Tampilkan postingan dengan label Komikal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komikal. Tampilkan semua postingan

Nu Torek Nuding Torek

Aya hiji aki-aki, datang ka ajengan Mukidi. Caritana konseling rumah tangga.
Aki: "Si Nini tercinta teh kawasna torek, Ajengan. Aki bingung rek ngajak dipariksa ka dokter bisi tersinggung."
Mukidi kurang-kerung.  Ieu kasus rada ribet katingalina. Teu sabaraha lila, ajengan Mukidi nyarita bari ningalikeun tablet nu ti tadi dicecepeng. "Ku ana geus dinbox ka aki alamat blog ana, baca ku aki nu judulna "cara mengetahui apakah si nini torek?".
Singketna, si Aki muka blog sajajalan balik ka imah. Tipsna kieu cenah:
Nista; Gorowokan Si Nini ti pager buruan sing tarik. Mun teu ngajawab;
Maja; Gorowokan tina lawang panto, mun teu ngajawab;
Utama; Gorowokan ti tukangeunnana, mun teu ngajawab keneh;
Mute; gorowokan bari dipongpokkeun kana ceuli Si Nini.
...
Sanggeus ngarti kana arahan ti Ajengan Mukidi, si Aki ngagedig balik ka imah. Tepi dina lawang pager imah, si Aki ngagorowok tarik pisan, "Assalamualaikum, Nini! Aki balik yeuh...!"
Didenge-denge taya jawaban ti si Nini, si Aki ngagedig nyampeurkeun kana lawang panto bari gorowok deui, “Assalamualaikum Nini, Aki balik yeuh...!”
Ditenget-tenget masih taya jawaban, bari semu rada keuheul si Aki asup ka imah. Nyampak si Nini keur gurang-goreng di pawon, katingali tonggoy pisan. Tina panto lawang dapur si Aki ngagorowok deui, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...!” cenah, dipanjangan ayeuna mah. Didenge-denge si Nini teh geuning teu ngajawab wae. Ah geus sidik ieu mah si Nini teh torek, ayeuna keneh rek digusur sina ka dokter, gerentes si Aki.
Si Aki ngadeukeutan si Nini ti tukangeunna, bari dideukeutkeun kana ceuli si Nini si Aki ngagorowok tarik pisan, “Assalamualaikum Nini..., meni ku torek titadi salam teu dijawab wae!”
Si Nini malik ngagerewek tarik pisan bari ngangkat sosodok, “Ari nyaneh kunaon aki, ti tadi ku kami dijawab salam teh barang ti pager buruan keneh, naha teu kadenge....?”
...
Si Aki olohok ngemang kadu bari ningali sosodok jeung mata Si Nini nu hurung ngabebela.



Print Friendly and PDF

Anak (can) Baleg nu (henteu) Baleg

Orang tua seringkali berkata, “anak-anak sekarang ini susah diatur, nakalnya keterlaluan, kelakuannya aneh-aneh..,” dan seterusnya, dan seterusnya. Dan ini hanyalah dialog imaginer antara para orang tua dengan dirinya sendiri (lho kok?), ... 

Lalu sebuah pertanyaan, “anak siapa mereka?”
Dijawab, “ya anak kita!”
Pertanyaan lagi, “siapa yang ‘bikin’?”
Dijawab, “Hehe..., ya kita lah!”
Pertanyaan, “lantas, apa masalahnya?”
Dijawab, “masalahnya beda sekali dengan kita anak-anak dulu.”
Pertanyaan, “memangnya bapaknya sama?”
Dijawab, “memang beda sih.”
Pertanyaan, “jadi, yang membuat kita dulu berbeda dengan anak-anak sekarang siapa?”
Jawab, “ya ibu-bapak kita lah!”
Pertanyaan, “dan yang bikin anak-anak sekarang seperti itu siapa?”
Jawab, “ya kita lah...!”
Nah lho!
Rasulullah s.a.w. mengatakan:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتَجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ
“Setiap anak dilahirkan dengan fitrahnya, (tetapi) kemudian kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi (seperti) nasrani atau (seperti) yahudi atau (seperti) majusi. Perumpamaannya seperti seekor binatang yang baru dilahirkan, apakah kamu pikir ia sudah bertudung?”
Sementara di sudut ruang-waktu yang lain ada yang sedang berdiskusi dengan serius, memecahkan satu masalah hukum (fiqih).
“Cenah, budak teh eta dianggap baleg lamun geus manying umur lima belas taun atawa ngimpi jima atawa khusus di awewe eta geus haid. Hartina, eta budak teh geus paham keur naon gunana ‘barang’ maranehna salian ti dipake kiih.”
Pertanyaan, “kumaha hukumna lamun ternyata umurna can tepi, ngimpi jima oge henteu atawa datang haid oge acan, tapi eta budak teh geus pinter nyonyoo barangna. Naha eta kaasup baleg?”
Dijawab, “nya enya geus baleg!”
Pertanyaan, “sanajan umur lima taun ge?”
Dijawab, “sanajan umurna lima tauh!”
Bertanya sangsi, “asa piraku budak umur lima taun jadi mukalaf euy?!”
Dijawab, “ari geus, pan geus apal jeung nu hanyir-hanyir.”
Pertanyaan, “lain nu disebut baleg mah apal-bener salah nu pentingna mah?”
Dijawab, “ah, naha aki-aki cetuk huis nu teu apal-apal kana bener-salah eta teu bisa disebut baleg kitu?”
Dan seperti tak ada pertanyaan lagi, “tapi heueuh oge nya...”
Tiba-tiba datang seorang kakek berjenggot putih, dengan keras membentak, memotong pembicaraan, “siga nu bener wae malikir teh! Nu puguh mah lamun budak umur lima taun geus pinter nyonyoo ‘barang’, eta mah kolotna nu TEU BALEG ngadidikna!”


Print Friendly and PDF

Politik Uang

Menjelang musim pemilihan seperti, biasa dan semua orang tahu, banyak uang dihambur-hamburkan. Kalau saya bilang uang dibuang-buang. Kenapa begitu, karena uang dipake buat beli sesuatu yang tidak dapat dibeli, yaitu suara. Kalau misalnya dibutuhkan tujuh ribu suara, maka yang harus dibeli adalah 7.000 kali 50.000,- belum termasuk panitia pengkondisian yang bisa jadi justru minta lebih dari nominal targetnya. Kalau kebetulan dia tokoh, itu lebih ribet lagi, datangnya saja mesti dijemput, pulang mesti diantar dan saat dia pulang bukannya ngasih ongkos tapi minta diongkosin.

Terdapat fenomena aneh dalam praktik money politic, adalah perasaan berdosa kalau tidak mencoblos calon yang memberikan uang. Tidak terbayangkan orang yang menerima dari dua calon, mau tidak mau dia harus mengkhianati salah satunya, artinya mau tidak mau harus berbuat dosa. Jika dia memilih yang memberi jumlah lebih besar, uh, lacur sekali. Kalau dia memilih yang lebih kecil, itu lucu. Yang pasti ketika memilih kedua-duanya artinya malah dia berdosa kepada dua-duanya. Atau mungkin dengan mengembalikan pemberian salah satunya? Nggak harus banget! Mejadi golput, ketahuan pastinya! Yang lumayan lucu, pernah ada seorang guru yang juga tokoh agama, berkoar-koar berteriak “wani piro” untuk “memberikan” puluhan atau mungkin ratusan pemilih yang diklaimnya. Yang benar saja pak guru!
Memilih itu hak asasi dan suara pemilih tidak dapat dibeli, semua tahu. Tapi hampir semua mengatakan, daripada tidak mendapatkan apa-apa jual-beli itu bukannya halal?
Yang pasti, dan benar, memilih bukanlah dengan cara seperti itu. Kata guru yang lain, yang datang dari partai gratisan, menegaskan bahwa money politic adalah suap-menyuap (rasywah). Masing-masing pihak yang melakukannya dilaknat dan karena dilakukan dengan praktek jual beli, pemilih tidak akan pernah bisa berharap mendapat yang lainnya selama lima tahun kemudian karena suaranya sudah dijual. “Barang yang sudah dijual tidak dapat dikembalikan,” katanya.
Dan pada suatu ketika ada calon yang berkeliling menagih uang dan pemberiannya setelah dia kalah dalam pentas politik. Lho, kok? Dia menuduh kalau sang pemilih berkhianat dan menunjukkan fakta-fakta yang menguatkannya. Sang pemilih menjadi tampak menanggung dosa yang tidak dilakukannya. Bagaimana tidak, sang calon mengklaim telah memberikan milyaran rupiah padahal pemilih hanya menerima 25 ribu saja. Nyatanya, meskipun dikembalikannya uang itu tetap saja dia kena damprat. Belum lagi persoalan calo politik yang turut serta, misalnya, ternyata tarif yang ditetapkan saat itu lebih dari 25 ribu. Nah lho! Dan ketika itu pula ada kabar calon yang menyumbang masjid minta pemberiannya dikembalikan. Waduh, padahal semua orang tahu kalau masjid itu tidak memiliki hak pilih!
Melihat masalah yang runyam ini, sang pemilih datang kepada penasehat spiritual, menanyakan apa langkah yang seharusnya dilakukan. Saat itulah keluar fatwa; “Bahwa suap, sogokan atau money politic diberikan kepada seseorang untuk melakukan suatu perbuatan tertentu. Artinya, prinsip suap menyuap ada dua: pertama, ada uang yang diserahterimakan; kedua, ada perbuatan yang harus dilakukan penerima suap. Walhasil, ketika salah satunya tidak terpenuhi maka itu tidak termasuk suap-menyuap.”

Nah lho! 
Print Friendly and PDF

Asmara Unlimited

Ini cerita tentang Laila Majnun versi era messenger saat mereka sedang dipadu asmara yang menggebu-gebu. Ceritanya sejoli yang kasmaran menginginkan senantiasa get connected by all the times, tidak pernah terputus dalam berkomunikasi. Katanya, masalah komunikasi adalah permasalahan pokok yang dapat merusak suatu hubungan sampai pada kehancurannya. Maka jadilah gawai (gadget) mereka selau on, connected, berlangganan paket dan nyaris tidak pernah dimatikan.
Siang, tak ada waktu untuk tidak terhubung. Selalu saja ada kata untuk setiap kesempatan, “met pagi kanda,” di jawab “met pagi dinda.” Berlanjut, “sudah sarapan, kanda?” dijawab (selalu dan harus selalu), “sudah, dinda. Dinda sudah sarapan belum?” berbalas, “belum kanda, ini baru mau. Kanda sarapan apa?” dijawab, dan terus bersahutan sampai seolah tak ada jeda sampai haripun berganti malam. Selalu ada tanya, selalu ada kata, atau barangkali kata-kata itu tak jadi membosankan di saat pertanyaan yang sama selalu rutin berlompatan kesana-kemari bertukar arah atau tidak sama sekali.
“Sudah tidur kanda?” busyet! Kalau memang sudah tidur bagaimana bisa jawab. Dan ternyata, asmara memang mampu menciptakan keluarbiasaan yang tidak terduga, pertanyaan itu ternyata juga dijawab, “sudah dinda, ayo kita tidur...” luar biasa!
Lantas berbunyi dengkling sebuah jawaban, “sebentar lagi kanda, dinda baru shalat. ini baru sujud yang kedua.. hehe!” Nah lho!

#Soimah
Print Friendly and PDF

Yang (tak) Masuk Surga

Di masjid kebanyakan orang yang giat beribadah, pengajian, atau kegiatan lainnya lebih didominasi orang tua yang sudah sangat tua. Bahkan, di kampung saya, pengajian pemuda saja ternyata justru lebih banyak diikuti oleh orang tua.
Banyak dikatakan itu wajar saja, karena yang tua sudah ‘bau tanah’, eh ternyata yang muda-muda tak jarang bau tidak kentara tahu-tahu sudah berkalang tanah. Atau juga dikatakan, mereka itu sudah tak punya cukup ‘potensi’ untuk berbuat dosa, badan sudah sakit-sakitan, duit sudah terkuras atau dibilannya sudah tidak memungkinkan sama sekali, eh ternyata yang katanya kekar kini terkulai jadi pesakitan, menguras duit kakeknya dan divonis nyaris mati. Atau dibilangnya itu masa orang-orang bertaubat, padahal kata para tetangga mereka itu sejak mudanya dulu nyaris tanpa cela, dan walaupun tidak mungkin terjadi, mereka terkesan tidak pernah melakukan dosa. Yang ada justru, yang merasa belum waktunya untuk bertaubat ternyata kehabisan waktu dan tak sempat bertaubat, na’uzubillah.
Barangkali benar itu semua. Buktinya kalau yang tua-tua itu tak ada wanginya kalau masuk masjid, sehingga takmir menggantungkan pewangi di sudut masjid untuk mengalahkan bau tubuh kakek-kakek pengisi masjid. Tidak ada juga bukan iklan minyak wangi untuk aki-aki? Urusan potensi, boleh itu sudah tahu semua, namanya juga prodak lama apalagi ini namanya orang, susah cari upgrade-nya. Mereka bertaubat, benar adanya karena kemampuan bertaubat itu berbanding terbalik dengan kemampuan untuk melakukan dosa. Buktinya, bukankah Nabi s.a.w. adalah orang yang sangat sering memohon ampunan kepada Allah.
Tetapi paman saya berkata, “aku kasihan pada mereka, karena yang tua-tua itu tidak akan masuk surga!” Lho kok? Paman saya menjelaskan, kalau hal itu pernah dikatakan oleh Nabi s.a.w. kepada seorang nenek yang meminta dido’akan agar masuk surga, Nabi s.a.w. berkata:
إِنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا عَجُوزٌ

“Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh tua renta (sepertimu).”
Print Friendly and PDF

Siapa yang Tuli

Sebut saja Kek Alang namanya. Dia datang menemui dokter mengeluhkan kondisi istrinya. Begitu itu dia lakukan karena dia takut istrinya tersinggung. Jadi maksudnya datang ke dokter bukan untuk berobat, tapi ingin konsultasi. Sesampainya di tempat praktek, dia sempat kebingungan karena di sana seperti tidak ada orang orang yang menunggui sampai setelah tiga kali mengucap salam seseorang baru datang menghampiri. Dialah sang dokter.
“Wa’alaikum salam,” kata dokter sambil membungkukkan badan.
“Dokter ini kalau jawab salam kok susah banget,” kata Kek Alang. Dokter tersenyum saja. Dia lantas mempersilahkan Kek Alang dengan membentangkan tangannya sambil mengais tangan Kek Alang dengan tangan yang satunya. Kek Alang menurut saja, mengikuti ke arah dokter membawanya.
“Di sini saja, dokter.” Kata Kek Alang.
“Tidak apa-apa, mari kek.” Kata dokter, selalu dengan membungkukkan badan dan mendekat pada Kek Alang. Dokter ini sopan sekali, pikir Kek Alang.
“Ada apa, kek?” tanya dokter. “Kakek sakit apa?”
“Tidak usah panggil kakek, saya ini masih muda.” Kata Kek Alang.
“Iya, bapak ada keluhan apa?”
“Sebenarnya bukan saya yang sakit,” kata Kek Alang. “Istri saya dokter.”
“Ada apa dengan istri bapak?”
“Istri saya itu, saya bingung bagaimana ngajak dia periksa ke dokter, sepertinya dia itu agak tuli, dokter.” Jelas Kek Alang.
Dokter itu tertegun sebentar, tampak mengamati keadaan Kek Alang, tetapi sebentar kemudian tersenyum sambil mendekatkan wajahnya pada Kek Alang.
“Oh begitu rupanya,” kata dokter. “Bisa jadi parah itu pak.”
“Iya dokter, takutnya sudah parah sekali. Sering sekali dia tidak menjawab kalau saya bicara.” Imbuh Kek Alang.
“Begini saja, pak. Bapak bisa cari tahu seberapa parah tulinya. Nanti saat bapak pulang ke rumah, kira-kira jarak dua puluh meteran bapak panggil istri bapak. Kalau ternyata ia tidak menjawab, majulah kira-kira sepuluh meter. Kalau ternyata masih tidak menjawab, maju lagi kira-kira lima meter. Mungkin belum parah kalau masih mendengar. Tapi kalau masih tidak menjawab juga, bicaralah saat dekat sekali dan bicara agak keras. Nanti bapak akan tahu seberapa parah tulinya.” Jelas dokter, dan menatap dalam-dalam pada Kek Alang. “Mengerti pak?”
“Siap dokter! Saya paham sekali.” Kata Kek Alang.
Setelah itu, Kek Alang pulang ke rumahnya. Dengan cukup antusias dia mengingat-ingat tip dan trik sang dokter. Setelah kira-kira dua puluh meter dari rumahnya, dia berkata agak lantang.
“Assalamu’alaikum, ibu...!” katanya sambil meletakkan tangan di dekat mulutnya untuk memperkeras suaranya. “Ibu sedang apa?” ditunggu-tunggu tidak ada jawaban dari arah rumahnya.
Kek Alang melangkah lagi sampai kira-kira sepuluh meter, dari sana dia sudah bisa melihat istrinya dari pintu dapur yang sedang memasak. Dia kembali memanggil, “assalamu’alaikum ibu, sedang apakah ibu?” katanya dengan setengah berteriak. Kek Alang masih tidak mendengar jawaban dan melangkah lagi sampai kira-kira berjarak lima meter dan melakukan hal yang sama. Kek Alang masih mendapati istrinya tidak menjawab. Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan jurus terakhir, seperti kata dokter, dengan mendekati istrinya dia berkata dengan lantang.
“Assalamu’alaikum ibu, sedang apakah ibu?” Kek Alang melihat istrinya tetap terdiam, tapi sebentar kemudian sang istri menoleh sambil mengerutkan alis.
“Dari tadi juga saya sudah jawab wa’alaikum salam, bapak! Malah sampai tiga kali, ibu bilang sedang masak. Apa bapak tidak dengar?”

“....*^&%$%#...” Kek Alang tertegun.
Print Friendly and PDF