Makruh berbeda dengan mubah, meskipun tidak berdosa dalam
melakukannya namun hal tersebut lebih utama (dicintai) untuk ditinggalkan. Dan
berbeda pula dengan haram, yang dilarang secara mutlak, pelarangan hal-hal
makruh tidak dapat menempatkan seseorang menjadi tercela atau berdosa
karenanya.
Di antara
hal-hal yang dimakruhkan di dalam sholat antara lain:
1.
Meninggalkan hal-hal yang disunnahkan di dalam Sholat
Meninggalkan
hal-hal yang disunnahkan berbeda dengan kebolehan sebagaimana perkara makruh
juga meskipun tidak berdosa untuk dilakukan, akan tetapi lebih disenangi untuk
ditinggalkan.
2.
Bermain-main dengan pakaian atau anggota badan
Yang dimaksud
bermain-main adalah melakukan tindakan-tindakan yang tidak diperlukan dengan
batasan yang tidak membatalkan shalat. Meskipun tidak membatalkan shalat, hal
tersebut sangat dianjurkan untuk ditinggalkan.
Seorang shahabat
bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang (kebolehan) mengusap-usap kerikil
kecil/bulir-bulir pasir. Rasulullah s.a.w. berkata:
"لا تمسح
الحصى وأنت تصلي فإن كنت لابد فاعلا فواحدة: تسوية الحصى" رواه الجماعة
“Janganlah engkau
mengusap kerikil di saat engkau sedang shalat. Dan seandainya memang harus
mengusapnya, lakukanlah satu kali saja, sekedar menghilangkah kerikil.” (Riwayat Jama’ah)
3.
Mengangkat pandangan ke langit
Rasulullah s.a.w. berkata:
"لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ
أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ، أَوْ لَا تَرْجِعُ إِلَيْهِمْ"
(رواه أحمد ومسلم والنسائي عن أبي هريرة)
“Hendaklah
orang-orang melarang dari mengarahkan pandangannya ke langit ketika sholat,
atau mata itu tidak akan pernah kembali padanya.” (Riwayat Ahmad, Muslim dan
Nasai dari Abu Hurairah r.a.)
4.
Melihat hal yang dapat melalaikan
Rasulullah s.a.w.
shalat pada kain tenun yang ada coraknya, maka (setelahnya) beliau berkata:
"شغلتني أعلام
هذه، اذهبوا بها إلى أبي جهم واتوني بأنبجانيته" رواه البخاري ومسلم عن عائشة
“Corak kain ini
menggangguku dalam sholat, kembalikan itu pada Abu Jahm dan mintalah dari kain
polos yang kasar.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Aisyah r.a.)
5.
Memejamkan mata
Sebagian ulama
memakruhkannya dan sebagian lain membolehkannya. Adapun riwayat yang
menyebutkan kemakruhannya tidak shahih. Ibn Qayyim berkata: Inti
permasalahannya adalah, apabila ternyata dengan membuka mata tidak
menghilangkan kekhusyu’an, maka itu lebih baik. Namun jika ada sesuatu yang
dapat mengganggu kekhusyu’an shalat di hadapannya seperti emas, perhiasan atau
yang lainnya, maka tidak mengapa untuk menutup mata. Akan tetapi apabila
menetapkannya sebagai hal yang lebih baik (mustahab), maka hal ini
berhubungan dengan pokok-pokok syari’at yang menjadikannya makruh.
6.
Isyarat tangan ketika salam
Jabir bin Samrah
berkata; “kami shalat di belakang Nabi s.a.w., maka beliau berkata”:
"ما بال هؤلاء
يسلمون بأيديهم كأنها أذناب خيل شمس إنما يكفي أحدكم أن يضع يده على فخذه ثم يقول:
السلام عليكم السلام عليكم" (رواه
النسائي وغيره)
“Apa yang membuat
orang-orang melakukan salam dengan tangannya seperti ekor kuda yang kabur?
Sesungguhnya cukup dengan meletakkan tangan saja di atas kedua pahanya kemudian
mengatakan asssalaamu’alaikum, assalamu’alaikum.” (Riwayat Nasai
dan perawi lainnya)
7.
Shalat dengan menutupi mulut dan pakaian yang terjuntai
ke tanah
Abu Hurairah r.a. berkata:
"نهى رسول
الله صلى الله عليه وسلم عن السدل في الصلاة، وأن يغطي الرجل فاه" (رواه الخمسة والحاكم)
“Rasulullah s.a.w. melarang dari menjuntaikan pakaian
(sampai ke tanah) di dalam sholat dan orang yang menutupi mulutnya.” (Riwayat
perawi lima dan Hakim)
8.
Shalat bersama hidangan/makanan
Rasulullah s.a.w.
berkata:
"إذا وضع
العشاء وأقيمت الصلاة فابدءوا بالعشاء" رواه أحمد ومسلم
“Apabila hidangan telah disediakan dan (bersamaan dengan itu)
shalat hendak ditunaikan, maka dahulukanlah (menyantap) hidangan.” (Riwayat
Ahmad dan Muslim)
9.
Shalat dengan menahan buang hajat dan hal lain yang
serupa
Rasulullah s.a.w.
berkata:
"لا يصلي أحد
بحضرة الطعام، ولا هو يدافعه الاخبثان" (رواه أحمد ومسلم وأبو داود)
“Janganlah
seseorang menunaikan shalat di saat (telah tersedia) hidangan dan jangan pula
dengan menahan dua ihwal buang hajat.” (Riwayat Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)
10.
Shalat di saat mengantuk
Rasulullah s.a.w.
berkata:
"إذا نعس أحدكم فليرقد حتى يذهب عنه النوم، فإنه إذا صلى وهو
ناعس لعله يذهب يستغفر فيسب نفسه" (رواه
الجماعة)
“Apabila seorang
dari kalian mengantuk maka hendaklah ia tidur sampai (kantuk tersebut) hilang
dengan tidurnya, karena apabila ia sholat dalam keadaan mengantuk boleh jadi
dalam maksudnya beristighfar justru mengutuk dirinya sendiri.” (Riwayat jama’ah
ahli hadits)
11.
Selalu mengkhususkan tempat sholat sendiri di masjid
(selain imam)
Abdurrahman bin
Syibl r.a. berkata:
"نهى رسول الله صلى الله عليه
وسلم عن نقرة الغراب، وافتراش السبع، وأن يوطن الرجل الماكن في المسجد كما يوطن
البعير" (رواه أحمد وابن خزيمة وابن حبان والحاكم)
“Rasulullah s.a.w. melarang seseorang
untuk mengambil ceruk (seperti) burung
gagak, atau mendekam (seperti) binatang buas, dan atas (kebiasaan) mengambil
tempat sendiri secara khusus di dalam masjid seperti kebiasaan keledai
(mendekam pada satu sudut) mengandang.” (Riwayat Ahmad, Ibn Khuzaiman, Ibn
Hibban dan Hakim).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!