Makanan Halal dan Sehat

Berpikir tentang makanan sehat tidak berarti menafikan makanan yang enak. Rasa nikmat pun demikian, tidaklah identik dengan tingginya resiko kesehatan. Kesehatan memang sangat terkait dengan konsumsi makanan, demikianlah yang dikatakan oleh Nabi s.a.w. mengenai sumber segala macam gangguan fungsi tubuh (baca: kesehatan):
أصل كل داء البردة
“Sumber segala penyakit adalah masalah pencernaan.” 
Makan makanan halal dan sehat

Di dalam Islam terdapat satu ibadah yang berhubungan dengan ihwal makan, yakni puasa (shaum). Dengan substansi pengendalian diri puasa memiliki kedudukan yang sangat istimewa pada pandangan Allah SWT dan manfaat yang besar bagi kesehatan. Puasa disifati sebagai keintiman antara seorang pribadi manusia dengan Tuhannya dan untuknya disediakan pahala ekslusif karena keistimewaannya. Disebutkan bahwa pada puasa terdapat dua kebaikan, yaitu di saat berbuka dan kelak saat mengetahui kebaikan yang hakiki di hadapan-Nya.
Kebaikan pada saat berbuka bukan sekedar mengenai kesenangan yang didapatkan dalam menyantap makanan, tetapi mensiratkan bagaimana seseorang akan mendapatkan kebaikan secara lahiriyah (kesehatan). Para ahli kesehatan menyebutkan lebih dari dua puluh poin penting manfaat puasa bagi kesehatan tubuh. Substansi pengendalian (baca: membatas pola, kuantitas serta sifat natural fa’al tubuh) merupakan aplikasi puasa dalam hubungannya dengan kesehatan.

Nikmat yang Sehat
Kesehatan sangat tergantung pada sifat alamiah metabolisme tubuh dan makanan yang dikonsumsi (organik). Di saat tubuh dipaksa untuk bekerja tidak sesuai dengan porsinya dengan pola ataupun material asing yang tidak dapat dicerna sehingga meninggalkan residu pada sistem metabolisme tubuh, berbagai penyakit kemudian meyerang tubuh. Penyakit terjadi karena dua faktor, kerusakan organ dan infeksi oleh unsur hidup dari luar tubuh. Tubuh memiliki sistem pertahanan sendiri dan kapasitasnya sangat ditentukan dengan seberapa baiknya metaolisme tubuh bekerja.
Kenikmatan bersifat kodrati yang terdapat pada tubuh. Rasa nikmat melekat pada saat tubuh mendapatkan sesuatu yang semestinya didapatkan, demikianlah Allah mengaturnya sedemikian rupa. Kita boleh jadi memiliki pengalaman dapat merasakan nikmatnya makanan (dengan kesan yang luar biasa) padahal makanan yang disantap sangatlah biasa. Setidaknya ada dua hal yang dapat dipahami menjadi pemicu munculnya rasa nikmat tersebut, pertama bahwa ketika itu rasa lapar telah datang dan kedua, kita menyantap makanan bersama-sama dengan banyak orang (berjama’ah). Kedua hal tersebut jelas terdapat dalam pelaksanaan ibadah puasa.
Nikmat makan setelah lapar merupakan salah satu sifat alamiyah tubuh yang dapat merespon makanan secara benar. Dari kondisi tersebut kita dapat memahami bahwa yang dibutuhkan tubuh hanyalah seperti itu dan kenikmatan pun cukup dengan sesederhana itu. Kenikmatan tidaklah tergantung pada rasa yang diciptakan dengan penambahan berbagai unsur racikan dan bumbu-bumbu (terlebih yang mengandung zat-zat kimia yang tidak mampu dicerna tubuh). Mengkonsumsi makanan dalam batasan tersebut adalah kunci utama dalam memperoleh kesehatan tubuh.
Di saat kita cenderung mengutamakan rasa nikmat tanpa memperhatikan fa’al tubuh, seperti makan sebelum lapar, maka yang dilakukan adalah dengan menciptakan pengkondisian (seasoning) rasa nikmat dengan berbagai bumbu kimia yang mampu menciptakan sensasi rasa tertentu. Pengkondisian yang melibatkan berbagai material yang tidak sesuai dengan metabolisme tubuh jelas-jelas akan merusak tubuh kita.
Di dalam Islam, sebagai negasi dari pengendalian, dikenal istilah sebaliknya yang dapat merusak diri manusia secara umum, yakni sifat berlebihan. Pada saat mengkonsumsi makanan sebelum rasa lapar pada dasarnya mendekati sifat berlebihan tersebut karena tubuh pada saat itu belum ‘membutuhkan’ asupan makanan. Di saat makan, dengan kondisi demikian, dengan sendirinya mengharuskan asupan berbagai pengkondisian rasa (seasoning). Makanan dengan sesasonig yang sebenarnya asing bagi tubuh sifatnya menjadi tidak terbatas pada rasa kenyang, sehingga di saat sampai batas batas kenyang seringkali kita masih didorong untuk terus mengkonsumsi makanan.

Halal dan Unsur Kemanusiaan
Kehalalan tidak semata terkait dengan material makanan yang dikonsumsi. Makanan halal juga menyangkut proses perolehan makanan tersebut berupa upaya yang dilakukan oleh manusia. Cara yang tidak dibenarkan syari’ah, contohnya dengan menggunakan uang yang haram untuk membelinya, serta merta akan membentuk pola makan dan karakteristik makanan yang dikonsumsi. Dalam melakukan tindakan yang diharamkan, apapun bentuknya, pada prinsipnya seseorang tak sekedar mengabaikan norma-norma agama melainkan menyangkup hubungannya dengan manusia lain. Kedzaliman yang terdapat dalam proses tersebut memicu sikap-sikap lain yang merugikan, dan sifat merugikan tersebut tidak melulu terhadap orang lain melainkan atas dirinya sendiri.
Mengkonsumsi makanan halal, baik halal yang bersifat material maupun non-material, dan melakukannya dengan pola (aturan syari’at) merupakan cara yang paling mudah, sederhana dan baik untuk tubuh. Cara yang baik dan tidak baik dalam mengkonsumsi makanan sangatlah berbeda tipis, kedua-dua identik dengan rasa nikmat. Akan tetapi rasa nikmat yang berbeda itulah yang kemudian menentukan kebaikan atau justru mencelakakan.
Raghib Isfahani menjelaskan bahwa dorongan yang terdapat pada diri manusia (hawa’) terdiri dari dua bentuk, dorongan yang asli (fitrah, naluriah, kodrati dan alami) dan dorongan yang palsu. Apa yang yang dijelaskan Al-Quran tentang kecenderungan manusia mengikuti dorongan jenis kedua adalah yang dapat menyebabkan manusia mendapatkan celaka, terutama celaka di kehidupan kelak.
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا [٢٥: ٤٣]
“Tidakkah kamu perhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, apakah engkau akan menjadi pembela untuknya?” (25: 43)


Secara lebih spesifik Al Quran melarang sifat berlebihan (baca: tidak natural) dalam hal makan-minum:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ [٧: ٣١]
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf/7: 31)
Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!