Bersukacita Menyambut Ramadhan

Ramadhan, satu-satunya nama bulan yang disebutkan langsung di dalam Al-Quran. Di dalam ayat tersebut (2: 185) disebutkan satu peristiwa agung yakni diturunkannya Al-Quran dengan dijelaskan pula kedudukan Al-Quran sendiri bagi manusia. Semarak menyambut Ramadhan sudah menjadi agenda besar yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dengan latar belakang yang beragam pula yang tentunya mewakili tujuan yang beragam pula.
_
Bahwasannya Allah menetapkan kewajiban berpuasa dengan menyeru orang-orang beriman (2: 183), dapat dimaknai bahwa dengan memenuhi ketetapan tersebut merupakan pengukuhan identitas orang yang beriman. Dengan demikian, seyogyanya diperhatikan orang beriman adalah bagaimana bergembira menyambut Ramadhan karena di balik semaraknya orang-orang menyambut Ramadhan terdapat tujuan-tujuan yang sama sekali bertentangan dengan ihwal keimanan dan substansi peribadatan.
Rasulullah s.a.w. mengisyaratkan keistimewaan bulan Ramadhan sebagai berikut:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه أحمد عن أبي هريرة رضي الله عنه)
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, yang Allah mewajibkan puasa di dalamnya atas kalian. Di bulan ini dibukakan pintu-pintu surga dan ditutup-Nya pintu-pintu  neraka jahim, syetan-setan dibelenggu, serta di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; barang siapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikannya.”
An-Nawawi menjelaskan bahwa pengertian yang terkandung di dalam ungkapan hadits tentang pintu-pintu surga yang dibukakan, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu selain dapat dipahami secara zhahir (denotatif), dapat dimaknai secara majazi (konotatif) sebagai melimpahnya pahala kebaikan dan ampunan, dan bahwa ruang gerak syetan dipersempit dalam membujuk dan mengganggu hamba Allah.
Keutamaan yang diutarakan oleh Rasulullah s.a.w. sangatlah luar biasa. Bilakah seseorang tidak dapat bersuka cita dengan hal-hal tersebut? Karena bisa jadi karena terpaku pada satu kepentingan tertentu (duniawi belaka), atau hal-hal lain yang dapat memalingkan dari karunia dan rahmat Allah SWT. Tidak sedikit orang yang melewatkan Ramadhan begitu saja, tidak mendapat kebaikan apa-apa dan atau bahkan justru sebaliknya, bukannya tidak mungkin, bahwa setelah Ramadhan seseorang justru bertambah buruk.
Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ [١٠: ٥٨]
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (Yunus/10: 58)
Berpedoman pada tuntunan Rasulullah s.a.w., bersukacita dengan datangnya Ramadhan bukanlah sembarang sukacita seperti meriahnya pesta, hura-hura atau hal-hal lain yang tidak bernilai ibadah dan ketaatan. Sukacita yang dimaksud adalah bagaimana antusiasme seseorang dalam kaitan dengan kesempatan untuk berbuat baik, menjaga diri dari maksiat dan hal-hal tidak berguna, meraih keutamaan-keutamaan yang hanya terdapat di bulan Ramadhan seperti malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang tentunya tidak dapat diraih tanpa mempersiapkan diri.
_
Di antara yang seyogyanya dipersiapkan dalam menyambut kedatangan Ramadhan;
1)        Ilmu; mengetahui segala hal yang berkaitan dengan bulan Ramadhan yang mecakup ketentuan ibadah, keutamaan dan pahala yang berlimpah, serta hal-hal lain untuk meraih Ramadhan yang bernilai tak terhingga.
2)        Kesiapan lahir dan bathin; memupuk kesungguhan dan kesiapan sehingga baik secara mental-kejiwaan maupun lahiriah-materil.
3)        Program Ramadhan; membuat program adalah berniat/ber’azam yang merupakan satu kebaikan. Setiap amal diawali dan bertumpu pada niat. Niat (baca: Program Ramadhan) akan memudahkan kita untuk dapat beristiqomah, mengevaluasi dan sekaligus meningkatkan kapasitas dan konsistensi peribadatan selama bulan Ramadhan. 
Sebagai contoh, sebagaimana pula dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w., dalam kaitan dengan membaca Al-Quran di bulan Ramadhan, seseorang dapat mempersiapkan diri dengan menggali berbagai pemahaman dan penguasaan ilmu Al-Quran dan memupuk ghirah dengan mengenal berbagai keutamaannya, menentukan target tertentu seperti mengkhatamkan bacaan, menghafal dan lain-lain sebagainya.




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!