Yang Dikatakan Abu Bakar dengan Kemenangan Hudaibiyah Dibenarkan Allah SWT

Allah SWT berfirman:
لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُم بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ [٥٩: ١٤]
“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (Al-Hasyr/59: 14)
Umar bin Khathab sangat geram dengan syarat-syarat yang dikemukakan Quraisy menjelang perjanjian damai Hudaibiyah. Kegelisahannya masih menguasai dirinya meskipun ia sempat menanyakan langsung kepada Rasulullah s.a.w. atas persetujuan beliau akan syarat-syarat tersebut. Maka Umar pun mengeluhkannya kepada Abu Bakar r.a., tetapi ia pun hanya mendapatkan jawaban yang sama dari Abu Bakar, bahwa sikap Rasulullah s.a.w. tiada lain hanyalah bentuk keta’atan kepada Allah SWT. Abu Bakar pun menasihatinya agar tetap setia kepada Rasulullah s.a.w., yakni mengikuti apa saja yang ditetapkan ketika itu. Selain Umar, Ali bin Abu Thalib juga sempat menunjukkan keengganan ketika Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk mengganti tulisan ‘Muhammad Rasul Allah’ dengan ‘Muhammad bin Abdillah’, sampai-sampai Rasulullah s.a.w. sendiri turun tangan dalam menghapus tulisan tersebut.
_
Kegelisahan para shahabat tak lain karena orang-orang kafir Quraisy menyampaikan syarat secara sepihak dan ingin menang sendiri. Belum lagi persoalan mengenai hasrat kaum muslimin yang begitu besar untuk dapat menunaikan ibadah haji dengan kerinduan sebagian dari mereka (kaum muhajirin) pada tanah kelahiran dan sanak famili yang berada di Mekah. Negosiasi damai melalui utusan Rasulullah s.a.w. tidak pernah direspon dengan baik bahkan Quraisy sampai menyandra Utsman bin Affan r.a. sehingga muncul isu pembunuhan Utsman.
Banyak faktor yang menempatkan Quraisy tertahan untuk melakukan serangan agresif dan justru mempertahankan status quo. Keadaan internal mereka benar-benar tidak menguntungkan. Quraisy tidak memiliki potensi besar yang dapat mempersatukan mereka seperti yang dimiliki kaum muslimin. Dukungan dari suku-suku di luar Quraisy pun nyaris pudar karena isu yang membuat tertahannya kaum muslimin untuk memasuki Mekah merupakan salah satu konsensus yang mengokohkan kebersamaan mereka, yaitu hak atas Ka’bah. Menghalangi kaum muslimin dari Ka’bah memperlihatkan sikap buruk Quraisy kepada suku atau bangsa lain ketika tidak sejalan dengan kepentingannya. Adapun sebaliknya, jika Muhammad s.a.w. dan pengikutnya dibiarkan memasuki Mekah, supremasi yang dipegang Quraisy atas Mekah dan Ka’bah termasuk masyarakatnya (bangsa Arab) sendiri akan menempatkan mereka tak lebih dari bagian kecil dari bangsa-bangsa Arab.
Quraisy berupaya memunculkan supremasi atas Mekah, dengan mengatasnamakan bangsa Arab, dengan melibatkan tokoh-tokoh dari suku lain pada perundingan. Supremasi tersebut juga dimunculkan pada syarat-syarat perdamaian yang dikemukakan Suhail bin ‘Amr yang kemudian disetujui sepenuhnya oleh Muhammad s.a.w. sebagai perjanjian Hudaibiyah.

Supremasi tersebut tak lebih dari upaya defensif Quraisy yang sekaligus menunjukkan kelemahan-kelemahannya. Hal itu menjebak Quraisy pada ihwal statistik dan taktis saja, tanpa mempertimbangkan kekuatan besar yang dimiliki oleh Rasulullah s.a.w. yang melampaui hal tersebut, yakni ideologi. Quraisy tidak memperhitungkan bagaimana orang-orang lemah yang masih bertahan dan mereka tawan di Mekah tetap bertahan karena ideologi tersebut. Dan sebaliknya, Quraisy juga tidak memahami benar bagaimana ideologi tersebut mempengaruhi orang-orang mereka yang pernah menyambangi Muhammad s.a.w. dan kaumnya di Madinah. Dan, pada dasarnya, perjanjian Hudaibiyah itu hanyalah sebatas upaya penangguhan sementara mereka berpikir untuk kembali mengukuhkan status perang. Sementara hal lainnya, kekuatan Quraisy semakin melemah baik secara statistik maupun secara strategis.
Perjanjian Hudaibiyah di sisi lain, di samping kesan yang mendiskreditkan kaum muslimin, justru menjadi pintu gerbang bagi kaum muslimin dalam menebar (dakwah) ideologi pada risalah besar mereka, tauhidullah. Perjanjian Hudaibiyah juga, secara tidak langsung, mengukuhkan hak kaum muslimin atas Mekah dan Ka’bah secara eksklusif karena hak tersebut dipadankan dengan supremasi Quraisy yang mengatasnamakan bangsa Arab. Sementara di pihak lain, kaum muslimin telah mendapatkan dukungan dan simpati dari berbagai suku bangsa Arab, bahkan kemudian meluas ke wilayah-wilayah di luar bangsa Arab, yang dapat dilakukan dengan leluasa karena urusan kaum muslimin setelah ini tidak lagi terfokus pada peperangan dengan Quraisy.
Sebagian dari kaum muslimin ketika itu memang tidak dapat memahami inti dari perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian itu sendiri bahkan sempat mengganggu mereka berpadu dengan dorongan dan hasrat kuat untuk memasuki Mekah sambil mencukur rambut dan memotongnya sebagaimana diungkapkan oleh wahyu yang mereka dengar dari Rasulullah s.a.w.. Akan tetapi shahabat seperti Abu Bakar r.a., yang memiliki ketenangan berpikir dan pandangan jauh, ia mengemukakan kesan istimewa untuk perjanjian tersebut dan mengatakan, “tidak ada kemenangan Islam yang lebih besar dari kemenangan di Hudaibiyah ini.” Ia, menyebut perjanjian Hudaibiyah dengan kata kemenangan (lih. Syaikh Al-Hudhary Al-Bajury, Nur Al-Yaqin fi Sirah Sayyid Al-Mursalin).
_
Allah SWT mengukuhkan hal tersebut menjelang perjalanan pulang kaum muslimin ke Madinah, turunlah ayat:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا [٤٨: ١]
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, ...”
Ayat ini turun sampai akhir surat ketika itu. Di Hudaibiyah ada peperangan terjadi dan kaum muslimin dengan kekuatan besar yang dimilikinya tidak meladeni perang tersebut secara penuh. Di Hudaibiyah pula terjadi satu perjanjian yang terkesan memojokkan kaum muslimin. Akan tetapi yang tidak disadari oleh Quraisy, atau bahkan sebagian kaum muslimin sekalipun, peristiwa ini ternyata merupakan satu kemenangan besar, Kemenangan Hudaibiyah.


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!