Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Perjanjian Hudaibiyah

Pada tahun ke-enam Hijriyah, turunlah perintah untuk menunaikan haji dan umrah kepada Rasulullah s.a.w. dan manakala beliau menyampaikannya kepada para shahabat, hal itu disambut dengan suka cita dan antusiasme yang tinggi. Betapa tidak, ibadah tersebut merupakan syi’ar yang dengan memperlihatkan identitas keislaman setelah sekian lama umat Islam sendiri terisolir dari rumah suci Ka’bah, sementara kaum kafir musyrik yang tidak berhak justru dapat dengan leluasa melakukan berbagai ritual keagamaan masing-masing di sana. Di samping itu pula, bagi para shahabat yang berasal dari Mekah sendiri - kaum muhajirin, dengan ibadah tersebut mereka dapat menjenguk tanah kelahiran, sanak famili dan keluarganya yang berada di Mekah.
Namun waktu itu bukanlah situasi yang pendukung mengingat permusuhan yang sedang berlangsung dengan kafir Quraisy. Selama ini yang terjadi di antara kedua belah pihak hanyalah peperangan sengit dan banyak menewaskan korban dari kedua belah pihak. Maka tidak akan mudah untuk dapat menunaikan haji atau umroh dengan damai atau apakah hal itu harus dilakukan dengan berperang? Karena itu juga sangat tidak mungkin kalau orang-orang Mekah akan tunduk menyerah dan dengan lapang memberi keleluasaan untuk kaum muslimin berhaji.
Pada bulan Dzulqa’dah dipersiapkanlah perjalanan haji dengan rombongan berjumlah 1.500 orang. Rasulullah s.a.w. sendiri ketika itu disertai istrinya Ummu Salamah dan menyertakan 70 ekor unta untuk berkurban (hady), demikian itu dilakukan agar diketahui orang secara umum bahwa keberangkatan tersebut bukanlah bertujuan untuk perang. Dalam perjalanan tersebut Rasulullah s.a.w. hanya memperkenankan pasukannya untuk membawa pedang yang disarungkan (sebagaimana biasa orang membawanya dalam suatu perjalanan) tanpa perlengkapan perang lainnya untuk dibawa para tentaranya.
_
Keberangkatan Rasulullah s.a.w. dan para shahabatnya itu diketahui orang kafir Quraisy, mereka serta merta menyiapkan pasukan untuk menghadang perjalanan tersebut. Kafir Quraisy mengatur siasat untuk menghalangi perjalanan tersebut dan mereka menyediakan dua ratus tentara pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Ikrimah.
Sesampainya di ‘Usfan Rasulullah s.a.w. bertemu dengan mata-matanya dari Banu Ka’b dan mendapat kabar bahwa pasukan Khalid sudah berada di depannya (Kira’ al-Ghamim, ±12 km dari ‘Usfan) untuk menghadang. Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada mereka, “adakah yang bisa membawa kami ke arah yang tidak melaluinya?” Seseorang kemudian menyanggupi untuk menunjukkan jalan lain menuju kota Mekah.
Rombongan Rasulullah s.a.w. mengganti rute perjalanan melalui jalan lain yang terjal dan penuh bebatuan yang akan mengantarkan mereka ke sisi lain kota Mekah. Mengetahui apa yang dilakukan rombongan Rasulullah s.a.w., pasukan Quraisy berbalik arah kembali ke Mekah karena khawatir ada serangan tiba-tiba dari sisi lain kota Mekah.
Sampailah mereka di kaki bukit Hudaibiyah. Di sana unta beliau, Al-Qaswa, tiba-tiba menderum (berlutut) tanpa sebab dan enggan untuk bangkit lagi meskipun Rasulullah s.a.w. memerintahnya untuk bangkit. Orang-orang mengatakan bahwa unta itu kelelahan. Rasulullah s.a.w. mengatakan, “bukanlah demikian. Apa yang dilakukannya melainkan seperti apa yang dilakukan gajah pasukan Abrahah ketika ia mendatangi Ka’bah.”
Sekiranya Rasulullah s.a.w. hendak memerangi kafir Quraisy ketika itu, niscaya rombongannya dapat mengalahkan mereka. Meskipun mereka datang tanpa membawa perlengkapan perang, akan tetapi para shahabat Rasulullah s.a.w., dengan jumlah yang tergabung saat itu dan dengan kondisi kafir Quraisy sendiri telah mengalami banyak kerugian karena peperangan-peperangan yang sudah terjadi, mereka tetap memiliki semangat juang yang sangat besar jika seandainya saja saat itu benar-benar harus berperang. Akan tetapi Rasulullah s.a.w. dan para shahabat r.a. ketika itu hanya berpegang pada tujuan perjalanan mereka sendiri yaitu menunaikan haji.
Di Hudaibiyah rombongan Rasulullah s.a.w. terhadang oleh pasukan Quraisy yang sudah bersiap-siap untuk berperang sehingga Rasulullah s.a.w. dan rombongannyapun berkemah di sana. Selama tinggal di Hudaibiyah, berbagai upaya damai dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. telah dilakukan dengan mengirim utusan untuk menyampaikan tujuan yang sebenarnya dari perjalanan tersebut. Akan tetapi orang-orang Quraisy tidak merespon dengan baik, bahkan mereka sempat membunuh unta yang digunakan oleh utusan Rasulullah s.a.w. dan utusan tersebut hampir dibunuh mereka. Akan tetapi maksud tersebut terhalangi oleh perselisihan paham yang di antara mereka sendiri. Sementara di sisi lain, meskipun sudah mempersiapkan diri untuk berperang pasukan Quraisy pun tidak pernah berani untuk menyerang rombongan Rasulullah s.a.w..
Di antara utusan mereka adalah Hulais dari Al-Habisy. Tatkala Rasulullah s.a.w. melihat kedatangannya di kejauhan, beliau menyuruh para shahabat untuk melepaskan unta-unta yang dibawa serta. Demi melihat hal tersebut, Hulais tersentuh dan kembali kepada orang-orang Quraisy tanpa menemui Rasulullah s.a.w. dan orang-orang mencaci makinya. Hulais menjawab dengan marah pula dan mengingatkan bahwa persekutuan kaumnya dengan mereka bukanlah untuk merintangi orang dari rumah suci (Ka’bah).
Orang-orang Quraisy kemudian mengutus Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi dari Thaif, yang menurut mereka paling bijaksana. Ketika Urwah telah berhadapan dengan Rasulullah s.a.w., ia menyampaikan hal-hal menyangkut kehormatan Quraisy yang merupakan tanah kelahiran Nabi s.a.w., yang karena beliau pun memiliki keterikatan kuat dengannya tentu termasuk orang yang akan terjaga kehormatannya. Kata-katanya kemudian dibantah keras oleh Abu Bakar r.a. dan ia terdiam karenanya. Dalam hal ia berbicara juga selalu melakukannya sambil menyentuh jenggot Rasulullah s.a.w. dan di dekat Rasulullah s.a.w. ada Mughirah bin Syu’bah yang selalu memukul tangannya setiap ia hendak memegang jenggot Rasulullah s.a.w.
Urwah kemudian kembali kepada orang-orang Quraisy dan mengatakan, “demi Allah, wahai orang-orang Quraisy! Aku sudah bertemu dengan raja Persia di kerajaannya atau kaisar (Romawi) yang agung, tapi aku tidak pernah menjumpai orang yang dibela oleh kaumnya seperti Muhammad di antara sahabat-sahabatnya. dan aku tahu benar bahwa tidak ada satu kaumpun yang akan bisa selamat darinya. Maka tinjau lagi apa yang kalian pikirkan, aku nasihati kalian agar menerima saja yang disampaikan (mereka) kepada kalian.” Mendengar hal ini orang-orang Quraisy menghardik Urwah.
Sementara di pihak lain, di antara orang yang diutus oleh Rasulullah s.a.w. adalah Utsman bin Affan. Rasulullah s.a.w. berpesan agar ditemuinya orang-orang beriman yang lemah yang masih tinggal di Mekah agar bersabar dan menyampaikan kabar gembira bahwa memenangkan (fath) Mekah agar segera tiba masanya. Orang-orang Quraisy tetap bersikap keras dalam menanggapi Utsman. Mereka mengatakan, “bahwa Muhammad tetap tidak diperbolehkan untuk memasuki Mekah selamnya. Adapun jika engkau (Utsman) ingin berthawaf, berthawaflah.” Ustman menjawab, “aku tidak mau berthawaf sendiri sementara Rasulullah s.a.w. terhalang darinya.” Mereka kemudian menahan Utsman sampai-sampai para shahabat Nabi mengira bahwa Utsman telah dibunuh oleh Quraisy.
Rumor tersebut sampai kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau mengatakan, “kita tidak akan beranjak dari sini meskipun sampai harus berperang dengan mereka.” Maka Rasulullah s.a.w. pun membai’at para shahabatnya untuk berperang sampai mati di bawah satu pohon yang kelak pohon tersebut dikenal dengan nama pohon Ridhwan. Maka dengan ikrar ini pedang-pedang tidak lagi tersimpan di dalam sarungnya dan kaum muslimin telah bersiaga untuk menghadapi Quraisy sampai meraih kemenangan atau mati syahid. Dari sini sempat terjadi bentrokan-bentrokan kecil yang membuat terbunuhnya seorang dari kaum muslimin dan dari Quraisy ditawan dua belas orang.
Ikrar ini diabadikan di dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath/48: 18)
Kafir Quraisy kemudian mengutus Suhail bin ‘Amr untuk menawarkan perjanjian damai. Saat menemui Rasulullah s.a.w. Suhail berkata, “Muhammad, sebenarnya yang masih terjadi bukanlah berdasarkan pikiran orang-orang terpelajar dari kami tapi karena karena pandangan orang-orang bodoh dari kami saja. Oleh karena itu, bebaskanlah orang-orang kami yang menjadi tawananmu.”
Rasulullah s.a.w. menanggapi, “tidak, sebelum kalian membebaskan orang-orang kami yang kalian tawan.” Quraisy kemudian membebaskan Utsman bin Affan dan sepuluh orang lainnya dan Rasulullah s.a.w. pun membebaskan tawanannya.
Suhail kemudian menyampaikan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk perjanjian damai yang akan dibuat, yaitu:
1)      Dihentikannya perang (gencatan senjata) antara kaum muslimin dan Quraisy untuk jangka waktu sepuluh tahun
2)      Orang Quraisy yang datang/tinggal di tengah-tengah kaum muslimin harus dipulangkan ke Mekah dan orang Islam yang datang/ada di Mekah tidak harus dipulangkan.
3)      Bahwa Muhammad harus kembali ke Madinah tanpa melakukan umroh dan baru pada tahun berikutnya haji/umroh dapat dilakukan dan mereka memasuki Mekah setelah orang-orang Quraisy menginggalkan kota dan kaum muslimin diperbolehkan tinggal di sana selama tiga hari tanpa membawa persenjataan kecuali pedang yang tersarung dan busur saja.
4)      Di luar orang-orang Quraisy, siapa saja yang memilih untuk berada dalam perlindungan Muhammad ia bebas melakukannya dan barang siapa yang ingin bersama Quraisy ia bebas melakukannya.
Rasulullah s.a.w. menerima semua syarat-syarat tersebut. Sebagian dari shahabat, salah satunya Umar bin Khattab sangat gusar isi perjanjian tersebut. Ia mempertanyakan hal tersebut kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau menjawabnya, “aku ini hanyalah seorang hamba Allah dan aku tidak akan melanggar-Nya dan Dialah penolongku.” Umar pun sempat mendatangi Abu Bakar dengan pertanyaan yang sama. Abu Bakar memberinya jawaban yang sama dengan jawaban Rasulullah s.a.w. dan ia mengatakan, “Umar, kokohkan kesetiaanmu!” (maksudnya; ikutilah semua yang dikatakan dan dilakukan Rasulullah s.a.w., dan jangan menyelisihinya).
Hal yang menggusarkan para shahabat juga masih berlangsung sampai dituliskannya perjanjian tersebut. Ketika itu Rasulullah s.a.w. menugaskan Ali bin Abi Thalib sebagai juru tulis dan beliau mendiktekan, “bismillaahir-rahmaanir-rahiim.” Suhail memprotes, “bukan begitu, bismika allaahumma!” Rasulullah s.a.w. berkata kepada Ali, “tulislah begitu.”
Rasulullah s.a.w. melanjutkan, “ini adalah hal yang dengannya Muhammad Rasulullah berdamai dengan...”
Suhail memotong, “kalau seandainya kami tahu bahwa engkau adalah rasul Allah, bagaimana bisa kami menyesilihimu. Tulislah di sana, Muhammad bin Abdullah!” Maka Rasulullah s.a.w. pun memerintahkan kepada Ali bin Abu Thalib untuk menghapus yang sebelumnya dan mengganti dengan Muhammad bin Abdullah. Akan tetapi Ali kesulitan (enggan, pen.) untuk melakukannya maka Rasulullah s.a.w. menghapusnya dengan tangan beliau sendiri. Dibuatlah surat perjanjian damai tersebut dua buah, masing-masing untuk Quraisy dan kaum muslimin.
Ketika penulisan perjanjian tersebut telah selesai, datanglah Abu Jandal bin Suhail bejalan melompat-lompat dengan belenggu di kakinya. Ia bermaksud untuk melepaskan diri dari kungkungan ayahnya dan meminta perlindungan karena ia termasuk orang-orang yang terhalang dari melakukan hijrah. Maka Rasulullah s.a.w. berkata padanya, “bersabarlah, karena sesungguhnya Allah akan menjadikan kemudahan dan jalan keluar bagimu dan orang-orang yang lemah (yang berada di Mekah) yang ada bersamamu. Sesungguhnya kita sudah terikat dengan perjanjian damai dengan kaum Quraisy ini yang dengannya kami menyerahkan apa yang harus diserahkan dan begitupun mereka dengan kita.”
_

Setelah selesai dengan semua urusan perjanjian damai tersebut, maka Rasulullah memerintahkan para shahabat untuk menyembelih ternak qurban dan mencukur rambut sebagai tahalul untuk umroh. Kaum muslimin merasa berat dan dilanda kesedihan yang sangat untuk hal tersebut sehingga mereka tidak segera melaksanakannya. Ketika Rasulullah s.a.w. masuk di tendanya mendatangi Ummu Salamah, ia berkata, “celakalah orang-orang beriman, aku memerintahkan sesuatu tetapi mereka tidak melakukannya.”
Ummu Salamah r.a. mengatakan, “ya Rasulullah, engkau sungguh telah meninggalkan beban yang sangat besar dengan perjanjian itu dan mereka kini harus kembali tanpa satu kemenangan/fath (pembebasan Mekah), mereka sangatlah bersedih dengan hal tersebut. Tetapi temuilah mereka, dahului mereka dengan apa yang engkau ingin mereka lakukan, maka niscaya mereka akan mengikutimu.
Maka keluarlah Rasulullah s.a.w. pada ternaknya dan menyembelihnya kemudian beliau mencukur rambutnya. Maka ketika kaum muslimin melihatnya, mereka serta merta mendapat bimbingan hidayah dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w., dan setelah selesai merekapun kembali ke Madinah.



Print Friendly and PDF

Muhammad s.a.w. Tumbuh sebagai Yatim Piatu

Pada Tahun Gajah, demikian Rasulullah s.a.w. diingat tanggal kelahirannya. Terdapat banyak pendapat mengenai tepatnya tahun kelahiran beliau, karena istilah tersebut juga tidak dapat dipastikan bertepatan dengan upaya penghancuran Ka’bah oleh Abrahah  dengan pasukan gajahnya. Demikian pula dengan penentuan tanggal dan harinya, akan tetapi salah satu sumber yang banyak dijadikan rujukan dalam sirah nabi s.a.w., yakni Sirah Ibnu Hisyam, menyebutkan bahwa tanggalnya adalah 12 Rabi’ul Awal.
Muhammad s.a.w. terlahir sebagai anak yatim, karena ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal pada saat beliau berada dalam kandungan. Setelah beliau dilahirkan, sebagaimana tradisi yang berlaku, beliau disusui oleh bani Sa’ad, yang dikarenakan bukan berasal dari keluarga kaya raya, semula tidak mendapatkan ibu susuan yang akan mengambilnya. Abdullah ayah beliau, pada saat meninggal, disebutkan hanya meninggalkan lima ekor unta dan seorang sahaya. Hal ini, meskipun tidak dapat membuatnya dikatakan miskin, tidak pula dapat dikatakan kaya raya untuk ukuran masyarakat saat itu.
Halimah binti Adh-Dhu’aib, dari sekian perempuan dari bani Saad yang datang ke Mekah, semula juga menolak untuk mengambil Muhammad sebagai anak susuannya. Akan tetapi karena tidak ada lagi anak yang dapat diambilnya dan dia enggan untuk pulang ke daerahnya tanpa mendapatkan anak, akhirnya ia mengambil Muhammad. Dan kemudian ternyata, justru dengan mengambil Muhammad sebagai anak susuannya, Halimah merasakan benar bahwa setelah ia mengambilnya ia mendapatkan keberkahan.
Pada saat Muhammad berusia tiga tahun, terjadilah suatu peristiwa yang membuat Halimah dan suaminya dihinggapi kecemasan, yaitu apa yang dikabarkan oleh anaknya sendiri yang sebaya dengan Muhammad bahwa dua orang laki-laki membelah dada Muhammad. Dalam sumber lain juga disebutkan, bahwa apa yang membuat Halimah khawatir adalah bahwa ia pernah didatangi seorang pendeta Nasrani dari Abisina yang dapat melihat tanda-tanda kenabian dari Muhammad. Pendeta itu memintanya untuk dibawa ke negerinya dan dibesarkan oleh raja. Hal ini mendorong untuk mengembalikan Muhammad ke Mekah.
Muhammad dikembalikan kepada ibunya pada usia lima tahun. Tak lama setelah itu ibunya membawanya ke Yatsrib untuk mengunjungi keluarga dari ayah Muhammad, Abdullah. Dalam perjalanan pulang ibunya menderita sakit dan meninggal di Abwa. Muhammad pulang dibawa oleh sahaya yang dibawa serta ibunya, Ummu Aiman. Dan kemudian beliau berada dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muthalib.
 Abdul Muthalib benar-benar mencurahkan kasih sayangnya kepada Muhammad. Dalam hal ini ia sangat terkenang akan anaknya Abdullah yang dibanggakannya. Namun ternyata tak lama kemudian, pada saat Rasulullah s.a.w. berusia delapan tahun, kakeknya pun meninggal dunia dan beliau beralih pada asuhan pamannya, Abu Thalib.
Abu Thalib tidak memiliki kekayaan yang banyak dan memiliki banyak tanggungan dalam keluarganya. Tapi dalam hal mendapatkan Muhammad dalam pengasuhannya, kecintaan Abu Thalib kepadanya tidak berbeda dengan kasih sayang dari kakeknya sebelumnya. Dan terkadang, dimata Abu Thalib, Muhammad lebih diutamakan dari anak-anaknya sendiri. Dan hal ini terus demikian sampai masa kenabian bahkan jauh sesudah itu, sampai menjelang Abu Thalib wafat, ia selalu menjaga dan melindungi keponakannya.

Abu Thalib, selalu melindungi Rasulullah s.a.w.

Dalam pengasuhan Abu Thalib Muhammad tumbuh dan besar dalam kesederhanaan dan ia bekerja sebagai gembala kambing. Akan tetapi, meskipun dengan lingkungan sederhana tersebut, dan Muhammad sendiri tidak terjun dalam pergaulan yang sedang populer di Mekah saat itu dengan segala bentuk pesta pora dan kegemilangannya, dalam pandangan penduduk Mekah sendiri justru beliau memiliki kedudukan istimewa dan orang-orang memberikan gelar “Al-Amin”.


Print Friendly and PDF

Muhammad s.a.w. yang Dinanti

Isa a.s. mengatakan kepada kaumnya, “...sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Ash-Shaff/61: 6). Maka dinanti-nantilah kedatangannya. Hal ini ditegaskan pula oleh Rasulullah s.a.w. ketika beliau ditanya tentang permulaan akan kedatangan beliau s.a.w.: “(aku adalah) apa yang dipintakan Ibrahim dalam do’anya, (disebutkan) sebagai kabar gembira oleh Isa a.s., dan yang dimimpikan oleh ibuku yang cahaya yang meneranggi istana-istana negeri Syam.” (Riwayat Ahmad)
Makkah, tanah kelahiran Muhammad s.a.w.

Syahdan, di saat Rasulullah s.a.w. mengikuti pamannya dalam perjalanan dagang ke negeri Syam, seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira yang menjaga kata-kata Isa a.s. dengan berita gembiranya mengatakan kepada Abu Thalib agar ia menjaga anak tersebut dengan baik karena boleh jadi di negeri yang akan ditujunya akan dijumpai oleh kelompok orang yang hendak membinasakannya. Bahkan menurut satu sumber, bahkan di saat beliau berada dalam asuhan Halimah As-Sa’diyah, seorang pendeta Nasrani pernah datang memintanya untuk dibawa ke Abisina untuk dibesarkan oleh raja mereka.
Kepribadian Rasulullah s.a.w., sebelum beliau mendapatkan risalah, diakui oleh orang-orang Makkah dan karenanya mereka memberi gelar terhormat untuknya, “Al-Amin” (yang terpercaya) dan “Al-Karim” (yang mulia). Jauh di abad setelah itu, pada Abad ke-20 seorang penulis non-muslim mengakui kebesaran Nabi Muhammad s.a.w. dengan menempatkannya di posisi pertama sebagai sosok yang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah manusia. Akan tetapi tidak setiap orang yang mengetahui kebenaran tersebut kemudian mengakui dan meyakininya dan risalahnya walaupun sebenarnya ia adalah sosok yang dinanti-nanti sebelumnya.
Penantian tersebut menumbuhkan kerinduan akan tetapi tidak semua orang menantinya dengan sebenar-benarnya penantian. Ada kelompok orang yang telah ditundukkan oleh hasrat duniawi yang akan menempatkan kepentingan padanya. Bahwa hal tersebut telah diketahui oleh setiap orang, maka yang terjadi kemudian adalah klaim dan legitimasi bahkan angan-angan. Karena kepentingan itulah, ada golongan orang yang kemudian mengklaim bahwa kedatangan orang yang dinanti itu tidak lain berasal dari kalanganya sendiri. Sehingga di saat dihadapkan dengan kenyataannya yang berbeda yang apa yang diangan-angankan atau diklaimnya, alih-alih bisa menerima sosok yang selama dirindukannya justru yang dihadapkan kemudian adalah sikap penolakan dan dihiasi dengan tuduhan-tuduhan yang keji.
Demikian itu digambarkan Allah dalam Firman-Nya:

فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ [٦١: ٦]
“Maka tatkala dia (yang dinanti-nanti itu) datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti nyata, mereka justru berkata bahwa ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaff/61: 6)

Rasulullah s.a.w. adalah kebenaran yang dirindukan setiap orang dan setiap kita diciptakan dengan kodrat merindukan kebenaran tersebut. Namun, di saat kita dihadapkan dengan kebenaran tersebut, persoalannya akan sama sekali berbeda apabila apa yang kita lakukan dalam mencari kebenaran tersebut ternyata ditumpangi oleh niat dan tujuan yang tidak benar. Kebenaran, seterang apapun keadaannya di hadapan seseorang, jika mata hati (niat) yang dimiliki telah dibutakan oleh tujuan-tujuan yang tidak benar hanya akan menempatkan seseorang pada kesesatan (sementara dirinya mengira berada dalam kebenaran).



Print Friendly and PDF

Abu Lahab Mati dengan Sangat Mengenaskan

Di antara para pembesar Quraisy yang paling gencar dalam melakukan penghinaan terhadap Rasulullah s.a.w. adalah Abu Lahab bin Abdul Muthalib, paman beliau sendiri. Puncak penghinaan Abu Lahab, sosok yang cepat naik darah dan berperawakan gemuk ini, adalah ketika pertama kali Rasulullah s.a.w. menyampaikan dakwah secara terbuka. Ketika itu Rasulullah s.a.w. menyeru orang-orang di bukit Shafa dan setelah mereka datang berkerumun beliau berkata: “Bagaimana jika kukatakan kepada kalian bahwa di balik bukit ini ada pasukan berkuda, akankah kalian percaya?”
“Tentu,” jawab orang-orang. “Dalam hal itu engkau tidak dapat disangsikan, belum pernah mendapati kau berdusta.”
“Aku mengingatkan kalian semua, semua kalian dihadapkan dengan siksa yang amat berat. Banu Abd’l-Muttalib, Banu Abd Manaf, Banu Zuhra, Banu Taim, Banu Makhzum dan Banu Asad Allah memerintahkan aku memberi peringatan kepada keluarga-keluargaku terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau akhirat. Tak ada sesuatu bahagian atau keuntungan yang dapat kuberikan kepada kamu, selain kamu ucapkan: Tak ada tuhan selain Allah.”

Mendengar hal itu, Abu Lahab bangkit dan berteriak kepada Rasulullah s.a.w., “Celaka kau! Untuk persoalan seperti inikah kau kumpulkan kami sekalian hari ini?”
Rasulullah s.a.w. terdiam mendapati sikap pamannya tersebut, akan tetapi kemudian Allah mewahyukan, “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidak akan berguna untuknya harta dan apa-apa yang diusahakannya. Dia akan memasuki api neraka yang bergejolak. Begitu pula istrinya, sang pembawa kayu bakar. Dilehernya ada tali dari sabut.” (Al-Masad/111)
Demikianlah Abu Lahab, dengan sikap permusuhan sebagaimana yang terdapat pada diri pemuka-pemuka Quraisy lainnya, semakin hari semakin gusar dengan perkembangan dakwah Rasulullah s.a.w. yang jumlah pengikutnya terus bertambah. Akan tetapi sikap dan upaya mereka tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil dan justru orang-orang semakin banyak yang memeluk Islam.
Setelah Rasulullah s.a.w. hijrah ke Madinah dan terjadilah perang Badar yang membuahkan kekalahan besar bagi orang-orang Mekah. Di sana para pembesar Quraisy tersebunuh seperti Abul Hakam (Abu Jahal) dan Umayah bin Khalaf. Setelahnya adalah akhir hidup Abu Lahab justru datang dengan cara yang berbeda. Dalam perang Badar tersebut, Abu Lahab tidak ikut berperang melainkan menunjuk pengganti untuk dirinya, Ash bin Hisyam yang berutang kepadanya, dengan kesepakatan bahwa dengan hal itu kemudian utangnya lunas terbayar.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam dalah sirah-nya dari Abu Rafi’, “Ketika itu aku adalah budak milik Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi s.a.w.), dan Islam telah datang kepada kami. Abbas, Ummu Fadhil (istri Abbas) dan aku sendiri kemudian memeluk Islam. Akan tetapi karena Abbas sungkan kepada kaumnya dan tidak suka kalau hal itu diketahui oleh khalayak bahwa ia menyelisihi mereka, maka  ia menyembunyikan keislamannya. Dan Abbas memiliki harta yang terpisah-pisah di tangan-tangan kaumnya. Sementara Abu Lahab tidak ikut serta dalam perang tersebut dan tempatnya digantikan oleh Ash bin Hisyam, sebagaimana dilakukan semua pembesar-pembesar Mekah yang tidak pergi berperang. Maka tatkala datang kabar kekalahan pasukan mereka di Badar, Allah telah menghinakannya dengan kekalahan. Kami mendapati diri kami merasa lebih memiliki kekuatan dan keberanian.
Sementara aku adalah seorang lelaki yang lemah. Pekerjaanku sehari-hari adalah membersihkan gelas-gelas di bilik/tenda zam-zam. Dan ketika itu aku sedang membersihkan gelas-gelas dan Ummu Fadhl duduk bersama. Kami sungguh sedang merasa gembira dengan kabar yang datang. Dan ketika itulah datanglah Abu Lahab, menggusur kedua kakinya dengan kasar sampai terduduk di sudut tenda. Maka ketika itu kami duduk saling membelakangi.
Di saat Abu Lahab terduduk, orang-orang ramai mengatakan, “inilah dia Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib.” Abu Lahab tersentak karenanya, “demi nama Abu Sufyan Al-Mughirah, ia telah datang!” Kemudian katanya lagi, “Kemarilah, sungguh padamu ada kabar tentang kehidupanku!” Kemudian Abu Sufyan duduk di dekatnya dan orang-orang berdiri mengerumuni. Abu Lahab berkata lagi, “duhai keponakanku, kabarkanlah kepadaku bagaimanakah urusan orang-orang ini?”

Abu Sufyan mengatakan, “demi Tuhan, sungguh yang kami jumpai tiada lain bukan sesuatu yang sepadan dengan kemampuan kami, mereka mengarahkan kami sekehendaknya, menghalau dengan mudah atas kami sekehendak mereka. Demi Tuhan, itu sama sekali bukan manusia! Mereka itu pria-pria putih dan menunggangi kuda berkilauan putih di antara langit dan bumi. Demi Tuhan, tidak ada yang menggantungnya dan tidak menjejak di atas sesuatu apapun.”
Abu Rafi berkata, “Dengan serta merta aku menyingkap (kain) tenda dan mengatakan, “Itu. Demi Allah, itu adalah malaikat!” Kemudian Abu Lahab mengangkat tanggannya dan memukul wajahku dengan sangat keras. Aku terhuyung padanya dan dia mengangkatku kemudian menjatuhkanku ke tanah. Kemudia dia menindihku dan memukuliku, sedangkan aku adalah seorang yang lemah. Maka Ummu Fadhl menhampiri salah satu tiang tenda dan mengambilnya kemudian ia memukulkannya pada kepala Abu Lahab sampai dapat memecahkannya karena sangat murkanya. Ummu Fadhil berkata, “beraninya kau menindas dia di saat majikannya tidak ada?” Abu Lahab bangkit dengan penuh kehinaan dan demi Allah, setelah itu ia hanya selama tujuh hari saja hidupnya. Allah kemudian membuatnya bernanah seperti sampar dan ia pun terbunuh karenanya.”
Dan ditambahkan oleh Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah, “... Abu Lahab hanya selama tujuh hari saja bertahan hidup setelah itu dan meninggal dengan nanah bisul seperti wabah. Kedua anaknya membiarkannya setelah setelah kematiannya itu selama tiga hari sampai bau busuknya menyebar. Dan orang-orang Quraisy sangat khawatir dengan wabah seperti itu seperti takutnya pada sampar. Sampai kemudian dikatakan seseorang kepada kedua anaknya, “apakah kalian tidak malu? Sesungguhnya ayahmu ini telah menebarkan bau busuk dari rumahnya dan kalian tidak menguburkannya.” Kedua anaknya menjawab, “sungguh kami sangat takut akan wabah yang ada padanya.” Orang itu mengatakan, “pergilah kalian, biar aku membantu kalian dalam hal ini.” Dan demi Allah (kata Abu Rafi), dia sama sekali tidak dimandikan kecuali dengan disiram air dari kejauhan dan tidak ada yang berani mendekat. Jasadnya kemudian diseret-seret dengan bilah kayu ke tempat tinggi di Mekah, disandarkan pada sebuah dinding dan orang-orang menimbunnya dengan melempar-lemparkan batu.”



Print Friendly and PDF

Penistaan Terhadap Nabi Muhammad s.a.w.

Sejak beliau mendakwahkan risalahnya, penistaan terhadap Nabi s.a.w. selalu muncul dan pada prinsipnya tidak ada bentuk penistaan tersebut yang dilandasi dengan penilaian yang benar. Sejak pertama kali Rasulullah s.a.w berdakwah secara terbuka, Abu Lahab, paman beliau sendiri, melontarkan kata-kata yang menistakan beliau s.a.w. dengan mengatakan: “Celaka kamu Muhammad, apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami semua?” Allah kemudian membalas celaan yang dilontarkan Abu Lahab dengan menurunkan ayat (Al-Lahab/111). Sebuah celaan yang datang dari Allah SWT adalah suatu celaan yang mutlak yang menempatkan orang pada keadaan yang sangat tercela dan sangat hina.

Dari gambaran tersebut kita dapat memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang tercela pada diri Nabi s.a.w. dan celaan yang dilontarkan kepada beliau hanyalah datang dari orang-orang yang sangat tercela. Dan terbukti, bukan hanya adzab di neraka, kematian Abu Lahab terjadi dengan sangat mengenaskan. Ia sakit parah setelah dipukul oleh seorang perempuan dan dari tubuhnya keluar bau busuk sampai anak dan istrinya enggan untuk memeliharanya. Setelah kematiannya jasadnya dibiarkan membusuk selama tiga hari dan dikuburkan dengan tidak pantas karena orang-orang takut tertular wabah dan tidak tahan dengan bau busuknya.
Namun dari sudut pandang lain, celaan dan penistaan yang memang sudah sewajarnya akan menyulut kemarahan dan kebencian umat Islam, merupakan fitnah yang dapat menjerumuskan kita pada perilaku tidak adil. Allah SWT berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ [٥: ٨]
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah/5: 8)

Dalam menghadapi celaan atau penistaan yang ditujukan kepada Rasulullah s.a.w., terhadap Al-Quran atau atas Islam secara keseluruhan hendaklah mengutamakan sikap adil dan hati-hati karena bisa jadi apabila kita mensikapi dengan cara yang keliru akan menempatkan diri pada keadaan yang terhina.

Umar bin Khaththab r.a. suatu kali dihadapkan dengan orang-orang Makkah yang menyampaikan tantangan kepada Rasulullah s.a.w., sebagai siasat mereka untuk menistakan Rasulullah s.a.w., agar menunjukkan berbagai mukjizat seperti yang telah ditunjukkan oleh nabi-nabi sebelumnya agar mereka dapat mencela beliau. Umar r.a. tidak serta merta mengikuti apa yang dikatakan oleh mereka melainkan menjawab tantangan tersebut dengan mengatakan, “apakah setelah kalian melihat semua mukjizat itu kalian akan percaya? Tidak! Kalian hanya akan mengatakan ini sihir yang menyilapkan mata. Bukankah kalian juga mengetahui hal-hal seperti itu dari orang-orang Yahudi Yatsrib dan kalian tahu bagaimana Firaun dan umat Musa a.s. tetap kufur meskipun telah melihat berbagai mukjizat. Aku cukup tahu bahwa kalian benar-benar mengetahui bahwa Muhammad hanya mengatakan kebenaran, akan tetapi hati kalian telah diliputi kesombongan.”

Celaan dan caci maki kepada Nabi s.a.w. tidak lain datang dari orang-orang yang kehabisan akal untuk menghalangi menebarnya kebenaran risalah beliau. Maka dengan memutarbalikkan fakta, dengan membuat ukuran-ukuran sendiri tentang nilai ideal, dengan membesar-besarkan berita bohong tentang Nabi s.a.w., dan lain sebagainya, mereka melakukan penistaan. Akan tetapi penistaan itu hanya akan menjadikan diri mereka dalam kenistaan dan semakin jauh dari kebenaran.




Print Friendly and PDF

Kisah Musa dan Khidir

Ilmu pengetahuan akan menempatkan orang pada kedudukan yang tinggi. Pandangan orang selalu mengacu pada kedudukan tersebut, bertanya dan menunggu apa yang seharusnya dilakukan kepadanya. Kedudukan tersebut, boleh jadi menjadi semu dan membuat lupa apabila ia hanya justru berpangku pada cara orang melihatnya. Berbangga diri dengan pengukuhan dan kenyataan bahwa semua orang ternyata tidak seperti dirinya, adalah hal yang membutakan dan membuatnya memandang dengan cara yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Allah mengingatkan Musa bahwa seseorang memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang tidak diketahuinya. Allah memberitahukan bahwa orang itu dapat ia jumpai di tempat bertemunya dua lautan.


Dengan disertai seorang muridnya, Musa mempersiapkan perjalanan yang tidak pernah dilakukannya. Kepada muridnya dia berkata, “sungguh aku tidak akan berhenti sampai tiba ditempat yang ditunjukkan Allah atau sampai aku benar-benar menghabiskan seluruh sisa waktu yang kumiliki.”
Demikianlah tekad Musa, ia memulai perjalanan bersama muridnya dengan berbekal tekad besar. Bahwa ia tidak mengetahui dimana tepatnya tempat itu dan seberapa lama perjalanannya akan ditempuh, sama sekali tidak menyurutkan niatnya. Manakala ia dan muridnya, dan tanpa disadarinya, sebenarnya telah sampai di tempat tersebut bekal ikan yang dibawa oleh muridnya melompat keluar dan merayap menuju air. Menyaksikan terkesima melihat kejadian itu dan tidak mampu mengatakan apa-apa atau sekedar menghalau Musa. Perjalananpun terus dilanjutkan sampai beberapa lama kemudian Musa menghentikan perjalanan. Ia berkata,” kita berhenti dulu di sini, kemarikan bekal yang kita bawa. Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan.”
Muridnya berkata, “ingatkah ketika kita tadi sampai di tempat bebatuan tadi? Sesungguhnya aku hendak memberitahukannya kepadamu, dan aku menyadari betul bahwa setan benar-benar membuatku lalai untuk memberitahukannya. Di samping itu, ikan yang kita bawa melompat keluar dengan cara yang sangat aneh.”
Musa sontak berkata, “Itulah tempat yang kita tuju!”
Maka mereka kembali menyusuri jalan yang dilalui menuju tempat tersebut. Di sanalah ia bertemu dengan seorang hamba Allah yang diberitahukan kepadanya. Ialah orang yang nyata-nyata tampak padanya bagaimana rahmat Allah telah dicurahkan atasnya dan dianugerahi pengetahuan dan kebijaksanaan. Musa berkata kepada orang tersebut, “bolehkan kiranya aku ikut serta denganmu sehingga engkau bisa mengajarkan pengetahuanmu kepadaku?”
“Kau tidak akan dapat bersabar jika ikut serta denganku,” jawab hamba Allah tersebut. Ia kemudian berkata lagi, “bagaimana bisa kau akan bersabar atas hal-hal yang berada di luar pengetahuan dan kebijaksanaan yang kau miliki?”
Musa berkata, “insyaallah, kau akan mendapatiku memiliki kesabaran tersebut. Dan aku berjanji tidak akan menentangmu sama sekali atas apapun yang akan kau katakan kepadaku.”
Hamba Allah tersebut kemudian berkata, “baiklah kalau demikian. Akan tetapi selama engkau mengikutiku jangan pernah bertanya tentang apapun sampai aku memberitahukan itu kepadamu.”
Maka mereka berdua berjalan. Kemudian sampailah mereka menaiki sebuah perahu dan tiba-tiba hamba Allah tersebut melubangi perahu tersebut. Musa terperangah dan memprotes, “kenapa kau melubangi perahu ini? Sungguh engkau telah melakukan satu kesalahan besar!”
“Bukankah telah kukatakan kalau kau tidak akan cukup bersabar dalam mengikutiku?” kata hamba Allah.
Musa berkata, “maafkan aku. Janganlah kau menghukumku karena aku terlupa akan hal itu. Dan aku mohon, jangan bebankan hal yang menyulitkan dalam urusanku.”
Mereka berdua kembali melakukan perjalanan. Maka sampailah mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki dan hamba Allah tersebut kemudian membunuhnya.
“Kenapa engkau begitu berani membunuh jiwa yang bersih dan ia tidak pula membunuh orang? Sungguh engkau benar-benar telah melakukan satu kemungkaran!”
Hamba Allah berkata, “bukanlah telah aku katakan kepadamu bahwa kau tidak akan bisa bersabar untuk ikut menyertaiku?”
Musa berkata, “maafkan aku. Setelah ini, jika ternyata aku masih bertanya tentang sesuatu hal kepadamu jangan lagi mengikutsertakan aku bersamamu.”
Mereka pun kembali melakukan perjalanan dan sampailah di sebuah desa. Di desa tersebut, mereka menemui penduduknya dan meminta untuk sekedar mendapatkan makanan di sana. Penduduk desa itu menolak untuk menjamu mereka. Setelah itu, mereka berdua menemukan sebuah dinding yang hampir roboh. Hamba Allah itu memperbaikinya sampai kembali tegak. Musa berkata kepadanya, “kau kau mau, atas apa yang kaulakukan itu kita bisa meminta upah darinya.”
Hamba Allah itu berkata, “inilah akhir kebersamaan kita. Akan aku beritahukan kepadamu tentang hal-hal yang telah membuatmu tidak bisa bersabar menghadapinya.”
“Tentang perahu yang aku lubangi, itu karena perahu tersebut merupakan milik sekelompok orang miskin dan merupakan mata pencaharian mereka. Maka aku membuat perahu itu cacat karena di luar sana ada seorang penguasa yang suka merampas perahu apa saja yang ditemukannya.”
“Adapun anak lelaki yang aku bunuh, karena kelak ia akan durhaka kepada orang tuanya yang kedua-keduanya beriman dengan kedurhakaan yang melampaui batas dan kufur, maka Allah hendak memberikan pengganti untuk mereka dengan yang lebih baik dalam kesuciannya dan lebih dalam kasih sayangnya.”
“Adapun dinding yang aku perbaiki, itu adalah milik dua orang anak yatim dibawahnya terpendam harta mereka. Ayah kedua anak itu adalah seorang yang sholeh. Allah menghendaki agar mereka mencapai usia dewasa untuk mengambil harta tersebut sebagai limpahan rahmat dari Allah.”
“Semua itu aku lakukan bukanlah atas keputusanku, melainkan kehendak Allah. Itulah hal-hal yang aku katakan bahwa engkau tidak akan pernah bisa bersabar atasnya.”




Print Friendly and PDF

Hijrah Rasulullah s.a.w. ke Madinah

Hijrah tidak berarti sebatas perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Hal prinsip yang mendasar dalam momentum hijrah adalah kepentingan dakwah. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. bukan semata-mata dalam rangka membebaskan diri dari ancaman orang-orang kafir. Kita dapat melihat tujuan hijrah Rasulullah s.a.w. dengan memaknai peristiwa futuh makkah, disaat Islam menjadi satu-satunya kekuatan yang dikukuhkan di Mekah. Peristiwa tersebut merupakan satu-satunya peristiwa penaklukan kota dalam sejarah manusia yang dilakukan tanpa pertumpahan darah.

Dalam perjalanan hijrah Rasulullah s.a.w., kita dapat melihat kepemimpinan beliau dalam mengutamakan keselamatan umat. Rasulullah s.a.w., hanya disertai beberapa  orang shahabat r.a., adalah yang paling akhir bertahan di Mekah. Bahkan, dari dua peristiwa hijrah sebelumnya ke negeri Abisina, Rasulullah s.a.w. tetap bertahan di Mekah. Padahal, tercatat setelah meninggalnya paman beliau, Abu Thalib, apa yang dilakukan orang-orang kafir Mekah sangat mengancam keselamatan beliau.
Di pihak lain, Rasulullah s.a.w. telah memiliki peran penting dalam membina penduduk Yatsrib (Madinah) secara berangsur banyak yang menyambut dakwah Rasulullah s.a.w. dan memeluk Islam. Peran Rasulullah s.a.w. yang mulai mengukuhkan terbangunna kekuatan Islam adalah dalam menghentikan perang saudara antara Aus dan Khazraj. Dengan berdamainya dua klan tersebut, Islam semakin banyak diterima oleh penduduk Yatsrib. Dengan melihat perkembangan tersebut, akhirnya Rasulullah s.a.w. mengizinkan kaum muslim Mekah untuk melakukan hijrah ke Madinah (Yatsrib)
Sementara kaum muslimin mulai meninggalkan kota Mekah dalam bentuk kelompok-kelompok kecil menuju Madinah, Rasulullah s.a.w. masih bertahan menunggu datangnya perintah Allah SWT. Namun di pihak lain, orang-orang Quraisy yang mengetahui adanya gerakan yang dilakukan kaum muslimin, dapat menghalau sebagian kelompok tersebut dengan melakukan intimidasi atas keluarga mereka.
Setelah Rasulullah s.a.w. mendapatkan perintah Allah SWT, tepat di saat orang-orang Quraisy merencanakan upaya pembunuhan beliau. Rumah beliau sudah dikepung demi mencegah ikut hijrahnya beliau menyusul ke Yatsrib. Orang-orang Quraisy sudah bertekad bulat untuk membunuh Rasulullah s.a.w. karena dengan cara itulah kemudian orang-orang yang telah masuk Islam dan berhijrah ke Yatsrib akan kembali. Akan tetapi, siasat yang dilakukan Rasulullah s.a.w. dengan mukjizat yang terjadi, membuat orang-orang Quraisy tak berdaya sama sekali. Bersahabat Abu Bakar r.a., Rasulullah s.a.w. menempuh perjalanan yang tidak mudah sampai akhirnya tiba di Madinah di sambut orang-orang yang merindukannya.

Hijrah
Dari perjalanan peristiwa hijrah tersebut, yang kemudian ditetapkan sebagai titik tolak hitungan tahun Hijriyah, terdapat tiga hal mendasar yang harus diperhatikan dalam berhijrah.
a.         Tertutupnya Pintu Dakwah
Hijrah dilakukan setelah nyata-nyata orang-orang Musyrik menolak keras keberadaan dakwah Rasulullah s.a.w. dengan mengganggu dan menyakiti orang-orang yang mengikuti beliau dan upaya-upaya radikal oleh mereka. Jika sebelumnya Rasulullah s.a.w. beserta kaum muslimin masih dapat menahan hinaan, rasa sakit dan penderitaan, tiada lain karena beliau beserta shahabat masih dapat melakukan dakwah. Pengukuhan tersebut ditegaskan dengan datangnya perintah Allah SWT dan bukannya tanpa perencanaan dan strategi yang matang.
b.        Tempat Tujuan Strategis
Madinah (Yatsrib), adalah harapan besar dalam melanjutkan perjuangan dan dakwah. Di sana, berbeda dengan tempat hijrah sebelumnya, adalah tempat orang-orang yang sudah menerima Islam sepenuhnya meskipun sebagian besar dari mereka tidak pernah bertemu dengan Rasulullah s.a.w., dan Yatsrib masih termasuk kalangan bangsa Arab yang akan memudahkan dan melanjutkan dakwah dan perjuangan di Mekah.  
c.         Menjaga Kesatuan dan Keutuhan
    Jika seandainya hijrah dilakukan hanya sekedar untuk menyelamatkan diri, sudah tentu         perintah hijrah tidak akan diarahkan pada satu tempat saja. Hijrah di sini pula tidak             berarti melepaskan diri dari apa yang terdapat di tempat yang ditinggalkan. Kesatuan             keutuhan umat, dengan tujuan melanjutkan risalah yang diberikan oleh Allah, hijrah             adalah upaya untuk lebih mengokohkan dan mengukuhkan dakwah itu sendiri untuk             tetap sampai pada tujuan yang telah diperintahkan. 





Print Friendly and PDF

Nabi Muhammad di mata Michael Hart

Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.
Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.
Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.
Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.
Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.
Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.
Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.
Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.
Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.
Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.
Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.
Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan.
Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.
Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
_________
“Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah”
Michael H. Hart, 1978 (lahir 28 April 1932; umur 83 tahun) adalah penulis buku 100 orang yang paling berpengaruh dalam sejarah. Ia telah bekerja pada NASA dan guru besar astronomi dan fisika perguruan tinggi di Maryland, Amerika Serikat. Ia sarjana fisika, astronomi, hukum, dan pengarang buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah yang telah diterjemahkan dalam sejumlah bahasa di dunia) – Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
Print Friendly and PDF