Terompet Tahun Baru (Sangkakala's Warning)

Pernahkah Anda bertanya, kenapa pada momentum tahun baru itu yang ditiup bukan terompet yang memiliki nada-nada, yang akan lebih enak dan syahdu mendayu-dayu. Terompet tahun baru tidak bersuara merdu, melainkan memekak telinga dan secara wajar (di luar momen pergantian tahun) itu hanya disukai sebagian anak-anak saja untuk melakukannya dan mereka pun cepat merasa bosan dengannya.
Kesan apa yang membekas setelah seseorang pulang dari merayakan tahun baru atau apakah yang dirasakannya, barangkali itu akan sangat beragam. Akan tetapi apabila dilihat dari sudut pandang waktu, itu hanya ada dua kesan yang akan melekat pada diri kita; pertama, merasa masih banyak waktu dan kedua, merasa “diburu-buru waktu”. Perasaan manakah yang menghinggapi kita, ada baiknya kita memperhatikan ayat berikut:
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا ؛ وَنَرَاهُ قَرِيبًا [٧٠: ٦-٧]
“Sesungguhnya mereka memandangnya (hari kiamat) itu jauh; sedangkan Kami memandangnya dekat.” (Al-Ma’arij/70: 6-7)

Berbicara tentang kiamat bukanlah berbicara tentang berakhirnya segala sesuatu. Akan tetapi persepsinya menjadi berbeda saat dilihat dari sudut pandang keduniawian. Termasuk dengan apa yang terjadi tangan pandangan yang diungkapkan ayat di atas, antara jauh dan dekat, bukanlah mengenai relativitas. Dalam ungkapan keseharian, kita bisa membedakan dua ungkapan berikut; “sebentar lagi kiamat” dan “kapan sih kiamat datang”. Dua ungkapan tersebut memiliki tendensi yang sama sekali berbeda, percaya dan tidak percaya, menerima dan mengingkari. Ungkapan pertama memastikan kedatangannya, yang kedua meragukan. Lebih jauh lagi, ungkapan tersebut akan membedakan sikap dan tindakan keduanya.Ayat di atas menggunakan subjek (dhamir fail) untuk orang-orang yang ingkar/kafir (70: 6) dan ayat berikutnya dhamir fail untuk Allah (70: 7). Para pentafsir memaknai objek (dhamir muttashil manshub sebagai maf’ul bih) untuk hari kebangkitan, hari terjadinya kiamat dan adzab (balasan/siksa). Orang-orang kafir menganggapnya jauh dan mustahil sebagai bentuk pengingkaran. Maka banyak ditemukan sikap-sikap orang kafir yang mempertanyakan datangnya kiamat. Sementara pandangan yang lain di sini disebutkan pada sudut pandang Allah, Dzat Maha Tahu, yang mustahil dinisbatkan pada-Nya sesuatu yang tidak benar. Dan orang beriman, meskipun mereka tidak bisa mengetahui kepastiannya, mengikuti sesuai apa yang diwahyukan Allah; kiamat itu sudah dekat dan semakin dekat.
Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah s.a.w., dengan pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan orang kafir, “kapan hari kiamat itu terjadi?” Rasulullah tidak menjawab pertanyaan tersebut, melainkan justru balik bertanya, “apa yang telah kau siapkan untuknya?” (Bukhari: 3688, Muslim: 2639).
Dan di balik momentum perayaan tahun baru, Maha Suci Allah, ada peringatan bagi kita tentang ditiupnya sangkala dengan semaraknya suara terompet yang ditiup secara serentak; bahwa akan datang masanya ditiup terompet sangkala; hari kiamat, hari dibangkitkan dan hari pembalasan.  
terompet tahun baru

Jadi, “selamat tahun baru” saya katakan, dan itu sangatlah penting bagi kita untuk mengingat apa yang semestinya kita sadari, kita lakukan dan sikapi. Dalam perayaan tahun baru seperti ini apa yang membekas dan kita rasakan, apakah kesan semakin jauh dari hari yang sudah ditentukan itu atau tetap pada apa yang diwahyukan untuk selalu melihatnya (semakin) dekat.


Print Friendly and PDF