannya meskipun sebenarnya ia mampu dan bukan tak memiliki kesempatan. Tak jarang orang yang sedemikian menguasai bacaan Al-Quran bahkan menghafal sebagian ayat-ayatnya di masa kecil akan tetapi ia lebih dikuasai oleh keengganan sehingga berhenti membaca Al-Quran pada jenjang tertentu dari kehidupannya. Bukan hal aneh kemudian orang menjawab tak sempat, merasa kesulitan atau terlupa akan kebaikan membaca Al-Quran bahkan mengingkari kebaikannya.

Rasulullah s.a.w. mengatakan:

تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا (رواه البخاري)

“Kuat-kuatkan keterikatan akan Al-Quran sebab, demi Dzat yang diriku ada dalam kuasa-Nya, ia lebih mudah terlepas lebih dari seekor unta dengan tali kekangnya.”

Lafazh تعاهد berarti membuat persetujuan, perjanjian, atau penjagaan. Dalam ungkapan lain, berkomitmen, adalah bentuk pengukuhan yang akan mengkondisikan seseorang tidak terpengaruh situasi dan keadaan tertentu yang dapat mengganggu atau memalingkan dari apa yang semestinya ditunaikan. Dari ungkapan hadits tersebut jelas sekali pentingnya membuat komitmen dengan Al-Quran sebab jika tidak, seseorang akan dikuasai keengganan yang membuatnya menjadi berpaling dari Al-Quran.

Untuk dapat membaca, sekali lagi dalam kaitan refleksi terhadap Al-Quran bahwa membaca adalah klasifikasi paling mudah untuk dipenuhi, banyak orang yang seolah menjadi sangat kesulitan untuk dapat menunaikannya. Menghafal, sebagai bentuk aktivitas membaca yang paling utama, meskipun mudah dan Allah SWT memang telah membuatnya sedemikian mudahnya (lih. bagaimana Allah mengulang-ulangnya dalam QS. 54: 17, 22, 32 dan 40), tidak didapati sekian banyak orang dalam melakukannya atau bahkan ada yang pernah mencoba akan tetapi kemudian seperti berlalu begitu saja.

_

Dalam berkomitmen untuk menghafal Al-Quran dapat dimulai dengan bentuk yang sangat mudah. Seorang Ummu Aiman memulai hafalannya di usia 70 tahun dengan menelusuri lafazh Allah di dalam Al-Quran, ia diperkenankan Allah untuk dapat mengafal Al-Quran. Akan tetapi di atas segalanya, komitmen awal yang harus dipenuhi dengan benar adalah niat. Di dalam niat ada tujuan dan terkandung pula maksud tertentu yang hendak dipenuhi. Maka, meskipun tidak terbayangkan “bagaimana bisa saya menghafalkan Al-Quran seutuhnya” sebagai komitmen awal dengan Al-Quran seseorang harus memiliki niat yang benar.

Berikutnya adalah menentukan langkah awal yang dapat dipenuhi dalam skala waktu tertentu secara konsisten sebagai komitmen mudah yang penulis maksud. Apakah itu menghafal satu halaman setiap hari, satu ayat, satu baris atau pembagian-pembagian lain dari lembaran mushaf Al-Quran. Kesibukan secara umum banyak dikeluhkan sebagai kendala dalam menghafal Al-Quran tidak berarti seseorang tidak dapat meluangkan waktu sama sekali untuk menghafal Al-Quran. Akan tetapi jika memang benar demikian, bahwa misalnya seseorang tidak dapat menyisihkan waktu sedikit saja dari hari-harinya untuk dapat menghafal Al-Quran, sejatinya ia harus mengevaluasi kembali sifat dan orientasi kesibukan yang telah menghalanginya dari membaca Al-Quran.

Di dalam satu hadits qudsi Allah SWT mengatakan:

يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

(رواه الترمذي وصححه الباني)

“Wahai hamba-hamba-Ku, luangkanlah untuk beribadah kepada-Ku! Maka Aku akan memenuhi jiwamu dengan kekayaan dan akan kuakhiri kefakiranmu. Tetapi jika tidak kau lakukan (meluangkan waktu) itu, maka aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kefakiran yang tidak berkesudahan.” (Riwayat Tirmidzi)

 

 

 

 

Print Friendly and PDF

Adakah Penghapal atau yang Membaca Al-Quran yang Tidak Baik?

 

Diantara gambaran keutamaan membaca dan menghapal Al-Quran, meliputi ihwal Al-Quran sendiri, aktivitasnya dan kedudukan orang yang melakukannya, dapat dijumpai dari hadits-hadits Rasulullah s.a.w. sebagai berikut:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ  (رواه مسلم)

“Bahwasannya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah.” (Riwayat Muslim)

خيركم من تعلم القرآن وعلمه (رواه البخاري)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (Riwayat Bukhari)

_

Adakah orang yang membaca atau menghapal Quran yang tidak baik? Tentu saja ada orang yang membaca atau menghapal Quran (baik sebagian-sebagian saja atau secara keseluruhan) yang perilakunya tidak baik atau sama sekali bertentangan dengan Al-Quran, contohnya orang munafik. (baca juga artikel terkait: banyak orang yang membaca Al-Quran tetapi Al-Quran Melaknatnya di sini).

Rasulullah s.a.w. sendiri menyampaikan hal tersebut:

إِنَّ أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا (رواه أحمد)

“Sesungguhnya kebanyakan orang munafik dari umatku adalah (sebagian kalangan) para penghapal Quran.” (Riwayat Ahmad)

Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa menghapal Al-Quran sebagai sesuatu yang tidak berguna atau lebih jauh lagi, dianggap sebagai sebab munculnya kemunafikan atau hal-hal buruk lainnya. Sebagaimana pernah sekali waktu pernah penulis dapati  pernyataan yang mempertanyakan kegunaan menghapal Quran, “Apa gunanya banyak membaca Al-Quran kalau kelakuannya tidak sesuai dengan Al-Quran?”

Dalam ilmu logika hal seperti ini termasuk kekeliruan berpikir atau cacat logika yang disebut dengan argumentum ad hominem atau hasty generalization karena bisa saja sebab ia memang telah menjumpai satu atau sejumlah orang yang hapal Quran akan tetapi perilakunya tidak baik atau fakta banyaknya orang berperilaku buruk meskipun banyak membaca Al-Quran sebagai sifat kesia-siaan dari menghapal quran yang sebenarnya bukan fakta yang bias atau bahkan tidak benar sama sekali.

Meningat apa yang diungkapkan di awal artikel ini, sebenarnya tidak sepatutnya kemudian mempertanyakan kebaikan membaca atau menghapal Al-Quran karena sejatinya ungkapan-ungkapan diatas bersumber dari Dzat yang telah menciptakan dan mengatur kehidupan ini. Keistimewaan membaca dan menghapal Al-Quran terkait dengan kehidupan dengan segala aspeknya adalah mutlak kebenarannya dan akan membawa kebaikan yang tak terhingga dalam kehidupan itu sendiri.

Membaca dan menghapal Al-Quran (yang pada prosesnya secara umum dilakukan dengan mengulang-ulang bacaan dengan bilangan yang tidak sedikit) sangatlah keliru apabila dipandang sebagai perbuatan sia-sia atau bahkan merugikan (baca: tidak baik). Sebagai rangkaian kata-kata, tak ada uraian kata-kata yang dilafalkan atau dibaca yang lebih baik dari Al-Quran. Sebagai pedoman hidup, tak ada pedoman dan tuntunan yang lebih baik dari Al-Quran. Dari itu seyogyanya dapat dipahami dengan mudah bahwa sejatinya tak ada perkataan, bacaan, pedoman hidup yang lebih berhak untuk dibaca dan didahulukan dari kata-kata, bacaan dan pedoman yang lain selain Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ [٣٥: ٢٩]

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” (Fathir/35: 29)


Sebagai kebaikan hidup yang selayaknya didamba-dambakan oleh manusia, jika harus dibandingkan dengan yang lainnya, tak ada yang dapat dibandingkan kedudukannya dengan Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ؛ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ [١٠: ٥٧-٥٨]

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".” (Yunus/10: 57-58)

Bahkan, sebagai gambaran betapa mulianya aktivitas membaca Al-Quran, bagi orang yang tetap konsisten membacanya meskipun dengan susah payah karena kurang menguasai cara membacanya, Rasulullah s.a.w. mengatakan:

وَالَّذِي يَقْرَأُهُ وَهُوَ يُتَعْتِعُ فِيهِ وَهُوَ شَاقٌّ عَلَيْهِ فَلَهُ أَجْرَانِ (رواه النسائي)

“... dan orang yang terbata-bata membacanya dan (Al-Quran) itu terasa sulit maka untuknya ada dua pahala.” (Riwayat An-Nasa’i)

 

 

 

Print Friendly and PDF

Ketidakikhlasan itu Tidak akan Pernah Mendatangkan Kenikmatan

 

Pernahkan Anda mendengar orang yang enggan melakukan sesuatu, membantu orang atau menyertai orang dalam kebaikan dengan mengemukakan alasan yang dibuat-buat? Misalnya bermakmum kepada orang yang dipandang tidak sekelompok dengannya, atau membantu pekerjaan orang yang dianggapnya menjadi saingan, atau seperti ungkapan “kirang upami” (ungkapan halus dalam bahasa Sunda untuk mengungkapkan alasan menolak sesuatu) di saat sebenarnya ia mampu dan harus melakukannya, jika hal tersebut bukan termasuk maksiat sesungguhnya alasan tersebut dibuat untuk menutupi sesuatu yang bisa sangat membahayakan dirinya, yakni ketidakikhlasan.

_

Ikhlas beramal, ia tidak sesederhana melafalkan niat ikhlas lillahi ta’ala atau mengikrarkan sumpah untuk mengklaim sesuatu tentang keikhlasannya, sekiranya seseorang banyak memiliki kepentingan terhadap sesuatu terutama dalam beribadah. Seorang politisi yang bertandang ke mesjid,  seorang menantu yang tiba-tiba bertandang ke mesjid di saat ada mertua atau yang hampir sulit untuk dinafikan dari banyak orang; senang ketika diberi dan marah saat tidak diberi sampai berani mengikrarkan bahwa ia tidak akan bertindak kalau bukan ia yang diutamakan.

Ketidakikhlasan, terutama di dalam beribadah, bukanlah persoalan main-main atau sepele. Sikap riya dan sum’ah, yang dikatakan Rasulullah s.a.w. sebagai syirik kecil, bukanlah hal kecil sebab soal kemusyrikan meskipun ia kecil ia dapat membatalkan amal seseorang yang menggunung sekalipun. Di hari kiamat kelak yang cukup identik dengan dosa musyrik yang berpangkal dari ketidakikhlasan yang paling pertama didakwa bisa jadi orang yang dianggap luar biasa pada pandangan orang banyak. Disebutkan bahwa orang yang ahli Al-Quran, orang yang gemar berderma dan yang terbunuh di medan perang adalah orang-orang yang pertama kali didakwa dan di saat mereka menjawab tentang apa saja yang telah diperbuatnya, Allah SWT menghardik dengan mengatakan, “engkau  dusta!”

Kepada ahli Al-Quran dikatakan, “justru engkau hanya ingin dikatakan orang sebagai ahli Al-Quran dan orang-orang sudah mengatakan demikian.” Kepada orang kaya yang gemar berderma dikatakan, “justru engkau hanya ingin disebut dermawan ...”. Kepada orang yang terbunuh dalam peperangan dikatakan, “justru engkau hanya menginginkan orang menyebutmu sebagai pemberani”. Kepada ketiganya ditegaskan Allah dan para malaikat-Nya, “justru hari ini kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari Kami. Terkait tiga kelompok orang tersebut, Rasulullah s.a.w. berkata:

أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذي والنسائى عن أبى هريرة)

“Tiga (kelompok) makhluk Allah tersebut itulah yang pertama kali api neraka berkobar oleh mereka (sebagai suluhnya).” (Riwayat Tirmidzi dan Nasai dari Abu Hurairah r.a.)

Pokok perintah agama untuk beribadah kepada Allah semata (tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun) merupakan hal paling fundamental. Bagaimana ketidakikhlasan dapat merusak agama seseorang, tergantung seberapa besar kepentingan seseorang pada sesuatu. Oleh karena itu kadang-kadang yang ikhlas sering dianggap tak banyak ambil peduli dengan urusan keuntungan atau hal-hal lain yang banyak di dambakan orang banyak sebenarnya bukan sebab ia peduli dengan hal tersebut atau tidak butuh seperti yang lain, tetapi sebab ia tidak menempatkannya mendahului keikhlasan.

Kepentingan, sebut saja demikian, baik materil maupun non-materil adalah apa yang diungkapkan Rasulullah s.a.w. sebagai hal yang dapat dengan mudahnya merusak agama seseorang, sebagaimana beliau telah mengatakannya:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ أَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ، وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

(رواه أحمد عن ابن كعب بن مالك الأنصاري، عن أبيه)

“Dua serigala lapar yang dilepas pada sekawanan ternak tidak lebih dapat merusakkan dari motivasi seseorang atau harta dan status sosial (yang dapat merusak) terhadap agamanya.” (Riwayat Ahmad)

Niat itu tersembunyi, tetapi beberapa hal zhahir dapat menunjukkan ketidakikhlasan seseorang. Di dalam beribadah, shalat contohnya, apakah dengan atau tanpa melafalkan niatnya tidak akan membedakan ikhlas dan tidaknya niat seseorang dalam shalatnya. Akan tetapi Allah SWT menunjukkan bagaimana orang-orang munafik, sebagai contoh karakter yang sarat dengan ketidaktulusan, diungkapkan shalatnya dalam Firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا [٤: ١٤٢]

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa/4: 142)

_

Keengganan, perasaan malas untuk shalat dan hal-hal lain yang mejadi bagian dari sempurnanya shalat serta hal-hal yang diutamakan di dalam shalat sejatinya tidak akan terasa memberatkan dan membuat orang malas jika didasari niat ikhlas lillahi ta’ala. Sebaliknya, seringan apapun sebuah perbuatan, ia tidak akan pernah mudah ditunaikan seseorang ketika tidak ada keikhlasan pada dirinya kecuali dia memiliki kepentingan dalam hal tersebut. Bahkan, di saat ia dengan sukahati melakukannya, apa yang diperbuatnya tidak akan pernah terasa mudah apalagi menenangkan dirinya.

 

 

 

 

 

Print Friendly and PDF

Tawassul yang Disyari’atkan

 

Tawassul yang dibenarkan secara Syar’i terdiri dari lima bentuk, yaitu:

a.       Bertawassul dengan Keimanan

Sebagaimana ungkapan doa yang terdapat pada Firman Allah SWT:

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ [٣: ١٩٣]

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” (Ali ‘Imran/3: 193)

_

b.       Bertawassul dengan Asmaul Husna

Sebagaimana terdapat dalam do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w.,:

اللَّهمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا (أخرجه الترمذي وابن ماجه)

“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Mulia dan Engkau suka mengampuni, ampunilah kami.” (At-Tirmidzi dan Ibn Majah)

 

c.       Bertawassul dengan Menyebutkan Kondisi yang dialami dengan segala kesusahannya

Sebagaimana terdapat dalam doa yang diungkapkan oleh Ayyub a.s.:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ – فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ [٢١: ٨٣-٨٤]

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya/21: 83-84)

_

d.       Bertawassul dengan minta dido’akan kepada orang dapat diharapkan terkabul doanya dari orang shalih yang masih hidup

Sebagaimana pernah dikatakan orang-orang Arab (Badui) kepada Rasulullah s.a.w.,

يَا رَسُولَ اللهِ، هَلَكَتِ المَوَاشِي وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِيثُنَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهمَّ اسْقِنَا، اللَّهمَّ اسْقِنَا، اللَّهمَّ اسْقِنَا».

(متفق عليه)

“Wahai Rasulullah! Ternak-ternak telah binasa dan tangkai-tangkai tanaman berguguran, berdoalah agar Allah menurunkan hujan!” Rasulullah s.a.w. pun mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.” (Muttafaq ‘alaih)

 

e.       Bertawassul dengan amal shalih; sebagai terdapat dalam riwayat yang menyebutkan tiga orang lelaki yang terjebak di dalam gua yangn diriwayatkan secara muttafa ‘alaih.

 

Sumber:

Muhammad At-Tuwaijiri, Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islamiy.

 

 

 

 

 

Print Friendly and PDF

Kekebalan Tubuh dan Kunci Kesembuhan di Dalam Al-Quran

Ibnu Qayyim, dalam Tibb An-Nabawi menukil perkataan Rasulullah s.a.w.:

إِذَا دَخَلْتُمْ عَلَى الْمَرِيضِ، فَنَفِّسُوا لَهُ فِي الْأَجَلِ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يَرُدُّ شَيْئًا، وَهُوَ يُطَيِّبُ نَفْسَ الْمَرِيضِ (رواه ابن ماجه عن أبي سعيد الخدري)

“Jika kalian mengunjungi orang sakit, sampaikanlah kelapangan dalam menghadapi (rasa takut akan) kematian. Karena meskipun hal tersebut tidak dapat menangkal sesuatu, itu akan menenangkan jiwa orang yang sakit.” (Riwayat Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudriyi)

_

Virus, bakteri, dan segala zat asing yang menginfeksi tubuh manusia adalah salah satu bentuk gangguan kesehatan (penyakit). Di dalam dunia medis dikenal berbagai istilah imunisasi, vaksinasi dan lain-lain sebagai upaya penyembuhannya. Dari sekian banyak virus yang dapat bersarang pada tubuh manusia, banyak yang sampai saat ini belum ditemukan penawarnya secara medis. Akan tetapi patut kita ingat bahwasannya Allah SWT telah menciptakan manusia dalam wujud yang paling sempurna (lih. QS. 95: 4), yang tentunya termasuk sistem kekebalan tubuh.

Allah SWT berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [٢٥: ٢]

“...dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Al-Furqan/25: 2)

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ [٥١: ٢١]

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat/51: 21)

Keseimbangan alam, dan tentunya pada diri manusia, telah diciptakan sedemikian rupa dengan pola dan keteraturan yang luar biasa. Terkhusus dengan kekebalan tubuh pada manusia, salah satu potensi terbesarnya terdapat pada anugerah yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yakni budi pekerti. Dengannya manusia dapat mengembangkan segala potensi diri yang secara keseluruhan bermuara pada kesehatan jiwa.

Sebaliknya, kegelisahan dan kecemasan seseorang dapat menimbulkan berbagai perubahan fisik dan psikologis yang merugikan, salah satunya melemahnya kekebalan tubuh, yang disebabkan oleh meningkatkan frekuensi nafas, tekanan darah dan aktivitas saraf otonom yang meningkatkan detak jantung.

_

Kunci kesehatan jiwa adalah keimanan. Ketenangan adalah indikator penting kapasitas keimanan seseorang, sebagaimana dapat dilihati dari Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ [٤٨: ٤]

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al-Fath/48: 4)

Di samping itu, perkenan Allah untuk merubah hal-hal buruk menjadi kebaikan bagi seseorang dapat diraih pada manifestasi keimanan lainnya, yaitu taubat. Allah SWT berfirman:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا [٢٥: ٧٠]

“... kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan/25: 70)

Yang paling fundamental adalah totalitas kepasrahan pada kehendak Allah SWT melalui sikap tawakkal. Allah SWT berfirman:

قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ [٣٩: ٣٨]

“... Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (Az-Zumar/39: 38)

Wujud kepasrahan itu dapat dipenuhi dengan salah satu do’a yang telah diajarkan Rasulullah s.a.w. untuk terhindar dari segala hal-hal buruk:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillaahi laa yadlurru ma’asmihii syaiun fil-ardhi walaa fis-samaai wahuwas samii’ul aliim

Artinya: “Dengan menyebut Nama Allah, tidak akan merusakkan sesuatu apapun di langit dan di bumi di hadapan Nama-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

 

 


Print Friendly and PDF