Sepeninggal Nabi Musa
a.s., hanya beberapa masa saja Bani Israil dapat berpegang teguh pada ajaran
yang dibawanya. Setelah itu mereka kembali mempersekutukan Allah, menyembah
berhala, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal padahal di antara
mereka masih terdapat nabi-nabi yang senantiasa ber-amar ma’ruf nahi munkar. Disebutkan
sekitar seribu tahun kemudian, Bani Israil mengalami keterpurukan. Mereka diusir
dari wilayah dan negerina, keturunan dan bangsanya banyak dibunuh secara
besar-besaran bahkan Taurat dan Tabut diambil dari mereka oleh seorang raja
bernama Jalut. Para pemuka mereka tidak tahu bagaimana cara untuk membebaskan
diri dari keadaan tersebut sementara mereka sendiri sudah tidak memiliki seorang
raja yang akan memimpin perlawanan tersebut. Kemudian mereka mendatangi seorang
nabi, dikatakan ia bernama Yusya’ bin Nun dan menurut sumber lain bernama
Samuel bin Baliy.
Mereka berkata, “utuslah
kepada kami seorang raja yang akan memimpin kami untuk berperang di jalan
Allah.”
Samuel menjawab, “benarkah
kalian menginginkan itu? Apakah nanti setelah peperangan itu diperintahkan kalian
tidak akan berpaling?”
Mereka menjawab, “bagaimana
kami hendak berpaling dari berperang sementara kami telah diusir dari tanah
kelahiran dan anak-keturunan kami banyak yang dibunuh?”
Mereka meminta agar raja
tersebut dipilih dari kalangan mereka sendiri (para pembesar Bani Israil). Akan
tetapi Samuel menjawab permintaan dengan mengikuti petunjuk Allah dan
mengatakan, “sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut agar menjadi raja kalian.”
Mereka menjawab, “bagaimana
mungkin ia menjadi raja kami? Bukankah kami (para pembesar Bani Israil) yang
lebih berhak untuk menjadi raja? Apalagi Thalut itu tidak memiliki kekayaan
sama sekali?”
Samuel menjawab, “sesungguhnya
Allahlah yang telah memilihnya di antara kalian semua dan Allah memberinya
kelebihan dalam keilmuan dan kekuatan. Dan Allah Maha Mengetahui akan siapa yang
diberi kekuasaan.”
Samuel juga
menyampaikan, “sebagai tanda kebenaran bahwa Thalutlah raja kalian akan
didatangkan kepada kalian Tabut yang pada Tabut tersebut ada ketenangan kalian,
dan apa-apa yang menjadi peninggalan keluarga Musa a.s. dan Harun a.s. yang
akan dibawakan oleh para malaikat.” Dalam satu riwayat disebutkan, termasuk
Taurat di dalamnya.
Maka Thalut pun menjadi
raja mereka. Setelah segala persiapan perang, berangkatlah Bani Israil di bawah
pimpinan Thalut untuk berperang. Semua kalangan dari Bani Israil turut serta
tanpa ada yang tertinggal kecuali orang tua yang telah uzur dan kelangan
orang-orang yang sangat lemah dan sama sekali tidak berdaya.
Pada perjalanan menuju
medan pertempuran Thalut menyampaikan, “susungguhnya Allah akan menguji kalian
dengan satu sungai. Maka barang siapa yang minum dari sungai tersebut, maka ia
tidak akan keluar dari pasukanku. Akan orang yang tidak menyentuhnya kecuali
dengan satu cidukan tangan saja, maka ialah yang akan tetap menjadi pasukanku.”
Sungai tersebut terletak di antara Jordan dan Palestina. Ada yang menyebutkan
bahwa itu adalah sungai Palestina dan ada juga yang mengatakan sungai Syiria.
Sesampainya mereka di
sungai tersebut, dan mereka dalam keadaan lelah karena perjalanan tersebut, kebanyakan
dari pasukan tersebut melanggar perintah Thalut. Mereka minum air dengan
sepuas-puasnya kecuali sebagian kecil saja yang melakukan sesuai perintah
Thalut, yakni hanya meminum dengan cidukan tangan. Maka yang terjadi kemudian
ternyata yang mendapatkan kesegaran adalah mereka yang hanya mengambil air
dengan cidukan tangan saja. Adapun sebagian besar orang yang minum sepuasnya
tersebut justru dihinggapi rasa haus dan kelelahan yang menjadi-jadi, sehingga
mereka berkata, “sungguh hari ini kami tidak memiliki sisa tenaga sama sekali
untuk menghadapi perang dengan Jalut dan tentaranya.
Semula pasukan Thalut
terdiri dari delapan puluh ribu orang. Akan tetapi setelah sampai di sungai
tersebut, hanya tinggal empat ribu orang saja. Riwayat lain yang menyebutkan
bahwa jumlah mereka tidak berbeda dengan jumlah pasukan kaum Muslimin ketika
perang Badar, yakni 350 orang saja.
Akan tetapi jumlah
tersebut tidak menyurutkan Thalut dan pasukannya (yang beriman) untuk tetap
berperang. Mereka berangkat dengan membawa keyakinan, bahwa tidak sedikit
pasukan yang sedikit jumlahnya justru yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Merekalah
orang-orang yang bersabar yang selalu disertai Allah SWT.
Di saat mereka
berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami,
tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami dan
tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah/2: 250)
Jalut, selain sebagai
raja dengan jumlah pasukan yang besar, ia dikenal sebagai sosok tinggi besar
dan berperangai keras. Ketika kedua pasukan sudah saling berhadapan, Jalut
merasa berbesar hati dan menantang duel. Katanya, “hadapkan kemari orang yang
bisa membunuhku. Jika ia mampu, ia mengambil kedudukanku sebagai raja dan
kerajaanku. Tetapi jika dia yang terbunuh, maka negeri kalian adalah milikku!”
Maka datanglah Daud
a.s., sedangkan ia masih muda dan berperawakan kecil. Setelah berhasil
meyakinkan Thalut, Daud diizinkan untuk berduel bahkan Thalut menjanjikan kepadanya
untuk menikahkan putrinya denganna jika ia berhasil mengalahkan Jalut. Thalut
memberikan pedang agar digunakan Daud untuk berduel. Daud menjawab, “seandainya
Allah tidak menghendaki aku untuk dapat mengalahkan Jalut maka pedang ini tidak
akan dapat membantuku sedikitpun.”
Manakala ia maju untuk
berduel dengan membawa ketapel dan kantung berisi batu yang biasa dipakai untuk
menggembala. Jalut bertanya, “kamu yang akan membunuhku?”
_
Daud menjawab, “Ya.”
Jalut bertanya lagi, “Celaka
kamu! Apakah kamu memang berniat menghadapiku seperti hendak mengusir seokor
anjing saja dengan ketapel dan batu itu? Sungguh akan kucincang dagingmu lalu
akan kuberi makan burung-burung dan binatang buas dengan dagingmu itu hari ini
juga.”
Daud menjawab, “Tapi
justru kamu musuh Allah! Kamu justru lebih buruk bagiku dari seekor anjing!”
Maka Daud pun mengambil
batu dan melemparnya dengan ketapelnya. Batu itu kemudian tepat mengenai kepala
Jalut di antara kedua matanya dengan keras dan menembus sampai ke otaknya. Dan Jalutpun
jatuh terlempar ke tanah, terbunuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!