Berkurban untuk Taqorub


Allah SWT berfirman:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ [٥: ٢٧]
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".” (QS. Al-Maidah/5: 27)
_

Ibnu Katsir menyebutkan dari riwayat Ibnu Jarir bagaimana perbedaan sikap Qabil dan Habil dalam berkurban yang membuat salah satu kurbanya (milik Qabil) tidak diterima. Disebutkan bahwa Qabil tidak mempersembahkan yang baik untuk dikurbankan dan ia bersikap angkuh terhadap saudaranya. Manakala ia mengetahui bahwa kurbannya tidak diterima yang berarti bahwa saudaranyalah yang kemudian berhak untuk menikahi saudara perempuannya yang lebih jelita, ia tidak dapat menerimanya dan mencelakai Habil.
Kata kurban berasal dari kata qa-ru-ba yang berarti mendekati atau menghampiri. Isjfahani kemudian mendefinisikan kata qurban sebagai apa-apa yang dengan dapat menjadi lebih dekat (mendekatkan diri) kepada Allah, yang kemudian istilah ini digunakan untuk ibadah penyembelihan hewan kurban. Dari istilah ini setidaknya kita dapat dengan mudah bahwa tujuan dari ibadah kurban adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan para ulama ahli fiqih mengkategorikan kurban sebagai ibadah mahdhah. Maka di dalam pelaksanaannya kurban tidak dapat dirubah ketentuan, jenis, hitungan dan waktu pelaksanaannya.
Memenuhi segala ketentuan Syari’at di dalam ibadah qurban adalah bentuk pengesaan terhadap Allah SWT karena segala ketetapan tersebut bersumber dari-Nya. Yang lebih fundamental dari berbagai ketentuan tersebut adalah niat seseorang dalam menunaikannya, yakni keikhlasannya (lih. QS. Al-Bayinah/98: 5)
Mengingat bahwa dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari sifat materil hewan ternak yang dapat dengan mudah dinilai dan diukur, seyogyanya seseorang yang berkurban dapat menjaga keikhlasan niatnya dari penilaian manusia yang kadang-kadang cenderung bersifat materil saja (baca: duniawi). Bukan tidak mungkin bagi seseorang yang berkurban dengan ternak besar, sebagai contoh, dihinggapi hasrat untuk mendapat pujian dari manusia dengan apa yang ia kurbankan. Tak jarang pula orang yang kemudian membangga-banggakan kurbannya dan menghinakan yang lain karena jumlah yang tidak banyak atau sifat materil lainnya.
Berkurban adalah bertaqarub kepada Allah dan Allah Yang Maha Luas menyediakan pahala yang tidak terkira untuknya. Sangat disayangkan apabila ternyata seseorang lebih mengharap pujian manusia atau sifat lainnya dari ikhwal dunyawiyah yang tidak seberapa dan atau bahkan bersifat mengelabui saja (ghurur). Terlebih di era milenial kini, ketika perilaku pamer sangat mudah dilakukan salah satunya dengan kebiasaan swafoto (selfi) dan luasnya ruang publik media sosial yang seringkali menghanyutkan kita pada kesenangan untuk mendapat komentar dan tanda suka dan lain sebagainya.
Allah SWT berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ [٥٧: ٢٠]
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid/57: 20)
Dari ayat ini setidaknya kita dapat mengetahui sifat-sifat keduniaan yang bisa melekat pada ibadah kita, antara lain:
a)        Permainan; artinya sesuatu yang tidak dilakukan dengan maksud sungguh-sungguh dan tidak bermakna
b)        Melalaikan; berarti sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah dan bukan sebaliknya.
c)        Perhiasan; memiliki sifat menyenangkan hati (dalam pengertian negatif, yakni hawa nafsu)
d)        Berbangga-bangga; menumbuhkan rasa sombong dan tinggi hati
e)        Bermegah-megah; sikap berlebih-lebihan yang tidak diperlukan.
Jika misalnya hal-hal tersebut melekat dalam pelaksanaan ibadah kurban, itu bisa menempatkan ibadah kurban (agama) sebagai permainan padahal bukan saja hal itu dimurkai Allah bahkan kita diperintah untuk meninggalkan orang yang menjadikan agama sebagai permainan (QS. 6: 70). Allah juga melarang menjadi lalai dari mengingat Allah (QS. 63: 9), tertipu dengan perhiasan duniawi dan mengikuti hawa nafsu (QS. 25: 43), berbangga-bangga (QS. 31: 18) serta bermegah-megahan yang melalaikan (QS. 102: 1-2).
_

Oleh karena itu, dalam pengertian agar kita tidak terkecoh oleh sifat-sifat materil keduniawian, dapat dengan jelas kita pahami penegasan Allah terkait dengan penyembelihan hewan ternak dalam Firman-Nya:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ [٢٢: ٣٧]
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj/22: 37)
Dari kandungan ayat ini setidaknya dapat dibuat satu kesimpulan bahwa ketakwaan adalah satu-satunya ukuran yang harus menjadi perhatian utama baik dalam pelaksanaan dan atsar yang tampak setelahnya. Dari kisah Qabil dan Habil kita dapat melihat bagaimana persembahan kurban dapat mengarahkan seseorang pada kesesatan dan perilaku zhalim, ketika ia tidak ditunaikan dengan sungguh-sungguh dan dipengaruhi oleh sifat memperturutkan hawa nafsu.





Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!