Bahwasannya hikmah di dalam shalat berjamaah merupakan
hikmah dan karunia yang sangat besar dan apabila seseorang dapat memahaminya
dengan baik sungguh ia akan mendapatkan kesadaran bahwa dengan berjamaah
tersebut Allah memberi nikmat paling besar yaitu nikmat iman. Berbeda dengan
shalat munfarid, yang merupakan sifat menyendiri yang bertentangan dengan
prinsip sosial dan kesatuan umat.
Oleh karena itulah, sebagaimana telah dipahami secara
umum, Allah menetapkan
keutamaan shalat berjama’ah jauh di atas sifat
shalat munfarid. Di dalam shalat berjamaah terdapat nilai-nilai yang harus
dipahami secara luas dalam kaitannya dengan persaudaraan dan persatuan umat.
Di antara beberapa ungkapan hadits Rasulullah s.a.w.
mengenai shalat berjama’ah mensiratkan hikmah-hikmah yang besar bagi orang yang
melakukannya. Rasulullah s.a.w. bersabda:
مَا مِنْ
ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ، وَلَا بَدْوٍ، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ، إِلَّا
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا
يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ (رواه أحمد
وأبو داود)
“Tidaklah tiga orang yang tinggal dalam suatu kampung
yang tidak didirikan shalat (berjamaah) oleh mereka, kecuali bahwa disanalah
setan telah menguasai mereka. Maka berjamaahlah kalian, sesungguhnya serigala
hanya memakan kambing yang terpisah dari kawanannya.” (Riwayat Ahmad dan Abu
Daud)
Dari hadits tersebut digambarkan dengan jelas bagaimana
shalat berjamaah dapat menjadi diri seseorang dari syetan. Dengan berjamaah
seseorang akan mendapat kekuatan besar untuk melawan syetan. Sehingga setan
justru menjadi segan untuk menggoda, layaknya hewan buas yang menjadi ciut
nyalinya karena melihat kawanan ternak yang bergerombol meskipun ternak
tersebut biasanya lebih mudah untuk dimangsa.
Rasulullah s.a.w. juga mengatakan:
أَقِيمُوا الصُّفُوفَ، وَحَاذُوا بَيْنَ المَنَاكِبِ،
وَسُدُّوا الخَلَلَ، وَلِيْنُوا بِأَيْدِي إخْوَانِكُمْ، وَلا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ
لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفّاً وَصَلَهُ الله، وَمَنْ قَطَعَ صَفّاً
قَطَعَهُ الله (أخرجه أبو داود والنسائي)
“Luruskanlah shaff-shaff, sejajarkan
pundak-pundak, tutuplah celah-celah dan tautkanlah dengan tangan-tangan saudara
kalian. Dan jangan biarkan ada celah-celah bagi syetan. Barang siapa yang
menyambungkan shaff maka Allah akan menyambungkan (silaturahminya) dan
barangsiapa yang memutus shaff maka Allah akan memutusnya. (Riwayat Abu
Daud dan Nasai)
Di antara kesempatan yang sering digunakan syetan untuk
menggoda seseorang adalah dengan memasuki celah-celah dan sifat lengang dari barisan
dan keadaan orang-orang beriman. Celah-celah tersebut dapat berupa hal-hal
buruk, perkataan tidak baik yang dilontarkan dalam percakapan, digunakan syetan
untuk menimbulkan perselisihan (lih. QS. 17: 53).
عن أبي مسعود رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله - صلى
الله عليه وسلم - يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاةِ وَيَقُولُ: «اسْتَوُوا وَلا
تَخْتَلِفُوا، فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، لِيَلِنِي مِنْكُمْ أولُو الأحْلامِ
وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ» (رواه
مسلم)
Dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata, Rasulullah s.a.w.
menepuk pundak-pundak kami ketika shalat dan berkata, “luruskanlah dan jangan (sampai
tampak) saling menyelisihi, maka (jika tidak lurus) hati kalian akan saling
menyelisihi. Hendaklah (berjajar) di belakangku orang-orang yang (lebih) dewasa
dan paling memahami, kemudian orang-orang yang di bawahnya, kemudian yang di
bawahnya (dalam kedewasaan dan pemahaman). (Riwayat Muslim)
_
Di antaranya kita dapat melihat bagaimana tatanan sosial
dan gambaran kaum muslimin di dalam satu kesatuan shaff di belakang satu
pimpinan (imam). Kebersamaan tersebut tidak membeda-bedakan latar belakang
kekayaan dan urusan duniawi lainnya, semua berdampingan tanpa ada pembeda atau
sekat yang memisahkan. Dengan demikian kemudian prinsip kesetaraan, yang
merupakan satu kaidah mendasar di dalam Islam, dapat diwujudkan.
Hikmah lain yang terkandung dalam shalat berjamaah adalah
bagaimana umat Islam bisa dipersatukan meskipun satu sama lain tidak saling
mengenal. Dalam mengambil shaff shalat setiap orang mengambil tempat
tanpa mempertimbangkan di samping siapa, bersama siapa atau tempat siapa yang
dipijak.
Sebagai catatan penting, untuk dapat memperoleh
hikmah-hikmah tersebut, seyogyanya kita benar-benar memperhatikan
ketentuan-ketentuan dalam shalat berjama’ah. Tanpa memperhatikan
ketentuan-ketentuan tersebut, ma’adzallah, bisa jadi sifat kebersamaan
dan kesatuan yang kita wujudkan hanya menjadi buih lautan yang
terombang-ambing. Dan sebaliknya, dengan memenuhi segala ketentuan dalam shalat
bejamaah, kesatuan dan solidaritas umat dapat terwujud pula dengan baik karena
shalat merupakan tolok ukur segala amal dan perbuatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!