بســــم
الله والحمد لله وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصلاة والسلام على الرسول
المصطفى وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
إِن
يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي
يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ [۳: ١٦٠]
? Banyak Jalan untuk
Menjadi Sukses
Budi pekerti manusia menempatkan manusia
pada kemampuan untuk menilai banyak hal dengan kapasitas yang beragam dan tidak
sederhana. Sukses atau berhasil boleh jadi merupakan hal yang sangat mudah
untuk didapatkan jika itu hanya terbatas pada ukuran atau ruang lingkup sangat
kecil. Maka beragamlah kemudian apa yang menjadi paradigma sukses bagi manusia.
Sukses pada dasarnya merupakan titik
pencapaian yang merupakan tujuan dari suatu upaya. Status memiliki penghasilan,
keluarga dengan rumah yang menyenangkan, beserta dengan beberapa atribut yang
melekat padanya merupakan ukuran sukses bagi sebagian orang dan tidak bagi yang
lainnya. Dalam hal sebaliknya, dalam hal tidak ditentukan tujuan tertentu oleh
seseorang, sulit sekali untuk menetapkan apa titik keberhasilan dirinya. Dalam
hal ini, menetapkan satu hasil atau tujuan yang hendak dicapai merupakan dasar dalam
mengukir kata sukses bagi dirinya.
Bagi sebagian orang, kesuksesan bagi
dirinya boleh jadi sangat sederhana, yang penting dapat mencapai pada tujuan
tertentu tanpa memilah-milah cara dan upaya terbaik. Ia dapat menghalalkan
segala cara, mendzalimi siapa saja bahkan dirinya sendiri, yang penting sukses.
Saya percaya, Anda tidak sepakat dengan konsep kesuksesan seperti ini, atau
seseorang yang melakukannya tidak akan pernah merasakan kebanggaan atas
kesuksesannya.
? Kegagalan yang Tertunda
Saat ini kita boleh jadi termasuk orang
yang menetapkan sedang berada dalam kesuksesan atau sesuai dengan yang apa diinginkan.
Katakanlah, untuk menyederhanakan ukurannya, saat ini kita boleh jadi sedang
tidak memiliki masalah yang berarti dalam keuangan, keluarga dan hal-hal lain
yang menjadi ruang lingkup kita. Atau, dengan sudut pandang yang berbeda,
barangkali bukan hal sulit bagi kita untuk membayangkan orang lain yang telah
mencapai sukses di mata kita.
Penilaian
sendiri seyogyanya menjadi ukuran yang paling akurat bagi seseorang karena ia
sangat tahu benar bagaimana ukuran tersebut melekat atau layak untuknya.
Pandangan demikian, bagaimanapun ukurannya, boleh jadi menjadi kekeliruan fatal
bagi seseorang ketika ia berhenti pada penilaian tersebut. Secara finansial,
sekedar contoh saja, boleh jadi tak lama berselang keadaan berputar secara
ekstrem dan menempatkan dirinya pada keadaan sebaliknya sehingga ia kemudian
menilai sebaliknya atas dirinya.
Kesuksesan yang demikian bukanlah titik di
mana seseorang dapat menetapkan dirinya telah sukses. Akan tetapi hal ini juga
tidak berarti gagal atau kesalahan dalam menentukan titik keberhasilan yang
harus ditetapkan.
? Seorang Reporter yang Tidak Pernah Merasa “Sukses”
Mohamed Amen, seorang jurnalis yang sempat kehilangan tangan kirinya,
adalah contoh seseorang yang memiliki tekad untuk tidak pernah berhenti dengan pekerjaannya (baca: merasa selesai) kecuali jika
kematian telah datang padanya. Baginya tidak ada kata pensiun, yang secara umum
merupakan satu titik dimana seseorang seolah-olah telah selesai dengan tugas
hidupnya, karena hal itu masanya setelah kematian datang.
Selesai dengan suatu tugas adalah
kesuksesan. Akan tetapi hal itu bukan berarti titik pemberhentian karena hukum
kehidupan melekat pada waktu yang tidak pernah berhenti melaju. Dari itu
Al-Quran menegaskan, dalam setiap usai dari suatu hal, hendaklah menetapkan
diri untuk yang lainnya (94: 7-8). Kesuksesan yang melekat pada seseorang
kemudian sirna di saat ia tak mampu menghadapi tahap berikutnya yang boleh jadi
masih merupakan mata rantai dari hal sebelumnya.
Secara umum, kondisi seperti inilah yang
pada dasarnya menempatkan seseorang berada pada posisi gagal meraih kesuksesan
karena pada tahap-tahap sebelumnya ia menganggap cukup upaya yang harus
dilakukan. Seseorang yang telah merasa “selesai” seperti inilah yang kemudian
cenderung tidak mampu menunaikan tugas dengan baik.
? Janganlah Mati sebelum Engkau Sukses
Status apakah yang melekat pada seseorang
di saat ia menjelang kematian adalah titik kesuksesan yang sebenarnya. Ukuran
kematian untuk kesuksesan merupakan bukti konsistensi seseorang pada suatu
keadaan yang diwujudkan dengan upayanya.
Al-Quran menetapkan titik kematian babak
final yang harus sukses dimenangkan oleh orang-orang yang menempuh jalan takwa.
Sukses menjelang kematian bukanlah persoalan mudah yang dapat diwujudkan
sesederhana kualifikasi keislaman dengan tindakan yang sangat mudah, yakni
mengucap kalimah thayyibah – laa ilaaha illallaah. Dari itu ayat
ini menekankan perintah untuk secara total menempuh jalan ketakwaan (baca:
hati-hati dan mawas diri).
Kehati-hatian berarti mampu memperhatikan
segala bentuk ‘resiko’ yang dapat menghadap jalan menuju kesuksesan. Mawas diri
mengharuskan bagaimana diri seseorang tetap konsisten pada lintasan yang
semestinya ditempuhnya.
? Konsistensi dan Totalitas
Seorang shahabat suatu kali meminta
nasihat kepada Nabi s.a.w. untuk mendapatkan suatu prinsip yang tidak akan
didapatkannya dari orang lain. Rasulullah s.a.w. menjawab: “Katakanlah, aku
beriman kepada Allah kemudian engkau konsisten dengannya.”
Pernyataan, sikap, tujuan, cita-cita,
wacana, teori dan apapun sifatnya yang ditetapkan seseorang atas dirinya tidak
akan berarti apa-apa tanpa adanya bentuk nyata yang selaras dengan
pernyataannya. Dan sebaliknya, segala bentuk upaya yang dilakukan merupakan
absurditas dan kesia-siaan apabila tidak didasari dengan pernyataan diri. Apa
yang dikatakan Nabi s.a.w. mensiratkan dua hal penting untuk meraih kesuksesan;
pertama, ditetapkannya tujuan dan kedua, upaya yang dapat
menyampaikan pada tujuan tersebut.
Tujuan
yang ditetapkan (Allah SWT), dalam ungkapan ikrar yang ditetapkan, secara
mutlak harus melekat pada setiap cita-cita dan harapan atau bahkan keinginan.
Allah – dengan kekuasaan yang tidak terbatas pada-Nya – secara absolut yang
akan menentukan segala bentuk pencapaian hamba-Nya. Dia memiliki rahmat untuk
memberikan ma’unah kepada siapapun dengan tanpa batas. Sifat mutlak
inilah yang akan menempatkan kedudukan kesuksesan yang sebenarnya, digambarkan
dalam firman-Nya:
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah
orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi
pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari
Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin
bertawakkal.” (3: 160)
Dan, di sisi lain dari kemutlakan maunah
Allah, ditetapkan hukum sebab-akibat bagi manusia yang dengannya pula Allah
menentukan keadaan seseorang dengan melihat apa yang diupakan seseorang dalam
rangka meraih tujuan yang hendak dicapainya. Istiqamah (konsistensi) seseorang
pada tujuannya harus tercermin dari bentuk upaya yang dilakukannya yang selaras
dengan apa yang dikehendaki Allah. Tanpa itu, sehebat apapun pencapaian yang
mampu diwujudkan oleh manusia tidak akan menjadi kebaikan apapun bagi dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!