Keamanan

Pada suatu malam, saat pulang dari tempat kerja, saya cukup terkejut saat berpapasan dengan rombongan truk dengan muatan kayu yang tampak menjulang. Saya menghitung ada lebih dari tujuh unit. Aya rasa cemas memperhatikan olengnya truk itu yang hanya disebabkan jalan yang tidak rata. Saya, untuk kedua kalinya, kembali terkejut saat tiba-tiba truk-truk tersebut mendadak berhenti dan kemdian tampak mengantri. Saya seharusnya sudah berbelok masuk jalan kampung ke arah rumah, tetapi antrian truk menghalangi. Saat itulah saya sempat menengok ke arah truk yang paling depan, tampak beberapa orang pemuda menghampiri sambil menyodorkan botol air mineral. Saya cukup tahu bahwa saat itu pula pengemudi truk menyerahkan sejumlah uang untuk “membelinya”.
Sepanjang perjalanan yang tak lebih dari lima menit, yang saya tempuh dengan laju motor tak lebih dari 50 kilometer perjam saja, saya temui ada dua pemberhentian seperti ini. keduanya sama, menjual air mineral. Saya mengenal sebagian pemuda itu, saya juga tahu ada kronologi pelarangan atas apa yang mereka lakukan dan saya juga pernah mendengar mereka berkilah bahwa yang dilakukannya adalah murni jual beli. Jadi, apa yang salah dengan itu, demikian kilahnya.
Saat truk-truk itu mulai melaju, saya sudah bisa memasuki jalan kampung menuju arah rumah. Laju motor saya kurangi karena jalan kurang bagus. Pikiran saya masih terkait pada truk-truk yang pastinya sudah jauh berlalu. Saya punya pertanyaan, bagaimana jika, yang bisa saja terjadi di balik jual beli tadi.
Jika truk-truk itu menolak membeli, apakah pemuda itu kemudian berkata tidak apa dan segala sesuatu kemudian berjalan dengan damai? Saya kira tidak begitu. Atau barangkali bisa saja begitu, lantas apa maksudnya ketika salah satu dari pemuda itu mengatakan, “kalau ada apa-apa di jalan, jangan tanya aku!”
Dan seterusnya, dan seterusnya... semakin aku pikirkan semakin banyak yang terkait.
Sesampainya di rumah, istriku berkata, “bagaimana anak kita nanti, yah?”
Itu adalah lanjutan dari pembicaraan tentang perekonomian kami yang serba terbatas, istri menyimpulkan, tak ada kepastian.
“Katanya cukup dengan dua ribu saja perhari, atau ada juga yang tidak pasang batasan waktu asal dengan beberapa juta saja, maka anak kita bisa kuliah, kalau sakit bisa berobat, kalau kita kecelakaan, mati, atau meskipun nanti tidak terjadi apapun. Bukankah itu cukup meyakinkan?” katanya.
Saya tak bisa mengiyakan atau menolak karena selain itu tak cukup punya kepastian. Kami terbaring berdampingan, sama-sama menatap langit-langit rumah yang tak bisa kami pastikan juga sampai kapan kami bisa menatapnya karena hampir setiap bulan kami merasa terancam diusir oleh pemiliknya.

Tak cukup lama kami saling membisu, karena entah kemudian kami bercakap-cakap atau apa, yang dapat kupastikan kemudian saya bermimpi sedang tertidur dengan penjual botol air mineral. Dia tak mengatakan apa-apa, saya pun demikian. Kami bertransaksi. Saya melihat beberapa botol, dia juga melihatnya, sudah banyak yang kubeli. “Kau tahu,” katanya, “bukan air atau botolnya, tapi bagaimana jika...”


Pameungpeuk, 2015
Print Friendly and PDF