Banyak orang mengeluhkan
tentang kenakalan, perilaku tidak menyenangkan atau sifat bandel yang melekat
pada anak. Keluhan yang biasanya diungkapkan dengan membandingkan anak-anak,
remaja atau pemuda sekarang dengan generasi sebelumnya (yang notabene adalah
generasi yang mengeluhkan). Lebih buruknya, keluhan-keluhan tersebut seringkali
disertai dengan vonis-vonis berat yang dijatuhkan.
![]() |
| Membawa serta anak pergi ke mesjid sejak usia dini |
Jika kita memperhatikan apa yang dikatakan
oleh Rasulullah s.a.w., bahwa setiap anak dilahirkan dengan fitrahnya akan tetapi
orang tuanyalah yang merubah fitrah tersebut, orang tua jelas
memiliki peranan besar dalam membentuk karakter sang anak menjadi demikian
‘menjengkelkan’. Salah satu vonis yang seringkali dibuat demikian berat adalah
vonis-vonis tentang kesalahan yang pada dasarnya melekat pada orang tua itu
sendiri. Karena, darimana dan dimanapun sang anak belajar, guru pertama dan
paling penting baginya adalah orang tuanya sendiri. Sebagaimana ada ungkapan
yang mengatakan, “guru kencing berdiri anak kencing berlari”, sang anak bukan
hanya terkesan melakukan lebih akan tetapi memang bisa melakukannya dengan
kapasitas yang lebih dari orang tuanya.
Sebagai contoh, apakah
menyangkut anak usia dini atau sudah beranjak dewasa, kita boleh jadi
mengeluhkan anak-anak kita yang cukup bermalas-malasan dalam shalat atau
mengaji. Banyak dikeluhkan kini, jika sudah menginjak bangku SMP atau SMA,
anak-anak sudah enggan untuk pergi ke mesjid atau mengaji, atau barangkali bisa
jadi anak-anak tersebut cukup jauh dengan yang namanya masjid. Hal seperti ini
boleh jadi bermula dari orang tuanya sendiri, yang kemudian ditiru dan
dipelajari sang anak sampai kemudian anaknya mampu bersikap lebih buruk dari
orang tuanya.
Hal demikian bisa
terjadi dengan mudah apabila sejak dari kecil ternyata sang anak mendapati
orang tuanya melakukan hal yang dilakukannya sekarang. Pada saat masih usia
belia atau bahkan sejak usia dini barangkali anak kita cukup rajin pergi ke
mesjid dan mengaji sebagaimana teman-temannya melakukan itu. Akan tetapi,
jangan salah, bahwa sang anak akan senantiasa memperhatikan apa yang dilakukan
ayah-ibunya yang tidak pernah ke mesjid atau mengaji. Boleh jadi pada suatu
kali sang anak bertanya, kenapa ayah tidak pergi ke mesjid atau kenapa tidak mengaji.
Dan dengan mudah kita dapat menjawab, “ayah sedang banyak sibuk”, “ibu masih
lelah karena memasak”, atau jawaban-jawaban lain.
Dengan jawaban-jawaban
tersebut kita boleh jadi merasa nyaman karena kemudian sang anak sepertinya
memahami alasan tersebut. Akan tetapi, ada sesuatu yang tidak kita sadari,
sebenarnya diamnya sang anak adalah mempelajari sesuatu; “bahwa shalat atau
mengaji boleh ditinggalkan di saat ada kesibukan”. Dan apa yang terjadi
kemudian, di saat menginjak bangku SMP, anak kita mendapatkan banyak tugas
pekerjaan rumah, tugas kelompok, atau bahkan ‘tugas definitif’ yang dibuatnya
sendiri adalah alasan yang kuat untuk tidak pergi ke mesjid atau mengaji,
bahkan di saat orang tuanya memerintahkan hal tersebut dengan tegas/keras.
Dari itu, dalam hal
membimbing keluarga dalam menjaga dari hal-hal buruk (api neraka), Allah
menegaskan untuk memulai dari diri sendiri:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ
غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا
يُؤْمَرُونَ [٦٦: ٦]
“Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim/66: 6)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!