Hal Penting dan Kepentingan; Politik

Dalam pengertian sarkastis, politik adalah perebutan kekuasaan (agar satu pihak dapat berkuasa atas yang lainnya). Terlebih jika dilatarbelakangi dengan konflik dan peperangan yang ditentukan dengan satu momentum kemenangan, politik adalah kemampuan untuk mengalahkan. Dalam sudut pandang yang lain, politik adalah strategi untuk mencapai tujuan dengan mendapatkan dukungan legitimatif dari publik (konstituen) dalam bentuk kepercayaan yang diberikan. Sampai di sini, semua pihak yang berpolitik awalnya sedang berperang dengan pihak lainnya sehingga masing-masing memiliki kepentingan bersama.
Banyak sudut pandang yang menempatkan politik sebagai sebuah kesalahan. Ideologi tertentu dapat menilai politik sebagai kesalahan di saat cita-cita ideologinya bertentangan dengan sistem yang dibangun oleh politik. Menempatkan ketuhanan sebagai dasar politik bagi sebagian pandangan tidak relevan dengan cita-cita politik mereka. Bahkan, penilaian tersebut tetap terjadi, dalam kapasitas parsial yang tidak prinsip sekalipun dapat menempatkan politik sebagai sebuah kesalahan.
Tidak sedikit kalangan yang bersikap anti terhadap politik, apriori dan bahkan cenderung ‘alergi’ dengan hal-hal yang bersifat politis. Hal ini seringkali terjadi dengan kekhawatiran atas konsistensi hal prinsip yang beresiko mengalami degradasi karena bersentuhan dengan politik. Sikap anti politik juga dapat dipengaruhi oleh sejarah kekecewaan atau trauma terhadap momentum politik yang pernah bersentuhan.

Setiap individu tidak dapat terlepas dari politik yang menjadi ruang lingkupnya. Politik akan mengikat segala bentuk relasi yang terbangun antara individu dengan ruang lingkupnya. Apakah ikatan yang bersifat teritorial atau tidak sekalipun, relasi tersebut memiliki konsekuensi politik yang di samping memberinya ruang untuk berkontribusi. Di saat relasi tidak lagi melekat pada seorang individu, di saat itulah seseorang dapat merasa tidak terganggu atau berkepentingan terhadap politik.
Politik adalah kepentingan. Sepanjang seorang individu atau sekelompok orang memiliki kepentingan atas sesuatu yang berada atau menyangkut hal di luar dirinya, mutlak baginya berlaku kenisbian untuk berpolitik. Akses kepentingan, sejauh seorang individu atau kelompok memiliki potensi kepentingan orang lain, selaras dengan besarnya kontribusi yang diberikan. Kapasitas kepentingan dan kontribusi seyogyanya berjalan secara seimbang, konsisten dan kompatibel karena jika tidak di saat itulah muncul masalah politik.
Intrik, sebagai langkah strategi, merupakan kemampuan untuk mencitrakan atau membangun persepsi tertentu pada publik atau lawan politik. Intrik digunakan untuk mengecoh lawan dan memperoleh poin yang menguntungkan. Pada dasarnya intrik dapat dilakukan tanpa mencenderai konsesi yang terbangun karena intrik harus selaras dengan persepsi lawan politik atas konsesi itu sendiri.
Pada perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah s.a.w. dan orang Mekah membangun suatu konsesi untuk menghentikan konflik kepentingan dengan membangun kesepakatan dengan mereka. Kesepakatannya adalah masing-masing memenuhi tuntutan yang lainnya dan hal itu menyangkut sudut pandang kepentingan masing-masing. Kesepakatan ini masih membuka ruang gerak sepanjang dipandang tidak mengganggu tuntutan yang telah disampaikan. Persepsi orang Mekah untuk mendapatkan keuntungan kuantitas dan materil saja, membuka ruang bagi dakwah Nabi s.a.w. untuk dapat masuk ke wilayah Mekah secara leluasa. Walhasil, setelah menyadari konsekuensinya setelah itu terjadi, orang-orang Mekah melanggar perjanjian tersebut.
Pelanggaran atas konsesi merupakan tindakan yang mencederai konsesi yang telah terbangun. Dalam hal ini, Nabi s.a.w. tidak berharap lebih dari penduduk Mekah untuk memaksakan perjanjian Hudaibiyah karena tidak ada konsesi yang lebih tinggi darinya. Demikian itu terjadi karena menyangkut dua pihak yang secara politik berlawanan (baca: sedang berperang).
Kesadaran berpolitik tidak serta merta dimiliki oleh setiap individu bahkan di saat individu tersebut melakukan tindakan politik. Politik adalah seni untuk menyelaraskan kontribusi dengan kepentingan. Tindakan ‘heroik’, yakni melakukan kontribusi tanpa kepentingan, dalam berpolitik hanyalah tindakan konyol yang hanya akan menempatkannya sebagai pihak yang ‘dirugikan’. Dan sebaliknya, hal ini lebih buruk dari kekonyolan, adalah pihak yang hanya mengakses kepentingan tanpa mengindahkan konsesi yang dibangun bersama. Secara politik dia boleh jadi berhasil melakukan kontribusi dengan intriknya, akan tetapi pelanggaran atas konsesi sangat beresiko runtuhnya kepentingan bersama dan mengembalikan semua pihak pada keadaan sebelumnya; BERPERANG.
Jadi, janganlah Anda ragu untuk berpolitik akan tetapi jangan sekali-kali Anda mencoba mencederai konsesi politik kalau tidak menghendaki kemunduran sampai di titik ketika kita masih belum bisa bersama (bersatu).
Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!