Kisah Sapi Betina

Seorang lelaki tua Bani Israil memiliki kekayaannya yang melimpah. Ia tidak memiliki keturunan sehingga disebutkan bahwa ia akan mewariskan kekayaan tersebut kepada anak saudara kandungnya. Ia tinggal di salah satu kota dari dua kota yang berdampingan.
Keponakan yang akan mewarisi kekayaan tersebut memiliki hasrat yang besar untuk segera memiliki kekayaannya. Maka ia merencanakan pembunuhan yang dengannya ia akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus, mendapatkan warisan dan pembayaran diyat.
Maka pada suatu malam, ia membunuh pamannya dan meletakkan mayat di dekat pintu gerbang kota lainnya. Pagi harinya ia berpura-pura mencari-cari keberadaan pamannya kesana-kemari. Dan bersama beberapa warga kotanya sendiri mereka sampai di dekat pintu gerbang kota tetangganya. Sang keponakan berkata, “sudah jelas ini perbuatan mereka. Aku akan menuntut pemabayaran diyat dari mereka atas pembunuhan pamanku.”
Manakala gerbang kota itu dibuka, sang keponakan berteriak melontarkan tuduhan pembunuhan atas pamannya. Maka terjadilah pertentangan antara penduduk dua kota tersebut, masing-masing saling melontarkan tuduhan atas yang lainnya. Pertentangan tersebut menjadi bertambah sengit dan masing-masing warga kota tampak sudah siap untuk saling menyerang dengan menghunus pedang.


Sementara mereka saling menahan diri untuk saling menyerang, terjadilah kesepakatan untuk sama-sama mendatangi Musa a.s. agar memutuskan perkara yang terjadi di antara mereka sebagai kaumnya.  
Setelah Allah mewahyukan kepada Musa a.s., berkatalah ia, “Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi betina.” Maka kaumnya keheranan dan mempertanyakan perintah tersebut.
“Yang benar saja, apakah kau ingin memperolok kami?” tanya kaumnya.
“Sama sekali tidak, demikianlah perintah Allah dan aku berlindung pada-Nya agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh, yang tidak mau mengikuti perintah-Nya.” Jawab Musa.
“Baiklah kami akan mengikuti, tanyakanlah kepada Tuhanmu sapi yang bagaimanakah yang harus disembelih itu?”
Musa menjawab, “Dia mengatakan bahwa sapi itu tidak muda dan tidak pula tua usianya. Lakukanlah perintah itu.”
Kaumnya berkata, “kami masih cukup bingung, karena sapi itu banyak sekali dan mereka mirip-mirip semuanya. Coba tanyakan lagi kepada Tuhanmu, bagaimana warna kulitnya?”
Musa berkata, “Allah mengatakan bahwa sapi tersebut berwarna kuning menyala dan menakjubkan.”
Kaumnya menjawab, “Itu masih membingungkan kami, bukankah sapi-sapi itu kebanyakan berwarna demikian? Coba kau tanyakan lagi sapi seperti apakah sebenarnya itu, mungkin kali ini kami dapat memahami permintahan Tuhanmu.”
Nabi Musa mengikutinya dan Allah mewahyukan bahwa sapi tersebut tidak pernah dipekerjakan untuk membajak, tidak pernah digunakan untuk menyiram tanaman, keadaannya mulus tanpa ada cacat sama sekali di tubuhnya. Untuk menemukan sapi dengan ciri-ciri demikian tidaklah mudah sampai akhirnya kaum Nabi Musa menemuinya dimiliki oleh seorang anak muda.


Anak muda tersebut dikenal sebagai anak yang sangat hormat kepada orang tuanya. Disebutkan, pada suatu ketika, ia sedang bersama ayahnya yang tertidur. Ketika itu ia didatangi seseorang yang hendak menjual mutiara kepadanya dan ia mendapati kunci tempat penyimpanan uangnya berada di bawah kepala ayahnya.
Orang itu berkata, “ambillah permata ini dengan harga tujuh puluh ribu.”
Lelaki muda itu berkata, “tunggulah sampai ayahku terbangun dan aku akan membelinya dengan harga delapan puluh ribu.”
Orang itu berkata lagi, “bangunkan saja ayahmu dan aku akan memberikannya seharga enam puluh ribu.” Dan orang itu terus membujuknya sampai ia menawarkannya dengan harga tiga puluh ribu dan anak muda itu tetap bersikukuh untuk menunggu ayahnya terbangun sampai ia memberikan harga seratus ribu.
Ketika orang itu terus mendesaknya dengan memberikan harga yang lebih murah dan ia juga menaikkan harganya, ia kemudian berkata kepada orang itu, “demi Allah, aku tidak akan pernah membelinya darimu dengan sepeserpun karena aku tidak akan membangunkan ayahku!”
Atas keteguhan hatinya, Allah menggantikan untuknya dengan seekor sapi yang kemudian dicari-cari oleh orang-orang terkait dengan terjadinya pembunuhan di antara mereka. Penduduk kota yang sedang berseteru semula datang padanya untuk menukar sapi tersebut dengan sapi yang seukuran dengannya dan ia menolaknya. Mereka melipatgandakan harga pembelian dan pemuda itu tetap menolaknya sampai kemudian mereka mengeluh kepada Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s. berkata padanya, “berikanlah sapimu pada mereka.”
Lelaki muda itu menjawab, “ya Rasulullah, aku lebih berhak atas harta bendaku.”
Musa a.s. berkata kepadanya, “engkau benar,” dan kemudian berkata kepada kaumnya, “buatlah saudaramu ini merelakan sapinya, berilah ia emas seberat timbangan sapinya untuk membelinya.”
Mereka pun menyetujuinya akan tetapi pemuda itu tetap tidak mau menyerahkannya sampai kemudian dilipatgandakan sampai sepuluh kali lipatnya, yakni dengan emas seberat sepuluh kali timbangan sapi tersebut.
Kemudian disembelihlah sapi tersebut dan Musa a.s. diperintahkan untuk mengambil bagian dari tubuh sapi dan memukulkannya pada mayat orang yang dibunuh. Mayat itu kembali hidup dan Musa a.s. menanyainya, “siapakah orang yang membunuhmu?” Orang itu langsung menunjuk pada keponakannya dan setelah itu ia kembali mati.

(Disarikan dari riwayat dalam Tafsir Ibnu Katsir)
Print Friendly and PDF