Agar Anak Mengidolakan Rasulullah s.a.w.

Seorang anak, terutama dalam masa pencarian jati diri, akan mencari-cari sosok yang diidolakannya. Sosok tersebut dapat membuatnya melihat diri sendiri (bercermin) dengan gagasan ideal yang melekat padanya. Dengan menyukai sosok superhero, seorang anak akan berusaha meniru atau bahkan bertindak selayaknya ia sendiri adalah superhero tersebut. Apakah seorang anak yang memiliki idola superhero akan menjadi orang super, bahkan kelak sang anak sendiri hanya akan melihatnya sebagai kekonyolan saja.
_
Superhero tampil tidak selayaknya manusia secara umum. Kita sudah terbiasa melihat kostum aneh, fakta-fakta yang tidak masuk akal dan bahkan ikon-ikon kebinatangan. Untuk mendapatkan penerimaan superhero selalu tampil sebagai pembela kebenaran, pembela kaum lemah dan menyelamatkan dunia. Padahal, adakah sejarah mencatat hal seperti itu? Akan tetapi cukup mengherankan, tidak jarang kita mendengar seorang anak berteriak lantang bahwa ia bercita-cita untuk menjadi superhero tersebut.
Dalam mengidolakan superhero yang dapat dilihat pertama kali adalah kekuatan super yang tidak dimiliki orang lain. Gagasan besarnya selalu dapat mengalahkan orang lain. Ia cenderung tidak dikenal identitasnya, hidup menyendiri dan terasing dari kehidupan. Yang lebih lucu, ia menggunakan kostum aneh, justru seolah-olah ingin dikenal baik (terkenal di mata) manusia. Dari gambaran ini saja, kita tidak dapat membayangkan, kepribadian seperti apakah yang akan dimiliki sang anak.
Sementara di sisi lain, sosok yang begitu mulia dan berbudi perkerti luhur, yang telah menoreh sejarah perubahan tatanan kehidupan terbesar, yang menampilkan diri sebagai manusia biasa dengan pesan bahwa setiap orang bisa seperti dirinya, yakni sosok Rasulullah s.a.w., sangat berbeda dengan sosok superhero dan nyaris tidak diperkenalkan kepada anak-anak dengan beragam media yang kini dapat diakses anak-anak. Ia tampil sebagai manusia biasa, bergaul dan dikenal baik oleh banyak orang bahkan yang memusuhinya sekalipun. Di balik semua itu, ia adalah sosok yang sempurna kepribadiannya dengan membawa risalah yang agung dan dengan tegas ditegaskan Allah SWT:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
[٣٣: ٢١]
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab/33: 21)
Kata uswah, teladan, mengacu pada segala sesuatu yang selalu diikuti oleh manusia. Uswah melekat pada orang atau kelompok orang yang mendahului, datang sebelum orang yang mengikutinya. Termasuk maknanya juga mengenai orang-orang yang pada pandangan seseorang lebih unggul, lebih, di atas ukuran yang dimiliki oleh dirinya. Oleh karena itu, kata teladan tidak selalu mengenai sesuatu yang baik tetapi bisa sebaliknya. Ungkapan ‘teladan yang baik’ merupakan penegasan atas kecenderungan lain dari diri manusia yang cenderung mengikuti sosok atau kelompok orang menjadi teladan yang tidak baik. Inilah yang diungkapkan Al-Quran mengenai teladan yang selalu diambil oleh orang-orang yang menolak para Rasul:
بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ [٤٣: ٢٢]
“Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka". (Az-Zukhruf/43: 22)
Penolakan terhadap para rasul, termasuk Rasulullah s.a.w., cenderung dilakukan manusia ketika mereka terlanjur mengikuti sosok atau orang-orang yang telah memberi pengaruh kuat bagi dirinya. Gambaran ini cukup menjadi pelajaran bagi para pendidik, orang tua atau siapa saja yang bertanggungjawab dalam pembinaan akhlak dan karakter anak atau generasi penerus untuk dapat lebih memperkenalkan sosok teladan yang baik (Rasulullah s.a.w.) dimulai dengan memperkenalkannya dan memperlihatkan praktek dan sikap meneladani beliau s.a.w. secara nyata.
_


Khusus bagi anak-anak, barangkali itu tidak mudah untuk memperkenalkan sosok Rasulullah s.a.w. dengan maraknya tampilan-tampilan tokoh idola dan superhero yang seolah-olah memanjakan imajinasi mereka, akan tetapi pada dasarnya tanpa gambaran visual sekalipun mereka dapat dibuat cukup mengenal sosok Rasulullah s.a.w. yang salah satunya dengan mengidentikkan hal-hal yang dapat dinisbatkan kepada Rasulullah s.a.w. seperti cara makan, minum, doa-doa dan lain-lain sebagainya yang biasa dilakukan sehari-hari. Hal itu tidaklah akan sulit pada setiap kali kita melakukan suatu sunnah untuk menjawab atau menjelaskan kepada anak bahwa demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w., atau dengan mingisahkan perjalanan hidup Rasulullah s.a.w. dan dengan memanfaatkan berbagai media dan kreativitas.
Tentulah akan menjadi keindahan yang luar biasa bagi para ayah-bunda di saat bertanya kepada anak-anaknya, “ingin menjadi seperti siapakah mereka kelak,” dan sang anak  menjawab, “Ingin menjadi seperti Nabi Muhammad s.a.w.”



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!