Disiplin dapat dimaknai
sebagai cara untuk beristiqomah. Seorang shahabat pernah bertanya kepada
Rasulullah s.a.w. tentang satu ketetapan yang tidak dapat ia tanyakan kecuali
kepada beliau. Rasulullah s.a.w. berkata:
قُلْ: آمَنْتُ
بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه أحمد)
“Katakanlah, ‘aku beriman kepada
Allah’, kemudian beristiqomahlah!”
Dari kata disiplin
kemudian sering kita mendengar ungkapan disiplin keras dan ada anggapan bahwa
disiplin selalu identik dengan tindakan atau sikap keras. Padahal ada perbedaan
mendasar antara disiplin (tegas) dengan keras. Salah satu yang membedakan
keduanya adalah bahwa dalam sikap tegas tidak ada sifat intimidasi sebagaimana
terdapat dalam sikap keras. Seorang ayah atau guru membentak anak adalah sikap
keras. Hal itu memang sangat identik dengan pendisiplinan atau ketegasan.
Memang benar bahwa sikap
keras cenderung berhasil untuk mengarahkan. Akan tetapi mari kita perhatikan
apa yang melekat pada sikap keras di dalam Al-Quran, sebagaimana Firman Allah
SWT:
فَبِمَا رَحْمَةٍ
مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا
مِنْ حَوْلِكَ ۖ [٣: ١٥٩]
“Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu...” (Ali Imran/3: 159)
Sifat “menjauh” adalah
reaksi atas sikap keras dan itu dapat terwujud dalam berbagai cara apakah sifat
menjauh secara zhahir atau maknawi. Anak akan bereaksi dengan membuat jarak
baik secara lahir maupun sebaliknya, jarak itu dibuat meskipun sedikitpun ia
tidak beranjak. Atau sifat menjauh lainnya dalam pengertian dari apa yang
hendak ditegaskan kepadanya, sikap keras justru melahirkan sikap penolakan atau
perlawanan yang keras pula.
Sikap tegas berbeda
dengan keras yang intinya adalah tetap konsisten dengan apa yang seharusnya
dilakukan atau menyangkut konsekuensi pelanggaran. Kata-kata kasar, teriakan
keras, atau bahkan kekerasan fisik, yang seringkali dianggap efektif dalam
disiplin adalah sikap keras yang justru akibatnya bisa sangat bertentangan
dengan apa yang diharapkan.
Apakah sikap tegas dapat
dilakukan dengan cara lemah lembut? Tentu. Bahkan hal itu akan lebih efektif
dalam mendisiplinkan anak. Sikap lemah lembut akan lebih mendekatkan anak dan
apa yang disampaikan akan lebih mudah untuk diterima. Dalam sifat mengarahkan
barangkali kelembutan tidak serta merta membuat anak dapat mengikuti begitu
saja, akan tetapi kita akan melihat bagaimana anak akan menerima apa yang
disampaikan atau bersikap disiplin dengan lapang.
_
Akan tetapi sebaliknya
dari ketegasan yang seringkali keliru ditempatkan sebagai sikap lemah lembut
adalah kompromi. Baik dalam sikap keras ataupun tidak, ketika ada sifat tawar
menawar yang merubah substansi dari disiplin yang diberlakukan, di saat itulah
terjadi kompromi. Tidak jauh berbeda dengan sikap keras, kompromi hanya akan
membuat anak lebih pandai dalam mengakali (berlaku curang) dan melepaskan diri
dari konsekuensi yang seharusnya ia terima.

Tegas namun fleksibel
BalasHapus