Anak Nakal (yang) Tidak Diinginkan?

Persoalan anak sekarang ini banyak dikeluhkan orang tua, terutama di saat anak menunjukkan perilaku yang dianggap menjengkelkan. Kenakalan remaja, salah satu bentuk persoalan yang saat ini masih mengemuka, merupakan salah satu kondisi yang banyak dikeluhkan mengingat bentuk-bentuk aksi yang bersifat melampaui batas. Beberapa orang tua cenderung melakukan penilaian komparatif dengan membandingkan karakter anak dengan masa mudanya. Sebagian lain cenderung apriori dan bersikap abai karena merasa tidak mempunyai kemampuan atau keputusasaan akan perbaikan pada diri anak. Dan tidak sedikit pula yang melakukan tindakan otoriter dan ekstrem dengan membatasi segala bentuk aktivitas anak.
Orang tua dihadapkan pada masa dimana perkembangan anak boleh jadi menjadi tidak terkendali yang salah satunya disebabkan oleh perkembangan zaman dan segala inovasinya. Perangkat informasi dan teknologi, sebagai contoh, dengan akses yang tidak terbatas dan segala bentuk fasilitas yang bisa diperoleh dengannya seringkali membuat ‘kalap’ orang tua. Belum lagi dengan permasalahan prilaku, apakah itu diketahui atau tidak, sudah tentu semakin menempatkan orang tua semakin tidak berdaya dan melepaskan tanggung jawab.

Anak-anak (milik dan untuk) Orang Tua
Bagaimanapun kondisi dan prilaku anak, seyogyanya kita tetap mengingat dua hal penting yang menjadi latar belakang sang anak, yaitu:
a.         Bahwa mereka adalah anak-anak kita
Secara sederhana kita cukup tahu bahwa ‘sumber’ anak adalah orang tua. Segala bentuk potensi yang dimilikinya nyata-nyata bersumber dari orang tua. Apakah itu persoalan genetik, sosial, finansial dan (termasuk) pikiran yang dimilikinya. Orang tua – disadari atau tidak – dalam rentang waktu tertentu dapat diibaratkan sebagai bahan baku yang kemudian membentuk anak. Pada prinsipnya, untuk tidak mengatakan sebagai korban, anak adalah konsekuensi dari tindakan/keberadaan orang tua.
b.        Bahwa mereka adalah titipan Tuhan
Titipan, sebagai gambaran untuk menyederhanakan sifat independen anak, ia bukanlah sesuatu yang dimiliki untuk diperlakukan sesuka hati atau asal menyenangkan saja. Titipan berarti tanggung jawab atas kepercayaan dan sekali lagi, sebagai konsekuensi, urgensi dalam menempatkan anak sebagai titipan Tuhan akan menempatkan kita pada kesadaran akan pentingnya bertindak benar dalam mensikapi anak.

Harga setelah Tiada
Sebuah tembang dilantunkan untuk mengungkapkan rasa kehilangan berbunyi: “... kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga...”. Menyadari sesuatu di saat kehilangannya, bukanlah kenisbian yang berlaku dalam segala sesuatu. Bahwa sesuatu itu berharga, untuk menjadi berharga, tidaklah harus menunggu ketiadaannya. Suatu aset produktif, seumpama menyangkut harga nominatif, akan lebih dirasakan nilainya daripada keberadaan sebaliknya atau bahkan boleh jadi diabaikan. Menjadikannya produktif (bermanfaat baik) adalah bentuk ungkapan syukur yang dipastikan akan membawa pada kebaikan atau rasa nikmat yang lebih besar. Anak boleh jadi tidak mendapatkan perlakuan semestinya sehingga orang cenderung tidak dapat menyadari ‘harga’ yang melekat padanya.
Banyak fakta menunjukkan sikap yang tidak menghargai anak dari cara yang tidak disadari bahkan sampai perlakuan ekstrem seperti penyiksaan atau bahkan menghilangkan nyawa anak. Yang pasti, tindakan tersebut pada dasarnya bukan dengan tujuan untuk mencari ‘harga’ dari anak itu sendiri. Perlakuan tersebut boleh jadi diawali dengan penilaian atas anak sebagai malapetaka (fitnah). Padahal, bukan dalam pengertian yang sebenarnya, fitnah yang terdapat pada sang anak sejatinya terkait dengan perlakuan yang datang dari orang tua sendiri. Bentuk kenakalan, sebagai contoh, yang seringkali menjadi hal yang tidak disukai orang tua sangatlah mungkin lahir dari perlakuan orang tua sendiri terhadap anak sebelumnya. Bagaimanapun, segala sesuatu yang menjadi sumber (dan lebih dominan berasal dari orang tua) adalah hal yang akan membentuk anak.  

Berbuat baik Kepada Anak
Kebaikan orang tua adalah naluri yang tertanam dengan kuat dalam setiap makhluk yang bereproduksi seperti manusia. Namun, jika nilai baik itu sendiri telah menjadi kabur, tindakan yang dianggap baik tersebut (padahal tidak) tentu akan menjadi persoalan yang bertentangan dengan inti dari kebaikan naluriah tersebut. Hal itu terjadi karena terdapat beberapa prinsip penting yang seringkali diabaikan dalam mendefinisikan kebaikan atau paradigma yang mendasari tindak atau sikap tertentu. Beberapa hal prinsip, dalam hubungan dengan anak, yang seyogyanya diperhatikan, antara lain:
1)        Anak dari ketiadaan
Menyadari ihwal penciptaan oleh Sang Pencipta adalah yang tidak boleh luput sama sekali dalam segala sesuatu termasuk dalam keberadaan anak. Seyogyanya kita mampu menyumberkan segala sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan anak, tumbuhnya, pendewasaannya (pendidikan), dan apa saja yang dicita-citakan dengan dan olehnya, senantiasa sejalan dengan kehendak-Nya adalah kenisbian mutlak yang harus dipenuhi.
2)        Anak sejak ia berada
Sejak detik pertama, bahkan sebelumnya, adalah hal-hal yang akan menentukan bagaimana anak akan menjadi dan terbentuk. Kebaikan itu sudah harus dilakukan bahkan sebelum proses reproduksi (hubungan seks) dilakukan yang salah satunya dengan memulainya dengan do’a. Pada masa pembentukan janin, tindakan dan sikap orang tua sangatlah berperan penting dalam membentuk karakter bahkan kemampuan yang nanti akan dimiliki sang anak. Janin tidak hanya membutuhkan asupan gizi melalui ibunya karena di samping itu ada kebutuhan yang tak kalah penting yang harus didapatkannya.
3)        Anak yang tumbuh
Pertumbuhan adalah proses panjang yang selain membentuk sang anak juga membentuk relasi dengan orang tuanya. Pada proses ini orang tua sudah mendapatkan respon dan timbal balik. Penting sekali untuk mengetahui apa yang benar untuk dilakukan dan menghindari hal-hal sebaliknya. Dan yang seringkali terjadi adalah, sikap yang dianggap benar yang tidak tepat yang seringkali lebih membekas pada diri anak yang berakibat fatal.
Memanjakan anak, sebagai contoh, seringkali diidentikkan dengan kasih sayang dan hal yang baik untuk anak atau sebaliknya, sikap keras yang justru menempatkan anak pada kondisi tertekan dan stres. Atau kecenderungan otoriter sebagian orang tua yang cenderung mengarahkan anak hanya secara lisan atau perintah saja tanpa memberikan teladan sementara anak memiliki kecenderungan untuk meniru. Sifat pengaruh yang melekat pada anak dari contoh-contoh ini seringkali bersifat halus dan berjangka panjang. Anak terbentuk dan secara diam-diam mempelajari sesuatu yang nyaris tidak disadari orang tuanya sehingga ia kemudia terbentuk menjadi karakter yang ‘mengagetkan’ orang tuanya.  
4)        Perubahan Anak
Fakta bahwa pengaruh dari luar dalam memberikan kontribusi pada pembentukan karakter anak bukanlah hal aneh yang seringkali menjadi permasalahan. Namun, masih terkait dengan orang tua, perubahan yang terjadi pada anak adalah implikasi lain dari pola-pola relasi yang terbangun antara anak dengan orang tua. Rasa kepercayaan pada relasi tersebut sangat berpengaruh penting pada kecenderungan anak untuk menerima atau menolak berbagai pengaruh besar yang datang dari lingkungan anak di luar keluarga. Solusi yang dicari secara ‘liar’, pada dasarnya mengindikasikan tidak adanya solusi pada lingkup keluarga atau dari orang tua anak.
Dan hal lain yang patut untuk diperhatikan adalah kemampuan untuk memahami dunia anak dan perkembangannya. Orang tua yang cenderung menutup diri akan hal-hal yang menjadi lingkungan sosial sang anak akan dihadapkan pada berbagai kesulitan dan permasalahan dalam membangun relasi dengan anak.
5)        Ketiadaan Anak
Ketiadaan, dalam pengertian sangat luas, adalah ketidakhadiran anak secara fisik. Ketiadaan anak merupakan kenisbian sebagaimana hal itu melekat pada setiap yang hidup. Ketiadaan seringkali menjadi momok yang menakutkan yang mendorong orang untuk melakukan tindakan protektif secara berlebihan. Mensikapi secara positif, apakah terkait dengan ihwal kematian, proses hidup yang mengharuskan itu, atau hal-hal lain, bukanlah hal buruk yang harus diantisipasi oleh orang tua. Sikap posesif, protektif atau kecenderungan untuk membuka diri merupakan sikap berlebihan yang tidak diperlukan mengingat kebutuhan sang anak dan substansi lain yang bersifat universal, ia hanyalah titipan yang tidak untuk dimiliki selamanya.
Namun, kebijaksanaan Tuhan menegaskan, ada hal yang abadi yang dapat diraih oleh orang tua melebihi keberadaan sang anak secara lahir, adalah kebaikan-kebaikan yang melekat pada sang anak. Dan tentunya, kebaikan tersebut, adalah apa yang diupayakan orang tuanya sepanjang kesempatan itu diberikan oleh Tuhan.

Epilog

Sebagai catatan akhir, bukan hanya orang tua yang diciptakan dengan kebaikan, karena demikian pula anak-anak diciptakan dengan banyak potensi kebaikan. Anak dipastikan dapat menjadi aset kebaikan yang akan terus dirasakan orang tuanya bahkan di saat orang tua tak mampu berbuat apa-apa. Anak dapat menolong orang tua (syafa’at) di saat orang tua benar-benar membutuhkan pertolongan kelak.
Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!