Apa yang terangkum dalam definisi sholat, mencakup
hal-hal yang menjadi fardhu atau rukun sholat. Adapun rukun shalat yaitu:
1)
Niat
Berdasarkan pada
firman Allah Ta’ala:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ [٩٨: ٥]
“Dan mereka tidak
disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. 98: 5)
إنما الاعمال بالنيات... (رواه البخاري وغيره)
“Sesungguhnya segala amal-perbuatan itu tergantung pada
niatnya...” (Riwayat Bukhari dan yang lainnya)
2)
Takbiratul ihram
Rasulullah s.a.w.
berkata:
"مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها
التكبير، وتحليلها التسليم" (رواه الشافعي وأحمد وأبو داود وابن ماجه
والترمذي)
“Kunci shalat itu bersuci, pengharamnya adalah takbiratul ihram,
dan penghalalnya adalah salam.” (Riwayat Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah
dan Turmudzi)
3)
Berdiri
Allah SWT
berfirman:
وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ [٢: ٢٣٨]
“Berdirilah untuk
Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” (Al-Baqarah/2: 238)
Dan Rasulullah
s.a.w. berkata:
صل قائما، فإن لم تستطع فقاعدا، فإن لم تستطع فعل جنب (رواه البخاري)
“Shalatlah sambil
berdiri, apabila tidak mampu maka sambil duduk dan apabila tidak mampu maka
lakukanlah sambi berbaring.” (Riwayat Bukhari)
4)
Membaca Al-Fatihah
Rasulullah s.a.w. berkata:
لا صلاة لمن
لم يقرأ بفاتحة الكتاب (رواه الجماعة)
“Tidak ada shalat
bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Riwayat jama’ah ahli hadits)
5)
Ruku’
Ruku’ ditetapkan
secara ijma’ tentang kefardhuannya. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا... [٢٢: ٧٧]
“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian dan
bersujudlah...” (Al-Hajj/22: 77)
Dalam melakukan
ruku’ dan sujud secara mutlak difardhukan (menjadi rukun) adanya tumaninah
dalam melakukannya. Rasulullah s.a.w. berkata:
"أسوأ الناس سرقة الذي يسرق من صلاته". فقالوا: يا رسول الله وكيف يسرق من صلاته؟ قال: "لا يتم ركوعها ولا
سجودها." أو قال: "لا يقيم صلبه في الركوع والسجود" (رواه أحمد والطبراني وابن خزيمة والحاكم وقال صحيح
الاسناد)
“Seburuk-buruknya
orang yang mencuri adalah yang mencuri bagian dari shalatnya.” Para shahabat
bertanya, “ya Rasul, bagaimana seseorang dapat
mencuri sesuatu dari shalatnya?” Rasulullah s.a.w. berkata: “yaitu yang
tidak menyempurnakan ruku’ dan tidak pula dengan sujudnya.” Atau (dalam riwayat
lain) beliau berkata: “yaitu orang yang tidak sampai lurus tulang punggungnya
pada saat ruku’ dan sujud.” (Riwayat Ahmad, Thabrani, Ibnu Huzaimah dan Hakim
dengan sanad baik)
6)
I’tidal
Pengertian i’tidal
mengacu pada sifat berdiri antara ruku’ dan sujud yang diharuskan sampai tegak
(i’tidal) sebagai wujud tumaninah dalam shalat. Demikin tergambar dari
apa yang dikatakan Rasulullah:
"... ثم ارفع
حتى تعتدل قائما" (متفق عليه)
“... kemudian
bangkitlah (dari ruku’) sampai tegak berdiri. (Muttafaq Alaih).
Dalam riwayat lain
disebutkan:
لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى صَلَاةِ رَجُلٍ لَا يُقِيمُ
صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ (رواه
أحمد، قال المنذري: إسناده جيد)
“Allah tidak akan
melihat (sebagai amal ibadah) pada shalat seseorang yang tidak menegakkan
tulang punggungnya pada saat (berdiri) di antara ruku’ dan sujud)” Riwayat
Ahmad)
7)
Dua Sujud dan Duduk di antara Keduanya.
Dalil tentang
kefardhuan/rukun sujud telah disebutkan pada bagian ruku’ di atas, dan
disebutkan pula bagaimana sifat duduk dalam hal tumaninahnya:
ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ
حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا (متفق عليه)
“... kemudian sujudlah sampai tumaninah sujudnya, kemudian
bangkitlah sampai tumaninah duduknya, kemudian sujud (yang kedua) sampai
tumaninah sujudnya.” (Muttafaq Alaih)
8)
Duduk tasyahud
Rasulullah s.a.w.
berkata:
فإذا رفعت رأسك من آخر سجدة وقعدت قدر التشهد فقد تمت صلاتك ... (متفق عليه)
“... maka bilamana
kamu mengangkat kepalamu dari sujud terakhir dan duduk sebatas (bacaan)
tasyahud, maka shalatmu telah sempurna.” (Muttafaq Alaih)
Yang menunjukkan kefardhuan duduk
tasyahud (sebagai rukun) diantaranya riwayat yang dinukil dari Ibnu Abbas, ia
mengatakan: “... sebelum difardhukan tasyahud atas kami, kami mengatakan salam
kepada Allah sebelum kepada makhluk-makhluk-Nya, salam kepada Jibril dan
Mikail. Maka Rasulullah s.a.w. mengatakan, “janganlah mengatakan assalaamu ‘alallaah
(salam kepada Allah), tetapi katakanlah attahiyyaatu lillaah.” (Riwayat Bukhari,
Muslim, Nasai, Daruquthni dan Baihaqi)
9)
Salam
Dasar kefardhuan/rukun salam telah
disebutkan pada rukun takbiratul ihram. Jumhur ulama berpendapat bahwa rukun/fardhu
salam adalah yang pertama dan yang kedua adalah mustahab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!