Istikharah Bukan untuk Mengejar Mimpi

Hidup adalah pilihan dan tak ada yang salah jika itu menyangkut pilihan. Pilihan dibuat dengan mempertimbangkan konsekuensi dan tinjauan prospektif. Namun pada kondisi yang berbeda pilihan juga seringkali dibuat dengan mendasarkan pada sesuatu yang bersifat subyektif, seperti selera dan keinginan.


Hal yang seringkali mengemuka ketika seseorang beristikharah adalah mendapatkan petunjuk (secara simbolik) dalam bentuk tertentu seperti mimpi atau semacam pertanda lainnya. Kondisi seperti ini yang biasanya menempatkan seseorang pada dua pilihan, atau dua tindakan yang sama sekali bertolak belakang. Shalat istikharah (yang secara harfiyah berarti meminta pilihan terbaik) menjadi semacam pemberhentian untuk menentukan pilihan sampai kemudian didapatkan satu petunjuk yang mengarahkannya.
Shalat istikharah sebenarnya lebih luas pengertiannya, bukan sekedar meminta pilihan terbaik, menyangkut kebaikan yang dapat kita peroleh dari satu pilihan/keputusan yang ditetapkan meskipun perasaan kita dihinggapi rasa tidak suka. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal,
a.         Kronologi Pensyari’atan (Tasyri’)
Bahwa dalam mengajarkan shalat istikharah Rasulullah s.a.w. menyerupai cara beliau mengajarkan satu surat dari Al-Quran. Shalat istikharah dihubungkan dengan kondisi menggelisahkan, menghendaki ( هَمَّ ), dan beliau menekankan untuk melakukannya dalam berbagai urusan (banyak hal).
b.        Ungkapan pada  Doa Istikharah
Selain kata “aku memohon pilihan terbaik” (أَسْتَخِيرُكَ), ungkapan permintaan kepada Allah SWT pada doa istikharah menggunakan kata “aku meminta Engkau menetapkan taqdir” (أَسْتَقْدِرُكَ), mensiratkan bahwa dengan shalat istikharah ini Allah akan menetapkan taqdir yang baik pada keputusan/urusan yang dibuatnya.
c.         Substansi Kebaikan yang Dimintakan
Bahkan dalam hal yang tidak menyenangkan sekalipun orang yang beriman akan mendapatkan kebaikan dan yang diutamakan dalam doa ini adalah kebaikan dalam beragama.  
Al-Bukhari (256 H/810 M) pada setiap kali menuliskan hadits yang dikumpulkannya senantiasa melakukannya dengan beristikharah. Dan apa yang terjadi dengan kumpulan yang dibuatnya, kitab Shahih yang ditulisnya kemudian mendapat peringkat pertama di antara deretan kitab-kitab hadits. Yang patut kita catat di sini bahwa ternyata shalat istikharah tidak hanya sebuah “pertanyaan” apakah sesuatu itu baik atau tidak, melainkan bagaimana sesuatu itu dapat memberikan kebaikan bagi diri kita.
Memiliki banyak harta secara umum dipandang sebagai kebaikan. Akan tetapi kita juga melihat bagaimana melimpahnya kekayaan seseorang justru mendatangkan hal-hal yang jauh dari kebaikan dan mencelakakannya.
أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ ؛ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ
[٢٣: ٥٥-٥٦]
“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka?
Baik untuk keberagamaan (akhirat) dan keduniaan tidak selalu melekat pada sesuatu secara mutlak. Keduanya juga bukan dua sisi mata uang, baik dalam pengertian tak terpisahkan maupun dalam pengertian saling bertolak belakang. Bahkan sesuatu yang identik dengan kebaikan agama sekalipun, na’udzubillah, dapat berubah menjadi malapetaka.

Dari itu seyogyanya bagi yang beristikharah, apabila menyangkut dua pilihan yang berbeda, tidak berarti harus menunggu petunjuk “simbolik” sebelum menjatuhkan pilihan atau membuat keputusan. Istikharah dilakukan, bahkan setelah satu keputusan dibuat, untuk memohon kepada Allah SWT atas kebaikan yang sebenarnya. Dengan beristikharah, dengan kehendak-Nya, jika sesuatu yang menjadi keputusan ternyata tidak baik, Allah yang akan menentukan bagaimana kita dijauhkan darinya. Atau boleh jadi sebaliknya, dengan istrikharah, boleh jadi yang semula kita hindari justru kemudian dikehendaki Allah mendatangi kita dan itu bukanlah hal yang sulit bagi-Nya, Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Catatan: Untuk pembahasan lebih lengkap lagi silahkan dibaca disini, www.konsultasisyariah.com
Print Friendly and PDF