Menjelang usia remaja,
sang anak menjadi sangat menjengkelkan. Segala kemauannya harus dituruti karena
jika tidak banyak hal yang dapat dibuatnya menjadi kacau. Ia mengancam hendak
berhenti sekolah atau dengan melakukan hal-hal buruk dan nekat. Dan ketika
keinginannya diikuti, ternyata tidak membuat orang tuanya merasa lebih baik
karena apa yang diinginkannya memang tidak baik. Masalah seperti ini seringkali
menjadi persoalan dilematis yang menghinggapi para orang tua dan mereka tidak
menemui jalan keluarnya.
Di masa kecilnya dia
adalah anak yang sering sekali menangis dengan hebat. Dia melakukannya setiap
kali permintaannya tidak dikabulkan dengan banyak alasan. Hal itu dilakukannya
setiap kali menginginkan sesuatu. Tangisannya seringkali menggegerkan rumah dan
lingkungannya, tak ada yang bisa menghentikannya kecuali setelah ia mendapatkan
apa yang diinginkannya. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, pertama;
kenapa dia seperti ‘tidak terkendali’? Kedua; kenapa selalu dengan
menangis? Ketiga; Ibaratnya sebuah kontes, apakah yang membuatnya selalu
memenangkan ‘kontes’ yang dibuatnya sendiri itu?
Saat ibunya atau ayahnya
menuruti apa yang diinginkannya merupakan kemenangan bagi sang anak. Ayah-ibunya
kalah. Hal itu seringkali dianggap sebagai sikap mengalah dan karena rasa
sayang yang sangat besar. Sebagai ‘kontes’ yang diciptakan oleh anak sendiri,
jelas sekali menunjukkan bahwa sang anak dapat mendominasi dengan baik. Artinya
sang anak sangat menguasai keadaan, yang berarti pula, bahwa ia cukup memahami
karakter orang tuanya – untuk dieksploitasi.
Cara menangis selalu
dilakukannya karena dengan cara itulah apa yang diinginkannya selalu tercapai. Menangis
adalah senjata andalannya dan ayah-ibunya tidak memiliki senjata yang lebih
canggih dari itu. Dan setiap kali sang anak melakukannya, patut untuk dicatat, kemampuan
sang anak dalam menggunakan senjatanya semakin mahir saja. Karena, dengan
menjadikannya sebagai senjata, pada dasarnya yang dilakukan sang anak adalah
berpura-pura menangis. Akan tetapi itu tidak tampak sebagai kepura-puraan karena
air matanya mengalir dengan deras.
Tangisan (baca: amukan)
anak boleh jadi terkesan tidak terkendali. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah
kemampuannya membangun persepsi dengan konsep yang diinginkannya. Dengan segala
yang dilkukannya, sang anak pada dasarnya sedang membangun sebuah proyek besar
untuk mencitrakan dirinya sebagai kekacauan. Padahal pada sudut pandang sang
anak sendiri hal itu adalah suatu keharusan untuk apa yang diinginkannya.
Tangisan pada mulanya
merupakan cara berkomunikasi sang anak. Hal itu boleh jadi berhubungan dengan
rasa sakit yang menghinggapinya. Hal ini dapat diperhatikan pada anak bayi yang
menangis ketika mengingkan untuk disusui, merasa lapar atau menolak sesuatu
yang dipaksakan padanya. Sebagai indikasi, tangisan anak adalah cara yang mudah
untuk memahami kapan sang anak ingin disusui, makan atau mengeluhkan sesuatu
yang tidak nyaman atau menyiksanya. Padahal, kita dapat dengan mudah memahami
keadaan tersebut tanpa harus menunggu lengking ‘alarm’ yang kita sendiri tidak
mengaturnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!