? The Manual Book of Life
Al-Quran adalah kalam Ilahi, Ia bersifat
Qadim (kekal), diturunkan dengan Bahasa Arab, yang boleh jadi bagi sebagian
besar manusia merupakan bahasa yang asing. Kini, lebih dari dua milliar
penduduk muslim dunia (www.religiouspopulation), setidaknya bersentuhan
dengan Bahasa Al-Quran; Bahasa Arab. Bahkan, bukan hal aneh kalau orang
non-muslim pun banyak yang membaca Al-Quran dan Al-Quran tidak dicetak dalam
bentuk terjemah saja.
Demikianlah Allah SWT, Yang Maha Bijaksana, menunjukkan bahwa Al-Quran adalah buku petunjuk (manual) hidup seseorang yang dapat dibaca oleh banyak orang bahkan ketika orang itu tak memahami artinya. Dalam membaca Al-Quran, meski tidak dapat dipahami maknanya, memiliki kebaikan dan kebaikan itu berlipat menjadi dua kali lipatnya di saat seseorang mengalami kesulitan dalam membacanya. Transformasi kebaikan terjadi pada diri manusia dengan membaca Al-Quran.
Demikianlah Allah SWT, Yang Maha Bijaksana, menunjukkan bahwa Al-Quran adalah buku petunjuk (manual) hidup seseorang yang dapat dibaca oleh banyak orang bahkan ketika orang itu tak memahami artinya. Dalam membaca Al-Quran, meski tidak dapat dipahami maknanya, memiliki kebaikan dan kebaikan itu berlipat menjadi dua kali lipatnya di saat seseorang mengalami kesulitan dalam membacanya. Transformasi kebaikan terjadi pada diri manusia dengan membaca Al-Quran.
Kita dapat melihat kenikmatan yang
diperoleh manusia dari Al-Quran dari apa yang diungkapkan pada ayat berikut:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ
لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ [١۰: ٥٧]
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Penyembuh, adalah sesuatu yang dapat
memperbaiki kerusakan yang diakibatkan suatu tindakan keliru. Petunjuk, adalah
cara yang benar untuk dilakukan. Dan rahmat, adalah kebaikan yang didapatkan
seseorang jauh melebihi dari kapasitas potensi yang dimilikinya. Dari gambaran
ini saja, kebaikan seperti apalagi yang dapat menandinginya.
? Keterikatan dengan Al-Quran
Al-Quran adalah mukjizat, artinya,
siapapun orangnya yang berupaya untuk menentang atau mengambil posisi
berlawanan dengannya hanya akan menjadi lemah di hadapan Al-Quran. Mukjizat
identik dengan perkara yang luar biasa dan Al-Quran mendapatkan pengukuhan
tersebut sepanjang masa. Sejak pertama kali diturunkan, orang-orang Arab dibuat
terkagum-kagum dengan keindahan Al-Quran. Beberapa orang menjadi luluh hatinya tatkala
mendengarkan Al-Quran dan kemudian mengimani kebenaran risalah Rasulullah
s.a.w.
Salah satu unsur mukjizat Al Quran adalah
adanya tantangan bagi manusia untuk dapat menandinginya. Sebagai Kalam Allah,
nisbat atas Dzat yang tidak satupun dapat disejajarkan dengan-Nya, tidak ada
ungkapan yang dapat melukiskan keagungan Al-Quran. Namun Allah SWT
menyampaikan, kalau sekiranya ada keraguan dan hendak membuktikan bahwa itu
bukanlah kalam Allah, manusia diminta untuk membuat semacam satu surah saja.
Bahkan dengan menghimpun kekuatan yang dimiliki manusia, untuk bahu membahu
memenuhi hal tersebut, “... dan kalian tidak akan pernah melakukannya!” (lih.
QS. 2: 23-24)
Barangkali ada orang yang menganggap
seolah-olah tak ada keistimewaan apapun padanya sehingga ia mengabaikan
Al-Quran. Bahkan, dalam sikap mengabaikan tersebut boleh jadi disertai dengan
penistaan yang dilakukan orang-orang kafir Mekah pada waktu lampau; karena mereka
tidak dapat menepis rasa kagum atas Al-Quran, mereka berdalih kalau itu adalah
sihir.
Kita tidak dapat mengungkapkan sehebat apa
kebaikan yang dapat diperoleh dari Al Quran, yang oleh Rasulullah s.a.w.
digambarkan bahwa dengan melafalkan satu huruf saja dari Al-Quran memiliki
nilai sepuluh kebaikan. Sebagai ukurannya, jika kita membayang satu kebaikan
kecil yang dapat kita lakukan, setidaknya pada Al-Quran melekat sepuluh kali
lipat nilai kebaikan tersebut pada satu hurufnya.
Akan tetapi, tak sedikit orang yang
membiarkan Al-Quran hanya menjadi pajangan, berdebu dan sama sekali tidak
pernah membukanya. Tidak sedikit orang yang enggan bahkan untuk sekedar
mendengarkan bacaannya saja. Tidak sedikit orang yang menolak mentah-mentah
hal-hal yang disandarkan pada Al-Quran. Tidak sedikit orang yang menolak
kebenaran yang bersumber dari Al-Quran.
Rasulullah s.a.w. mengatakan:
إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواماً ويضع به آخرين (مسلم)
“Sesungguhnya dengan Al-Quran ini akan
mengangkat (derajat) suatu kaum dan menjatuhkan kaum yang lainnya.”
Ibn Jauzi menjelaskan bahwa yang diangkat
derajatnya adalah orang-orang yang senantiasa menjaga Al-Quran dan yang
dijatuhkan adalah orang yang mengabaikannya.
Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلًا ؛ فَاصْبِرْ
لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا [٧٦: ٢٣-٢٤]
“Sungguh Kami benar-benar telah menurunkan
Al-Quran kepadamu secara bertahap; Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan)
ketetapan Tuhanmu dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang
kafir di antar mereka.”
? Kemudahan pada Al-Quran
Secara dzahir/tekstual saja, keberadaan
Al-Quran telah mensiratkan kemudahan yang melekat padanya bagi siapa saja yang
hendak membacanya. Berbeda dengan kitab-kitab lain, mashaf Al-Quran yang ada
pada kita saat ini merupakan bukti bagaimana mudahnya Al-Quran disampaikan
secara utuh dari generasi ke generasi tanpa mengalami perubahan. Mudah untuk dibaca,
dihapal, dipahami dan tentu saja, pengamalannya bukanlah sekedar kemudahan.
Salah satu penamaan yang digunakan untuk
Al-Quran adalah “adz-dzikr” (lih. 15: 9 atau 41: 41), mencakup arti ingat,
mengingat, pelajaran atau peringatan, yang menafikan keadaan lupa, kebodohan
atau luput. Substansi dari kata tersebut adalah mengingat Allah SWT, karena
dengan Al-Quran seseorang akan senantiasa ada dalam dzikir kepada Allah yang
merupakan pangkal dari segala bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah. Tanpa
mengingat Allah (baca: niat ikhlas), segala bentuk ibadah atau kebaikan
tertolak di sisi Allah. Dengan demikian, dzikir merupakan substansi penting
dalam kehidupan. Dan Al-Quran, ditegaskan oleh Allah:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ [٥٤: ١٧، ٢٢، ٣٢، ٤۰]
“Dan sungguh Al-Quran ini kami jadikan
mudah untuk dzikir (pelajaran), maka adakah orang yang mengambil pelajaran.”
? Dimudahkannya Al-Quran Saat Ini
Dulu, beberapa hal yang biasa kita
lakukan, adalah hal-hal yang mustahil untuk dilakukan. Manusia dikodratkan
untuk melakukan sesuatu dengan cara yang lebih mudah, cara yang lebih
dekat/cepat untuk sampai pada tujuan. Demikian itu adalah fitrah, Islam yang
dalam ungkapan lain disebut dengan jalan yang lurus (al-shiraath al-mustaqim),
yang secara matematis didefinisikan sebagai jarak paling dekat yang
menghubungkan dua titik, yang tidak lain mensiratkan kemudahan dalam
menggapainya.
Ikon kemudahan saat ini di antaranya
terdapat pada media informasi dan telekomunikasi, yakni gawai (gadget).
Pada gadget kita dapat melakukan banyak hal tanpa melakukan banyak hal
yang sebelumnya harus dilakukan. Dulu, dapat kita bayangkan, tidaklah mudah
bahkan untuk mencari satu arti kata saja. Setidaknya seseorang harus membuka
kamus. Bayangkan jika tidak memiliki kamus, atau tidak ada perpustakaan atau
orang yang dapat kita tanyai di sekitar kita. Demikian pula dalam hal cara kita
berinteraksi dengan Al-Quran.
Untuk membaca Al-Quran, kita bisa dengan
mudah membukanya dengan aplikasi Al-Quran atau bentuk lain yang bisa
ditampilkan. Untuk memahami, bukan saja terjemah yang dapat ditampilkan dalam
aplikasi gadget, berbagai tafsir, bacaan, telaah, dan banyak hal dapat
ditampilkan dengan mudahnya. Bahkan, bagi seseorang yang memiliki keterbatasan
dalam hal bermu’amalah dengan Al-Quran, melalui berbagai fasilitas lain dalam gadget,
apakah menyampaikan pertanyaan, konsultasi, bimbingan dalam membaca dan banyak
lagi dapat dilakukan dengan sangat mudah.
Demikianlah, di balik maraknya fitnah
zaman yang juga datang bersamaan dengan berkembangnya teknologi, Allah SWT
memberikan kemudahan bagi orang yang tetap ingin konsisten dalam berdzikir
kepada-Nya. Dan persoalannya adalah, dengan berbagai kemudahan tersebut, apakah
orang mau menggunakannya untuk dzikir, mengambil pelajaran, dari Al-Quran?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!