? Konsumsi dan Konsumerisme
Sesuatu yang mutlak melekat pada setiap
orang adalah kebutuhan akan belanja. Hal ini karena tidak setiap orang dapat
memenuhi kebutuhannya sendiri, mau tidak mau ia harus membeli sebagian atau
bahkan keseluruhan dari kebutuhan hidupnya.
Dalam memenuhi kebutuhan hidup seseorang
boleh jadi memiliki tingkat konsumsi yang sangat tinggi. Hal ini secara umum
terjadi pada masyarakat kota, di mana dalam memenuhi kebutuhan makan – sebagai
contoh – tidak ada sesuatu yang tidak dibeli. Konsekuensinya adalah tingkat
kebutuhan belanja yang sangat tinggi. Berbeda dengan pola hidup di pedesaan,
dalam hal memenuhi kebutuhannya banyak orang yang dapat mengatasinya dengan
sumber daya yang dimilikinya.
Konsumsi sangat menentukan produktifitas
seseorang dan hal ini yang mempengaruhi kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan
lain atau kebutuhan yang akan datang. Permasalahan yang timbul dalam sektor
konsumsi tidak terlepas dari dua hal; tidak terpenuhinya kebutuhan, dan pemenuhan yang tidak efisien. Yang pertama
boleh jadi terkait dengan efektifitas potensi yang dimiliki yang tidak
berpengaruh pada kemampuan pemenuhan (daya beli). Hal ini yang dikenal sebagai
istilah kemiskinan, di mana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya
secara utuh. Dan hal kedua berkaitan erat dengan pola pemenuhan kebutuhan (belanja)
yang cenderung tidak memiliki kontribusi baik pada kelangsungan hidup secara
umum.
Konsumsi (termasuk dalam bentuk memenuhi
kebutuhan dasar hidup) seyogyanya
memiliki manfaat yang sangat besar bagi seseorang. Namun tidak jarang
kita menemukan, kemampuan untuk mengatur efisiensi belanja justru terjadi pada
wilayah konsumsi. Seorang pembuat makanan akan dengan cermat menghitung setiap
bahan yang digunakan dalam membuat olahannya, sebagaimana seorang penjual yang
cermat menghitung harga jual agar menguntungkan. Konsumen, nyaris tidak pernah
menghitung apapun kecuali mengenai kemampuan daya beli yang dimilikinya.
Walhasil, boleh jadi banyak konsumen yang tidak menyadari bahwa dengan apa yang
dibelinya ia tidak mendapatkan banyak hal dan inilah yang disebut pemborosan.
? Banyak Belanja
Ada semacam trend yang terjadi pada
sebagian kalangan orang yang oleh sebagian kalangan lainnya diekspoitasi
sebagai potensi yang menguntungkan, yaitu tren belanja. Belanja bukanlah sebuah
kesalahan dan kapasitas belanja seseorang juga dapat dijadikan ukuran kemampuan
(daya beli) yang dimilikinya. Sebagai tren, hal kedua inilah yang menjadikannya
memiliki pesona secara populer. Yang menjadi persoalan adalah ketika kemampuan
seseorang tidak relevan dengan kapasitas belanjanya dan belanja yang
dilakukannya tidak memiliki nilai/kontribusi penting bagi dirinya.
Tidak adanya nilai, manfaat atau
kontribusi pada belanja seseorang dapat terjadi karena:
a) Belanja yang tidak
berguna sama sekali; hal ini terjadi di saat seseorang membeli sesuatu yang
tidak dibutuhkan dan tidak bermanfaat sama sekali dan bahkan merugikan. Faktanya,
banyak sekali kebiasaan (konsumsi) yang harga belinya melambung tinggi untuk
hal-hal yang tidak baik, terlarang dan bahkan tercela. Belanja seperti ini
secara umum dilakukan tipe orang yang mengejar gaya hidup hedonis dan
pelampiasan.
b) Ukuran harga yang
tidak rasional; yang dimaksud harga yang tidak rasional adalah harga yang tidak
berkaitan dengan nilai materil suatu barang atau jasa yang dibeli seseorang
melainkan karena faktor sosial, kesan dan prestise yang melekat pada hal
tersebut. Kecenderungan untuk memiliki barang mewah, fasilitas ekslusif, dan
kegemaran show up seseorang seringkali mendorong seseorang untuk
melakukan belanja seperti ini.
c) Kesalahan dalam
memilih belanjaan; menentukan jasa atau barang yang dibeli yang dilakukan tanpa
kejelian. Pembeli seperti ini seringkali dihinggapi dengan menyesali apa yang
dibelinya atau jika tidak justru tidak menggunakan apa yang dibelinya karena
ternyata tidak sesuai dengan apa yang sebelumnya membuatnya membeli. Beberapa
produk boleh jadi mengecoh seseorang dengan fitur-fitur yang sedang ramai
dibicarakan tetapi ternyata kualitasnya tidak memberikan apa-apa. Kejelian
dalam memahami spesifikasi barang atau jasa yang dibeli seringkali luput dari
perhatian seseorang.
? Pemborosan bukan Berarti tidak Belanja
Hemat dapat diartikan sebagai efisiensi
daya beli seseorang dalam melakukan belanja. Hemat bukanlah kemampuan menyimpan
banyak uang dengan menghentikan banyak pembelian. Menabung merupakan bentuk
paling sederhana penghematan akan tetapi hal itu bukanlah cara yang terbaik.
? Pemborosan dan Kemiskinan
Menghambur-hamburkan uang boleh jadi
memiliki nilai lebih bagi seseorang. Seseorang juga boleh jadi berpikir bahwa
untuk menunjukkan bahwa dia kaya raya dengan melakukan banyak belanja, selalu
belanja, selalu punya list untuk dikonsumsi dan pulang pergi ke pusat
perbelanjaan. Beberapa sentra pembelanjaan ramai dikunjungi orang, bahkan untuk
kalangan tertentu justru menjadi tren, dan dapatkah kita menentukan
kecenderungan apakah yang membuat kita mendatangi tempat-tempat tersebut.
Kecenderungan untuk mengkoleksi sesuatu, boleh jadi dilakukan seseorang
berkaitan dengan itu, membuatnya selalu sibuk mengunjungi pusat-pusat
perbelanjaan, dan apa yang cenderung ditunjukkan olehnya adalah bahwa ia “cukup
mampu” untuk melakukan itu.
Baiklah kita merenungkan apa yang
dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. mengenai hal itu, beliau bersumpah dan meminta
kita untuk selalu mengingatnya:
“... tidak semata-mata seseorang membuat
suatu keinginan (untuk dibeli) kecuali Allah akan membukakan untuknya suatu
sebab kefakiran.”
? Pemborosan dan Kekufuran
Kemampuan untuk menentukan prioritas
belanja, apakah berkaitan dengan kapasitas daya beli dan ihwal belanja yang
dilakukan, bukan sekedar berkenaan dengan kehidupan ekonomi saja. Dalam hal
apakah kita membelanjakan uang, selain akan menentukan perekonomian, juga yang
sebenarnya akan menyelamatkan hidup seseorang secara keseluruhan.
Allah SWT berfirman:
وَآتِ ذَا
الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
؛ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ
لِرَبِّهِ كَفُورًا [١٧: ٢٦-٢٧]
“Dan
berikanlah hak-hak kerabatmu, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam
perjalanan. Dan janganlah engkau menghambur-hamburkan hartamu secara boros;
sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan harta adalah saudara
syetan-syetan. Dan syetan itu sangatlah kufur kepada Tuhannya.” (17: 26-27)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!