Keutamaan Shalat Berjamaah; Jangan Coba-coba untuk Mengabaikannya!

Shalat adalah tiang agama. Ungkapan hadits ini menggambarkan bagaimana pentingnya kedudukan shalat dalam keislaman seseorang. Rasulullah s.a.w. lebih mempertegas gambaran tersebut dengan mengatakan, “siapa yang dapat menegakkannya maka ia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang meruntuhkannya maka ia telah meruntuhkan agamanya.” Ibarat sebuah bangunan, tanpa ada tiang-tiang yang kuat, maka ia akan ambruk dengan mudahnya atau bahkan tidak dapat berdiri sama sekali. Demikian pula dengan keislaman seseorang, seperti apa ia dapat menjaga shalatnya akan sangat menentukan kadar keislamannya dan mengingat bahwa agama adalah fitrah (kodrat) kehidupan, demikian pula kadar kehidupannya ditentukan.

Menunaikan shalat (fardhu) secara berjama’ah merupakan bagian penting yang akan menentukan kesempurnaan dalam shalat. Memang benar, bahwa sebagaimana para ulama menetapkan bahwa shalat yang dilakukan sendirian (munfarid) itu sah, akan tetapi nilainya sangatlah jauh dan karena ia telah menyia-nyiakan keutamaan yang sangat besar sungguh telah melakukan kesalahan fatal.
Allah telah mensyari’atkan shalat berjamaah dengan berbagai keutamaan yang dapat diraih seseorang sebagai nikmat yang tidak terkira, sungguh tidak pantas bagi seseorang untuk menyia-nyiakannya.

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول اللهِ - صلى الله عليه وسلم - قال: «صَلاةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً». وفي لفظ: «بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً». متفق عليه
Dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendiri dua puluh tujuh derajat.” Atau dalam lafadz lain, “dua puluh lima derajat.” (Riwayat Bukhari-Muslim)

Pada nilai satu berbanding dua puluh tujuh atau dua puluh lima dapat dipahami bahwa orang yang melakukan sholat sendirian hanya mendapatkan satu kebaikan dari sekian banyak kebaikan yang dapat diraihnya jika ia melakukannya dengan berjama’ah. Dengan sudut pandang lain, dengan shalat munfarid artinya ia mencukupkan diri dengan mengambil satu bagian dari 25 atau 27 bagian yang tentu tidak sulit untuk dapat diraihnya.
Sebagai bagian dari ketakwaan, shalat berjama’ah dijanjikan Allah dengan berbagai macam kebaikan yang dapat diraih seseorang dalam kehidupannya, sebagaimana Firman-Nya:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا [٦٥: ٢-٣]
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq/65: 2 – 3)

 Artinya, yang dilakukan seseorang dengan shalat munfarid sekiranya termasuk wujud ketakwaan, maka nilai kebaikan yang dapat diraihnya hanya 1/27 bagian saja dari kebaikan yang disediakan Allah SWT. Untuk orang-orang yang bertakwa pula Allah menjanjikan jalan keluar (dari masalah-masalah) dan memberikan rejeki yang tidak disangka-sangka, apakah itu termasuk bagi orang yang dengan leluasa mengabaikan satu aturan syari’atnya yang dalam hadits Rasulullah s.a.w. disebutkan sebagai as-sunan al-huda (jalan petunjuk), yang apabila ditinggalkan maka itu akan menempatkan seseorang pada kesesatan. Na’udzubillah.
Di antara beberapa ungkapan hadits Rasulullah s.a.w. mengenai shalat berjama’ah mensiratkan hikmah-hikmah yang besar bagi orang yang melakukannya. Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ، وَلَا بَدْوٍ، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ، إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ (رواه أحمد وأبو داود)
“Tidaklah tiga orang yang tinggal dalam suatu kampung yang tidak didirikan shalat (berjamaah) oleh mereka, kecuali bahwa disanalah setan telah menguasai mereka. Maka berjamaahlah kalian, sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang terpisah dari kawanannya.” (Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
_
Artinya syetan lebih mudah untuk menguasai orang yang shalatnya selalu sendirian. Bahkan peluang bagi syetan tersebut tidak hanya terbuka bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah, dalam hal sifat kerapihan barisan shaff saja Rasulullah s.a.w. memperingatkannya sebagai peluang bagi syetan dan permasalahan-permasahan lain yang akan menimpa seseorang atau bahkan dalam sifat kebersamaan.

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ، وَحَاذُوا بَيْنَ المَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الخَلَلَ، وَلِيْنُوا بِأَيْدِي إخْوَانِكُمْ، وَلا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفّاً وَصَلَهُ الله، وَمَنْ قَطَعَ صَفّاً قَطَعَهُ الله (أخرجه أبو داود والنسائي)
“Luruskanlah shaff-shaff, sejajarkan pundak-pundak, tutuplah celah-celah dan tautkanlah dengan tangan-tangan saudara kalian. Dan jangan biarkan ada celah-celah bagi syetan. Barang siapa yang menyambungkan shaff maka Allah akan menyambungkan (silaturahminya) dan barangsiapa yang memutus shaff maka Allah akan memutusnya. (Riwayat Abu Daud dan Nasai)


.


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!