Untuk dapat mengungkapkan keutamaan Nabi s.a.w. tentu tidak terpenuhi dengan tulisan sederhana seperti ini. Akan tetapi, karena beliau diutus untuk dapat diteladani atau ditiru semua orang, sebagai satu sudut pandang yang cukup sederhana ini seyogyanya dapat memudahkan kita untuk dapat meneladani beliau s.a.w..
Kita dapat membaca berbagai buku tentang sejarah hidup Rasulillah s.a.w., yang dengannya akan cukup mengenalkan kita pada sosok istimewa ini lebih rinci. Namun ternyata tak sedikit dari kita yang melewatkan satu hal yang sangat akrab, mudah didapat dan mudah pula untuk dipelajari yang diungkapkan oleh sosok yang sangat mengenal Rasulullah s.a.w., yakni Aisyah r.a.. Beliau menggambarkan akhlak Rasulullah s.a.w secara lugas dengan mengatakan:
Kita dapat membaca berbagai buku tentang sejarah hidup Rasulillah s.a.w., yang dengannya akan cukup mengenalkan kita pada sosok istimewa ini lebih rinci. Namun ternyata tak sedikit dari kita yang melewatkan satu hal yang sangat akrab, mudah didapat dan mudah pula untuk dipelajari yang diungkapkan oleh sosok yang sangat mengenal Rasulullah s.a.w., yakni Aisyah r.a.. Beliau menggambarkan akhlak Rasulullah s.a.w secara lugas dengan mengatakan:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ (رواه أحمد)
“Sesungguhnya akhlaknya adalah Al-Quran.”
(Riwayat Ahmad)
Ternyata ungkapan yang sederhana itu
adalah Al-Quran! Pada riwayat yang lain Aisyah r.a. memabacakan kalam Allah setelahnya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam/68:
4)
Akan tetapi ada dikisahkan, seorang lelaki tua yang mengimami
shalat. Ia seorang muslim sejak lahir, artinya keislamannya
setidaknya sama dengan masa ia hidup. Kebetulan sang imam yang rutin tidak
hadir dan ia didaulat untuk mengimami shalat. Pada raka’at pertama ia dengan
mudahnya memilih satu surat setelah Al-Fatihah, ia membaca surat Al-Ikhlas. Menjelang
raka’at kedua rupanya ia dihinggapi keragu-raguan, surat apakah yang harus
dibacanya. Setelah selesai dengan surat Al-Fatihah, ia berdiam diri beberapa
saat memikirkan surat yang dapat dengan sempurna untuk dibacanya. Tiba-tiba ia
menoleh ke belakang dan berkata, “boleh baca qulhuwalloh lagi?”
bertanya kepada makmumnya.
Demikian Al-Quran, yang meskipun sudah
dimudahkan Allah, masih saja ada orang yang tidak mampu sekedar membacakan
sebagiannya saja dengan baik.
Menghapal atau membaca Al-Quran bukanlah
jaminan seseorang dapat mewujudkan teladan kenabian dalam dirinya akan tetapi,
pertanyaannya, seberapa baik kita akan mengenal Rasulullah s.a.w. teladan kita
jika kita begitu terasing dengan Al-Quran? Dan mungkinkah ada di antara kita
yang sejak bulan Ramadhan kemarin sampai sekarang tidak pernah membaca Al-Quran
sama sekali?
Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran! Jika Al-Quran
menggambarkan ketidakmampuan manusia dalam mensyukuri nikmat Allah, maka akhlak
Rasulullah s.a.w. adalah sosok yang sangat pandai bersyukur. Demikian dapat dilihat dari yang ditanyakan Aisyah ketika melihat Rasulullah dengan shalat malamnya yang membuat kakinya sampai bengkak, “kenapa Anda melakukan ini, bukankah Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang sudah berlalu ataupun yang akan datang?” Rasulullah s.a.w. menjawab:
"أَفَلَا أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا"
“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang pandai bersyukur (karenanya)?” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Al-Quran menggambarkan kesabaran sebagai satu
kekuatan yang tidak terbatas, dan dengannya pula pertolongan Allah dapat diraih.
Rasulullah s.a.w. adalah pribadi yang memiliki kesabaran yang sangat sempurna
dalam segala aspek kehidupannya.
Al-Quran menyampaikan berbagai perintah
dan larangan, maka kita akan cukup tahu tentang sosok yang paling baik dalam
memenuhi segala titah Allah yang terkandung di dalamnya. Ibnu Mas'ud r.a. mengatakan, "siapa yang ingin tahu apakah ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka lihatlah seperti apa ia mencintai Al-Quran."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!