Rasulullah s.a.w. berkata:
"لِكُلِّ نَبِيٍّ
دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي
اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ
إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا"
(رواه مسلم)
“Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan
maka setiap nabi bersegera dengan doa tersebut. Dan aku menangguhkan menyimpan
doaku sebagai syafaat bagi umatku kelak di hari kiamat. Syafaatku akan
diperoleh, insyaallah, bagi siapa saja di antara umatku yang meninggal dalam keadaan
tidak mensekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (Riwayat Muslim)
Ada tiga hal prinsip dasar untuk dapat memperoleh
syafaat di hari kiamat, yaitu:
Pertama, perkenan Allah; setiap syafaat hanya berlaku
jika Allah berkenan atas syafa’at tersebut. Syafaat berlaku bagi orang beriman
yang melakukan dosa besar selain dosa syirik kepada Allah SWT. Kemusyrikan merupakan
dosa yang tidak terampuni karena Allah sangat murka dengannya.
Kedua, pengakuan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemberi
syafaat; yang berarti mencintai jalan hidup (sunnah) Nabi s.a.w. tanpa mengingkarinya.
Nabi s.a.w. telah memberikan ultimatum:
"فمن رغب عن سنتي فليس
مني"
“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka
ia tidak termasuk (umat) golonganku.”
Ketiga, kesediaan untuk menerima syafaat; hendaknya
penerima syafaat tidak termasuk golongan orang yang dikecualikan dalam
memperoleh manfaat syafa’at sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:
فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ [٧٤: ٤٨]
“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat dari
orang-orang yang memberi syafaat.” (Al-Mudatsir/74: 48)
"أَسْعَدُ النَّاسِ
بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ" (رواه البخاري)
“Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku
pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah
secara ikhlas dari hatinya atau dirinya.” (Riwayat Bukhari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!