Film yang Mendidik...?

Agak sulit bagi saya (pen.) untuk menjadikan film sebagai tumpuan, terutama untuk pendidikan anak, selain bahwa penyampaian pesan melalui film sangatlah mendalam. Bagaimana tidak, sebuah film selalu tampak lebih nyata dan menyuguhkan sesuatu sebagai fakta “kebenaran” karena ia ditampilkan dengan peran manusia atau setidaknya peran lain (seperti binatang dan benda-benda mati) yang tetap saja menampilkan dan hidup dengan cara manusia. Saat ditonton, film memiliki daya hipnotis yang kuat karena yang menontonnya seolah-olah melihat dirinya di dalam film tersebut.
_
Alih-alih mendapatkan manfaat secara keagamaan (baca: pendidikan keislaman), mengingat latar belakang dan tujuan film itu sendiri, sudah tentu bukan hal yang mudah untuk mendapatinya didasari dengan landasan dan tujuan pendidikan agama. Sementara di lain pihak, jika bagi kami agama merupakan hal yang fundamental, maka apakah produser film, sutradara, artis dan siapa saja yang memegang peran penting dalam perfilman memiliki nilai fundamental yang sama?
Film apa yang ditonton anak-anak, persoalannya tidak sesederhana apakah film itu disukai atau tidak disukai anak-anak (baca: laris ditonton). Dalam ranah aqidah (keyakinan), orang tua atau pendidik harus memberi perhatian ekstra keras ketika adegan dan dialog mengandung unsur-unsur kemusyrikan atau kekufuran, dan itu banyak sekali. Jika sebuah tontonan selalu menampilkan adegan atau ungkapan ‘ketuhanan’ dengan istilah yang sama sekali tidak mengarah kepada Allah, ini merupakan hal fundamental yang dapat membekas dengan kuat pada keyakinan sang anak dan tentunya akan merestorasi nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.
Atau barangkali hal-hal yang seringkali dianggap sepele seperti cara makan dan minum, sebagai contoh, seberapa hebat pengaruh bagi sang anak apabila sehari-harinya terbiasa melihat dan atau melihat tokoh pavoritnya minum sambil berdiri dan seberapa sulitnya kemudian untuk mendidik sang anak untuk merubah kebiasaan tersebut menjadi berkesuaian dengan sunnah Rasulullah s.a.w..
Barangkali itu benar bahwa keberagamaan seseorang tidak dapat diukur dari penampilan atau hal-hal yang bersifat tampak di luar saja, akan tetapi apabila hal itu sudah menyangkut identitas dan ikon-ikon agama bukan berarti hal-hal yang tampak tersebut bukan berarti dapat dijadikan objek yang diinterpretasi atau dilecehkan untuk satu kepentingan “hiburan” suatu tontonan.
Kesenian, kreativitas dengan segala prestasi yang mengiringinya seperti di bidang perfilman boleh jadi memiliki peran penting dalam kemajuan suatu bangsa, akan tetapi apabila hal tersebut dibangun di atas kesemena-menaan, intoleransi dan pelecehan atas bagian penting dari bangsa ini (baca: keagamaan dan para pemeluknya), akan ke mana arah kemajuan yang di dambakan para pelaku kreativitas tersebut sebenarnya. Dan itu cukup mengganggu, alih-alih menyampaikan permohonan maaf, ketika sang produser menyampaikan pembelaan bahwa itu hanya spontanitas dan melontarkan ungkapan keputusasaan atas kritik dan petisi yang diarahkan pada filmnya.
Apresiasi seperti apa yang diharapkan seorang pelaku kesenian dengan karya seninya, itu bukan bagian yang hendak saya interpretasikan di sini. Akan tetapi jika para pelaku kesenian tidak mengindahkan tatanan, norma dan identitas keberagamaan serta mencederai keyakinan dan para pemeluknya, itu sangat tragis dan tidak pantas mendapatkan apresiasi sama sekali.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا [٣٣: ٥٨]
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab/33: 58)


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!