Kisah Thalut, Daud VS Jalut


Sepeninggal Nabi Musa a.s., hanya beberapa masa saja Bani Israil dapat berpegang teguh pada ajaran yang dibawanya. Setelah itu mereka kembali mempersekutukan Allah, menyembah berhala, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal padahal di antara mereka masih terdapat nabi-nabi yang senantiasa ber-amar ma’ruf nahi munkar. Disebutkan sekitar seribu tahun kemudian, Bani Israil mengalami keterpurukan. Mereka diusir dari wilayah dan negerina, keturunan dan bangsanya banyak dibunuh secara besar-besaran bahkan Taurat dan Tabut diambil dari mereka oleh seorang raja bernama Jalut. Para pemuka mereka tidak tahu bagaimana cara untuk membebaskan diri dari keadaan tersebut sementara mereka sendiri sudah tidak memiliki seorang raja yang akan memimpin perlawanan tersebut. Kemudian mereka mendatangi seorang nabi, dikatakan ia bernama Yusya’ bin Nun dan menurut sumber lain bernama Samuel bin Baliy.
Mereka berkata, “utuslah kepada kami seorang raja yang akan memimpin kami untuk berperang di jalan Allah.”
Samuel menjawab, “benarkah kalian menginginkan itu? Apakah nanti setelah peperangan itu diperintahkan kalian tidak akan berpaling?”
Mereka menjawab, “bagaimana kami hendak berpaling dari berperang sementara kami telah diusir dari tanah kelahiran dan anak-keturunan kami banyak yang dibunuh?”
Mereka meminta agar raja tersebut dipilih dari kalangan mereka sendiri (para pembesar Bani Israil). Akan tetapi Samuel menjawab permintaan dengan mengikuti petunjuk Allah dan mengatakan, “sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut agar menjadi raja kalian.”
Mereka menjawab, “bagaimana mungkin ia menjadi raja kami? Bukankah kami (para pembesar Bani Israil) yang lebih berhak untuk menjadi raja? Apalagi Thalut itu tidak memiliki kekayaan sama sekali?”
Samuel menjawab, “sesungguhnya Allahlah yang telah memilihnya di antara kalian semua dan Allah memberinya kelebihan dalam keilmuan dan kekuatan. Dan Allah Maha Mengetahui akan siapa yang diberi kekuasaan.”
Samuel juga menyampaikan, “sebagai tanda kebenaran bahwa Thalutlah raja kalian akan didatangkan kepada kalian Tabut yang pada Tabut tersebut ada ketenangan kalian, dan apa-apa yang menjadi peninggalan keluarga Musa a.s. dan Harun a.s. yang akan dibawakan oleh para malaikat.” Dalam satu riwayat disebutkan, termasuk Taurat di dalamnya.
Maka Thalut pun menjadi raja mereka. Setelah segala persiapan perang, berangkatlah Bani Israil di bawah pimpinan Thalut untuk berperang. Semua kalangan dari Bani Israil turut serta tanpa ada yang tertinggal kecuali orang tua yang telah uzur dan kelangan orang-orang yang sangat lemah dan sama sekali tidak berdaya.
Pada perjalanan menuju medan pertempuran Thalut menyampaikan, “susungguhnya Allah akan menguji kalian dengan satu sungai. Maka barang siapa yang minum dari sungai tersebut, maka ia tidak akan keluar dari pasukanku. Akan orang yang tidak menyentuhnya kecuali dengan satu cidukan tangan saja, maka ialah yang akan tetap menjadi pasukanku.” Sungai tersebut terletak di antara Jordan dan Palestina. Ada yang menyebutkan bahwa itu adalah sungai Palestina dan ada juga yang mengatakan sungai Syiria.
Sesampainya mereka di sungai tersebut, dan mereka dalam keadaan lelah karena perjalanan tersebut, kebanyakan dari pasukan tersebut melanggar perintah Thalut. Mereka minum air dengan sepuas-puasnya kecuali sebagian kecil saja yang melakukan sesuai perintah Thalut, yakni hanya meminum dengan cidukan tangan. Maka yang terjadi kemudian ternyata yang mendapatkan kesegaran adalah mereka yang hanya mengambil air dengan cidukan tangan saja. Adapun sebagian besar orang yang minum sepuasnya tersebut justru dihinggapi rasa haus dan kelelahan yang menjadi-jadi, sehingga mereka berkata, “sungguh hari ini kami tidak memiliki sisa tenaga sama sekali untuk menghadapi perang dengan Jalut dan tentaranya.
Semula pasukan Thalut terdiri dari delapan puluh ribu orang. Akan tetapi setelah sampai di sungai tersebut, hanya tinggal empat ribu orang saja. Riwayat lain yang menyebutkan bahwa jumlah mereka tidak berbeda dengan jumlah pasukan kaum Muslimin ketika perang Badar, yakni 350 orang saja.
Akan tetapi jumlah tersebut tidak menyurutkan Thalut dan pasukannya (yang beriman) untuk tetap berperang. Mereka berangkat dengan membawa keyakinan, bahwa tidak sedikit pasukan yang sedikit jumlahnya justru yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Merekalah orang-orang yang bersabar yang selalu disertai Allah SWT.
Di saat mereka berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah/2: 250)
Jalut, selain sebagai raja dengan jumlah pasukan yang besar, ia dikenal sebagai sosok tinggi besar dan berperangai keras. Ketika kedua pasukan sudah saling berhadapan, Jalut merasa berbesar hati dan menantang duel. Katanya, “hadapkan kemari orang yang bisa membunuhku. Jika ia mampu, ia mengambil kedudukanku sebagai raja dan kerajaanku. Tetapi jika dia yang terbunuh, maka negeri kalian adalah milikku!”
Maka datanglah Daud a.s., sedangkan ia masih muda dan berperawakan kecil. Setelah berhasil meyakinkan Thalut, Daud diizinkan untuk berduel bahkan Thalut menjanjikan kepadanya untuk menikahkan putrinya denganna jika ia berhasil mengalahkan Jalut. Thalut memberikan pedang agar digunakan Daud untuk berduel. Daud menjawab, “seandainya Allah tidak menghendaki aku untuk dapat mengalahkan Jalut maka pedang ini tidak akan dapat membantuku sedikitpun.”
Manakala ia maju untuk berduel dengan membawa ketapel dan kantung berisi batu yang biasa dipakai untuk menggembala. Jalut bertanya, “kamu yang akan membunuhku?”
_

Daud menjawab, “Ya.”
Jalut bertanya lagi, “Celaka kamu! Apakah kamu memang berniat menghadapiku seperti hendak mengusir seokor anjing saja dengan ketapel dan batu itu? Sungguh akan kucincang dagingmu lalu akan kuberi makan burung-burung dan binatang buas dengan dagingmu itu hari ini juga.”
Daud menjawab, “Tapi justru kamu musuh Allah! Kamu justru lebih buruk bagiku dari seekor anjing!”
Maka Daud pun mengambil batu dan melemparnya dengan ketapelnya. Batu itu kemudian tepat mengenai kepala Jalut di antara kedua matanya dengan keras dan menembus sampai ke otaknya. Dan Jalutpun jatuh terlempar ke tanah, terbunuh.



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!