Gaya Hidup; Trendi atau Islami?

Gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Pengertian ini sangat erat terkait dengan habitat atau satu komunitas tertentu yang memiliki cukup banyak bentuk dan tidak memiliki batasan teritorial yang tetap atau identifikasi lainnya. Kelompok usia, sebagai contoh, itu hanya berupa pengelompokkan dengan spesifik melainkan sifat generalisir yang diasumsikan dari kesan dan gejala-gejala umum saja. Istilah gaya hidup sendiri cenderung hanya digunakan oleh orang yang berada di luar komunitas tersebut, di saat menyampaikan tanggapan, penilaian atau sekedar komentar.
_
Gaya hidup identik dengan cara-cara populer yang dilakukan orang. Sifat populer cenderung mudah dipahami oleh umum atau mendapatkan perhatian besar meskipun cara populer sendiri cenderung absurd (tidak memiliki makna). Namun, terlepas dari absurditas tersebut, pada dasarnya gaya hidup lahir dari satu nilai atau gagasan ideal yang setidaknya diyakini sebagai sesuatu yang lebih baik. Maka suatu gaya hidup memiliki kedudukan sangat penting karena, jika diperhatikan dari ungkapannya sendiri, hal tersebut sudah pasti berkaitan dengan ‘gagasan besar’ hidup. Sebagai gagasan besar ini merupakan cara hidup seseorang dan dengan demikian gaya hidup menempati kedudukan yang sangat penting.
Dengan menempatkan gaya hidup sebagai sesuatu yang bermakna, seseorang akan dihadapkan pada permasalahan yang besar apabila ternyata gaya hidup tersebut bertentangan dengan tugas besar hidup atau kehidupan itu sendiri. Di dalam Islam, hal prinsip mengenai hidup dan kehidupan itu adalah apa yang disebut dengan dasar penciptaan manusia yang diungkapkn di dalam surah Adz-Dzariyat/51: 56, yakni beribadah.
Ibadah, sebagai sebuah pertanyaan yang barangkali dipandang tidak relevan, apakah ia dapat menjadi kerangka dasar atau substansi dari suatu gaya hidup yang populer dan trendi? Maka kemudian, pertanyaan pertanyaan lain yang cukup mendasar saja mengenai gaya hidup, darimanakah ia datang? Atau lebih spesifik lagi, apakah gaya hidup itu datang dari satu paradigma yang berpijak pada tauhidullah?
Allah SWT berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلًا ؛ فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا [٧٦: ٢٣-٢٤]
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.” (Al-Insan/76: 23-24)
Setelah mengemukakan penurunan yang Al-Quran yang tak lain merupakan pedoman hidup, Allah merlarang untuk mengikuti para pendosa (baca: bergaya hidup absurd dan tidak islami), orang-orang kafir dan gambaran orang-orang yang cenderung tenggelam dalam urusan duniawi (yang diungkapkan pada ayat-ayat berikutnya, QS. 76: 27).
Allah menegaskan:
إِنَّ هَٰذِهِ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَن شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا ؛ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا [٧٦: ٢٩-٣٠]
“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan/76: 29-30)
Kata “سَبِيلًا” digunakan untuk mengungkapkan cara seseorang menuju Allah. Secara harfiyah kata ini berarti jalan. Gaya hidup, bermakna atau tidak adalah sesuatu yang menyangkut prinsip dasar kehidupan. Bahkan, di saat yang dipilih tersebut identik dengan makna keberagamaan, cara tersebut tidak akan mampu mengantarkannya pada tujuan yang benar kecuali Allah menghendakinya.
Oleh karena itu, Allah SWT menegaskan:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٦: ١٥٣]
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am/6: 153)
_

Islam mengatur segala sesuatu yang menyangkut perihal kehidupan dan hal itu menyangkut hal-hal yang boleh jadi dinafikan oleh orang Islam sendiri. Atau sebaliknya, seseorang boleh jadi menampilkan diri dengan ciri-ciri yang sangat identik dengan gaya hidup Islami atau satu komunitas tertentu, akan tetapi apabila hal itu hanya sebatas penampilan di luar saja tanpa menjaga apa yang menjadi substansi dan dasarnya. Tauhidullah, atau secara amaliyah bathin dikenal dengan keikhlasan, harus selalu mengakar dalam setiap gerak seorang pribadi muslim, terlebih menyangkut sesuatu yang menjadi bagian sehari-hari yang menimbulkan kesan sebagai gaya hidupnya.



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!