“Dunia itu perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita
shalehah.” (Hadits Riwayat Muslim)
Yang dimaksud dengan perhiasan adalah sesuatu yang berharga, memiliki nilai
finansial atau manfaat. Kata perhiasan ( متاع
) dapat dipahami juga sebagai segala sesuatu yang menyenangkan. Penggunaan kata
tersebut di dalam Al-Quran hanya disebutkan dengan dinisbatkan dengan dunia,
yang salah satunya disebutkan secara bertolak belakang dengan akhirat, seperti
yang dapat dilihat dari ayat berikut:
وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ [١٣: ٢٦]
“... dan Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan
dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang
sedikit).” (QS. Ar-Ra’d/13: 26)
Dengan kesenangan yang sedikit itulah manusia diuji dengan kecenderungan
untuk menyenangi (dengan syahwat). Setiap manusia diuji dengan kesenangan
tersebut, apakah kemudian ia mengikuti syahwatnya atau mendambakan sesuatu yang
lain (akhirat)? Satu dari perhiasan duniawi tersebut justru luput dari
perhatian padahal itu merupakan perhiasan yang paling baik. Akan tetapi berbeda dengan perhiasan-perhiasan lain, yang
satu ini tidak berhubungan dengan syahwat. Ialah wanita shalehah. Dan Rasulullah
s.a.w. menggambarkan karakternya sebagai berikut:
خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي إِذَا
نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ
عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا (رواه أبو داود)
“Sebaik-baik wanita ialah yang apabila engkau menatapnya ia membahagiakanmu,
bila engkau memerintah ia taat dan apabila engkau bepergian ia menjagamu di
dalam dirinya dan hartanya.” (Riwayat Abu Daud)
Ada kecenderung yang keliru yang seringkali hinggap dan atau dilekatkan
pada seorang perempuan dalam relasinya dengan lelaki, yaitu kecenderungan untuk
diperhatikan secara syahwati (sensualitas fisik). Provokasi dan stigma
tentang perempuan dalam berbagai media, iklan-iklan, tren hidup dan lain
sebagainya, banyak menempatkan perempuan tak lebih dari obyek kesenangan (syahwat) sehingga
muncullah berbagai ikon stereotif yang didamba-damba oleh dan dari perempuan, yang
justru tidak menempatkannya sebagai suatu perhiasan yang paling berharga di dunia
ini.
Sifat perhiasan pada perempuan shalihah bukanlah sesuatu yang dapat diukur secara
finansial, sebagai stereotif yang populer atau sekedar obyek kesenangan
seksual. Justru sifatnya terbebas dari hal-hal tersebut dan salah satu
bentuknya bahwa ia tampil dengan menutup aurat yang dapat dipahami sebagai cara
untuk menyembunyikan sisi sensualitas atau sisi lain yang justru merendahkan perempuan.
Bagaimana seorang perempuan dapat melihat dirinya dengan cara yang terbaik
adalah bagaimana ia terlihat di mata para lelaki dengan segala penutup
yang sepenuhnya menyembunyikan (aurat) dirinya. Mengumbar aurat hanya akan
membuatnya tidak lebih berharga dari benda-benda dunia lainnya yang cenderung
dinilai secara sensual, finansial atau bahkan pasaran.
Dari itulah Allah SWT memerintahkan kepada kaum hawa:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل
لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن
جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ
اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا [٣٣: ٥٩]
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab/33: 59)
Setidaknya ada dua hikmah mendasar dari perintah tersebut, pertama:
seorang perempuan akan lebih mudah dikenali yang dalam hal ini tentu berkaitan
dengan agama atau keshalehannya. Berhijab, demikian dalam istilah yang umum
digunakan, akan memperlihatkan sifat perhiasan wanita yang sebenarnya, yakni
keshalehan. Melepas hijab, meskipun barangkali cukup sulit untuk dipahami
sebaliknya, tetapi pastinya justru memperlihatkan sisi yang lain dari dirinya;
bisa jadi sensualitas (kecantikan), kekayaan atau status sosialnya. Akan tetapi
dengan berhijab, di samping bahwa itu dapat menutupi sensualitas, dengan kesan
sederhana dan sifat pandangan yang terbatas padanya juga tidak terlalu
memperlihatkan dua sisi lainnya, yakni kekayaan dan status sosial.
Kedua: hijab akan menjadikan
seorang perempuan lebih terjaga dari gangguan. Berbagai tindak kejahatan,
sebagai contoh, secara umum diasumsikan terpancing oleh cara dan perilaku
perempuan itu sendiri karena sifat mengekspos potensi-potensi yang dapat
memancing kejahatan tersebut. Dalam pengertian yang lebih luas, sifat terjaga
dari gangguan tersebut adalah sesuatu yang akan tetap menempatkannya sebagai
perhiasan dunia yang paling baik, yang hanya akan diraih (dipertemukan) dengan
sosok pasangan yang terbaik pula baginya.
_
Sebagai satu catatan penting lain, untuk menjadi perhiasan terindah
tersebut bukanlah sesuatu yang sulit untuk dapat dilakukan atau diraih
seseorang. Boleh jadi satu ikatan pernikahan tidak bermula secara ideal
sebagaimana Rasulullah s.a.w. mengarahkan, akan tetapi dengan pintu taubat dan
segala kebaikan yang selalu dibukakan oleh Allah bagi setiap hamba-Nya,
pasangan yang berkomitmen untuk menjadi yang terbaik di Mata Allah dan
konsisten dengan komitmen tersebut, insyaallah perhiasan dunia – yang
kebaikannya sampai kelak di akhirat – bisa diraih oleh pasangan manapun.
