Rasulullah s.a.w.
menyebut bulan Ramadhan sebagai bulan shabar. Dari ungkapan tersebut dapat
dipahami bahwa dalam Ramadhan (berpuasa) terdapat substansi kesabaran yang oleh
Allah dijanjikan akan mendapatkan pahala tidak terhingga.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ
أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ [٣٩: ١٠]
“Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(Az-Zumar/39: 10)
Kekhususan puasa, bahwa
itu untuk-Ku – kata Allah, mensiratkan ketidakterbatasan pahala yang akan
didapatkan orang yang mengerjakannya. Namun bukan berarti bahwa semua puasa
yang dilakukan orang akan bernilai “tidak terhingga” di sisi Allah, karena
ternyata ada orang yang justru tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali
rasa haus dan lapar saja. Rasulullah s.a.w. mengatakan:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ
صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا
السَّهَرُ (رواه ابن ماجه والنسائي)
“Banyak di antara orang
yang berpuasa yang tidak mendapat (pahala) apapun dari puasanya kecuali rasa
lapar, dan banyak orang yang shalat (malam) tidak mendapat apa-apa dari
shalatnya kecuali (kelelahan karena) tidak tidur saja.” (Riwayat Ibnu Majah dan
Nasai)
Bahwa di bulan ini
pintu-pintu surga dibukakan, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan dibelenggu.
Makna tersirat dari ungkapan hadits tersebut adalah bahwa segala kebaikan
terbuka luas bagi setiap orang dan syetan tidak berdaya dengan segala upayanya
untuk menyesatkan manusia. Ramadhan adalah satu kesempatan, yang dengan
kesempatan tersebut seseorang dapat menggapai kebaikan yang akan mendapatkan
pahala yang tidak terbatas di sisi Allah.
Akan tetapi, sekali lagi,
hal itu tidak dapat diraih hanya dengan menahan makan-minum atau hubungan seks
belaka. Puasa yang bernilai tidak terbatas di sisi Allah tersebut adalah
puasanya orang-orang yang memanifestasikan ketakwaan yang sebenarnya, yaitu
yang memenuhi perintah Allah sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْـفِرَةٍ مِّن
رَّبِّـكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِـدَّتْ لِلْمُـتَّـقِـينَ
[٣: ١٣٣]
“Dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran/3: 133)
Dari itu kita dapat
melihat berbagai keutamaan dari amalan-amalan yang secara ma’tsur
(tersurat) dari Rasulullah s.a.w. yang sangat dianjurkan selama berpuasa yang
dapat menempatkan seseorang pada kedudukan yang mulia, di antaranya:
Membaca Al-Quran
Al-Quran diturunkan di
bulan Ramadhan. Rasulullah s.a.w. sendiri selalu bermudarasah bersama
Jibril a.s. setiap bulan Ramadhan dengan Al-Quran. Dan sebagaimana disampaikan
beliau juga, dengan membaca Al-Quran seseorang akan mendapatkan pahala kebaikan
dari setiap hurufnya dan setiap huruf tersebut akan dilipatgandakan menjadi
sepuluh kali lipatnya.
Shalat Malam
(Tarawih/Tahajud)
Berbeda dengan
bulan-bulan lain, Rasulullah s.a.w. memberi contoh untuk shalat malam untuk
dilakukan tanpa tidur terlebih dahulu. Sehubungan dengan shalat malam tersebut
Rasulullah s.a.w. mengatakan:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً
وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري ومسلم)
“Barang siapa yang
mendirikan shalat (malam) pada bulan Ramadhan, dengan dasar iman dan
mengharapkan pahala (dari Allah), maka akan diampunkan baginya dosa-dosanya
yang telah lalu.”
Bersedekah dan Memberi
Makan untuk Berbuka
Memperbanyak sedekah di
bulan Ramadhan merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Sebagaimana disebutkan
dalam riwayat hadits bahwasannya kedermawanan Rasulullah s.a.w. selama bulan
Ramadhan ibarat angin yang bertiup.
Dan di antara sedekah
tersebut dapat berbentuk memberi makan untuk orang yang berbuka yang memiliki
kedudukan sangat utama sehingga dikatakan oleh Rasulullah s.a.w.:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ
أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا (صحيح؛ الترمذي)
“Barang siapa yang
memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala
seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang
berpuasa tersebut sedikitpun.” (At-Tirmidzi)
I’tikaf
Beri’tikaf adalah
berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu menjelang
sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Lailatul Qadar adalah suatu
malam yang disebutkan di dalam Al-Quran (97: 3) lebih baik dari seribu bulan. Seribu
bulan sama dengan 83 tahun lebih. Nilai yang lebih baik dari itu, wallahu
a’lam, seberapa besarkan atau berapa kali lipatkah kebaikannya di sisi Allah
SWT. Dan, sebagaimana ibadah-ibadah lain di bulan Ramadhan, dengan menunaikan
i’tikaf di malam-malam tersebut Rasulullah s.a.w. mengatakan:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً
وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)
“Barang siapa yang
menunaikan (i’tikaf) pada malam lailatul qadar dengan didasari
keimanan dan mengharap pahala (dari Allah) maka akan diampuni baginya
dosa-dosanya yang telah lalu. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Umrah
Berumrah di bulan
Ramdhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Rasulullah s.a.w. berkata:
عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً،
أَوْ حَجَّةً مَعِي (متفق عليه)
“Berumrah pada bulan
Ramadhan sebanding dengan menunaikan haji atau berhaji bersamaku.” (Muttafaq
‘alaih)
_
***
Selain hal-hal di atas,
banyak pula sunnah-sunnah lain yang berkaitan dengan berpuasa seperti bersantap
sahur, menyegerakan berbuka, bersiwak, memperbanyak dzikir dan berdo’a, dan
lain-lain sebagainya yang juga memiliki keistimewaan di sisi Allah yang akan
menjadikan puasa seseorang memiliki nilai tak terhingga. Insyaallah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!