Manhaj Ta’āhudī

Pendekatan Komitmen Berkelanjutan dalam Tahfizh Al-Qur’an

Manhaj Ta’āhudī adalah suatu pendekatan metodologis dalam tahfizh Al-Qur’an yang dicetuskan oleh Ibnu Rudani Marfu, sebagai manifestasi perintah Rasulullah SAW dalam berkomitmen dengan Al-Quran, untuk membebaskan dari berbagai situasi yang menjadikan Al-Quran mudah terlepas sejak dari sifat bacaan sampai aktualisasi.

Dalam kerangka Manhaj Ta’āhudī, hafalan Al-Qur’an bukan semata sebagai aktivitas teknis kognitif, melainkan sebagai relasi komitmen berkelanjutan (ta’āhud) dengan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan utuh yang harus dihadirkan, dijaga, dan diperbarui keterikatannya secara terus-menerus melalui interaksi yang konsisten dan sadar. Hafalan diposisikan sebagai praktik mulāzamah Al-Qur’an, dengan struktur yang disusun secara menyeluruh, progresif, dan adaptif terhadap daya hafal individu.

Sebagai metode tahfizh, Manhaj Ta’āhudī meniscayakan variabel pokok berikut:

1.    Ta’āhud (komitmen berkelanjutan), yaitu kesediaan memperbarui ikatan dengan Al-Qur’an secara terus-menerus dan keikhlasan niat yang solid, bukan komitmen sesaat.

2.    Mulāzamah Al-Qur’an, berupa keterikatan rutin dan konsisten dalam interaksi harian dengan Al-Qur’an, dalam bentuk disiplin positif dan adab tahfizh – hamalatul quran) dengan indikator pada sikap, ucapan dan tindakan yang mencerminkan nilai-nilai Qurani.

3.    Target dan Muraja’ah terstruktur dan berlapis yang diberlakukan secara progresif yang sepenuhnya berientasi pada penjagaan Al-Quran secara utuh dan berkelanjutan.

4.    Pembiasaan bertahap dan komitmen waktu; membangun keteraturan berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui langkah kecil yang konsisten dan realistis, sehingga disiplin tumbuh dari kesadaran diri.

5.    Validasi pelafalan dengan pendekatan talaqqi dan tahsin terintegrasi sebagai penjagaan ketepatan pelafalan huruf dan kualitas bacaan yang terjaga dari kekeliruan fatal (lahn jaliy).

6.    Penguatan Kebahasaan dan Impelementasi; menghidupkan proses menghafal melalui pengenalan fungsional kebahasaan dan menghadirkan ayat-ayat yang dihafal dalam praktik ibadah, sikap hidup dan dakwah.

7.    Komunitas; sebagai ekosistem pendukung yang menjaga keberlanjutan komitmen, kontrol mutu, dan stabilitas psikologis penghafal. 

            Orientasi manhaj ini tidak bertumpu pada capaian parsial atau kecepatan hafal, melainkan pada ketahanan hafalan, kesinambungan relasi, dan keberlangsungan penjagaan Al-Qur’an sepanjang hayat.

Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!