Cita-cita Orang Beriman

Kebaikan rahmat Allah sangatlah tidak terbatas dan totalitasnya adalah surga Allah. Meraih kebaikan di dunia, terlebih sebatas ukuran-ukuran duniawi, adalah ihwal yang seringkali menipu manusia. Jumlah harta yang banyak, kekuasaan yang besar, atau apapun yang dapat dibanggakan seseorang bukanlah ukuran kebaikan yang berhubungan dengan rahmat Allah dalam pengertian ini. Karena, dengan mengingat bahwa rahmat Allah adalah kebaikan, tidak jarang orang yang mendapatkan kebaikan-kebaikan tersebut justru menjadikannya terjebak pada hal-hal yang mencelakakan.
Ada yang mengasumsikan bahwa ketakutan pada Allah pasti menghinggapi orang-orang durhaka. Ini tidak benar, karena ketakutan yang sebenarnya hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengan Allah.
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [٣٥: ٢٨]
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Fathir/35: 28)
Orang yang takut adzab Allah pasti berharap akan rahmat-Nya. Di dalam Al-Quran sifat yang berlawanan dari itu tidak disebutkan dengan yang tidak mengharap rahmat-Nya, melainkan dengan ungkapan “tidak berharap berjumpa dengan Allah” atau dengan “hari perhitungan”.
إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ؛ أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [١٠: ٧]
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami; mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus/10: 7-8)
وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا [٢٥: ٢١]
Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuannya dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman.” (Al-Furqan/25: 21)
Rahmat Allah, dalam bentuk apapun perwujudannya, adalah cita-cita yang membedakan orang-orang beriman dengan orang-orang kafir.
وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا [٤: ١٠٤]
“Janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa/4: 104)
Dan orang-orang yang mengharap rahmat Allah digambarkan:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ [٢: ٢١٨]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
Print Friendly and PDF