القاعدة الثالثة: في الواضح الدلالة
ومراتبه
الواضح الدلالة من
النصوص هو ما دلّ على المراد منه بنفس صيغته من غير توقف على أمر خارجي. فإن كان
يحتمل التأويل والمراد منه ليس هو المقصود أصالة من سياقه، سمّى الظاهر؛ وإن كان
يحتمل التأويل والمراد منه هو المقصود أصلاة من سياقه، سمّي النص؛ وإن كان لا
يحتمل التأويل ويقبل حكمه النسخ، سمّي المفسّر؛ وإن كان لا يحتمل التأويل ولا يقبل
حكمه، سمّي المحكم.
وكل نصّ واضح
الدلالة يجب العمل بما هو واضح الدلالة عليه، ولا يصح تأويل ما يحتمل التأويل منه
إلا بدليل
“Dilalah
yang jelas pada teks-teks syar’i adalah yang menunjukkan kandungan maksudnya
sendiri dengan ungkapannya sendiri tanpa harus menunggu (dikaitkan dengan)
hal-hal di luar teks tersebut. Apabila mengandung takwil dan maksudnya bukan
dari (tendensi) runtutan kalimat, adalah zhahir. Apabila mengandung
takwil dan maksudnya asalnya dari runtutan kalimat, disebut Nash. Apabila
tidak mengandung takwil dan hukumnya dapat menerima naskh, disebut Mufassar.
Apabila tidak mengandung takwil dan hukumnya tidak menerima naskh,
disebut Muhkam.
Setiap teks yang termasuk jelas dilalah-nya (wadhih
ad-dialalah) wajib diamalkan sebab sifat kejelasan dilalah padanya
dan tidak sah pentakwilan untuk kategori yang mengandung takwil kecuali
berdasarkan dalil.”
_
Adapun perbedaan mendasar antara teks yang jelas
dilalah-nya (wadhih ad-dilalah) dan yang tidak jelas (ghair wadhih
dilalah) adalah adanya dilalah yang terdapat pada teks tanpa harus
menunggu/kaitan dengan hal-hal diluar teks tersebut atau adanya sifat
penangguhan/keterkaitan dengan hal-hal di luar teks tersebut. Para ulama ushul
menentukan pembagian wadhih ad-dilalah dengan urutan sebagai berikut:
1.
Zhahir ( الظاهر )
ما دل على المراد منه بنفس صيغته من غير توقف فهم المراد منه على أمر خارجي،
ولم يكن المراد منه هو المقصود أصالة من السياق ويحتمل التأويل.
Yang menunjukkan suatu maksud (langsung) dari ungkapannya sendiri tanpa
harus menunggu (dikaitkan) dengan hal-hal di luarnya, tidak pula yang
dimaksudkannya makna yang datang/berasal dari urutan/rangkaian kalimat dan
(teks zhahir ini) mengandung takwil.
Dengan demikian, teks; “... dan Allah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba (2: 275),” adalah teks zhahir yang menghalalkan setiap jual
beli dan mengharamkan setiap riba, selugas tersurat dari ungkapan
“menghalalkan” dan “mengharamkan” yang tidak harus menunggu adanya keterkaitan
(qarinah) dari hal-hal di luar teks.
2.
Nash ( النص )
ما دل بنفس صيغته على المعنى المقصود أصالة من سياقه، ويحتمل التأويل.
Yang menunjukkan dengan ungkapannya sendiri pada maksud yang terdapat dalam
makna yang datang dari runtutan uraian kalimat dan (juga) mengandung takwil.
Maka setiap makna yang muncul secara langsung dari ungkapan teks tanpa
harus ada keterkaitan (qarinah) dan maksud tersebut datang dari ungkapan
runtutan kalimat disebut nash ‘alaih. Seperti pada teks; “... dan Allah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (2: 275),” me-nash-kan akan
tidak adanya penyerupaan antara jual beli dan riba, sebab demikianlah makna
yang terkandung dari ungkapan yang berasal dari runtutan kalimatnya.
Tanbih: Setiap dalil zhahir dan nash dinilai cukup jelas
dilalahnya dari maknanya tanpa harus ditangguhkan/dikaitkan pada hal-hal
diluarnya dan wajib mengamalkannya sesuai dengan kejelasan dilalah yang
terdapat padanya.
3.
Mufassar ( المفسر )
Mufassar dalam pengertian ahli ushul adalah:
ما دل بنفسه على معناه المفصل تفصيلاً لا يبقى معه احتمال للتأويل
“(Dalil) yang menunjukan
dengan uangkapannya sendiri pada makna tertentu dengan sifat rincian yang tidak
menyisakan ruang untuk takwil.”
Seperti pada Firman Allah SWT; “ ... maka deralah mereka
dengan delapan puluh deraan,” (An-Nur/24: 4) bahwa hitungan yang ditentukan
sama sekali tidak dapat diartikan kurang ataupun lebih.
_
4.
Muhkam ( المحكم )
Muhkam dalam pengertian ahli ushul adalah:
ما دل على معناه الذي لا يقبل إبطالاً ولا تبديلاً بنفسه دلالة واضحة لا يبقى معها
احتمال للتأويل
“(Dalil) yang menunjukkan
dengan ungkapannya sendiri pada makna yang tidak dapat menerima pembatalan,
penggantian dengan sifat penunjukkan yang jelas yang tidak menyisakan ruang
untuk takwil.”
Maka ia tidak boleh ditakwil sama sekali atau
memaknainya dengan makna lain selain makna yang telah dijelaskan padanya. Ia
tidak dapat dinasakh baik pada saat turunnya risalah, pada masa fatrah
ataupun setelah risalah, sebab ketentuan hukum (nyata-nyata) disandarkan
padanya. Adapun hukum-hukum mendasar yang tidak dapat digantikan seperti: hanya
beribadah kepada Allah SWT saja, mengimani rasul-rasul dan Kitab-kitab-Nya,
atau keutamaan-keutamaan pokok yang tidak dapat berubah dengan ihwal
kondisional, seperti berbuat baik kepada orang tua, keadilan, atau suatu hukum far’i
(parsial) yang secara khusus ditetapkan penekanannya di dalam syari’at seperti
hukum tentang orang yang menuduh perempuan baik-baik berzina, yang terdapat
pada Firman Allah SWT; “... janganlah kalian menerima persaksian mereka selamanya,”
(An-Nur/24: 4).
Hukum mengamalkan dalil muhkam adalah wajib secara
mutlak.
* Pengertian takwil adalah:
صرف اللفظ عن ظاهره بدليل
“mengalihkan
makna dari makna zhahir-nya dengan dalil.”
Dan merupakan satu ketetapan bahwa
asal dilalah hukum adalah tidak ada pengalihan makna dari makna zhahir.
Adapun contoh takwil dapat dilihat pada pengecualian hukum jual beli yang telah
ditetapkan (Al-Baqarah/2: 275), yang dikhususkan dengan hadits Rasulullah
s.a.w. tentang jual beli dengan tipuan (gharar).
Ringkasan pembahasan
Abdul Wahhab Al-Khallaf dalam ‘Ilm Ushul Al-Fiqh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!