Demi Waktu; Jangan Sampai Merugi

Salah satu gagasan yang selalu muncul dalam perputaran waktu adalah mengenai pencapaian dan harapan baru. Kita mengenal tahun anggaran, ulang tahun, catatan tanggal bersejarah, yang secara umum menggunakan rentang tahun titik temunya termasuk hitungan tahun itu sendiri (yakni Tahun Baru), meskipun bisa saja digunakan putaran waktu yang lain seperti bulan atau pekan.
Waktu, menyerupai misteri yang menyelubungi kehidupan, boleh jadi tidak terlalu mendapat ruang dalam pikiran seseorang. Akan tetapi, salah satu bentuk nikmat yang dianugerahkan secara “merata” adalah waktu. Siapapun orangnya dan bagaimanapun keadaannya, adalah memiliki waktu yang sama dan sama saja kedudukannya atas waktu dengan yang lain.
Dengan waktu inilah, sebagaimana hal-hal istimewa lainnya yang dijadikan sumpah (muqsam bih) oleh Allah menetapkan satu kepastian hidup.
وَالْعَصْرِ ؛ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ؛ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [١٠٣: ١-٣]
“Demi waktu; Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian; Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-Ashr/103: 1-3)
Ayat ini menetapkan satu kepastian yang akan berlaku pada setiap orang, yaitu kerugian. Kata khusr mengacu pada sifat menjadi berkurangnya sesuatu termasuk hilangnya. Kata khusr juga dapat diartikan sebagai kegagalan. Kenisbian tersebut berlaku secara umum bagi manusia dan Allah mengecualikan orang dengan karakter tertentu saja, yakni beriman, beramal shaleh dan saling menasehati dengan yang lainnya. Imam Syafi’i mengatakan, “seandainya Allah hanya menurunkan ayat ini saja sungguh itu cukup sebagai hujjah bagi manusia.”
Kegagalan hidup, dalam rentang waktu singkat seperti hitungan tahun, boleh jadi dengan mudah dapat disadari seseorang dan kemudian ia menyesali hal-hal yang menjadi penyebabnya dan merajut asa untuk tahun yang akan datang. Akan tetapi hal yang lebih besar justru banyak dilupakan, yaitu kegagalan hidup yang disebutkan dalam ayat di atas, yang penyesalan atasnya tidak berguna sama sekali dan tidak ada harapan untuk memperbaikinya.
Beriman; menempatkan seseorang pada kenisbian hidup yang sebenarnya. Tanpa keimanan, seseorang hanya dihadapkan pada tipuan-tipuan kehidupan yang membuatnya mempercayai sesuatu yang tidak sepatutnya ia percayai untuk kebaikan hidupnya. Keuntungan materil, status sosial dan kuasa, boleh jadi dapat diraih seseorang dan ia sampai pada titik pencapaian yang melampaui angan-angannya sendiri. Tetapi jika hal itu dilakukan tanpa keimanan, melakukan hal-hal yang dilarang agama, dzalim dan merugikan banyak orang; bahkan untuk tidur saja ia akan merasa terancam oleh orang-orang yang berada di dekatnya.
Beramal soleh; adalah kenisbian bagi seseorang untuk mendapatkan kebaikan. Amal soleh secara prinsip adalah melakukan hal-hal yang sesuai dengan tuntunan agama. Bertindak sesuai dengan ketentuan agama adalah manifestasi keimanan yang menempatkannya sebagai orang yang mendapat limpahan rahmat Allah SWT.
Saling menasehati dengan sesama, baik dalam berbuat benar dan berlaku sabar; adalah bentuk kebaikan yang paling bernilai dalam hal hubungannya dengan sesama manusia. Nasehat untuk berbuat benar  memiliki nilai yang tidak terkira yang kebaikannya akan berlipat-lipat. Dakwah, dalam istilah lainnya, akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang meluas yang merupakan kebaikan juga bagi si pendakwah. Dan, sifat ini juga dituntut secara terbalik, yakni kemampuan untuk menerima nasihat dari yang lain. Dapat dibayangkan keindahannya kemudian, bagaimana satu sama lain saling mengisi, saling membantu dalam rangka mewujudkan kesolehan yang didasari oleh sesuatu yang bersumber dari Pemilik segala hakikat.

Agama (baca: keselamatan hidup), seperti halnya diungkapkan Imam Syafi’i, dengan landasan prinsip pada surat Al-Ashr ini akan mampu diwujudkan manusia secara paripurna dan kelak setiap orang cukup tahu bahwa itu tidak ada alasan untuk mempertanyakan (ber-hujjah melawan) agama Allah.
Print Friendly and PDF