Traveling; Pelajaran Apa yang Dapat Diraih

Traveling sudah menjadi tren masa kini yang nyaris menjadi semacam standar, ukuran atau bahkan "tujuan" hidup seseorang. Apakah dalam bentuk hobi otomotif, minat akan benda klasik, atau sekedar melakukan satu permainan. Sehebat apa hidup seseorang, sehebat apa cara dia bepergian/traveling; apa yang dia kendarai, makanan apa yang dia beli atau sesering apa ia melakukan traveling itu sendiri, atau apa saja yang melekat pada suatu perjalanan.
_
di masjid ini orang datang dari berbagai penjuru dunia
Traveling identik dengan pengalaman hidup, karena dari perjalanan seseorang akan bertemu dengan habitat dan keragaman suasana. Selain kesan, traveling dapat menjadi pelajaran berharga bagi seseorang dari banyak hal yang tidak dikiranya akan memberi pelajaran. Traveling identik dengan cerita dan pada cerita tersebut terdapat pelajaran.
Allah SWT berfirman:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ [١٦: ٣٦]
“Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-naml/27: 69)

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ [٢٧: ٦٩]
“Katakanlah: "Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (An-Nahl/16: 69)

Ungkapan perintah untuk melakukan perjalanan di bumi banyak diungkapkan di dalam Al-Quran (setidaknya terdapat pada 14 tempat). Perintah tersebut selalu diikuti dengan ungkapan, “dan perhatikanlah bagaimana akibat (yang ditimpakan) pada orang-orang yang mendustakan/orang-orang durhaka,” mensiratkan bahwasannya di dalam perjalanan tersebut akan banyak dijumpai sifat-sifat yang bertentangan dengan agama.
Suatu perjalanan (tamasya) selalu meninggalkan kesan keistimewaan tempat yang dikunjungi. Kesan-kesan tersebut belum tentu selaras dengan nilai-nilai keislaman atau bahkan bertentangan sama sekali. Secara sederhana, kesan apa yang timbul dari perjalanan pada suatu tempat yang cenderung terbiasa mempertontonkan aurat – sebagai contoh, cukup menentukan nilai perjalanan itu sendiri. Jika ternyata seseorang justru terkesan dengan habitat tersebut, mengagumi atau bahkan meniru dengan bangga, hal ini jelas-jelas menafikan substansi perintah untuk melakukan perjalanan.
Kebaikan apa yang didapat seseorang dalam melakukan perjalanan, adalah sesuatu yang bernilai keagamaan. Kunjungan pada situs purbakala yang notabene adalah tempat-tempat pemujaan (kemusyrikan), seyogyanya lebih dapat menjaga seseorang dari hal-hal yang berbau kemusyrikan dan bukan sebaliknya. Sebagaimana anjuran yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. mengenai sifat perjalanan yang harus lebih diutamakan oleh seseorang, yakni perjalanan menuju tiga mesjid. Rasulullah s.a.w. mengatakan:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِي، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Tidaklah (disarankan) untuk bersungguh-sungguh dalam suatu perjalanan kecuali ke tiga masjid berikut; Masjidil Haram, masjidku ini dan masjid Al-Aqsha.”
_

Ada keistimewaan dari ketiga tempat tersebut, sebagaimana Rasulullah s.a.w. menegaskannya bahwa shalat di Masjidil Haram sebanding dengan 100.000 kali shalat di masjid lainnya, Masjid Nabawi seribu kali lipat dan Masjid Al-Aqsha Seratus kali lipat. Gambaran ini merupakan ukuran kebaikan yang akan diraih seseorang dari perjalanannya, karena  shalat merupakan ukuran segala sesuatu. Dengan nilai shalat sedemikian rupa istimewa, maka demikian pula nilai perjalanan itu sendiri.

Haji dan Umroh merupakan satu bentuk perjalanan yang harus dilakukan, bahkan salah satunya menjadi rukun Islam. Maka perjalanan apa yang menjadi prioritas seseorang, akan sangat menentukan keislamannya.


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!