بســــم
الله والحمد لله وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصلاة والسلام على الرسول
المصطفى وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
إِنَّ
هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ
الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا ؛ وَأَنَّ
الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنا لَهُمْ عَذاباً أَلِيماً [۱٧: ٩-۱٠]
? Cinta Allah dan Karunia-Nya
Sudah diketahui dapat dimafhum, bagaimana
nilai kebaikan diterima seseorang dan apa hal terbaik yang kemudian dijadikan
ukuran, mencerminkan apa yang menjadi pandangan hidupnya atau bahkan menyangkut
tujuan hidup. Kita boleh jadi mengukur ‘hidup’ dengan nominal uang yang
tersimpan di bank, boleh jadi dengan update konsumsi/belanja berbagai
hal, pencapaian karir, prestise dan banyak lagi yang dapat dijadikan acuan
dalam menakar keberhasilan. Dan sebaliknya, ada banyak hal yang sebaliknya,
dijadikan indikasi ‘kegagalan’ yang disesali, yang seringkali menafikan sudut
pandang nilai-nilai ruhiyah (agama) atau bahkan tidak disangkutpautkan sama
sekali.
Di balik pencapaian yang diraih, atau
sebaliknya, secara sederhana bisa saja kita sederhanakan dalam ungkapan yang
semestinya mengakar dalam diri kita adalah ucapan alhamdulillah. Dalam
kata tersebut terdapat kemampuan untuk menyumberkan hidup dan pengukuhan akan
tujuan hidup seseorang yang akan membawanya pada kebaikan yang lebih luas. Hal
ini barangkali yang diungkapkan Rasulullah s.a.w. sebagai kebaikan yang diraih
oleh orang yang beriman dalam segala hal, beliau berkata:
«عجبا لأمر المؤمن، إن أمره
كله خير، وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن، إن أصابته سراء شكر، فكان خيرا له، وإن أصابته
ضراء، صبر فكان خيرا له» مسلم
“Sungguh
mengagumkan kedaan orang beriman! Segala sesuatu tentangnya adalah kebaikan dan
hal itu hanya terdapat pada orang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan ia
bersyukur, itulah yang membawa kebaikan baginya. Dan jika ditimpa kemalangan ia
bersabar, itu pula yang membawanya pada kebaikan.”
? Perkembangan Zaman dan Fitnahnya
Secara umum kita dapat menakar berbagai pencapaian
dan dengan atau tidak secara langsung menakar pencapaian diri. Bahkan dalam hal
yang bersifat global dengan berbagai perkembangan yang nyaris tidak dapat
diikuti sekalipun, suka atau tidak suka, bukanlah hal yang mudah untuk
dipungkiri sebagai hal baik yang terjadi. Bayangkan saja, sekedar contoh, bahwa
berbagai kemudahan dapat dilakukan jauh dari yang dapat dibayangkan dalam satu
genggaman ponsel dengan berbagai fitur yang kini telah menjadi masif. Berbagai hal,
meskipun tidak semuanya, kini tampaknya cukup diatasi dengan usapan jari saja.
Dalam hal mendapatkan kemudahan, kita
boleh jadi luput dalam hal atau untuk apa sajakah kemudahan itu? Boleh jadi
seseorang hanya berorientasi pada kesenangan belaka, keuntungan belaka, gelamor
semata atau apa saja yang dapat dilakukan dengan segenggam ponsel tanpa dapat
melihat kaitannya dengan keberagamaan kita.
Hanya sebuah ponsel. Tetapi bahwa di balik
semua itu banyak hal terjadi, baik atau buruk, bahkan boleh jadi hal yang tidak
pernah dibayangkan sekalipun. Tapi tak dapat kita nafikan bahwa dalam segenggam
itulah kitapun cukup tahu bahwa terdapat hal yang sangat mengerikan terjadi. Dalam
kaitan dengan agama, dengan seperti yang diungkapkan Ibn Katsir dalam tafisrnya,
bukankah itu adalah fitnah yang dapat menjauhkan seseorang dari
agamanya?
? Dzikir dan Amal Manusia
Dzikir menegasikan lupa dan luputnya
substansi ketuhanan pada diri kita. Lupa, bukan dalam kapasitas yang dapat ‘dimaklumi’,
dalam hal ini lebih mengarah pada tindakan melupakan atau mengabaikan. Sementara
luput adalah manifestasi keimanan dalam diri secara mutlak. Dzikir, dengan
makna yang lebih luas, pada dasarnya adalah wujud konsistensi seorang manusia
dalam bertuhan.
Syukur dan sabar pada prinsipnya bermuara
pada konsistensi seseorang dalam bertauhid kepada Allah karena keduanya mengacu
pada kemampuan untuk bersikap atau bertindak sesuai dengan kehendak Allah.
Allah menjanjikan kebaikan untuk itu dan demikianlah, pada dasarnya yang
menjadi sumber kebaikan bukan pada persoalan apa yang diraih atau tidak diraih
dari segala ihwal duniawi, akan tetapi apa yang digambarkan Rasulullah hanya
diberikan kepada orang yang dicintai Allah saja:
«إِنَّ
اللَّهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ، كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ،
وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا
يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ
الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ...» رواه ابن شيبة
“Sesungguhnya Allah membentuk akhlak
kalian sebagaimana Dia menentukan rejeki kalian. (Akan tetapi) Allah memberikan
rizki kepada orang yang dicintai dan tidak dicintai, sementara (di sisi lain)
Allah tidaklah mengkaruniakan agama (hidayah) kecuali kepada orang yang
dicintainya. Maka barangsiapa yang diberi Allah kebaikan agama, sungguh ia
telah mendapatkan kecintaan Allah.”
Kebaikan dalam hal ini adalah sifat mutlak
kebaikan hakiki yang seyogyanya diraih oleh setiap individu manusia. Dalam berketuhanan,
totalitas kebaikan seseorang adalah menggapai kecintaan Allah SWT. Menggapai cinta
Allah, berbeda dengan hal-hal yang biasa dapat ditakar, tidaklah menggunakan
nominatif saldo tabungan, atau popuraitas dan prestise tertentu, atau apa saja
yang dapat diukur, tidak sekonkret (dalam pandangan kita) justru boleh jadi
tidak mendapat perhatian sama sekali pada pengaruhnya jauh lebih besar dan luas lagi.
? Keutamaan dan Hikmah Membaca Al-Quran
Salah satu hikmah yang terdapat dalam
Al-Quran adalah agar manusia kemudian berdzikir dengannya. Dengan demikian,
dengan pengertian dzikir yang saya – pen. – ungkapkan di atas, Ibnu Mas’ud r.a.
menjadikannya sebagai tolok ukur kebaikan dengan menggapai kecintaan Allah. Beliau
mengatakan:
مَنْ أَحَبَّ
أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ
يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ
“Barang siapa yang senang dengan
mengetahui rasa cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia memperhatikan
bahwa jika ia termasuk orang yang menyukai Al-Quran sungguh bukti cintanya
kepada Allah dan Rasulnya.
Nabi s.a.w. juga mengatakan keistimewaan
dalam hal tersebut:
“Sebaik-baik orang dari kalian adalah
orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (kepada yang lain).”
Dan Allah menegaskan:
إِنَّ
الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن ٌ [فاطر\35: 29]
“Sesungguhnya orang-orang yang membaca
kitabullah (Al-Quran) dan mendirikan shalat serta menafkahkan rejeki yang kami
berikan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, merekalah yang akan
mendapatkan perniagaan yang tidak akan merugi... (35: 29)
? Al-Quran (pun) Dimudahkan
Dalam hal merebaknya fitnah yang berakumulasi
dengan pesatnya perkembangan zaman yang memanjakan prilaku hedonis dan tidak
pantas, sesungguhnya kita memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat untuk
menghadapinya yaitu Al-Quran. Allah berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh kami telah memudahkan
Al-Quran untuk ber-dzikir. Apakah orang mau berdzikir karenanya?” (54:
17)
Kita bisa melihat, betapa kita Al-Quran
lebih mudah untuk dapat dibaca, didengarkan, disimak, dipelajari dan apapun itu
tentangnya dalam hal dengan pesatnya perkembangan ‘segenggam ponsel’. Tetapi persoalannya, apakah kita termasuk orang ber-dzikir?
? Epilog
Rasulullah s.a.w. berkata:
إن الله يرفع
بهذا الكتاب أقواماً ويضع به آخرين (مسلم)
“Sesungguhnya dengan Al-Quran ini Allah
akan mengangkat sebagian manusia dan dengannya pula menjatuhkan sebagian yang
lain.”
Ibn Jauzi menjelaskan, diangkat-Nya orang
yang menjaganya dengan dirinya dan sebaliknya orang yang abai akan
dijatuhkan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!