Tampilkan postingan dengan label Syi'ar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syi'ar. Tampilkan semua postingan

Penggunaan Hitungan Tahun Masehi

 Perhitungan tahun, muhasabah, tasyakur nikmat - dalam kaitan satu sama lainnya sepintas tidak ada kontradiksi atau sifat salah dan sesat. Betapa tidak, perhitungan tahun tak lain gambaran numerik keteraturan ciptaan Allah yang tentunya merupakan satu hal yang harus ditafakkuri. 

Artikel ini dimaksudkan sebagai wacana pengantar untuk pembahasan lain terkait perayaan dan hal-hal lain yang dikakukan dalam siklus penanggalan baik Hijriyah maupun Masehi.

Dalam konteks kekinian, tak jarang dari sekian banyak perayaan yang dibalut dengan ungkapan-ungkapan islami seperti tasyakur, haul, akan tetapi di dalamnya terdapat infiltrasi keyakinan dan ajaran dari luar Islam atau bahkan tak lebih dari sikap latah dan ikut-ikutan. Dalam perkembangannya beberapa kebiasaan tersebut diistilahkan, dibalut dengan istilah dan atau sama sekali diposisikan menyerupai syari'at.

Secara praktis, patut menjadi perhatian, di saat seorang muslim mengundang muslim lain ke satu pesta dikaitkan dengan hak muslim untuk memenuhi undangan, saling mendoakan, yang tentunya akan menjadi hal berbeda di saat pribadi muslim yang lain memahaminya sebagai hal yang tidak baik (baca: maksiat).

Bagi yang mengundang dengan pandangan tak ada salahnya sekedar tasyakur, minta doa, silaturahmi, dan lain- lain sebagainya sebagai apologi atau berlanjut ke vonis pada orang yang tidak datang.

Dari gambaran di atas, setidaknya kita dihadapkan pada:

Pertama, permasalahan terkait epistemologi dan disrupsi ikonik (syi'ar), hukum (syari'at) dan keyakinan (aqidah tauhid) di sisi lain. Sebagai contoh; doa dan saling mendoakan boleh jadi  berbeda ketika dipahami sebagai pengharapan baik, variabel interaksi sosial, atau sekedar basa-basi belaka sementara di dalam ajaran Islam doa diinisiasi sebagai ibadah (ta'abbudi).

Kedua, permasalahan sosial yang muncul dari tidak adanya kesepahaman sesama muslim dan atau pemahaman yang benar.

Islam datang dengan sempurna yang dengan kesempurnaannya orang-orang kafir pun sampai berputus asa (QS Al-Maidah 5: 3). Cukup ironis barangkali,  jika yang terjadi adalah kita mengikuti cara hidup di luar Islam. Terutama terkait hal yang diadopsi atau prilaku tasyabuh dengan orang-orang kafir, tanpa pemahaman yang benar, prilaku tersebut bukanlah persoalan yang patut dianggap remeh. 

Print Friendly and PDF

Ummu Thaha dan Lafazh Allah di Dalam Al-Quran


Namanya banyak disebut di dalam halaqah atau berbagai tulisan dan pembahasan para penghapal Al-Quran. Ia adalah seorang penjahit buta huruf yang telah menjadi inspirasi banyak orang di dalam bermuamalah dengan Al-Quran khususnya untuk menghapalnya, yang dengan begitu nyata menunjukkan kebenaran bahwa Allah SWT sungguh telah memudahkan Al-Quran untuk dipelajari. Ummu Thaha mengispirasikan kita untuk tidak berhenti membaca dan mempelajari Al-Quran bahkan di saat usia senja karena tidaklah sedikit dari kita yang justru berhenti dari membaca Al-Quran, terlebih dari menghapalnya, pada usia-usia tertentu atau bahkan disinyalir tak sedikit pula dari generasi kita saat ini yang berhenti mengaji (termasuk) membaca Al-Quran setelah lulus sekolah dasar.
_
Ada banyak hal yang seringkali menjadi kendala bagi (baca: dijadikan alasan) seseorang sehingga ia berhenti dari membaca Al-Quran atau menghapalnya padahal sebelumnya ia selalu membaca, menghapal dan mempelajarinya. Mulai dari usia, keluarga, pekerjaan, kesibukan atau bahkan hal-hal sepele yang tidak ada nilainya sama sekali seperti hobi, kesenangan atau bahkan sekedar sikap bermalas-malasan sehingga ia seolah-olah tidak memiliki waktu untuk Al-Quran. Dari sekian banyaknya alasan yang dapat dikemukakan tersebut, apabila direnungkan dengan sungguh-sungguh, kita tidak akan pernah menemukan alasan yang benar kecuali bahwa itu adalah satu bentuk kelalaian atau perbuatan dosa.
Allah SWT berfirman:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ [٤٣: ٣٦]
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf/43: 36)
Lalai dari Al-Quran di ayat lain dirangkaikan dengan hal-hal buruk yang sangat bertolak belakang dengan substansi keimanan, yakni dalam firman Allah SWT:
إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ؛ أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [١٠: ٧-٨]
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus/10: 7-8)
Atau, barangkali di luar alasan-alasan yang biasa dikemukakan seperti di atas, adakah seseorang yang mengatakan bahwa ia sudah “tidak perlu” lagi membaca Al-Quran? Perkataan seperti ini sangatlah merendahkan Al-Quran dan di samping itu pula ia sungguh menyepelekan suatu kebaikan luar biasa yang oleh Rasulullah s.a.w. diungkapkan seperti ini:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ (رواه الترمذي عن ابن مسعود، برقم: ٢٩١٠)
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, baginya ditetapkan satu kebaikan dan kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (Riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a., nomor 2910)
Apa yang membuat orang berhenti membaca atau menghapal Al-Quran boleh jadi, sebagaimana dapat dilihat dari dua ayat yang disebutkan di atas, tak lain karena ia cenderung menafikan perjumpaan dengan Allah SWT atau bahwa ia benar-benar dibuat berkawan dengan syetan. Ma’aadzallaah. Perjumpaan dengan Allah, yang tak lain adalah saat seseorang akan dihadapkan dengan perhitungan amal kebaikannya, tentu tidak akan menjadi dambaan seseorang jika ia cenderung melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pahala kebaikan besar yang dapat dengan mudahnya ia raih. Demikian pula sebagaimana ia dibuat berkawan dengan syetan karena berpaling dari Al-Quran, tak akan mudah baginya untuk senantiasa dapat melihat, memilih, melakukan hal-hal yang semestinya ia lakukan (yakni kebaikan) di dalam hidupnya.
_

Apa yang membuat seseorang berpaling dari Al-Quran, terutama bagi yang sebelumnya justru begitu mahir membaca bahkan menghapalnya, sangatlah besar karena niatnya yang tidak kuat. Niat kuat yang dimaksud adalah niat karena Allah SWT, karena tidak ada sesuatu yang lain yang pantas untuk dijadikan tujuan seseorang selain Allah SWT dan tidak akan ada yang dapat menggantikan tempat Allah SWT di hati seorang beriman dalam meraih kebaikan dengan apa saja yang dapat diperbuatnya.
Adalah seorang Ummu Thaha, yang meskipun ia buta huruf dan telah lanjut usia, yang sungguh berbahagia karena telah dikaruniai Allah dengan hapalan Quran 30 Juz. Kuatnya niat Ummu Thaha dapat dilihat dari hal pertama yang ia lakukan ketika pertama kalinya ia minta diajari Al-Quran dengan diperkenalkan pada lafazh Allah SWT dan disebutkan bahwa hal pertama yang dilakukannya adalah ia menjiplak seluruh lafazh Allah di dalam Al-Quran. Tak lama setelah itu ia mendapatkan hasrat kuat untuk lebih jauh lagi mempelajari Al-Quran sampai dapat menyelesaikan hapalan Al-Quran 30 Juz.




Print Friendly and PDF

Hikmah Shalat Berjama’ah

Bahwasannya hikmah di dalam shalat berjamaah merupakan hikmah dan karunia yang sangat besar dan apabila seseorang dapat memahaminya dengan baik sungguh ia akan mendapatkan kesadaran bahwa dengan berjamaah tersebut Allah memberi nikmat paling besar yaitu nikmat iman. Berbeda dengan shalat munfarid, yang merupakan sifat menyendiri yang bertentangan dengan prinsip sosial dan kesatuan umat.
Oleh karena itulah, sebagaimana telah dipahami secara umum, Allah menetapkan keutamaan shalat berjama’ah  jauh di atas sifat shalat munfarid. Di dalam shalat berjamaah terdapat nilai-nilai yang harus dipahami secara luas dalam kaitannya dengan persaudaraan dan persatuan umat.

Di antara beberapa ungkapan hadits Rasulullah s.a.w. mengenai shalat berjama’ah mensiratkan hikmah-hikmah yang besar bagi orang yang melakukannya. Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ، وَلَا بَدْوٍ، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ، إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ (رواه أحمد وأبو داود)
“Tidaklah tiga orang yang tinggal dalam suatu kampung yang tidak didirikan shalat (berjamaah) oleh mereka, kecuali bahwa disanalah setan telah menguasai mereka. Maka berjamaahlah kalian, sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang terpisah dari kawanannya.” (Riwayat Ahmad dan Abu Daud)

Dari hadits tersebut digambarkan dengan jelas bagaimana shalat berjamaah dapat menjadi diri seseorang dari syetan. Dengan berjamaah seseorang akan mendapat kekuatan besar untuk melawan syetan. Sehingga setan justru menjadi segan untuk menggoda, layaknya hewan buas yang menjadi ciut nyalinya karena melihat kawanan ternak yang bergerombol meskipun ternak tersebut biasanya lebih mudah untuk dimangsa.
Rasulullah s.a.w. juga mengatakan:

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ، وَحَاذُوا بَيْنَ المَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الخَلَلَ، وَلِيْنُوا بِأَيْدِي إخْوَانِكُمْ، وَلا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفّاً وَصَلَهُ الله، وَمَنْ قَطَعَ صَفّاً قَطَعَهُ الله (أخرجه أبو داود والنسائي)
“Luruskanlah shaff-shaff, sejajarkan pundak-pundak, tutuplah celah-celah dan tautkanlah dengan tangan-tangan saudara kalian. Dan jangan biarkan ada celah-celah bagi syetan. Barang siapa yang menyambungkan shaff maka Allah akan menyambungkan (silaturahminya) dan barangsiapa yang memutus shaff maka Allah akan memutusnya. (Riwayat Abu Daud dan Nasai)

Di antara kesempatan yang sering digunakan syetan untuk menggoda seseorang adalah dengan memasuki celah-celah dan sifat lengang dari barisan dan keadaan orang-orang beriman. Celah-celah tersebut dapat berupa hal-hal buruk, perkataan tidak baik yang dilontarkan dalam percakapan, digunakan syetan untuk menimbulkan perselisihan (lih. QS. 17: 53).

عن أبي مسعود رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله - صلى الله عليه وسلم - يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاةِ وَيَقُولُ: «اسْتَوُوا وَلا تَخْتَلِفُوا، فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، لِيَلِنِي مِنْكُمْ أولُو الأحْلامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ» (رواه مسلم)
Dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata, Rasulullah s.a.w. menepuk pundak-pundak kami ketika shalat dan berkata, “luruskanlah dan jangan (sampai tampak) saling menyelisihi, maka (jika tidak lurus) hati kalian akan saling menyelisihi. Hendaklah (berjajar) di belakangku orang-orang yang (lebih) dewasa dan paling memahami, kemudian orang-orang yang di bawahnya, kemudian yang di bawahnya (dalam kedewasaan dan pemahaman). (Riwayat Muslim)
_


Di antaranya kita dapat melihat bagaimana tatanan sosial dan gambaran kaum muslimin di dalam satu kesatuan shaff di belakang satu pimpinan (imam). Kebersamaan tersebut tidak membeda-bedakan latar belakang kekayaan dan urusan duniawi lainnya, semua berdampingan tanpa ada pembeda atau sekat yang memisahkan. Dengan demikian kemudian prinsip kesetaraan, yang merupakan satu kaidah mendasar di dalam Islam, dapat diwujudkan.
Hikmah lain yang terkandung dalam shalat berjamaah adalah bagaimana umat Islam bisa dipersatukan meskipun satu sama lain tidak saling mengenal. Dalam mengambil shaff shalat setiap orang mengambil tempat tanpa mempertimbangkan di samping siapa, bersama siapa atau tempat siapa yang dipijak.
Sebagai catatan penting, untuk dapat memperoleh hikmah-hikmah tersebut, seyogyanya kita benar-benar memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam shalat berjama’ah. Tanpa memperhatikan ketentuan-ketentuan tersebut, ma’adzallah, bisa jadi sifat kebersamaan dan kesatuan yang kita wujudkan hanya menjadi buih lautan yang terombang-ambing. Dan sebaliknya, dengan memenuhi segala ketentuan dalam shalat bejamaah, kesatuan dan solidaritas umat dapat terwujud pula dengan baik karena shalat merupakan tolok ukur segala amal dan perbuatan.


Print Friendly and PDF