Sidik Jari di Dalam Al-Quran

Salah satu bentuk pengingkaran manusia terhadap hari kebangkitan adalah pertanyaan bagaimana wujud mereka akan dikembalikan sementara jasadnya telah hancur. Tulang belulang, adalah struktur jasad yang paling kuat dan kematian seringkali diwakilkan dengan sosok jasad yang hanya tinggal tulang belulang dan ia tidak lagi membangun struktur tubuh (berserakan). Manusia bertanya-tanya, dengan kondisi yang tinggal tulang yang berserakan, bagaimana bisa mereka dihidupkan kembali?
أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ ؛ بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ [٧٥: ٣-٤]
“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?; Bahkan sesungguhnya Kami kuasa untuk menyusun (kembali) ujung-ujung jemarinya secara sempurna.” (Al-Qiyamah/75: 3-4)
Al-Quran menjawab, selain dengan menyebutkan bersatunya tulang belulang yang menjadi pertanyaan manusia, dengan menyebutkan sesuatu yang luar biasa, yaitu bagian yang sangat detil dari dirinya; sidik jari. Secara harfiyah, kata بَنَان cenderung diartikan sebagai ujung jari. Al-Quran memberi tekanan pada ujung jari dengan kata secara sempurna untuk menggambarkan ihwal mendetil dari jasad manusia yang bukan saja rapuh melainkan sangat personal (unik) dan itu adalah sidik jari. Seperti halnya penyebutan ilmu tentang sidik jari, daktiloskopi, yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti jari jemari.
Sidik jari (fingerprint), dikenal sebagai identitas yang mengacu pada satu individu saja karena tidak ada dua bentuk gelombang pada sidik jari yang sama. Melalui sidik jari bisa dilakukan identifikasi forensik (dikenal sejak abad 19) dan kini dikembangkan sebagai sistem keamanan personal (scurity system).

Ayat di atas menegaskan, menjawab pertanyaan manusia tentang kebangkitan, bukan hanya tulang-belulang yang sudah berserakan akan tetapi sampai hal yang sangat detil dan unik sekalipun dari setiap individu akan dikembalikan secara utuh oleh Allah SWT. Dan sungguh luar biasa, sementara daktiloskopi mulai dikenal sebagai disiplin ilmu pada abad ke-19, berabad-abad sebelumnya Al-Quran telah menyampaikan pengetahuan tersebut melalui sosok ummi, Nabi Muhammad s.a.w.. 
Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!