Dulu, untuk menjaga pandangan agar
terhindar dari hal-hal yang mendatangkan dosa barangkali kita cukup
menghadapinya dengan menutup pintu. Sekarang, semua ada di dalam rumah.
Dulu, orang beramai-ramai menurunkan
presiden karena dianggap banyak melakukan KKN, kini hampir semua orang
memanfaatkan kedekatan untuk mempengaruhi kebijaksanaan, ramai-ramai menjarah
uang rakyat (dari skala kecil sampai besar) sambil mengatakan memang sistemnya
sudah begitu, beramai-ramai bermain modal untuk membeli hal-hal yang tidak
boleh diperjual-belikan.
Dulu, untuk mencintai Rasulullah s.a.w.
harus dibunuh, terusir dari kampung halaman, kehilangan harta benda dan
pengorbanan lainnya. Kini, di saat terbuka luas dan umat Islam tidak lagi
menghadapi kendala yang berhubungan dengan jumlahnya sebagai minoritas, tidak
sedikit orang yang justru gemar menentang dan berpaling dari ajaran Rasulullah
s.a.w., tepat seperti yang diungkapkan Rasulullah s.a.w. sendiri:
بدأ الإسلام غريبا، وسيعود كما بدأ غريبا، فطوبى للغرباء (مسلم)
“Islam
itu bermula sebagai hal yang asing dan akan kembali menjadi asing (di mata
manusia). Maka berbahagialah orang-orang yang kemudian terasingkan.” (Riwayat
Muslim)
? Jika Benar Cinta
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ [٣: ٣١]
“Katakanlah; jika kalian benar-benar
mencitai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan
mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
(Aali ‘Imran/3: 31)
Mengikuti Nabi s.a.w. adalah jalan untuk
mendapatkan cinta (mahabbah) Allah SWT. Cinta yang akan melahirkan
segala kebaikan pada diri seseorang, yang membuat Allah berkenan memberikan
kenikmatan yang sangat besar yaitu nikmat ‘beragama’ (iman dan Islam). Cinta yang
akan dapat membuat seseorang meraih kebaikan dari segala hal yang dapat terjadi
pada seseorang. Cinta yang akan menjauhkan seseorang dari kenikmatan-kenikmatan
yang menipu, seperti kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang kufur
seberapapun besarnya nikmat tersebut.
Rasulullah s.a.w. menggambarkan sebuah
perumpamaan tentang risalah yang dibawanya:
"مثل ما بعثني الله به من
الهدى والعلم كمثل الغيث الكثير أصاب أرضا فكان منها نقيّة قبلت الماء، فأنبتت
الكلأ والعشب الكثير وكانت منها أجادب" – في رواية إخاذات – أمسكت الماء، فنفع الله بها
النّاس، فشربوا وسقوا وزرعوا» – في رواية «ورعوا – وأصابه منها طائفة أخرى إنّما
هي قيعان لا تمُسك ماءً ولا تُنبت كلأ، فذلك مثل من فقِهَ في دين الله، ونفعه ما
بعثني الله به، فعلِمه وعلّمه، ومثل من لم يرفع بذلك رأسا، ولم يقبل هدى الله
الّذي أُرسلت به». [رواه البخاري ومسلم
والنسائي]
“Perumpamaan ihwal (risalah) yang aku
diutus dengannya apakah itu petunjuk atau ilmu adalah seperti hujan lebat yang
turun ke bumi. Sebagian dari bumi tersebut adalah dataran yang dapat menyerap
air, sehingga tumbuhlah di sana rerumputan dan tetumbuhan yang lebat atau
seumpama lembah yang dapat menahan air sehingga manusia dapat memanfaatkannya
untuk minum, memberi minum dan bercocok tanam (dalam riwayat lain:
menggembalakan ternak), sementara (perumpamaan lainnya) adalah sebagian bumi
lain berupa lembah yang yang tidak dapat menampung air atau menumbuhkan tanaman.
Itulah (yang pertama) sebagai perumpamaan tentang orang yang diberikan
pemahaman atas agama Allah dan ia mendapat manfaat dari risalah yang Allah
mengutusku dengannya, sehingga ia menjadi tahu dan mengajarkannya (kepada yang
lain. Dan perumpamaan (yang lainnya) adalah tentang orang yang sama sekali
tidak memperhatikan dan tidak dapat menerima petunjuk yang Allah mengutusku
dengannya. (Riwayat Bukhari, Muslim dan Nasai)
? Besarnya Cinta Nabi
Rasulullah s.a.w. adalah sosok yang dalam
mencintai umatnya mampu bersabar di saat ia dilempari batu, yang meskipun ia Jibril
dapat membantunya untuk menghukum dengan menimpakan gunung ke atas mereka, ia
malah memintakan ampun dan tetap mendo’akan kebaikan untuk mereka. Rasulullah
s.a.w. adalah pribadi yang dapat menyuapi orang dengan penuh kasih sayang
meskipun orang tersebut menghujat, mencaci maki dan sangat membencinya.
Alangkah beratnya bagi Rasulullah s.a.w.
ketika bercermin pada perkataan Ibrahim a.s. (Ibrahim/14: 36) dan Isa a.s. (Al-Maidah/5:
118) perihal umatnya, karena beliau tidak dapat merasa terlepas begitu saja
dari umatnya.
a. Selalu menginginkan
keselamatan dan kebaikan bagi umatnya
b. Menanggung rasa sakit
sakratul maut umatnya
c. Memberi syafa’at bagi
umatnya
Di dalam Al-Quran disebutkan bagaimana Rasulullah
s.a.w. memiliki cinta atas umatnya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ [٩: ١٢٨]
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat
terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan)
bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(At-Taubah/9: 128)
Demikian besarnya cinta Rasulullah s.a.w.
sehingga ia menangguhkan do’a untuk umatnya seperti yang dapat dilakukan oleh
para nabi-nabi yang lain dalam mendo’akan umat mereka dan menggantikannya
dengan sesuatu yang kebaikannya tidak ternilai oleh sesuatu yang lainnya yaitu
syafa’at. Syafa’at adalah pertolongan yang dapat diberikan kepada seseorang di
saat ia benar-benar membutuhkan pertolongan tanpa seorangpun dapat memberikannya.
Rasulullah s.a.w. adalah satu-satunya sosok yang diberikan keistimewaan untuk
dapat memberikan pertolongan tersebut bagi pengikutnya yang tertangguhkan oleh
dosa-dosa besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!