Ummu Thaha dan Lafazh Allah di Dalam Al-Quran


Namanya banyak disebut di dalam halaqah atau berbagai tulisan dan pembahasan para penghapal Al-Quran. Ia adalah seorang penjahit buta huruf yang telah menjadi inspirasi banyak orang di dalam bermuamalah dengan Al-Quran khususnya untuk menghapalnya, yang dengan begitu nyata menunjukkan kebenaran bahwa Allah SWT sungguh telah memudahkan Al-Quran untuk dipelajari. Ummu Thaha mengispirasikan kita untuk tidak berhenti membaca dan mempelajari Al-Quran bahkan di saat usia senja karena tidaklah sedikit dari kita yang justru berhenti dari membaca Al-Quran, terlebih dari menghapalnya, pada usia-usia tertentu atau bahkan disinyalir tak sedikit pula dari generasi kita saat ini yang berhenti mengaji (termasuk) membaca Al-Quran setelah lulus sekolah dasar.
_
Ada banyak hal yang seringkali menjadi kendala bagi (baca: dijadikan alasan) seseorang sehingga ia berhenti dari membaca Al-Quran atau menghapalnya padahal sebelumnya ia selalu membaca, menghapal dan mempelajarinya. Mulai dari usia, keluarga, pekerjaan, kesibukan atau bahkan hal-hal sepele yang tidak ada nilainya sama sekali seperti hobi, kesenangan atau bahkan sekedar sikap bermalas-malasan sehingga ia seolah-olah tidak memiliki waktu untuk Al-Quran. Dari sekian banyaknya alasan yang dapat dikemukakan tersebut, apabila direnungkan dengan sungguh-sungguh, kita tidak akan pernah menemukan alasan yang benar kecuali bahwa itu adalah satu bentuk kelalaian atau perbuatan dosa.
Allah SWT berfirman:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ [٤٣: ٣٦]
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf/43: 36)
Lalai dari Al-Quran di ayat lain dirangkaikan dengan hal-hal buruk yang sangat bertolak belakang dengan substansi keimanan, yakni dalam firman Allah SWT:
إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ؛ أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [١٠: ٧-٨]
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus/10: 7-8)
Atau, barangkali di luar alasan-alasan yang biasa dikemukakan seperti di atas, adakah seseorang yang mengatakan bahwa ia sudah “tidak perlu” lagi membaca Al-Quran? Perkataan seperti ini sangatlah merendahkan Al-Quran dan di samping itu pula ia sungguh menyepelekan suatu kebaikan luar biasa yang oleh Rasulullah s.a.w. diungkapkan seperti ini:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ (رواه الترمذي عن ابن مسعود، برقم: ٢٩١٠)
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, baginya ditetapkan satu kebaikan dan kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (Riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a., nomor 2910)
Apa yang membuat orang berhenti membaca atau menghapal Al-Quran boleh jadi, sebagaimana dapat dilihat dari dua ayat yang disebutkan di atas, tak lain karena ia cenderung menafikan perjumpaan dengan Allah SWT atau bahwa ia benar-benar dibuat berkawan dengan syetan. Ma’aadzallaah. Perjumpaan dengan Allah, yang tak lain adalah saat seseorang akan dihadapkan dengan perhitungan amal kebaikannya, tentu tidak akan menjadi dambaan seseorang jika ia cenderung melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pahala kebaikan besar yang dapat dengan mudahnya ia raih. Demikian pula sebagaimana ia dibuat berkawan dengan syetan karena berpaling dari Al-Quran, tak akan mudah baginya untuk senantiasa dapat melihat, memilih, melakukan hal-hal yang semestinya ia lakukan (yakni kebaikan) di dalam hidupnya.
_

Apa yang membuat seseorang berpaling dari Al-Quran, terutama bagi yang sebelumnya justru begitu mahir membaca bahkan menghapalnya, sangatlah besar karena niatnya yang tidak kuat. Niat kuat yang dimaksud adalah niat karena Allah SWT, karena tidak ada sesuatu yang lain yang pantas untuk dijadikan tujuan seseorang selain Allah SWT dan tidak akan ada yang dapat menggantikan tempat Allah SWT di hati seorang beriman dalam meraih kebaikan dengan apa saja yang dapat diperbuatnya.
Adalah seorang Ummu Thaha, yang meskipun ia buta huruf dan telah lanjut usia, yang sungguh berbahagia karena telah dikaruniai Allah dengan hapalan Quran 30 Juz. Kuatnya niat Ummu Thaha dapat dilihat dari hal pertama yang ia lakukan ketika pertama kalinya ia minta diajari Al-Quran dengan diperkenalkan pada lafazh Allah SWT dan disebutkan bahwa hal pertama yang dilakukannya adalah ia menjiplak seluruh lafazh Allah di dalam Al-Quran. Tak lama setelah itu ia mendapatkan hasrat kuat untuk lebih jauh lagi mempelajari Al-Quran sampai dapat menyelesaikan hapalan Al-Quran 30 Juz.




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!