Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Agar Anak Cinta Al-Quran

 

Saya (pen.) pernah dibuat terharu oleh seorang anak yang sedang mengikuti halaqah hapalan Quran, ketika ia ditanya tentang motivasi terbesarnya dalam menghapal Quran, ia menjawab, “saya ingin orang tua saya dipakaikan mahkota dan jubah kemuliaan kelak di akhirat.”

Rasulullah s.a.w. bersabda:

من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن (رواه حاكم)

“Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim)

_

Kemuliaan tersebut tentu terkait dengan wasilah peran orang tua dalam mendidik anaknya sehingga anaknya menjadi ahli Quran. Dalam kaitan tersebut, dalam artikel ini saya akan sedikit berbagi tentang bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Quran pada anak. Tak jarang dijumpai anak-anak yang diberi kemudahan dalam menghapal Quran akan tetapi tak lebih dari sekedar keterlibatannya dalam kelas mengaji Al-Quran atau pada jenjang usia tertentu saja. Bukankah tidak sedikit anak yang berhenti membaca Al-Quran di usia SMP, SMA, atau pada jenjang-jenjang seterusnya?

Seorang ahli Al-Quran tidak akan pernah berhenti bermulazamah dengan Al-Quran. Sebagai pengajaran, Al-Quran sendiri merupakan sesuatu hal yang tidak akan pernah selesai dipelajari dan dari itu barangkali dapat disimpulkan bahwa orang tua yang dipakaikan jubah kemuliaan karena anaknya menjadi ahli Quran bukanlah dari anak yang berhenti mengaji di usia tertentu dari hidupnya.

Yang membuat seorang anak tidak pernah berhenti belajar (dan seterusnya mengajarkan) kepada orang lain adalah kecintaannya terhadap Al-Quran. Tanpa cinta Al-Quran, seorang anak boleh jadi hanya membaca atau menghapal Al-Quran hanya sebagai beban yang harus dijalaninya – misalnya – selama mengaji di masjid, di madrasah, belajar di pesantren dan sebagainya.

 

a.    Memperkenalkan keutamaan Al-Quran dan kekhususannya;

Ihwal keutamaan barangkali tak sedikit yang sulit untuk dipahami begitu saja oleh anak. Misalnya, bagi anak tidak akan dengan mudah membedakan tentang fakta Al-Quran yang datangnya dari Allah dengan fakta bahwa dirinya, orang tuanya juga diciptakan (yang senada maknanya dengan datang dari) Allah SWT. Akan tetapi potensi anak dalam kemudahan menerima satu informasi akan memudahkan bagi orang tua menyampaikan ihwal tersebut. Sifatnya pengenalan dapat disesuaikan dengan logika dan sangat sederhana, seperti syafaat dimaknai dengan istilah menyelamatkan dari penderitaan (baca: neraka), Al-Quran yang menentramkan hati dimaknai tidak sedih hati, Al-Quran sebagai obat dari sakit sesederhana meminum obat disaat ia demam. Untuk menggambarkan keutamaan Al-Quran juga dapat dilakukan dengan menunjukkan kebaikan orang-orang yang ahli dan atau banyak membaca Al-Quran kepada sang anak.

 

b.    Menginformasikan hal-hal menarik dari Al-Quran dan menjadikan Al-Quran sebagai media kompetisi;

Sejatinya Al-Quran sendiri adalah hal yang menarik dengan segala keistimewaannya. Bagi anak-anak, hal tersebut dapat dimulai dengan menyampaikan kisah-kisah yang ada di dalamnya. Pada tahapan lanjutan dapat perkenalkan dengan fakta-fakta otentik, bukti ilmiah dan keterkaitan hal-hal besar dengan Al-Quran. Informasi Al-Quran tentang Ka’bah sebagai bangunan pertama di muka bumi dengan faktanya sebagai tempat yang sampai saat ini merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi manusia di dunia. Variabel lain yang akan menarik bagi anak adalah aspek numerik Al-Quran. Dimulai dengan jumlah juz, jumlah surat-suratnya, jumlah ayat dari surat-surat tertentu dan penomeran lainnya.

Ada apa dengan aspek numerik? Sebab aspek numerik merupakan satu fakta otentik yang paling mudah untuk dipahami sebab ia hanya terdiri dari pilihan benar dan salah (true and false), sehingga lebih mudah pula untuk dipahami karena informasinya dapat dengan mudah ditemukan dari berbagai bentuk penomeran di dalam Al-Quran.

_

Hal-hal menarik tersebut kemudian dijadikan materi perlombaan atau bentuk sifat kegiatan kompetitif lainnya yang sekali waktu dapat diimbuhi dengan memberikan award dan reward khusus. Dalam hal ini penulis membatasi aspek kompetitif untuk menghindari pemberian hadiah (reward) untuk aktivitas membaca Al-Quran sendiri sebagai antisipasi tujuan (niat) yang tidak benar yang tertanam dalam kesadaran anak dalam membaca atau menghapal Al-Quran.

 

c.    Penghayatan isu-isu pokok Al-Quran dalam keseharian;

Diantara isu-isu pokok tersebut seperti dibuat rumusan syukur berarti bertambah nikmat di saat mengajarkan anak untuk selalu mengucapkan lafazh alhamdulillah. Dapat juga dilakukan dengan menyampaikan ancaman-ancaman Al-Quran atas perilaku tidak baik dalam bentuk siksa neraka atau bentuk-bentuk adzab lain secara spesifik termasuk konsekuensi hukum yang ditetapkan di dalam Al-Quran seperti mencuri dipotong tangan dan lain-lain sebagainya. Hal ini tentunya dilakukan secara berulang-ulang, bertahap dan aplikatif. Anak dapat diperkenalkan dengan istilah mubadzir ketika tidak menghabiskan makanan yang termasuk sikap tidak bersyukur kemudian diberlakukan konsekuensi pengurangan uang jajan dan sebagainya.

 

d.    Menciptakan suasana akrab dengan Al-Quran dan memberi perhatian khusus;

Mengkondisikan suasana yang mengakrabkan dan identik dengan Al-Quran dapat dilakukan dengan banyak cara seperti memutar bacaan Al-Quran, menempatkan berbagai instrumen Al-Quran, tempat penyimpanan khusus, kaligrafi ayat-ayat pilihan, termasuk menciptakan keseragaman dalam berkomitmen dengan Al-Quran atau teladan dari orang tua. Hal tersebut dimaksudkan sebagai pendampingan dalam menjaga konsistensi aktivitas membaca dan penguatan komitmen membaca (atau menghapal) sendiri. Jika tugas pengajaran dilakukan orang lain, orang tua dapat secara berkala melakukan cek-ricek terkait aktivitas dengan bacaan Al-Qurannya.

 

Dengan kecintaan terhadap Al-Quran yang tumbuh alami dalam diri anak merupakan modal besar baginya untuk lebih jauh mempelajari, mengamalkan dan mengajarkannya. Kedudukan tersebut, sekiranya orang tua sang anak sekalipun tidak dianugerahi nikmat besar sebagaimana didapat anaknya, tentu akan menjadi kebahagiaan tak terkira manakala hal tersebut memposisikan kedua orang tua sebagaimana diungkapkan dalam hadits Rasulullah s.a.w. di atas.

 

 

 

 

Print Friendly and PDF

Antara Keras dan Tegas, Kompromi dan Fleksibel


Disiplin dapat dimaknai sebagai cara untuk beristiqomah. Seorang shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang satu ketetapan yang tidak dapat ia tanyakan kecuali kepada beliau. Rasulullah s.a.w. berkata:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه أحمد)
“Katakanlah, ‘aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqomahlah!”

_
Dari kata disiplin kemudian sering kita mendengar ungkapan disiplin keras dan ada anggapan bahwa disiplin selalu identik dengan tindakan atau sikap keras. Padahal ada perbedaan mendasar antara disiplin (tegas) dengan keras. Salah satu yang membedakan keduanya adalah bahwa dalam sikap tegas tidak ada sifat intimidasi sebagaimana terdapat dalam sikap keras. Seorang ayah atau guru membentak anak adalah sikap keras. Hal itu memang sangat identik dengan pendisiplinan atau ketegasan.
Memang benar bahwa sikap keras cenderung berhasil untuk mengarahkan. Akan tetapi mari kita perhatikan apa yang melekat pada sikap keras di dalam Al-Quran, sebagaimana Firman Allah SWT:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ [٣: ١٥٩]
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu...” (Ali Imran/3: 159)

Sifat “menjauh” adalah reaksi atas sikap keras dan itu dapat terwujud dalam berbagai cara apakah sifat menjauh secara zhahir atau maknawi. Anak akan bereaksi dengan membuat jarak baik secara lahir maupun sebaliknya, jarak itu dibuat meskipun sedikitpun ia tidak beranjak. Atau sifat menjauh lainnya dalam pengertian dari apa yang hendak ditegaskan kepadanya, sikap keras justru melahirkan sikap penolakan atau perlawanan yang keras pula.
Sikap tegas berbeda dengan keras yang intinya adalah tetap konsisten dengan apa yang seharusnya dilakukan atau menyangkut konsekuensi pelanggaran. Kata-kata kasar, teriakan keras, atau bahkan kekerasan fisik, yang seringkali dianggap efektif dalam disiplin adalah sikap keras yang justru akibatnya bisa sangat bertentangan dengan apa yang diharapkan.
Apakah sikap tegas dapat dilakukan dengan cara lemah lembut? Tentu. Bahkan hal itu akan lebih efektif dalam mendisiplinkan anak. Sikap lemah lembut akan lebih mendekatkan anak dan apa yang disampaikan akan lebih mudah untuk diterima. Dalam sifat mengarahkan barangkali kelembutan tidak serta merta membuat anak dapat mengikuti begitu saja, akan tetapi kita akan melihat bagaimana anak akan menerima apa yang disampaikan atau bersikap disiplin dengan lapang.
_
Akan tetapi sebaliknya dari ketegasan yang seringkali keliru ditempatkan sebagai sikap lemah lembut adalah kompromi. Baik dalam sikap keras ataupun tidak, ketika ada sifat tawar menawar yang merubah substansi dari disiplin yang diberlakukan, di saat itulah terjadi kompromi. Tidak jauh berbeda dengan sikap keras, kompromi hanya akan membuat anak lebih pandai dalam mengakali (berlaku curang) dan melepaskan diri dari konsekuensi yang seharusnya ia terima.




Print Friendly and PDF

Lukman Sang Ayah


Seorang ayah adalah kebanggaan, ia menjadi figur bagi anak dan keluarganya. Tanggung jawab dan kepemimpinannya merupakan andil besar yang menumbuhkan rasa percaya dan kebanggaan. Kemampuan untuk menjamin hajat hidup dan membawa pada arah yang didamba-dambakan, memberinya legitimasi untuk berdiri di muka dan diikuti. Maka dari itu Al-Quran mengistilahkan para pendahulu dengan istilah ayah-ayah ( آباء ), yang membuat para generasi pengikutnya menolak satu kebenaran yang datang setelahnya.

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ [٤٣: ٢٢]
“Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka". (Az-Zukhruf/43: 22)
_
Lukman adalah seorang ayah yang memiliki kedudukan istimewa sehingga ia diabadikan dalam satu surah dari Al-Quran. Ia bukan seorang nabi dan tidak menerima wahyu, menurut pendapat jumhur, akan tetapi ia dikaruniai hikmah. Ath-Thabari menyimpulkan mengenai hikmah yang didapat Luqman sebagai sifat memahami agama, berfikir rasional dan kemampuan dalam berkata benar.

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ [٣١: ١٢]
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu; "hendaklah bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".” (Luqman/31: 12)

Perkataan Luqman kepada anaknya ditegaskan sebagai bentuk mau’izhah (pembelajaran) yang menunjukkan hal prinsip yang senantiasa ditransformasikan kepada (mendidik) anak. Prinsip pembelajaran dimaksud dapat dilihat nasihat-nasihatnya yang diungkapkan Al-Quran pada ayat 13, 16, 17, 18 dan 19 yang hendaknya menjadi acuan dalam pendidikan anak, yang meliputi pokok-pokok pelajaran sebagai berikut:
a)        Tidak menyekutukan Allah (ayat 13)
Menjauhkan anak dari keyakinan, perilaku dan sikap mempersekutukan Allah [LINK] (syirik/musyrik). Bahwa tidak ada yang lain untuk disembah, beribadah padanya dan menyandarkan segala urusan (syirik rububiyah dan uluhiyah), tetapi hanya boleh dinisbatkan kepada Allah. Kemusyrikan nyaris menyerupai keimanan karena ia menyangkut keyakinan seseorang sehingga tidak sedikit orang yang merasa berada dalam keimanan padahal yang ia yakini adalah perkara yang menghancurkan keimanannya sendiri. Oleh karena itu kemudian Luqman menegaskan kedudukan syirik sebagai satu kezhaliman yang sangat besar.
b)       Tidak menyepelekan dosa sekecil apapun (ayat 16)
Kecenderungan menyepelekan dosa seringkali dilakukan manusia untuk membebaskan diri dari beban kesalahan yang berlaku atasnya. Kecenderungan seperti ini merupakan sikap membodohi diri sendiri dan akan menempatkan manusia cenderung merasa nyaman dalam perbuatan dosa. Dalam hal ini Luqman mengingatkan bahwasannya Allah akan memperhitungkan dosa/kesalahan-kesalahan tersebut. Yang paling harus dikhawatirkan adalah munculnya perasaan bangga dengan dosa-dosa dan kecenderungan kuat untuk selalu menentang kebaikan.
c)        Kewajiban Prinsip (ayat 17)
Shalat lima waktu, merupakan tolok ukur [LINK] yang akan menentukan tindakan dan perilaku seorang anak manusia dalam beribadah. Al-Quran di satu sisi telah memperingatkan ancaman akan generasi yang mengabaikan shalat yang merupakan akar kesesatan (lih. QS 19: 59).
Amar ma’ruf nahy munkar, merupakan substansi kebersamaan dalam mewujudkan kebaikan sesama dan secara bersama-sama. Keterikatan seorang individu (anak) akan lebih kuat dengan sifat saling tolong menolong dalam bentuk ajakan dan perintah untuk berbuat baik dan benar serta mencegah perbuatan-perbuatan munkar.
Dan sangat penting untuk menanamkan kesabaran dalam ketaatan dan amar ma’ruf nahy munkar, mengingat berbagai kendala, tantangan dan godaan untuk berpaling dari kebenaran (beribadah) datang dari berbagai ruang lingkup dengan berbagai cara.
_
d)       Tidak sombong, sikap sederhana dan lemah lembut (ayat 18 dan 19)
Kesederhanaan nyaris tidak pernah menjadi tren atau gaya hidup populer. Anak dan remaja sangatlah identik dengan ikon-ikon populer dan trendi, yang seringkali menafikan prinsip-prinsip hidup Islami seperti gaya hidup sederhana. Tetapi sebaliknya, saling menyombongkan diri dan sikap pamer seringkali menggejala dengan kuat sehingga tidak sedikit orang tua yang cukup kelabakan dalam menghadapi pola hidup anak-anaknya. Menanamkan sikap sederhana dapat dimulai dengan menempatkan segala sesuatu secara adil dan sesuai dengan kegunaannya. Anak dan remaja (baca: generasi muda) juga sangat identik dengan watak keras dan reaktif.
Hikmah yang didapat oleh Luqman adalah satu petunjuk bagi setiap orang tua dalam tanggung jawabnya terhadap anak-anak. Banyak sudut pandang dan paradigma yang melatarbelakangi berbagai pola pengasuhan dalam membesarkan anak, yang apabila tidak didasari dengan prinsip-prinsip yang benar bisa jadi orang tualah yang pertama kali menyesatkan anak-anak dari fitroh mereka. Ma’aadzallaah...



Print Friendly and PDF

Agar Anak Mengidolakan Rasulullah s.a.w.

Seorang anak, terutama dalam masa pencarian jati diri, akan mencari-cari sosok yang diidolakannya. Sosok tersebut dapat membuatnya melihat diri sendiri (bercermin) dengan gagasan ideal yang melekat padanya. Dengan menyukai sosok superhero, seorang anak akan berusaha meniru atau bahkan bertindak selayaknya ia sendiri adalah superhero tersebut. Apakah seorang anak yang memiliki idola superhero akan menjadi orang super, bahkan kelak sang anak sendiri hanya akan melihatnya sebagai kekonyolan saja.
_
Superhero tampil tidak selayaknya manusia secara umum. Kita sudah terbiasa melihat kostum aneh, fakta-fakta yang tidak masuk akal dan bahkan ikon-ikon kebinatangan. Untuk mendapatkan penerimaan superhero selalu tampil sebagai pembela kebenaran, pembela kaum lemah dan menyelamatkan dunia. Padahal, adakah sejarah mencatat hal seperti itu? Akan tetapi cukup mengherankan, tidak jarang kita mendengar seorang anak berteriak lantang bahwa ia bercita-cita untuk menjadi superhero tersebut.
Dalam mengidolakan superhero yang dapat dilihat pertama kali adalah kekuatan super yang tidak dimiliki orang lain. Gagasan besarnya selalu dapat mengalahkan orang lain. Ia cenderung tidak dikenal identitasnya, hidup menyendiri dan terasing dari kehidupan. Yang lebih lucu, ia menggunakan kostum aneh, justru seolah-olah ingin dikenal baik (terkenal di mata) manusia. Dari gambaran ini saja, kita tidak dapat membayangkan, kepribadian seperti apakah yang akan dimiliki sang anak.
Sementara di sisi lain, sosok yang begitu mulia dan berbudi perkerti luhur, yang telah menoreh sejarah perubahan tatanan kehidupan terbesar, yang menampilkan diri sebagai manusia biasa dengan pesan bahwa setiap orang bisa seperti dirinya, yakni sosok Rasulullah s.a.w., sangat berbeda dengan sosok superhero dan nyaris tidak diperkenalkan kepada anak-anak dengan beragam media yang kini dapat diakses anak-anak. Ia tampil sebagai manusia biasa, bergaul dan dikenal baik oleh banyak orang bahkan yang memusuhinya sekalipun. Di balik semua itu, ia adalah sosok yang sempurna kepribadiannya dengan membawa risalah yang agung dan dengan tegas ditegaskan Allah SWT:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
[٣٣: ٢١]
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab/33: 21)
Kata uswah, teladan, mengacu pada segala sesuatu yang selalu diikuti oleh manusia. Uswah melekat pada orang atau kelompok orang yang mendahului, datang sebelum orang yang mengikutinya. Termasuk maknanya juga mengenai orang-orang yang pada pandangan seseorang lebih unggul, lebih, di atas ukuran yang dimiliki oleh dirinya. Oleh karena itu, kata teladan tidak selalu mengenai sesuatu yang baik tetapi bisa sebaliknya. Ungkapan ‘teladan yang baik’ merupakan penegasan atas kecenderungan lain dari diri manusia yang cenderung mengikuti sosok atau kelompok orang menjadi teladan yang tidak baik. Inilah yang diungkapkan Al-Quran mengenai teladan yang selalu diambil oleh orang-orang yang menolak para Rasul:
بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ [٤٣: ٢٢]
“Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka". (Az-Zukhruf/43: 22)
Penolakan terhadap para rasul, termasuk Rasulullah s.a.w., cenderung dilakukan manusia ketika mereka terlanjur mengikuti sosok atau orang-orang yang telah memberi pengaruh kuat bagi dirinya. Gambaran ini cukup menjadi pelajaran bagi para pendidik, orang tua atau siapa saja yang bertanggungjawab dalam pembinaan akhlak dan karakter anak atau generasi penerus untuk dapat lebih memperkenalkan sosok teladan yang baik (Rasulullah s.a.w.) dimulai dengan memperkenalkannya dan memperlihatkan praktek dan sikap meneladani beliau s.a.w. secara nyata.
_


Khusus bagi anak-anak, barangkali itu tidak mudah untuk memperkenalkan sosok Rasulullah s.a.w. dengan maraknya tampilan-tampilan tokoh idola dan superhero yang seolah-olah memanjakan imajinasi mereka, akan tetapi pada dasarnya tanpa gambaran visual sekalipun mereka dapat dibuat cukup mengenal sosok Rasulullah s.a.w. yang salah satunya dengan mengidentikkan hal-hal yang dapat dinisbatkan kepada Rasulullah s.a.w. seperti cara makan, minum, doa-doa dan lain-lain sebagainya yang biasa dilakukan sehari-hari. Hal itu tidaklah akan sulit pada setiap kali kita melakukan suatu sunnah untuk menjawab atau menjelaskan kepada anak bahwa demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w., atau dengan mingisahkan perjalanan hidup Rasulullah s.a.w. dan dengan memanfaatkan berbagai media dan kreativitas.
Tentulah akan menjadi keindahan yang luar biasa bagi para ayah-bunda di saat bertanya kepada anak-anaknya, “ingin menjadi seperti siapakah mereka kelak,” dan sang anak  menjawab, “Ingin menjadi seperti Nabi Muhammad s.a.w.”



Print Friendly and PDF

Film yang Mendidik...?

Agak sulit bagi saya (pen.) untuk menjadikan film sebagai tumpuan, terutama untuk pendidikan anak, selain bahwa penyampaian pesan melalui film sangatlah mendalam. Bagaimana tidak, sebuah film selalu tampak lebih nyata dan menyuguhkan sesuatu sebagai fakta “kebenaran” karena ia ditampilkan dengan peran manusia atau setidaknya peran lain (seperti binatang dan benda-benda mati) yang tetap saja menampilkan dan hidup dengan cara manusia. Saat ditonton, film memiliki daya hipnotis yang kuat karena yang menontonnya seolah-olah melihat dirinya di dalam film tersebut.
_
Alih-alih mendapatkan manfaat secara keagamaan (baca: pendidikan keislaman), mengingat latar belakang dan tujuan film itu sendiri, sudah tentu bukan hal yang mudah untuk mendapatinya didasari dengan landasan dan tujuan pendidikan agama. Sementara di lain pihak, jika bagi kami agama merupakan hal yang fundamental, maka apakah produser film, sutradara, artis dan siapa saja yang memegang peran penting dalam perfilman memiliki nilai fundamental yang sama?
Film apa yang ditonton anak-anak, persoalannya tidak sesederhana apakah film itu disukai atau tidak disukai anak-anak (baca: laris ditonton). Dalam ranah aqidah (keyakinan), orang tua atau pendidik harus memberi perhatian ekstra keras ketika adegan dan dialog mengandung unsur-unsur kemusyrikan atau kekufuran, dan itu banyak sekali. Jika sebuah tontonan selalu menampilkan adegan atau ungkapan ‘ketuhanan’ dengan istilah yang sama sekali tidak mengarah kepada Allah, ini merupakan hal fundamental yang dapat membekas dengan kuat pada keyakinan sang anak dan tentunya akan merestorasi nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.
Atau barangkali hal-hal yang seringkali dianggap sepele seperti cara makan dan minum, sebagai contoh, seberapa hebat pengaruh bagi sang anak apabila sehari-harinya terbiasa melihat dan atau melihat tokoh pavoritnya minum sambil berdiri dan seberapa sulitnya kemudian untuk mendidik sang anak untuk merubah kebiasaan tersebut menjadi berkesuaian dengan sunnah Rasulullah s.a.w..
Barangkali itu benar bahwa keberagamaan seseorang tidak dapat diukur dari penampilan atau hal-hal yang bersifat tampak di luar saja, akan tetapi apabila hal itu sudah menyangkut identitas dan ikon-ikon agama bukan berarti hal-hal yang tampak tersebut bukan berarti dapat dijadikan objek yang diinterpretasi atau dilecehkan untuk satu kepentingan “hiburan” suatu tontonan.
Kesenian, kreativitas dengan segala prestasi yang mengiringinya seperti di bidang perfilman boleh jadi memiliki peran penting dalam kemajuan suatu bangsa, akan tetapi apabila hal tersebut dibangun di atas kesemena-menaan, intoleransi dan pelecehan atas bagian penting dari bangsa ini (baca: keagamaan dan para pemeluknya), akan ke mana arah kemajuan yang di dambakan para pelaku kreativitas tersebut sebenarnya. Dan itu cukup mengganggu, alih-alih menyampaikan permohonan maaf, ketika sang produser menyampaikan pembelaan bahwa itu hanya spontanitas dan melontarkan ungkapan keputusasaan atas kritik dan petisi yang diarahkan pada filmnya.
Apresiasi seperti apa yang diharapkan seorang pelaku kesenian dengan karya seninya, itu bukan bagian yang hendak saya interpretasikan di sini. Akan tetapi jika para pelaku kesenian tidak mengindahkan tatanan, norma dan identitas keberagamaan serta mencederai keyakinan dan para pemeluknya, itu sangat tragis dan tidak pantas mendapatkan apresiasi sama sekali.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا [٣٣: ٥٨]
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab/33: 58)


Print Friendly and PDF

Memberi Nama yang Baik untuk Anak

Memberi nama yang baik untuk anak sangat dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w. dan sebagai bagian dari sunnahnya sebaiknya dilakukan menjelang pelaksanaan aqiqah. Tidak jarang orang tua yang terkesan tidak begitu ‘peduli’ dengan nama yang baik untuk buah hatinya. Ungkapan ‘apalah arti sebuah nama’ memang terkesan logis ketika seseorang mendapati seolah tidak adanya relevansi nama dengan keadaan seseorang. Jika saja demikian, maka kemudian jika seseorang tidak memiliki nama sama sekali akan sama nilainya dengan memiliki nama. Katakanlah seperti sebuah kursi, tak ada yang membuatnya berbeda dengan atau tanpa diberi nama (identitas diri) kecuali ada sifat yang diperlukan untuk identifikasi dan hanya sebatas nomor saja.

Dan sebaliknya, boleh jadi ada nama-nama yang diberikan pada seorang anak oleh orang tuanya tanpa diketahui makna atau arti sama sekali. Boleh jadi, alih-alih mengikuti penilaian bahwa nama tidak berpengaruh apa-apa pada anaknya, sang orang tua memberi nama yang tidak berarti sama sekali.
Nama adalah harapan, doa dan cita-cita. Bahkan, jika itu tentang pilihan, nama adalah pencitraan identitas atau bahkan identitas itu sendiri. Nama yang baik, bahkan di saat orang melihat fakta bahwa sang pemilik nama justru mencerminkan hal-hal yang bertentangan dengan namanya sendiri, pada titik tertentu justru berperan penting dalam mengembalikan atau memberi harapan baru padanya.
Rasulullah s.a.w. berkata:  

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللهِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ (رواه مسلم وغيره)
“Sesungguhnya nama-nama yang paling dicintai Allah adalah abdullah dan abdurrahman.” (Riwayat Muslim dan perawi lainnya)

Pada nama ‘abdullah’ dan ‘abdurrahman’ terdapat makna yang sangat agung mengingat nisbat tersebut mengukuhkan hakikat dan tujuan kehidupan seorang anak. Penghambaan kepada Allah, dari kata abd, adalah pilihan terbaik yang akan menjadi jalan hidup seseorang. Sangat penting untuk diingat, bahwa dalam jalan penghambaan – (baca: Islam), seyogyanya dapat membuat seseorang menafikan ‘jalan-jalan’ lain, mengingat firman Allah berikut:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٦: ١٥٣]
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am/6: 153)

Dengan demikian, beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan dalam memberi nama anak/bayi:
a.         Diutamakan menggunakan nama dengan nisbat kepada Allah, nisbat penghambaan lebih baik, dengan merangkaikan nama pada lafazh Jalalah (Allah) atau mengambil dari Asmaul Husna. Dan penting untuk dihindari, yaitu menggunakan nama yang mengandung makna syirik/kufur, seperti dengan nisbat kata “abd” pada hal-hal selain Allah, seperti “abdunnabi”, “abdul ka’bah” dan sebagainya. Akan tetapi nisbat kepada Allah juga harus dihindari dengan nisbat yang tidak mengagungkan Nama Allah seperti nama “abul hakam”.
b.        Memilih nama yang baik secara umum (tidak berarti harus dari bahasa Arab), karena nama adalah do’a untuk anak dan setiap bahasa sudah tentu memiliki arti yang mengarah pada makna kebaikan.
c.         Menghindari nama yang mengagungkan kepentingan diri atau mengagungkan diri, atau nama-nama yang dapat memancing datangnya cacian atau olok-olok.

Nama dengan nisbat pada Asma Allah;
Sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah s.a.w., nama yang dinisbatkan kepada Allah SWT adalah nama yang paling disukai oleh Allah. Nama “abdullah”, sebagai contoh, adalah pengukuhan sesorang bahwa ia adalah hamba Allah yang tidak lain merupakan tujuan dan subtansi penciptaan. “Abdullah” mencerminkan identitas yang sebenarnya tentang seseorang dan sebagai harapan nama tersebut dapat menuntunnya pada tujuan dari hidup yang sebenarnya, yang haqq dan sebagai pengakuan sendiri kepada Sang Khalik.


Memberikan nama dengan nisbat kepada Allah merupakan doa dan harapan agar sang anak senantiasa berada dalam fitrohnya. Hal ini sangatlah penting untuk diperhatikan, mengingat peringatan Rasulullah s.a.w. tentang peran orang tua yang secara umum diasumsikan sebagai kesalahan pertama dalam memalingkan anak dari fitrohnya. Fitroh adalah beragama Islam yang dasar keyakinannya penghambaan kepada Allah dan menafikan selain-Nya (tauhid). Fitroh adalah satu-satunya pilihan karena ia merupakan kodrat penciptaan dan tidak ada sesuatu yang lain yang dapat menggantikannya.
Allah SWT berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [٣٠: ٣٠]
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum/30: 30)



Print Friendly and PDF

Adab Menuntut Ilmu; dari Kisah Musa a.s. dan Khidhir a.s.

Dalam kisah Musa dan Khidhir, di saat Musa mendapatkan perintah untuk mencarinya dan dalam perjalanannya bersama Khidhir, terdapat pelajaran yang sarat bagi yang sedang menuntut ilmu. Kesungguhan dan bersusah payah dapat dilihat dari awal perjalanan Musa a.s., bagaimana ia bertekad tidak akan berhenti untuk mencari meskipun sampai habis waktu yang dimilikinya (18: 60), karena setiap kerja keras dan kesulitan dalam mencari ilmu merupakan hal yang akan memudahkan dan dengan ilmulah hati akan selalu hidup. Dan yang tak kalah penting, salah satu isyarat lain yang terdapat dalam kisah tersebut adalah keberadaan teman/sahabat, yakni kehadiran Yusya’ bin Nun yang dibawa Musa untuk menemani perjalannya.

hwaml.com

Bersabar dengan pengajarnya, atau secara umum bersabar untuk mengikuti segala bentuk proses yang ditetapkan dalam mencari ilmu – pen., terutama mengenai sesuatu yang disyaratkan oleh pendidik seperti untuk tidak mempertanyakan apa sebab sesuatu hal sebagaimana Musa a.s. selalu bertanya kepada Khidir ketika mendapatinya melakukan hal-hal yang tidak dapat diterimanya (lih.: 18: 71, 74 dan 77).
Hal penting yang paling mendasar dalam kisah ini menyangkut segala sesuatu yang tidak dapat dinalar dengan kemampuan akal manusia wajib untuk selalu disandarkan pada ketetapan wahyu Allah Yang Maha Mengetahui hal-hal ghaib. Hal ini seperti mensikapi kadar-kadar yang ditetapkan atas semua makhluk, sebagaimana dapat dilihat dari berbeda-bedanya kadar rejeki, keadaan, kesehatan, kemiskinan, keturunan bahkan hidup-mati, seperti halnya Khidhir yang bertindak atas kehendak Allah yang berlaku tanpa mempertanyakan apapun meskipun itu bertentangan dengan apa yang diketahuinya.
***
Sumber: Al-Tafsir al-Maudhu’iy 1 – Jami’ah Al-Madinah, h. 260-262


Print Friendly and PDF

Parenting dan Sekolah

Pada dasarnya dua istilah ini, parenting dan schooling, memiliki kerangka yang sama yaitu pendidikan anak. Dalam hal ini penulis tidak dalam posisi untuk memilah keduanya secara hitam-putih, apakah itu benar-salah atau baik-buruk. Parenting merupakan proses pendidikan yang dilakukan secara mandiri oleh keluarga dengan segala potensi yang terdapat dalam ruang lingkupnya secara berkesinambungan. Sementara sekolah, dengan ruang lingkup dan metode yang tersistemkan, lebih mengarah pada ruang lingkup sosial secara luas dan kebutuhan akan legitimasi formal pendidikan anak.
Keduanya merupakan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya. Namun apabila kita memilah kedua istilah tersebut, maka proporsi peran penting dan substansi tanggung jawab orang tua terdapat pada parenting. Sementara sekolah di sisi lain seringkali menjadi bentuk pengalihan atau bahkan “melepas” tanggung jawab. Bagaimanapun, meskipun keduanya memiliki ruang lingkup dan pendekatan yang berbeda, orang tua merupakan pihak pertama yang akan dipertanyakan dalam hubungan anak dengan kedua media pendidikan tersebut.
Yang menjadi pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana tanggung jawab tersebut bisa diwujudkan dan jawabannya bisa dengan salah satunya, keduanya atau justru tidak ada pada keduanya. Hal ini sangat tergantung pada orientasi yang dibangun dalam menempatkan fungsi keduanya bagi anak. Parenting, seideal apapun, apabila justru menjauhkan anak dari jati dirinya (baca: ketuhanan), adalah apa yang disinyalir oleh Rasulullah sebagai bentuk penyesatan anak.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخاري وغيره)
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitroh (beragama Islam). Maka (tetapi kemudian), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, nasrani atau majusi.” (Riwayat Bukhari dan yang lainnya)

Demikian juga dengan bersekolah, sesederhana simbol keberhasilannya, apakah memang sesederhana selembar kertas ijazah dengan angka-angka bagus atau pekerjaan yang didapat sang anak dengan menggunakan ijazah tersebut?
Dalam hal ini penulis lebih setuju untuk menggunakan ijazah palsu bukan dengan sudut pandang hukum, yakni adanya oknum-oknum yang melakukan tindakan kolusif dalam mendapatkannya tanpa melakukan proses-proses yang diberlakukan untuk mendapatkan ijazah tersebut. Ijazah palsu lebih tepat digunakan bagi sarjana yang ternyata, meskipun telah mengikuti segala bentuk proses yang harus ditempuhnya secara formal, ‘tidak sedikit’ sarjana yang benar-benar tidak memahami bidang yang seharusnya dikuasainya sesuai dengan gelar kesarjanaan yang melekat pada dirinya. Hal ini senada dengan istilah formalitas yang lebih dipahami dengan konotasi ‘syarat asal-asalan’ daripada pengertian standar kualifikasi.
Sementara itu pertanyaan besar lainnya menanti, apakah dengan bersekolah anak-anak dapat lebih mengenal Allah?
Baik parenting ataupun sekolah, dengan kedudukan keduanya sebagai fungsi pendidikan anak, yang patut mendapatkan perhatian adalah arah dari kedua institusi tersebut. Pendidikan adalah sarana untuk mengantarkan anak untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya dan potensi yang paling mendasar adalah potensi berketuhanan (baca: tauhidullah). Dan boleh jadi, bahkan dengan bingkai institusi yang berlabel keagamaan, hasil pendidikan yang diperoleh anak ternyata justru merestorasi kebudayaan jahiliyah dalam kesadarannya. Betapa tidak, di saat tauhidullah tidak tertanam dalam segala tindak-tanduk dan jiwa sang anak, dapat dipastikan bahwa orientasi hidupnya mengacu pada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip tersebut. Hidup, bagi sang anak, kemudian hanya menjadi perjalanan karir, kesuksesan bisnis, perolehan kekayaan dan gaya hidup yang bergengsi.
Bahkan, boleh jadi luput dari pandangan orang tua, jika ternyata lembaga pendidikan atau ruang lingkup pendidikan anak sama sekali tidak mengutamakan prinsip tauhidullah. Dalam konteks tersebut patutlah kita memperhatikan apa yang diperingatkan oleh Rasulullah s.a.w., bahwa:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (أبو داود وأحمد غيرهما)
“Seseorang akan mengikuti agama teman dekatnya, maka perhatikan oleh kalian dengan siapa berkawan.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan perawi lainnya)

Kata khalil secara harfiyah berarti shahabat karib. Dengan siapa dia berteman, berinteraksi dan atau mendapat dukungan, di sanalah agamanya ditentukan. Ruang lingkup dan lingkungan sosial yang menempatkan anak dalam “kenyamanan” adalah khalil yang sangat berperan dalam membentuk keberagamaannya. Maka pertanyaannya, apa yang membuatnya nyaman di luar sana adalah pertanyaan yang harus dipahami setiap orang tua.
Sebut saja tentang finansial dan kesenangan, yang keduanya sama-sama membentuk ego (selfism) pada pribadi anak. Adalah kesalahan besar jika pada masa pendidikan dasar anak sudah memikirkan finansial dan kesenangan. Boleh jadi dinilai sebagai sudut pandang positif apabila di masa sekolahnya sang anak sudah bisa mandiri secara finansial. Akan tetapi persoalannya bukan tentang bisa atau tidak bisa mandiri, tetapi bagaimana sang anak memandang kemandirian itu sendiri. Boleh jadi dalam menilai finansial (baca: kemandirian, profesi, karir, dll.) sang anak memiliki dorongan untuk membebaskan diri kungkungan orang tua. Demikian pula dengan kesenangan, yakni segala hal yang dinilainya sebagai hal-hal yang lebih baik bagi dirinya, boleh jadi sama sekali berbeda yang apa yang seharusnya dia senangi untuk dirinya.
Orientasi yang dimiliki sang anak dengan “lingkungannya” dengan mudah dapat memalingkan sang anak dari keberadaannya. Yang terjadi adalah bukannya sikap berbakti, sebagaimana ditekankan sebagai salah satu perintah agama, atau bahkan justru bukan keberagamaan yang melekat padanya. Banyak kita temukan kenyataan bahwa di mata sang anak nilai-nilai agama dan praktek-praktek ibadah justru dianggap sebagai hal yang tidak update, tidak gaul dan bahkan cenderung dilecehkan.


Mengaji di Waktu Shubuh, nyaris dikatakan mustahil untuk anak-anak sekarang

Rasulullah s.a.w. mengibaratkan bagaimana mudahnya keberagamaan seseorang dapat tercerabut dari diri seseorang:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ 
(رواه أحمد والدارمي)
“Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan pada kawanan ternak tidak akan lebih merusak daripada hasrat seseorang atas kekayaan dan kehormatan/ prestise (dalam hal sifat merusak) akan agamanya.” (Riwayat Ahmad dan ad-Darimi)



Print Friendly and PDF

Keturunan Ibrahim

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. 37: 102)
Konteks ungkapan di atas berhubungan dengan perintah Allah atas Ibrahim a.s. yang dilontarkan kepada Ismail a.s., pada saat menjelang usia dewasa. Apa yang diperintahkan di atas bukanlah hal yang menyenangkan bagi sang anak, akan tetapi Ibrahim seolah “membebaskan” anaknya untuk memilih. Sekiranya kita ditempatkan pada posisi Ibrahim, atau dengan konteks perintah agama, boleh jadi jawaban anak-anak akan jauh dari apa yang diharapkan.
Ismail a.s. menjawab pertanyaan ayahnya, “wahai ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. 37: 102)
Dari penggalan kisah Ibrahim dan Ismail a.s. di atas, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana seharusnya menempatkan perintah Allah di atas segala-galanya. Totalitas yang dilakukan Ibrahim dan anaknya a.s. tidak hanya sebatas perkataan, mereka berdua benar-benar akan melakukan hal tersebut. Padahal, kita memahami bagaimana kronologi kelahiran Ismail dan perjuangan berat yang telah dilewatinya sampai Ismail beranjak dewasa. Akan tetapi, tanggapan dari keduanya sama sekali tanpa ada rasa keberatan sama sekali.

Ketentuan agama, tidak jarang, oleh sebagian orang justru dipertanyakan bahkan ditentang. Penolakan, alasan-alasan dan keberatan muncul di saat kita memiliki pertimbangan atau penilaian sendiri tentang perintah tersebut. Hal yang paling mendasar seringkali dikontradiksikan dengan penalaran akan kegunaan atau tujuan dari sesuatu hal. Padahal, Allah tidak semata-mata memerintahkan sesuatu hal kecuali hal tersebut akan membawa kebaikan bagi kita.
Kompromi dalam menerima perintah agama berarti menempatkan prioritas lain sejajar dengan atau bahkan di atasnya. Maka tidak mengherankan bahwa ada orang yang berkeberatan untuk shalat berjamaah, menolak perintah agama dan membenarkan tindakan-tindakan yang dilarang agama.
Hal yang banyak dikeluhkan orang tua atas anak-anak salah satunya adalah kecenderungan anak dalam beragama. Sikap Ismail a.s. merupakan hal yang sulit ditemukan pada anak-anak. Bahkan, berbeda dengan sikap Ismail dalam konteks ayat di atas saat ia menjelang dewasa, kedewasaan seringkali dijadikan dalih untuk “secara bebas” memilih antara taat dan tidak taat di saat orang tua meminta sang anak untuk menjalankan perintah agama. Sebagai contoh, jawaban tersebut seperti, “Ayah/Ibu, aku ini sudah besar. Aku sudah tahu mana yang harus kulakukan dan yang tidak boleh kulakukan,” demikian misalnya di saat orang tua mengingatkan anaknya untuk shalat.
Dalam hal mensikapi hal demikian, boleh jadi kesadaran orang tua hanya terpaku pada sikap anak saja (baca: menjustifikasi anak). Padahal, boleh jadi dan secara mendasar telah ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w. bahwa yang pertama kali merubah fitroh keagamaan seorang anak adalah orang tuanya sendiri.
Jawaban Ismail a.s. kepada ayahnya adalah hasil pendidikan yang diterapkan oleh Ibrahim a.s. yang nyata-nyata bukan seorang ayah yang suka berkompromi dalam beragama. Sebaiknya kita memperhatikan bagaimana ketika seorang anak bertanya kepada ayahnya yang tidak shalat berjama’ah di masjid dan memberikan jawaban bahwa ayah sedang sibuk, sang anak menafsirkan bahwa kesibukan dapat dikompromikan dengan keharusan shalat berjamaah. Atau, yang patut diperhatikan disaat sang ayah menegur anak yang enggan pergi shalat atau mengaji dengan teguran keras bahwa ia menentang ayahnya, sang anak menafsirkan bahwa shalat itu dilakukan karena diperintah sang ayah bukan dari Allah SWT.
Ismail a.s., sosok yang menerima begitu saja perintah untuk disembelih, adalah anak dari seorang ayah yang bernama Ibrahim a.s.. Nama Ibrahim disebutkan di dalam Al-Quran sebanyak 63 kali. Frekwensi tersebut sebanding dengan gagasan-gagasan besar yang melekat pada Ibrahim, seperti ketauhidan, rujukan agama Allah (millah), ujian kehidupan dan lain sebagainya. Dari nama besar Ibrahim tersebut kemudian terjadi klaim-klaim yang dilakukan generasi setelahnya dalam memperebutkan legitimasi kebenaran, yaitu klaim yang bersumber dari arogansi dan penolakan atas kebenaran. Padahal, sosok Ibrahim digambarkan Allah SWT sangat bertentangan dengan pengklaim “kebenaran” Ibrahim.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ [١١: ٧٥]
     “Sesungguhnya Ibrahim itu ialah seorang penyantun, rendah hati dan suka kembali (kepada Allah).” (QS. 11: 75)



Print Friendly and PDF